My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
124. Nasib Rey


__ADS_3

Beberapa hari berlalu. Alvin selalu menemani Zea dikala gadis itu sedang sakit. Bahkan rela mengabaikan sekolahnya demi menemani Zea.


Kedua orang tua Zea yang diberitahukan bahwa Zea sakit saat itu menjadi khawatir hingga meninggalkan pekerjaan masing masing, namun setelahnya mereka merasa lega bahwa putri mereka itu baik baik saja. Namun berbeda dengan Alvin yang amat sangat mengkhawatirkan Zea, pria itu tak bisa tenang jika berjauhan dengan Zea hingga mengabaikan sekolahnya. Lagi dan lagi Alvin selalu mementingkan Zea dari pada sekolahnya.


kedua orangtua Zea pun juga sudah memaksa Alvin dengan keras untuk pergi ke sekolah. Tapi pria itu masih keras kepala untuk tetap disisi Zea.


kedua orang tua Zea masih terus menerus menekankan Alvin untuk sekolah, hingga menasehati Alvin jika ia bolos sekolah seperti ini orang tua Alvin akan kecewa. Tapi yang mereka dapat adalah Alvin menunjukkan chatnya dengan sang mommy yang menunjukkan bahwa sang mommy menyetujui bahkan mendukung untuk Alvin menjaga Zea.


Karena merasa sudah kalah dan tak ada gunanya lagi, akhirnya mereka membiarkan Alvin untuk menjaga Zea hingga gadis itu sembuh.


Dan sekarang Zea sudah bisa beraktivitas kembali seperti biasa. Zea dibonceng Alvin menggunakan motor sport hitam Alvin. Mereka menuju kesekolah.


Motor sport hitam Alvin memasuki wilayah sekolah. Lantas pandangan beberapa murid tertuju pada keduanya. Zea sempat bingung ketika turun dari motor Alvin, menatap heran kearah mereka.


Tapi ia tak menghiraukan lebih jauh. Mungkin saja ini karena Alvin yang saat ini merubah penampilannya, mereka jadi tertarik dan bertanya-tanya.


Alvin kini berubah menjadi pria menawan dengan gaya coolnya, bukan lagi Alvin si culun cupu yang bisa dihina hina oleh semua orang ataupun dipandang rendah. Tapi Alvin dari geng Aodra yang terkanal dingin dan tak bisa didekati.


"Itu Alvin kan? Dia udah masuk sekolah?!" ujar murid A namun bisa didengar oleh Zea walau samar.


"Iya, itu dia. Penampilan dia sekarang udah beda ya!" ujar murid B.


"Iya sekarang udah gak culun lagi" murid A kembali bersuara.


"Oh ya! Gue mau kasih tau kalian soal Alvin" murid C berseru membuat kedua lainnya penasaran.


"Apaan?" tanya keduanya.


"Gue denger denger nih ya, dari salah satu petugas uks, si Alvin ini berani banget loh nyuruh nyuruh anggota geng Aodra." ujar murid C.


"Masa?" Keduanya tak percaya.


"Iya, suer nggak Bohong. Kata mereka juga Alvin ini punya pengaruh kuat loh di geng Aodra" timpal murid C.


"Masa sih? pasti hoaks" balas murid A mengernyit tak percaya.


"Dih dibilangin gak percaya. Gue tuh kenal baik sama tuh petugas, gak mungkin lah dia bohong!" ujar murid C kembali.


Zea terus berjalan sambil mendengar pembicaraan disekitarnya tentang Alvin. Ia lantas menoleh kearah Alvin.


"Emang kamu nggak masalah, berpenampilan kayak gini?" tanya Zea sedikit risih karena ia menjadi pusat perhatian.


"Kayak gini, gimana maksud kamu?" Alvin balik bertanya ikut menatap Zea.


"Em tampan dan menawan" ujar Zea berkata jujur. Alvin melempar senyum pada Zea.


"Apa kamu terpesona dengan penampilanku yang sekarang?" ujar Alvin mengerlingkan mata. Zea menatap Alvin lantas menggeleng.

