My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
159. Kesiangan


__ADS_3

Suara bising dari luar membangunkan Zea. Mata Zea mengerjap menoleh ke kanan kiri. Dimana Icha dan Keyla masih tertidur pulas di tenda. Sedangkan kini di sampingnya, Silvi juga ikut terbangun oleh keributan diluar.


"Ada apa kak?" tanya Zea pada Silvi.


"Nggak tau" jawab Silvi menggeleng.


Silvi bergerak, membuka pintu tenda kemudian keluar diikuti oleh Zea.


Mata Zea yang setengah terbuka mengernyit akan silaunya cahaya dari luar. Zea mengusap kedua matanya, mencoba menetralisir cahaya yang masuk.


Kedua mata Zea mengerjap. Akhirnya ia bisa melihat sekitar. Ia menoleh mencari tau apa yang terjadi, hingga ia bisa lihat abangnya Arka disana, seperti sedang saling berbicara diantara dua pihak, Arka seperti sedang mencoba menenangkan keduanya.


'Kenapa ya?' batin Zea bingung.


Kemudian Zea menoleh kearah lain. Ia melihat sekitar karena merasa tak ada yang salah, hingga terjadi keributan dengan situasi saat ini.


"Dimana Alvin?" gumam Zea mencari. Ia menatap kearah salah satu tenda di seberangnya yang ia tau itu adalah tenda Alvin dan kawan kawannya.


"Masih tidur mungkin ya!" seru Zea mengendikan bahu.


Tak ingin ikut campur. Zea masuk kembali kedalam tenda guna membangunkan Icha dan Keyla.


Walau ia tak ingin terlibat, tapi Zea tau bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk tidur tiduran.


"Cha! Key! Bangun!" tutur Zea menggoyang goyangkan tubuh keduanya. Zea mencoba membangunkan keduanya.


"Ish apaan sih Ze! Gue masih ngantuk nih!" balas Keyla merengut berganti posisi, sedangkan Icha sama sekali tak bergerak.


"Diluar ada masalah nih! Yuk bangun! Jangan sampe kita jadi tambah nyusahin!" seru Zea mencoba membangunkan keduanya kembali.


Dengan sekuat tenaga, Zea akhirnya membuat keduanya bergerak. Keyla terbangun dan duduk sambil mengumpulkan nyawa, sedangkan Icha hanya bergerak ke samping menghindari goyangan Zea.


"Hishh! Bantuin Key!" ujar Zea berdecak menatap Icha yang nampak pulas.


Keyla bergerak menatap tubuh Icha.


"Cha! Bangun Cha!" seru keduanya membangunkan Icha.


Puk puk


Zea menepuk pundak Keyla mengkode agar Keyla berposisi dibelakang Icha. Keyla yang mengerti mengacungkan jempol.


Hingga! Zea bergerak, mengambil kedua tangan Icha, mengangkatnya agar Icha bangkit sedangkan Keyla mendorong dari belakang.


"Ukhh berat banget sih lo Cha!" ujar Zea menderu berhasil membuat Icha dalam posisi duduk.


"Cha! Cha! bangun! Kalau lo nggak bangun kita tinggal nih. Biar lo jadi santapan harimau disini" ancam Zea menakut nakuti.


Icha yang mendengar kata harimau pun akhirnya tersentak dan membulatkan mata.


"Ha? Ha? Harimau? Mana? Gue gak mau dimakan! Daging gue alot!" seru Icha membuka mata sambil berteriak.


Zea dan Keyla saling bersipandang. Keduanya saling mengangguk dan tertawa.


"Hahahaha!" tawa keduanya

__ADS_1


Pak! Sukses!


Aduan telapak tangan keduanya beradu dan saling melempar senyum.


"Kalian!" seru Icha menunjuk Keyla dan Zea.


"Salah siapa kebo ish!" seru Zea melotot kearah Icha hendak memukul Icha namun, ia tahan dan berakhir Zea bangkit diikuti dengan Keyla. Keduanya bangkit keluar dari tenda.


"Lah? Kok gue ditinggal?" seru Icha terbengong menatap ia ditinggal sendiri.


Zea merenggangkan badannya. Ia menoleh kearah Arka yang masih berbincang dengan teman-temannya.


puk puk..


Sebuah tepukan di pundak mengagetkan Zea.


"Astaga!" seru Zea menoleh.


Alvin dengan paras menawannya melempar senyum pada Zea. Sedangkan yang ditatap tersenyum kikuk.


Alvin mendekat merangkul bahu Zea.


"Baru bangun?" tanya Alvin sambil merapikan rambut Zea.


"Iya" jawab Zea mendongak menatap Alvin yang lebih tinggi darinya.


"Hoaa! Ada apa sih nih?" tanya Icha keluar dari tenda sambil menguap.


"Hai Tuan putri! baru bangun jam segini" ejek Julian mendekat.


"Guys! Segera kemas kemas, lepasin tenda tenda kalian buruan!" tutur Ivan berteriak.


Zea mengernyit menatap pada Alvin, Julian, Kenan, dan Geo penasaran.


Tapi ketiganya hanya mengendikan bahu sedangkan Alvin mengacak acak rambutnya.


"Beresin tenda kamu! Aku bantu lepasin tenda" ujar Alvin pada Zea.


"Em oke" balas Zea mengangguk.


Zea menoleh kearah Icha dan Keyla. Menggandeng kedua temannya itu untuk mengajak membereskan barang barang mereka yang ada di tenda.


