
Nafas Alvin menderu ia merasakan kedua tangan Zea memeluknya dari belakang. Alvin melepaskan tautan tangan Zea, menarik gadis itu kembali ke kamar.
Brak!!
Suara pintu tertutup dengan keras. Zea gemetar ketakutan dengan derai air mata, menunduk tak berani menatap Alvin.
"Tell me! Kenapa kamu langgar larangan aku?!" hardik Alvin menahan emosi ke arah Zea.
Zea bungkam seakan suaranya menghilang seperti ditelan bumi.
"Katakan, Kenapa?!" tekan Alvin kembali.
Zea terisak masih bungkam tak bisa bersuara.
"Hah! Sh¡t!" umpat Alvin mengusap wajahnya kasar.
Alvin mendekat kearah Zea, menangkup wajah gadis cantik itu yang basah akan air mati. Jantung Alvin terasa tertusuk melihat hal itu
Alvin memejamkan matanya sejenak, menyatukan dahinya dengan dahi Zea.
"Maaf hiks hiks maaf!" ujar Zea dengan isak tangis saat ia mendapatkan suaranya kembali.
Alvin membuka mata, menjauhkan wajahnya dengan wajah Zea. Tangan Alvin yang ada di wajah Zea bergerak menghapus air mata di kedua pipi gadis itu.
Jantung Alvin berdenyut melihat kedua mata Zea yang meneteskan air matanya. Ia seketika sadar kembali kalau ia menyakiti Zea.
"Gak, aku yang salah! Don't cry, okay? Maaf!" ujar Alvin menarik tubuh Zea kedalam pelukannya. Zea menangis sendu didalam pelukan Alvin, memegang baju Alvin. Ia tak kuasa menolak pelukan Alvin.
"Maaf Ze, gak seharusnya aku emosi ke kamu!" ujar Alvin masih memeluk Zea. Zea kembali bungkam.
Alvin melepaskan pelukannya pada Zea. Membelai rambut Zea.
"Aku gak akan semarah ini kalau kamu gak langgar, larangan aku!" ungkap Alvin.
"Hiks hiks maaf!" ujar Zea dengan isak tangis.
"Setiap kamu berulah lagi bukan kamu yang kena hukuman aku. Tapi Joe yang bakal gantiin kamu. Kamu paham?" Zea mengangguk masih sesenggukan.
"Udah jangan nangis. Kamu jelek kalau nangis!" ujar Alvin.
Zea masih sesunggukan namun tangisnya kian mereda, batinnya mendeus mendengar ejekan Alvin tapi ia tak berani bersuara.
Alvin merengkuh Zea kedalam pelukannya membelai kepala Zea.
"Aku lelah!" keluh Alvin, menghirup aroma tubuh Zea.
__ADS_1
'Masa bodoh!' pekik batin Zea.
"Kamu udah makan?" tanya Alvin. Zea menggeleng.
"Kok belum makan?" tanya Alvin mengernyitkan dahi melepaskan pelukannya, menatap wajah Zea.
'Kan lo yang ganggu gue makan. Dateng dateng main pukul orang aja!' seru Zea masih tak berani bicara langsung.
"Kenapa belum makan?" Alvin masih bertanya walau Zea diam sama.
Zea bingung, haruskan ia menjawab? namun lidahnya keluh.
"Joe!" teriak Alvin memangil bawahannya itu.
Joe yang masih meringis dengan luka dan lebam di sekujur tubuhnya masuk kedalam menghampiri Alvin.
"Kenapa Zea belum makan?" tanya Alvin tajam kepada pria itu.
Zea menatap Joe iba, ia merasa bersalah. Karena dirinya Joe mendapatkan luka itu.
"Maaf tuan" ujar Joe. Pria itu melirik sekilas Zea yang menatapnya sendu. Joe diam tak ingin menceritakan apa yang terjadi.
"Gue gak butuh maaf lo! Gue tanya sama lo, kenapa Zea belum makan?" Alvin memandang wajah Zea mengawasi setiap gerik pria itu.
"Sialan! Gue tau lo salah. Lo pikir gue bego!" Hardik Alvin membuat Joe gelagapan.
"Tidak tuan, say-"
"Diam!" bentak Alvin kesal.
Zea tak tega Joe dibentak hanya karena pria itu bungkam tentang dirinya. Zea berjalam mendekat kearah Alvin, menahan lengan pria itu. Gadis itu menatap Alvin dengan mata berkaca kaca. Alvin menoleh melihat Zea. Menantikan apa yang akan Zea ucapkan.
