My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
46. Handphone Zea Gak Ada


__ADS_3

Dua hari ini Zea benar benar istirahat total. Alvin hanya mengirimkan pesan sesekali dan ia juga tak ingin beranjak dari kasur kecuali untuk makan juga berkumpul dengan keluarganya walau hanya sebentar karena Zea ingin istirahat lagi.


Membuat tubuhnya bugar kembali keesokan harinya dan siap melanjutkan kegiatan pembuatan film.


Zea sampai di sekolah lebih pagi sesuai jadwal dengan diantar Bang Arka, tak ada alasan khusus kenapa bang Arka mengantarnya. Karena ketika tadi pagi Zea menghubungi Alvin untuk memberitahukan bahwa dirinya diantar oleh Bang Arka, dengan mudahnya pria itu mengiyakan.


Sampai diruangan yang pernah menjadi tempat membaca naskah, Zea langsung dengan sigap dirias dan berganti pakaian.


Zea yang sudah siap memasuki ruangan yang sudah didesain seperti ruang kerja, dan adegan dimulai...


Zea menghampiri ayahnya di ruang kerja. Kemudian ia berbicara dengan ayahnya. Dia juga menceritakan tentang Alvin yang membuat ia terkagum bahkan ayahnya terpukau. Ayahnya bukan orang yang dingin, bisa dibilang pengertian. Namun karena banyaknya pekerjaan membuat Zea terkadang merasa tersisihkan padahal tidak begitu. Tapi dari Alvin dia tahu apa yang namanya kerja keras.


Kemudian Zea menceritakan tentang Alvin yang pintar dan tekun walau dikeadaan serba kekurang, selain bercerita Zea juga meminta dengan harapan Alvin dapat bersekolah ditempat yang sama dengannya. Dan ayahnya tentu tak langsung mengiyakan. Namun dengan usaha Zea berhasil membujuk ayahnya. Tapi sebelum semuanya deal, ayahnya harus memastikan sendiri apakah yang dikatakan Zea benar. Dan selama investigasi Zea dilarang berhubungan dengan Alvin.


Setelah menunggu Zea mendapat kabar gembira dari ayahnya bahwa ayahnya akan memberi kesempatan Alvin beasiswa disekolahnya dan karena senang hari itu juga Zea kembali kepedesan memberitahukan kabar bahagia ini pada Alvin. Walau dia membutuhkan sedikit usaha agar Alvin menerimanya namun semua berhasil seperti yang ia harapkan.


Sekolah dimulai dan awalnya Zea bertengkar dengan teman temannya ia dijauhi dan menjadi tersisihkan, hanya menyisakan beberapa orang saja yang menyadari kesalahannya, menyesal karena menyadari bahwa mereka telah termakan rayuan Vara. Dengan ini pula dia tahu mana yang benar benar tulus padanya.


Karena mereka sudah menyadari, Zea menggunakan kesempatan ini untuk memberitahu mereka mengenai seorang Alvin yang sangat luar biasa dimatanya. Mereka mendengar cerita Zea ikut berbinar. Sampai keesokan harinya adalah hari dimana Alvin masuk ke sekolahnya.


Awalnya tak berjalan lancar tapi lama kelamaan semua menjadi baik. Alvin juga dekat dengan teman teman Zea yang kini menjadi sahabat baik. Dan di Immanuel School (sekalian promosi) kerja keras dan bakat yang selama ini terpendam di diri Alvin terangkat, karena adanya dukungan yang ia dapatkan. Hal itu lantas menampar orang yang merendahkannya. Bahkan Alvin mendapat penghargaan karena memenangkan olimpiade internasional, Zea yang mendukungnya juga mendapatkan cipratan. Walau Zea sendiri sebenarnya pintar. Keduanya pun akhirnya mendapat beasiswa kuliah keluar negeri untuk dapat meraih mimpi setinggi mungkin.


Dikisah ini menunjukan bahwa perubahan itu bisa terjadi pada siapa saja, usaha keras dan terus meningkatkan bakat yang kita miliki terus menerus tanpa henti, akan dapat menjadi kemajuan besar dalam hidup orang seseorang sesusah apapun kondisinya.... dan itulah akhirnya kisahnya.


Part tambahan...


Alunan musik melantun,


Taman bunga belakang sekolah dirubah menjadi tempat romantis. Disana hanya ada dua orang yang saling bersitatap. Alvin menggenggam tangan Zea dengan pandangan penuh cinta.


"Apakah kamu ingat pertemuan pertama kita?" Zea mengangguk "Itu adalah hari keberuntungan terbesarku karena bisa bertemu denganmu" lanjutnya. Zea terpaku mendengarnya dan tersenyum menahan gejolak yang sangat membahagiakan.


"Ze! Adanya aku yang sekarang ini, itu karena kamu. Setiap harapan dan mimpi yang aku buat, semua karenamu. Diriku yang sekarang ini bisa bertahan juga karena kamu. I love you Ze" Zea membekap mulutnya.


Ia berlutut mengeluarkan cincin dari balik jasnya, "Ze! Bersediakah kau menghabisi sisa hidupmu denganku? Will you marry me?!"


"I Will" jawabnya. Zea terharu tak percaya bahwa kini pria yang dicintainya melamarnya. Alvin tersenyum dibalik wajah tampannya, lamarannya diterima. Dia memasangkan cincin dijari manis Zea.


Tak bisa menahan rasa cinta yang begitu besar keduanya berpelukan dengan iringan tepuk tangan dibalik kamera.

__ADS_1


"And Cut," ujar sutradara.


