
"Bang!" sapa Alvin mendekat menautkan tangan, bertukar sapa dengan Arka.
"Loh udah balik? Kapan sampai? Kok bisa ada disini?!" tanya Arka dengan heran akan kedatangan Alvin.
Alvin menampilkan senyum tipis pada Arka, "Tadi Bang! Sengaja nyusulin kesini, buat dia!" jawab Alvin memincingkan mata, melirik kearah Zea yang berada di belakang Arka.
"Ha-ha-ha! Bisa aja lo!" Arka menepuk pundak Arka sembari tertawa.
Melihat tawa Arka dan akrabnya pria itu pada Alvin. Membuat beberapa teman Arka yang tadinya sudah berjalan di depan hendak menuju mobil, berhenti karena penasaran akan kedatangan Alvin yang tak terduga.
"Siapa ka?" tanya Ivan melihat kearah Alvin penasaran.
"Cowok adik gue" jawab Arka menoleh pada Ivan.
"Oh pacar Zea" balas Ivan mengangguk anggukkan kepala.
"Ha? Serius? Kok bisa disini?" tanya Ivan tersentak kaget karena tersadar.
Teman teman Arka yang lain menatap kearah Alvin. Tak terkecuali Rendy, Mendengar adanya pacar Zea, Rendy yang penasaran pada Zea menatap kearah Alvin dalam.
Pria itu memperhatikan Alvin dari atas kebawah. Melihat Alvin dengan pandangan menyelidik dan menilai.
'Jadi ini pacar Zea? Ganteng sih, tapi kok kumal gini, gak ada keren kerennya. Mending gue!' batin Rendy menilai membanggakan dirinya.
Alvin tak peduli dengan pandangan teman teman Arka yang bertanya tanya kenapa dia ada disini? Dan apa yang ia lakukan disini?
Langkah Alvin mendekat kearah Zea. Ia berdiri tepat didepan Zea. Sedangkan Zea mengikuti dimana Alvin memandang. Gadis itu mendongak melihat wajah Alvin yang lebih tinggi darinya.
"Hai" sapa Zea menampilkan senyum di bibirnya. Wajah Zea bersemu, ia tak bisa menampik bahwa ia merindukan pria didepannya kini.
Alvin tak menjawab melainkan melihat penampilan Zea. Zea memakai celana jeans ketat dengan jaket tebal yang menutupi tubuhnya. Rambut Zea nampak tergerai panjang numun sedikit berantakan, menimbulkan kesan tersendiri di diri Alvin. Alvin kacau!!
Sedangkan Zea yang ditatap seperti itu oleh Alvin merasa aneh. Membuang mukanya ke samping, tak berani melihat wajah Alvin lagi.
"Ekhmm!! Asik nih udah ketemu ihiyy, pakek malu malu segala! Lagian, Jomblo seperti gue mah bisa apa hahaha!" tutur Ivan menggoda.
Pukk
Silvi yang ada di dekat Ivan menepuk kepala Ivan keras.
"Auww!" pekik Ivan.
"Lo tanya, jomblo kayak lo bisa apa? Jomblo kayak lo mah cuma bisa meresahkan tau gak? Pasti aja, ikut nimbrung kalau ada orang lagi mesra mesraan, cari cewe sono biar gak ngenes ngenes amat hidup lo!" ujar Silvi tepat sasaran pada Ivan.
Ivan hanya bisa cemberut mendengar perkataan Silvi.
"Hahahaha betul tuh!" tawa teman teman sekampusnya yang lain menyoraki Ivan.
Zea yang kini berhadapan dengan Alvin menoleh ke arah teman teman abangnya yang kini sedang tertawa membuat keributan.
"Aku ada disini kenapa lihat yang lain?" ujar Alvin cemburu, kedua matanya masih tak lepas dari Zea.
"Ah itu!" seru Zea gugup tak bisa berkata kata.
"Kamu kapan sampai?" tanya Zea mendongak, mengalihkan kegugupan.
"4 jam yang lalu" jawab Alvin membuat Zea berseru.
