My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
75. Kepergian Joe


__ADS_3

Arka masuk kedalam rumah. Ia melihat Alvin yang duduk di sofa. Ia melihat apa yang pria itu lakukan.


"Al!" panggil Arka.


"Bang!" Alvin menoleh, bangkit menjabat tangan Arka dengan tangannya yang berbalut perban.


Arka melihat kearah tangan Alvin yang diperban.


"Kenapa tangan lo?" tanyanya.


"Lecet dikit" jawab Alvin.


Bang Arka menyebik, 'Gak mungkin luka diperban gitu cuma lecet! Dikira gue anak kecil, bisa dibohongi gitu aja!' keluh batin Arka.


"Lo harusnya bisa lebih hati-hati Al. Jangan lo lampiasin rasa kesal lo atas hilangnya Zea ke diri lo sendiri!" ujar Bang Arka.


"Sorry bang!" pinta Alvin.


"Oke, it's okay. Gue tau lo kesel, tapi jangan diulangi lagi!" Alvin mengangguk.


Inilah yang hal yang ingin dia lakukan dengan datang ke rumah Zea. Ia ingin menunjukan seberapa besar rasa yang ia miliki kepada keluarga Zea. Ia ingin mendapatkan dukungan lebih besar dari keluarga Zea.


"Apa masih belum ada perkembangan bang?" tanya Alvin.


"Sejauh ini masih belum, beberapa kali orang suruhan papa menyelusuri jejak pria itu, tapi pria itu seakan hilang begitu saja!" jawab Arka.


"Ohw" Alvin hanya bisa beroh ria, seakan ia sudah tak bisa berkeluh kesah lagi.


Kedua pria itu duduk di sofa sambil mendesah frustasi karena Zea tak juga kunjung ditemukan.


"Habis ini lo mau ngapain?" tanya Arka menoleh ke arah Alvin.


"Gue gak tau bang, gue bingung mau cari Zea kemana lagi!" Arka menepuk bahu Alvin menenangkan pria itu.


"Pelan pelan! Zea pasti ketemu kok, kita pasti bisa nemuin dia!" Alvin mengangguk sembari tersenyum masam.


Jujur di hati Arka, pria itu juga sangat mengkhawatirkan keadaan adik kecilnya itu. Walau setiap ketemu, ia sering mengusili Zea, dan berakibat perdebatan hingga perdebatan kecil diantara mereka. Selayaknya adik kakak yang saling menyayangi pada umumnya.


"Dia pasti akan kembali!" serunya.


Saat Arka dan Alvin terlelap dalam pikiran masing masing. Suara derapan langkah kaki masuk ke dalam rumah. Arka dan Alvin sontak menoleh ke sumber pembuat suara.


"Alvin!" seru ketiga perempuan itu.


Orang yang masuk ke dalam rumah itu adalah Icha, Keyla, dan Mama Tia. Ditangan mereka membawa selembaran dengan foto Zea. Alvin bangkit menghampiri Mama Tia, menyalimi wanita itu.


"Habis dari mana Tan?" tanya Alvin. Ia menoleh ke kedua sahabat Zea, lalu mengangguk sebagai sapaan.


"Ohw ini, Mama habis sebarin ini ke daerah sekitar sama mereka!" jawab Mama Tia, tanpa sadar menyebut dirinya mama kepada Alvin. Artinya Alvin sudah melangkah lebih dekat kepada keluarga Zea.


Alvin mengangguk mengerti, melihat kearah apa yang dibawa oleh ketiga perempuan itu. Batinnya mendengus kesal seakan tidak rela foto Zea tersebar dimana mana.


'Sepertinya gue harus mempercepat rencana. Gue gak bisa biarin foto Zea kesebar dimana mana!' batin Alvin kesal. "Gue akan menyuruh Joe untuk melakukan rencana ini besok!"


Sepulang Alvin dari rumah Zea. Alvin kembali ke apartemennya. Ia melihat Geo yang masih berada disana namun ia tak sendiri. Ada Kenan, Satya, dan Julian yang dengan santainya bermain game sambil memakan camilan. Membiarkan sampah bertebaran disekitar mereka.