"Akhirnya proyek kali ini bapak nyatakan benar benar selesai. Bapak tidak menyangka bahwa kegiatan kali ini bisa selesai dengan cepat"


"Pak kepala sekolah, mohon berikan apresiasinya kepada murid murid yang sudah bekerja keras atas projek kali ini" ucap Pak Burhan.


"Baik. Pertama tama saya mengucapkan terimakasih pada Pak Burhan dan Pak Reno karena telah membimbing anak anak dengan baik. Dan untuk kalian semua para murid yang ada disini. Atas kerja keras kalian semua, saya selaku kepsek Immanuel School mengucapkan terima kasih sebesar besarnya. Sebagai apresiasi bapak, bapak sudah menyiapkan jamuan untuk kalian semua. Silahkan masuk!" Beberapa orang masuk, mereka memakai baju koki dengan beberapa orang menyiapkan peralatan memasak.


"Bapak sengaja mendatangkan beberapa koki dari bisnis restoran keluarga Immanuel. Semoga kalian suka! Kalau begitu bapak tinggal dulu dan silahkan menikmati" ucap pak kepsek membuat semua orang berseru senang.


Mereka dengan senang hati melahap masakan koki yang jelas sangat berkualitas dengan penuh semangat sambil memperhatikan cara para koki memasak yang masakan mereka benar benar menggugah selera.


Rasa letih mereka tergantikan dengan rasa lezat dari makanan yang mereka makan.


Mereka duduk dibangku bangku yang tertata ditaman. Zea memperhatikan wajah Alvin yang tampan, dia pikir wajah Alvin dibuat oleh full make up. Tak tau saja bahwa pria itu hanya diberikan bedak tipis diwajahnya.


Acara makan makan setelah syuting selesai.


Sekolah sudah sepi hanya tersisa Zea dan beberapa anggota Aodra yang berada didalam sekolah. Zea sedang menunggu jemputan Bang Arka ditemani Alvin disamping. Pria itu ingin mengantar pulang tapi Zea menolak.


Tin tin


"Abang! Lama banget sih! Sampe jamuran Zea nungguin Abang!" omel Zea mengerucut bibirnya.


"Maaf Ze, kejebak macet. Lagian kan ada Alvin"


Alvin suda kembali ke keadaan semula dengan penampilan nerd yang khas.


"Alvin aku pulang dulu ya! Kamu buruan pulang. Makasih udah nemenin aku. kamu hati hati naik motonya!" cerocos Zea. Alvin tersenyum melihat Zea berbicara aku-kamu didepan Bang Arka, tandanya Zea sudah mulai terbiasa.


Zea masuk kedalam mobil duduk disamping bersama bang Arka.


"Hati hati Bang!" ujar Alvin.


"Kok cuma ke Abang doang? Akunya?"


"Kan bang Arka yang nyetir" selorohnya.


"Elah Ze, sama Abang sendiri masak cemburu" ucap bang Arka gemas dengan adiknya itu mencubit kedua pipi Zea.

__ADS_1


"Ish Abang mah!" pekik Zea mengusap usap kedua pipinya.


"Yaudah kami pulang dulu Al!" pamit bang Arka. Alvin mengangguk, Zea melambaikan tangannya kearah Alvin, dibalas olehnya.


Mobil berjalan sudah hampir separuh jalan. Zea ingin bermain handphone dari pada mendengar ocehan abangnya yang menyebalkan. Namun setelah dia cari, ia tak menemukan.


"Abang!" pekik Zea. Abang Arka tersentak kaget, menoleh kearah Zea yang mengobrak abrik isi tasnya.


"Kenapa Ze?" tanya Bang Arka memperhatikan adiknya.


"Handphone Zea gak ada!" Zea panik, matanya sayu.


"Coba kamu inget inget!" kata bang Arka masih dalam kondisi menyetir memperhatikan Zea yang memelas kepadanya.


Zea berpikir mencoba mengingat ingat kembali dimana dia terakhir kali bersama handphonenya. Pikirannya menelisik.


'Tadi sehabis Alvin ngelamar gue! Kita makan makan, gue ambil handphone gue buat foto foto. Terus gue taruh dimeja, gue kumpul kumpul sama Icha dan Keyla. Terus kita pulang, karena banyak yang pulang akhirnya gue, Icha, sama Keyla pulang. Sama Alvin juga sih, yang nungguin gue sampai Abang jemput. Ohw iya waktu gue ambil tas kan handphone gue belum gue bawa, gue tinggalin dimeja taman!" pikir Zea. Kemudian menatap bang Arka.


"Gimana udah inget?" tanya Bang Arka memperhatikan ekspresi Zea yang sedang menatapnya seakan dia sudah menemukan hal yang dia cari.


"He he he, Zea lupa ambil dimeja taman!" Zea cengengesan menggaruk belakang kepalanya.


"Bang balik kesekolah" pinta Zea memohon dengan mata berbinar dan menyatukan kedua telapak tangannya dan mendekapnya didada.


"Nyusahin jadi adik" Bang Arka mengacak-ngacak rambut Zea gemas.


Abangnya sama Alvin sama saja suka mengacak acak rambutnya.


"Makasih Bang!" ucapnya.


Bang Arka memutar balik mobilnya kembali kesekolah. Bang Arka menghentikan mobilnya ditempat ia menjemput Zea tadi.


"Tungguin ya Bang!" pinta Zea turun dari mobil.


"Jangan lama lama!" Pekik Bang Arka mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil kearah Zea yang masuk kedalam sekolah.


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


__ADS_2