"Oh! Terus, Kok bisa nyusul kesini? Tau dari siapa?" tanya Zea kembali. Zea memang meminta izin untuk mendaki, tapi ia tidak memberitahukan aktivitas apa saja yang nanti ia lakukan secara detail, contohnya seperti sekarang ini. Mereka berhenti di pertengahan jalan untuk makan tanpa pemberitahuan.
"Apa itu penting?" Alvin bertanya balik.
__ADS_1
Zea menggeleng. Tentu saja tidak! Zea tau Alvin akan tau dimanapun ia berada. Karena pria itu selalu menyuruh orang untuk mengawasinya setiap saat. Jika kalian lupa dimana Zea tau? Zea tau dari foto foto yang dipajang Alvin di ruangan rahasia pria itu. Tepatnya ruang rahasia yang ada di kamar apartemen Alvin. Tersembunyi begitu dalam.
Bahkan karena hal itu! Zea terkadang memikirkan tindakan apa saja yang bisa ia lakukan dan tidak jika sedang berada diluar. Karena setiap gerakannya pasti akan terpantau.
"Oii Al!" panggil Julian menepuk bahu Alvin membuat pria itu menoleh begitu pula dengan Keyla dan Icha yang ada didekat Zea juga ikut menoleh.
Sedari tadi, Zea memang tak membatasi kedua sahabatnya untuk tau percakapan yang ia dan Alvin lakukan. Karena keduanya pasti juga tak akan paham akan hal itu.
"Mana Geo?" tanya Julian melirik sekitar mencari keberadaan Geo.
"Di luar" jawab Alvin. Julian ber-oh ria.
"Oh!"
"Hei Guys! Yuk buruan berangkat. Biar kita bisa istirahat sebentar nantinya sebelum mendaki. Terus, lo Ka! Lo urus dulu aja tambahan anak baru lo, tapi buruan ya! Kita tunggu di parkiran mobil!" tutur Bram mengomando.
"Ya" jawab Arka dengan raut wajah datar.
Teman teman kampus Arka yang lain pergi meninggalkan wilayah tenda makanan, termasuk Rendy yang di tarik paksa oleh Ivan untuk mengikuti mereka menuju mobil. Arka berbalik menatap kearah Zea dan teman temannya.
"Jadi ini gimana? Lo ikut mendaki?" tanya Arka menatap pada Alvin.
Alvin balik menatap Arka, "Iya bang" jawab Alvin.
Arka tak berbicara kembali, melainkan berfikir, apa yang harus ia lakukan? Tak mungkin ia menyuruh Alvin balik setelah nekatnya pria itu menyusul. Kalau ia mengijinkan, ia yakin Alvin tak membawa peralatan kemah apapun dan itu berbahaya! Naik gunung tanpa peralatan yang memadai.
"Lo yakin mau ikut Al? Emang lo bawa peralatan mendaki?" tanya Satya menyahut di dekat Icha penasaran, pasalnya seperti yang Alvin bicarakan tadi. Alvin baru saja sampai setelah perjalanan jauh dari luar negeri.
"Bawa" jawab Alvin.
Zea yang sedari tadi memandang Alvin mengernyit, mereka semakin bingung. 'Bukannya Alvin tadi bilang kalau ia baru sampai 4 jam yang lalu ya? Kapan ia siap siap?!" Zea berfikir sambil bertanya tanya.
"Gue minta orang rumah siapin kemaren!" ujar Alvin mencoba membuat semua orang percaya.
Alvin ikut berjalan menggandeng tangan Zea erat disampingnya.
"Al! Udah selesai?" tanya Geo menghampiri.
"Ha? Dia juga ikut?" tanya Arka kaget dan heran karena kedatangan satu orang lagi.
Arka kira Alvin yang terakhir ternyata ada satu lagi.
Geo hanya bisa menampilkan senyuman ramah pada Arka.
"Hah!" Arka menghela nafas kasar. Nambah lagi bocah yang harus ia jaga
"Kalian berdua datang perjalan tadi udah makan belum? Kalau belum, makan roti Zea aja. Yang lain mau berangkat soalnya! Takut gak sesuai jadwal kalau nungguin kalian makan" tutur Arka memberi tahu.
"Iya bang!" jawab keduanya.
