My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
122. Uks


__ADS_3

Alvin panik setengah mati melihat kondisi Zea yang kini terkulai lemas dan memucat. Bahkan tanpa memperdulikan orang yang ada di dalamnya, Alvin menendang pintu ruang kesehatan dengan keras. Ia tak peduli jika pintu itu akan rusak karena ulahnya.


Orang yang ada didalamnya seketika menoleh melihat Alvin yang sedang menggendong Zea. Dahi Alvin mengernyit saat melihat ada beberapa murid yang tiduran di sana.


"Minggir lo semua!" bentak Alvin keras membuat mereka tersentak kaget dan tak berkutip. Mereka langsung menyingkir dengan takut takut, akan emosi Alvin yang sepertinya akan meledak.


Alvin meletakan Zea di ranjang UKS menatap pada beberapa petugas yang berdiam diri disana.


"Dimana dokter yang bekerja?" tanya Alvin keras membuat mereka kelabakan.


"Ah itu dok...dokternya sedang pergi keluar" jawabnya takut takut.


"Sialan" umpat Alvin marah.


"Ukhh" rintih Zea membuat Alvin menoleh meluapkan amarahnya menjadi khawatir pada gadis itu.


"Hey hey!" seru Alvin pelan memegang wajah Zea untuk memastikan Zea tersadar.


"Ukh.." Zea tak menjawab masih terus merintih dengan mata terpejam. Alvin yang terus memperhatikan tubuh Zea yang bergetar menjadi takut.


"Em dokter sedang keluar membeli sesuatu sebentar, kami diminta untuk menjaga uks. Apa boleh kami cek kondisinya?!" ujar salah satu petugas takut takut.


"Nggak! jangan ada yang berani sentuh dia tanpa persetujuan gue!" tegas Alvin tajam pada petugas laki laki yang menawarkan diri. Semua petugas yang diminta menjaga uks seketika mengulum bibirnya.


"Lo, ambilkan selimut. Buruan!" tunjuk Alvin pada salah satu petugas yang berdiri di dekat lemari penyimpanan. Petugas itu lantas menggangguk mengambilkan selimut dari salah satu lemari disana memberikannya pada Alvin.


"Ini" ujarnya.


Alvin menerimanya lalu membentangkannya menutupi tubuh Zea.


"Emmm" gumam Zea merasa tubuhnya menghangat namun masih saja belum bisa mengalahkan rasa dingin yang sebelumnya ia rasakan.


"Stt, aku telpon dokternya dulu ya" ujar Alvin hendak mengeluarkan handphonenya dari saku tapi ia lupa, bahwa ia meninggalkan handphonenya di meja kelas.


"krekk" gemertak Alvin kesal.


Alvin seketika padam melihat betapa cerobohnya dia.


"Carikan Satya" perintah Alvin dingin dan sudah tak lagi bersahabat. Ya! Sedari masuk, Alvin juga sudah tak lagi bersahabat.


"Ha? Satya?" tanya mereka. Alvin tak menjawab tapi menatap mereka sekilas kemudian membuat mereka menggangguk mengerti lantas keluar dari uks.


Semoga saja Satya yang mereka pikirkan kini sama dengan Satya yang Alvin maksud.


Disisi lain Keyla dan Icha sedang mencari cari dimana Alvin membawa Zea. Karena terlalu panik mereka lupa bahwa di sekolah ada yang namanya uks, unit kesehatan sekolah dan bisa aja Zea dibawa kesana.


"Uks Cha UKS, dodol banget sih kita!" ujar Keyla berseru.

__ADS_1


"Dih gue? Lo kali Key" sahut Icha menolak.


" Ish udah ayo!" Keyla lantas menarik Icha menuju ke uks.


Di uks...


Kini Alvin sudah bisa di ajak berbincang dengan membiarkan petugas yang berjaga memberikan pertolongan pada Zea. Dengan sedikit rayuan karena melihat keadaan Zea yang memang membuat khawatir.


Mereka membasahi handuk dengan air memerasnya, meletakannya di atas kepala Zea.


Tak lama kemudian dokter uks yang pergi sebentar datang bersamaan dengan datangnya Satya yang diikuti Julian tak luput pula Icha dan Keyla yang berpas-pasan didepan pintu.


Dokter itu masuk kemudian mendekat kearah Zea membuat Alvin menoleh.


"Kemana aja sih lo? Mau makan gaji buta!" bentak Alvin menatap dokter itu sengit. Dokter itu tersentak kaget mendengar bentakan keras tiba tiba dari Alvin.


Satya dan Julian yang mendengar bentakan Alvin dari luar masuk dengan hati gegana.


"Al" sapa Satya dan Julian mendekat.


"Lo juga, dari mana aja!" sentak Alvin marah membuat keduanya menelan ludah.


"Sorry, dari kelas" jawab Satya berbohong menunjuk kearah luar.


Keyla dan Icha yang mendengar bentakan marah dari Alvin hanya bisa diam. Mereka khawatir dengan Zea, tetapi melihat Alvin yang juga khawatir bercampur amarah membuat mereka tak bisa membuka suara. Mereka memilih mengamati dan melihat kondisi Zea sekarang.