Tak lama berselang akhirnya wilayah yang mereka pakai untuk berkemah telah bersih dan tak meninggalkan sampah apapun disana.


Mereka diberi jeda sebentar untuk sarapan sejenak. Zea dan kawan kawan duduk berjejer sambil memakan roti yang mereka bawa dari rumah. Sedangkan beberapa orang nampak sedang menyeduh teh.


Mereka menikmati sarapan pagi dengan damai, hingga suara Bram, Ivan, Malik, dan Arka yang memanggil. Membuat aktivitas sarapan mereka harus di sudahi.


Zea yang asik makan akhirnya buru buru menyelesaikan makannya, ia meminum teh yang telah di buatkan Arka di dalam thumbler yang ia bawa.


"Ukh!" keluh Zea saat teh yang ia minum sedikit panas.


"Kamu gak papa?" tanya Alvin khawatir, menyentuh wajah Zea.


"Gak papa! Gak papa! Yuk, Abang udah panggil tuh!" ujar Zea menurunkan tangan Alvin. Kemudian ia menutup thumbler nya kembali. Memasukannya kedalam tas.

__ADS_1


"Ayo!" tukas Zea.


Zea mengajak mereka bangkit. Mereka ikut berkumpul menghadap Bram, Ivan, Arka, dan Malik.


"Oke guys! Sebelumnya ada kesalahan dari waktu yang di tentukan. Gue minta maaf soal itu. Seharusnya kita bangun paling lambat pukul 5 pagi, tapi karena semua orang sudah capek. Akhirnya gak ada yang bangun sama sekali hingga kini sudah pukul 10 pagi. Yah mau bagaimana lagi kan? Walau tak sesuai jadwal kita tetap harus semangat mendaki. Gue tau ada beberapa dari kalian yang pengen lihat keindahan dari puncak gunung. Maka dari itu, untuk sampai ke atas kita jangan loyo! Yuk semangat! Pasti bisa sampai ke puncak!" seru Bram berbicara lantang seperti berpidato.


prokk prokk prokk...


"Semangat!" seru mereka berteriak sambil bertepuk tangan.


Sedangkan Keyla, Zea, dan Icha saling bersitatap. Mereka ini masih pemula? Sanggupkah mereka ikut sampai kepuncak! Membayangkannya aja ketiganya sudah lemas. Awalnya saja semangat, tapi sampai disini mereka sudah angkat tangan.


"Yuk! Lanjut! Semangat!" seru Ivan memimpin dengan Bram di sampingnya.


Ketiganya saling bersitatap menghembuskan rasa lelah. Rasanya istirahat tadi malam tidak cukup untuk ketiganya. Tapi mau bagaimana ini resiko karena mereka yang ingin ikut mendaki dengan persetujuan masing masing.


Akhirnya mau tidak mau mereka ikut berjalan. Mereka mulai teratur, berjalan menanjak menaiki gunung. Melewati tanah yang penuh dengan bebatuan dan jalan yang terjal juga basah.


Tes tes tes


Suara rintikan hujan jatuh membasahi mereka. Dengan terburu buru, mereka mengambil jas hujan di tas masing masing, memakainya di tubuh. Setelah itu mereka lanjut kembali.


"Wahh licin banget!" seru Icha shock karena tanah yang menjadi licin oleh air hujan.


"Hati hati Cha!" seru Zea menggenggam erat tangan Icha. Mencegah agar Icha tak terpleset.


"Makasih!" jawab Icha.


Zea mengangguk, "Semangat!" ujar Zea memberi Icha semangat.


Dengan hujan yang tiba tiba datang membuat jalan pendakian menjadi semakin lambat.


Mereka mengenakan jas hujan terus menerus berjalan hingga mereka sampai di suatu tempat di gunung, dimana tenda tenda dari para pendaki lain masih berjejer disana. Nampak beberapa dari mereka sedang membakar apalah itu di tengah tengah hujan seperti ini.


"Seru tuh!" ujar Keyla menengok ke beberapa tenda yang sedang membakar sosis dan bahan lain sebagainya.


"Istirahat guys! Yang cowok, buat tenda besar sementara aja, jangan di keluarin semua. Terus yang cewek, kalau mau masak silahkan! Ntar masakannya biar gue tampung" tutur Bram dari depan bercanda.


"Gue juga! Gue siap nampung masakan kalian!" seru Ivan ikut serta.


"Yeihh!" sorakan tawa tertuju pada keduanya.


"Ha-ha-ha canda guys! Yuk! Mulai!" seru Bram mengarahkan.


Ia menggerakkan Arka dan kawan kawan untuk membuat tenda. Beberapa tenda di buat, namun hanya untuk agar mereka tak kehujanan saja.


Hingga sambil menunggu hujan reda, mereka mulai memasak beberapa bahan yang mereka siapkan dari awal.


"Oii makan! Udah jadi nih!" teriak Silvi menggema pada kumpulan pria yang asik mengobrol di tenda lain.


"Widih cakep nih!" seru Ivan paling awal mendekat, merasakan aroma nikmat dari masakan para wanita itu.


Hingga akhirnya mereka saling berbondong bondong datang ke tempat para gadis itu memasak. Mulai menyiapkan wadah masing masing untuk mereka isi. Bahkan tak hanya itu, beberapa orang dari perkumpulan kemah lain juga ikut bergabung dengan mereka. Padahal mereka tak membuat banyak. Tapi yasudahlah! Kenikmatan itu harus dibagi bagi! Bukan begitu!


TBC

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2