"Wih big bos udah balik!"


"Dari mana aja! Hampir seminggu gak nampak batang hidungnya"

__ADS_1


"Lagi modar lah! Nyari Zea!" Satya menyikut Julian.


"Sttt jangan bahas itu, Lo mau big bos ngamuk!"


"eh ampun bos, gak sengaja bos. Keceplosan!"


Seru Satya dan Julian. Alvin menatap datar pada mereka, tak membalas satu kata pun. Ia mendekat kearah Geo.


"Geo, beliin gue hp baru!" perintah Alvin.


"Cih ini nih! Dateng dateng main perintah perintah sembarang, tadi aja ninggalin gue!" dengus Geo kesal.


"Buru!" ujar Alvin tanpa memperdulikan wajah masam Geo.


"Udah gue beliin tadi. Hpnya ada di kamar lo. Bentar gue ambilin!" ujar Geo ingin bangkit.


Saat Alvin meninggalkannya, Geo kembali masuk kedalam apartemen. Ia melihat handphone Alvin yang rusak dilantai. Saat itu juga ia langsung meminta dikirimkan handphone yang baru.


"Biar gue ambil sendiri!" Alvin pergi ke dalam kamar, melihat handphone barunya yang berada dinakas. Ia mengaktifkan handphonenya dan ternyata Geo sudah mengisi handphonenya dengan data data yang lama.


Alvin mendial nomor Joe dan panggilan seketika terhubung..


"Joe! Percepat rencana menjadi besok atau lusa!! Gue serahin hal ini ke lo dan anak buah lo! Gue mau semuanya sempurna!" ujar Alvin tanpa membiarkan Joe berbicara dulu.


"Serahkan pada saya, tuan!" balas Joe menerima perintah.


Setelah itu Alvin mematikan panggilannya dan panggilan terputus..


"Aku ingin melihat wajah putus asamu itu sayang! Akan kutunjukan padamu, akibat bermain main denganku!" Alvin menatap foto Zea yang ada dinakas kamarnya.


...****************...


Di tempat Zea terkurung, hari itu Zea menjalani hari seperti biasa. Seakan ia telah melupakan apa yang tadi ia lakukan.


Sampai di suatu malam saat dirinya masih terjaga, Zea mendengar suara kebisingan diluar. Ia menghentikan aktivitasnya dan menguping dari balik pintu.


"Saya akan kesana segera! Kalian peringatkan yang lain untuk tetap siaga menjaga tempat ini dari luar. Jangan ada yang masuk jika bukan karena hal mendesak!!"


"Lalu bagaimana dengan nona? Apa anda tidak akan memberitahunya?"


"Nona sudah tidur jam segini dan tidak akan keluar kamar, semua sudah saya atur. Tugas kalian hanya perlu berjaga diluar tempat ini!" perintah Joe.


"Baik tuan!"


"Sudah, kalian boleh kembali. Setelah ini saya akan mengecek nona kembali!"


"Siap tuan Joe!" seru mereka.


Mendengar hal itu, Zea langsung berlari ke arah kasur, menutupi dirinya dengan selimut sebelum Joe datang mengeceknya.


Cklekk


Benar saja, pintu itu dibuka. Joe berjalan mendekat Zea. Ia merapikan peralatan desain Zea yang berhamburan di kasur. Kemudian Joe menghampiri Zea, berdiri di samping kasur.


"Nona! Saya akan pergi keluar hari ini dan tidak kembali sampai 2 hari kedepan!!" ujar Joe berbicara dengan Zea yang memejamkan mata.


Zea menelan ludah takut ketahuan, tapi disisi lain dirinya juga senang seakan ingin berteriak dan berjoget ria, ketika mengetahui bahwa Joe akan pergi. Dengan tak adanya Joe, dirinya akan dapat peluang untuk melarikan diri.