"Ekhm boleh saya periksa pasiennya" ujar dokter itu menunjuk Zea.


Alvin dengan wajah marah bercampur khawatir menggeser tubuhnya membiarkan dokter itu memeriksa. Wajah dokter itu ikut mengernyit ketika merasakan panas tubuh Zea yang tak biasa.


"Tolong ambilkan infus" ujar dokter itu pada petugas disana.


Dengan sigap mereka mendengarkan arahan yang diberikan oleh sang dokter menyiapkan apa saja yang dibutuhkan dan dokter itu mulai melakukan tugasnya memasukan cairan infus kedalam tubuh Zea.


Nafas Zea yang sedari tadi seperti gelisah kini kian menenang. Keyla dan Icha disana merasa lega setelah Zea selesai mendapatkan penanganan.


"Zea sudah nggak papa, udah saya kasih cairan infus. Setelah infusnya habis, bisa dibawa pulang untuk istirahat. Ini saya kasih resep obat, nanti bisa langsung ditebus" ujarnya sambil menuliskan beberapa kata yang susah dibaca.


Keyla dan Icha yang menjelaskan menggangguk menerima kertas resep yang diberikan sang dokter. Sedangkan Alvin masih gelisah menatap kearah Zea yang kini tertidur di ranjang.


"Tarus apa gunanya kita kesini Sat?!" tanya Julian berbisik di telinga Satya.


"Stt diem" seru Satya.


"Lo mau Alvin ngamuk lagi?!" lanjutnya ikut berbisik. Julian lantas menggeleng, menjauhkan dirinya dari Satya bersikap tegak dan siaga.


Alvin lantas menoleh kearah Satya dan Julian membuat keduanya menegang. Wajah keduanya kini nampak resah.

__ADS_1


"Satya" panggil Alvin.


"Ya?!" jawab Satya langsung menyahut.


"Telpon bokap lo sekarang, suruh dia kemari" perintah Alvin.


"Ha? Bokap gue?" tanya Satya menaikan satu alisnya.


"Buru, gue kasih lo waktu 10 menit" titah Alvin kembali memperhatikan Zea.


Satya lantas membelak mata, 'yang benar saja cuma 10 menit? Dikira papi gue supermen apa?' batin Satya berseru.


Tapi dia masih menuruti kemauan Alvin. Ia menjauhkan diri keluar dari uks, menelpon sang papi yang bisa dipastikan kini sedang sibuk mengurus pasien dirumah sakit.


"Halo Pi!" seru Satya saat panggilan tersambung.


"Halo Sat, kenapa? Papi lagi sibuk ngurus pasien nih. Kamu nggak lagi bikin masalah kan?" ujar sang papi langsung dari balik telpon.


"Ish papi nih, ya enggak lah. Cuma nih si Alvin. Papi disuruh Alvin datang kesekolah, Pi!" balas Satya.


"Ha kenapa? Dia sakit? Emang di sekolah nggak ada dokter gitu sampe nyuruh papi kesana segala?" tanya papi Satya heran.


"Ada pi dokter, tapi ya gitu! Anak om Exel ribet Pi. Udah buruan Pi kesini, kata Alvin tadi cuma dikasih waktu 10 menit"


"Sat!" panggil Alvin pada Satya yang berada di luar uks.


"Nah kan Pi dia udah manggil. Satya tutup ya pi! Papi buruan kesini keburu ngamuk tuh anak, Satya ntar yang kena!" seru Satya.


"Ya ya ya, kamu tunggu. Papi mau minta yang lain gantiin papi sebentar, baru papi kesana" ujar papi Satya.


"Yaudah Pi, kalau gitu Satya tutup ya pi. Bye!" ucap Satya langsung mematikan panggilan telpon tanpa mendengar jawaban lain dari sang papi.


Satya masuk kedalam kemudian melihat kearah Alvin yang kini sudah menunggunya. Begitu pula dengan Julian yang masih menegang ditempat bersamaan dengan petugas kesehatan yang tersisa, karena entah kenapa petugas yang sedari awal ia suruh untuk memanggil keduanya kini tak juga datang kembali.


"Gimana?" tanya Alvin dengan sorot mata masih tertuju pada Zea bersama dengan Keyla dan Icha yang juga sudah mendekat pada Zea. Menatap Zea penuh kekhawatiran.


"Papi gue lagi otw kesini Al" jawab Satya


"Oke! Sekarang lo berdua pergi ke kelas gue, ambilin tas gue sama Zea. Sekalian handphone gue yang ada di meja" titah Alvin diangguki keduanya.


Sang dokter yang melihat mereka kini sudah masuk kedalam ruangan yang merupakan kantornya tanpa menghiraukan lagi para murid murid di dalam uks ini. Membiarkan mereka melakukan semuanya.


Sedangkan sisa petugas disana seketika tersadar akan apa yang mereka lihat. Mereka melihat bahwa Alvin dengan seenaknya memerintah Satya dan Julian layaknya seorang bos.


Kini mereka penasaran akan siapa Alvin sebenernya dan kenapa Alvin bisa dengan semudah itu menyuruh Satya dan Julian yang notabenenya bisa menjadi salah satu penguasa sekolah.


TBC

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2