"I-itu salahku. Dia gak salah. Jangan marahi dia!" ucap Zea gagu karena gugup.
Alvin melihat Zea yang membela Joe memincing mata, 'Apakah Zea tertarik pada Joe?' batin Alvin curiga.
"Kamu bela dia? Kamu mau aku maafin dia?" tanya Alvin. Zea mengangguk.
"Tolong maafin Joe. I-itu salahku Al! A-aku yang ngancam Joe, kalau aku tidak makan dibawah. Aku akan mogok makan!" ungkap Zea menunduk merasa bersalah.
Alvin terdiam mendengar belaan dari Zea. Sedangkan bibir Joe juga sama sama terkatup, ia tak menyangka bahwa Zea akan mengatakannya.
Bisa saja gadis itu diam dan Alvin akan melimpahkan segala kesalahan padanya. Namun Zea tak sejahat itu untuk mengorbankan orang lain.
Alvin menatap Zea dengan pandangan sulit dimengerti. Zea menggigit bibirnya dalam menyalurkan rasa takut, apa yang akan Alvin lakukan padanya? tanya Zea dengan perasaan campur aduk.
__ADS_1
Joe merasa udara dingin menyeluruk ketubuhnya. Ia ingin masuk diantara keduanya namun ia sadar akan posisinya. Mau bagaimana pun itu tetap adalah kesalahannya, tak seharusnya ia mengijinkan Zea turun kebawah, hingga membuat Alvin marah. Itulah yang dipikirkan Joe.
"Emm Tuan!" panggil Joe.
"Keluar!" perintah Alvin dengan nada dingin. Joe mau tidak mau menuruti.
"Saya permisi!" Joe keluar dari ruangan itu hanya menyisakan Alvin dan Zea.
Zea masih gugup menjauhkan tubuhnya sedikit dari Alvin. Alvin menatap Zea, tak membiarkan hal itu terjadi. Ia menarik pinggang Zea membuat tubuh mereka tanpa jarak.
"Al, lepasin, please!" pinta Zea mencoba mendorong dada Alvin.
Alvin tak menjawab, ia menyampirkan lengannya di bawah kaki Zea. mengangkat tubuh Zea membuat gadis itu memekik.
"Alvin!" pekik Zea memanggil namanya.
Alvin membaringkan tubuh Zea di kasur, mengurung Zea, membatasi pergerakan wanita itu.
"Al, kamu mau apa?" tanya Alvin saat wajah pria itu berada diatas tubuhnya. Wajah Alvin kian mendekat, Zea dibuat panik seketika.
"Al!" pekik Zea tertahan. Bibir Alvin mendarat dibibir Zea, Zea menutup bibirnya rapat tak membiarkan Alvin masuk.
Alvin terus ******* bibir Zea memaksa menerobos langsung mulut Zea yang tertutup rapat. Ia menggigit bibir bawah Zea, Zea seketika meringis. Tanpa menyia nyiakan kesempatan Alvin menerobos masuk merasakan setiap inci mulut Zea.
Alvin terus menyesap bibir merah merona Zea tanpa peduli akan Zea yang terus meronta memukuli dada pria itu. Tak ingin Zea semakin memberontak Alvin mencekal lengan Zea, menahannya di atas kepala gadis itu. Sedangkan tangannya yang lain memegang dagu Zea memperdalam ciuman diantara keduanya.
Alvin menyesap bibir Zea hingga Zea kekurangan pasokan Oksigen. Gadis itu sudah akan gila jika Alvin tak segera melepaskan ciuman mereka, dengan sekejap Zea menggigit bibir bawah Alvin sembari mengambil nafas panjang, mencoba meraup pasokan udara sebanyak mungkin saat ciuman mereka terlepas.
"Ukh!" Alvin meringis nyeri saat ia memegang bibir bawahnya.
"Kamu gila" seru Zea menatap Alvin kesal.
"Sakit by!" rengek Alvin. Zea membuang muka karena ia juga merasa bibirnya bengkak karena ulah Alvin. Jadi ia tak merasa bersalah sedikitpun.
Seketika keberanian Zea muncul kembali. Gadis itu kembali menatap Alvin tajam mendorong tubuh Alvin. Menjauhkan Alvin darinya.
kruckkk
Suara perut Zea berbunyi membuat keduanya kembali canggung. Zea membuang muka, tak ingin menatap Alvin.
"Aku ambil makanan dulu!" ucap Alvin tanpa memperdulikan tanggapan Zea. Pria itu keluar dari kamar meninggalkannya.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1