"Cih sepertinya gue gila bicara dengan orang tidur!" cetus Joe membuat Zea merapatkan bibirnya, Ia ingin tertawa saat mengetahui fakta bahwa pria datar seperti Joe bisa mengatakan dirinya seperti orang gila secara tidak langsung.

__ADS_1


"Saya tak akan berbicara lebih lanjut. Karana selebihnya akan dijelaskan oleh orang lain. Kalau begitu, Saya permisi!" Joe membungkuk, kemudian menatap Zea sekilas menelisik sebelum pergi dengan sedikit senyum dibibirnya.


Klekk


Pintu tertutup dengan pelan menandakan Joe telah pergi. Zea mengintip sedikit demi sedikit membuka matanya, memastikan Joe sudah tidak ada disana.


Ia menunggu beberapa saat sambil mengawasi dinding jam. 30 menit telah berlalu, ia yakin bahwa Joe sudah pergi keluar. Karena sebelumnya ia sempat mendengar deru mobil yang awalnya kencang kian mengecil hingga akhirnya hilang.


Zea beranjak dari kasur. Ia keluar dari kamar diam diam. Ia kembali ke arah ruangan dimana ia tetapkan sebagai jalan keluar. Ia mengintip sedikit keluar jendela dan naasnya masih ada penjaga yang berjaga jaga disana.


Sebenarnya jika dia ingin keluar lewat jendela sangatlah mudah. Tapi yang sulit adalah untuk kabur dari penjaga dan jelas dirinya akan tertangkap jika beradu dengan mereka.


Zea menunggu disana berharap dirinya akan mendapatkan informasi yang dapat ia gunakan untuk melarikan diri.


Lama waktu berlalu, Zea sedikit jenuh karena harus terus menunggu tanpa kepastian begini. Zea hampir putus asa.


"Hey bro!" suara salah satu penjaga membuyarkan lamunan Zea.


"Kenapa?" tanya teman disampingnya.


"Tuan Joe kok tadi buru buru. Emang mau pergi kemana sih?" tanyanya.


"Lo belum denger kabar?"


"Kabar apaan?"


"Cih, kudet lo"


"Gue gak tau bro! kasih tau gue!"


"Oke gue kasih tau. Jadi tuh tuan Joe pergi gara gara kehadiran tuan Ale di cara tahunan waktu itu"


"Terus!"


"Gara gara tuan Ale datang dan ngehajar ketua geng disana, banyak dari mereka yang gak terima sama kekalahannya dan ingin nantang lagi"


"Terus apa masalahnya? kok sampe tuan Joe turun tangan langsung?"


"Gue denger sih mereka bikin keributan dan itu makin parah, sampe tuan Joe harus turun tangan langsung"


"Ohw gitu!" akhirnya Zea tau alasan kepergian Joe.


"Iya bro! Kalau semisal keadaan makin membludak parah, kita bisa bisa dikirim juga kesana bro!"


"Lah terus yang jaga tempat ini sama orang yang dikurung didalem siapa?"


"Gue gak tau bro, mungkin cuma beberapa yang ditugasin jaga. Lagian cuma sehari dan tuh cewek gak bakal tau!"


"Iya bener juga!"


Bibir Zea tersenyum senang mendengar kabar itu. Akhirnya penantian yang selama ini ia tunggu datang juga.


"Ohw ya bro! Cewek yang dikurung didalem itu emang siapa sih?" tanyanya lagi.


"Gue denger itu ceweknya tuan Ale!"


"Kasihan ya! Mimpi apa tuh cewek bisa deket sama tuan Ale. Gue aja yang cowok ngeri lihatnya, apa lagi tuh cewek! Bego banget" ujar pria itu.


Batin Zea seakan berdengus kesal, 'sialan! ngatain gue bego! Kalau bukan gue ditipu sama bos lo, gue juga gak bakal mau kali!' kesal Zea, berlalu pergi begitu saja. Ia tak ingin mendengarkan pembicaraan mereka lebih lanjut.

__ADS_1


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2