"Gue gak mau bertele tele! Intinya hati hati saat di jalan, jangan ngebut ngebut! Utamain keselamatan" Arka memberi nasehat.
"Iya bang! Siap" jawab Mereka.
"Yaudah yuk berangkat! Yang lain udah nungguin lama dari tadi" ajak Arka pada Zea dan kawan kawannya.
Mereka mengangguk dan mulai mengikuti langkah Arka menuju parkiran mobil.
Mobil Arka dan Alvin berada dalam posisi yang berjarak, tak searah.
Hap!
__ADS_1
Alvin mencekal lengan Zea saat gadis itu hendak mengikuti langkah Arka menuju mobilnya.
"Kamu sama aku!" ujar Alvin menatap Zea dalam. Alvin menarik tangan Zea pelan, membuat Zea berdiri di sampingnya.
"Bang! Gue ambil Zea buat satu mobil sama gue ya?!" ujar Alvin meminta izin layaknya memberi tahu pada Arka.
"Ya!" balas Arka malas. Arka mengiyakan saja karena sudah terlalu malas mengatur ini itu pada sekumpulan bocah dimatanya itu.
"Lah Zea sama Alvin?! Terus kita? Kita juga mau semobil sama Zea" tutur Icha merengek di dekat mereka.
"Nggak!" tolak Alvin dengan nada bicara ketus.
Icha tak terima hendak melayangkan protes karena kemauannya di tolak. Tapi Alvin justru membalas Icha dengan tatapan Intimidasi. Membuat Icha yang melihat tatapan intimidasi dari Alvin itu mau tak mau mengiyakan, begitupula Keyla.
"Lo sama bang Arka, gue mau semobil berdua sama Zea" ujar Alvin menekankan.
"Ya!" balas Icha.
"Lah lo mau berdua sama Zea? terus gue Al?" Geo menunjuk dirinya sendiri.
"Lo ikut Bang Arka di depan, temenin dia" Ujar Alvin memberi perintah pada Geo.
"Huft okey!" balas Geo.
Mereka mulai berjalan ke mobil yang akan mereka naiki. Begitupula dengan Satya, Julian, dan Kenan yang sudah berada di dekat mobil mereka.
"Yuk!" ajak Alvin pada Zea.
"Bentar! Gue mau ambil tas dulu" ujar Zea menahan. Ia melepaskan pegangan tangan Alvin sejenak, mendekat kearah mobil Arka, membuka pintu tengah mobil yang Abangnya itu pakai, mengambil tasnya didalam yang sempat ia titipkan pada Icha dan Keyla yang semula duduk di kursi tengah.
Zea keluar dan menutup pintu mobil dengan tas besar di punggungnya. Ia berjalan mendekat kearah Alvin.
"Udah kan?" tanya Arka mengawasi apa yang Zea lakukan. Zea mengangguk.
"Udah" jawab Zea.
"Yaudah yuk pada naik semua! Al, hati hati bawa mobilnya" instrupsi Arka menasehati.
"Iya Bang!" jawab Alvin. Pria itu membawakan tas Zea yang berat di pundaknya sedangkan tangan lainnya menggandeng tangan Zea.
"Bye Ze!" sapa Icha dan Keyla melambai saat mereka harus berpisah mobil.
"Bye!" Zea menyahut sembari berjalan mengikuti langkah Alvin, kearah mobil pria itu berada.
Mereka mulai masuk ke dalam mobil masing masing. Menyalakan mesin mobil mereka.
Tin tin...
Mobil Bram mengklakson. Mobil Bram mulai berjalan mengawali perjalanan mereka yang sempat tertunda.
Alvin dan yang lainnya mengikuti dari belakang. Mereka melanjutkan perjalanan kembali.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Hai!!
Maaf lagi baru up, aku masih nunggu waktu senggang buat bisa up lebih. Karena waktu ku ngetik terbatas!
Kadang harus nunggu tengah malam gini, buat bisa up. Itupun kadang suka banget gagal karena capek aktivitas seharian dan keblablasan gak bisa bergadang.
__ADS_1
Intinya so sorry buat keterlambatan, makasih ♡♡