__ADS_1


"Aku lebih suka kamu yang dulu" ujar Zea kemudian kembali menatap depan melangkahkan kakinya menuju kelas.


"Cih"


Alvin yang ada di samping Zea seketika diam dan senyum dibibirnya seketika luntur. Nyatanya Zea lebih menyukai dirinya yang palsu dari pada yang asli. Walau ia sudah tahu hal itupun, tapi saat Zea mengatakannya lagi. Dada Alvin terasa tercabik cabik.


Mereka masuk kedalam kelas dan seperti biasa Icha dan Keyla sudah datang terlebih dahulu. Kedua sahabatnya itu heboh akan kedatangan Zea kembali setelah Zea sakit selama beberapa hari.


"Gue kangen tau nggak sama lo" ujar Icha.


"Gue juga, dunia sepi tanpa lo Ze!" gurau Keyla.


Kedua gadis itu memeluk Zea erat.


"Lebay kalian ish, padahal pulang sekolah kalian juga mampir jengukin gue" ucap Zea mengulas senyum.


"Dih lo mah gitu Ze, gak ada so sweet so sweetnya" Cebik Icha kesal melepaskan pelukannya.


"Hehehe bercanda Cha, gitu aja ngambek. Sini, gue juga jangan sama kalian" Zea manarik Icha kemudian memeluk kedua sahabatnya.


Ketiganya saling bersipandang melepaskan pelukan. Icha ingin angkat bicara lagi namun bel sekolah detik itu berbunyi. Membuat Icha mengurung niat untuk memberitahukan hal hal selama Zea libur. Mereka kembali ketempat duduk mereka masing-masing. Dan beberapa murid yang berada diluar kelas kini satu persatu masuk kedalam kelas.


Guru masuk kedalam kelas mulai mengajar menjelaskan materi demi materi untuk para anak didiknya.


Pergantian jam pelajaran terus berganti. Hingga ditengah tengah pembelajaran tiba tiba saja Zea ingin ke kamar mandi.


"Iya Zea kenapa?" tanya sang guru.


"Saya mau ijin ke kamar mandi Bu" ujar Zea.


"Silahkan, tapi jangan lama lama dan segera kembali ke kalas" ujar sang guru mengizinkan.


Zea menggangguk, "makasih Bu" ujar Zea bangkit.


"Mau ku temenin?" tanya Alvin memandang Zea.


Zea menggeleng, "Bentar doang kok Al, aku bisa sendiri" Zea lantas berjalan keluar kelas menghilang dari balik pintu.


Zea berjalan melewati lorong melihat kelas kelas lain yang sedang melaksanakan pembelajaran.


Zea sampai di depan toilet dan ingin masuk kedalam namun ada penjaga kebersihan yang sedang membersihkan toilet.


"Maaf nduk, ini kamar mandinya masih saya bersihkan. Untuk sementara pakai kamar mandi dipojok saja ya" ujarnya.


"Ah iya buk gak papa" Dengan terpaksa Zea akhirnya pergi ke kamar mandi yang berada di pojok. Kamar mandi yang berdekatan dengan ruangan geng Aodra di sekolah itu.


Zea masuk ke bilik toilet. Disana sepi dan tak ada siapapun. Zea lantas masuk kedalam toilet demi menuntuskan cairan dalam kantung kemihnya yang sempat ia tahan.

__ADS_1


"Hah lega" ujar Zea mulai merapikan pakaiannya. Ia membuka bilik toilet berjalan menuju wastafel demi mencuci tangannya.


Zea mengelap tangannya dengan tisu yang tersedia. Ia keluar dari toilet membuang tisu yang ia pakai ke dalam tempat sampah yang menjadi pembatas antara kamar mandi wanita dan pria.


Zea yang ingin kembali melangkah tiba tiba berhenti saat mendengar suara ribut yang asal muasalnya dari toilet cowok. Zea terdiam beberapa saat sambil menajamkan pendengarannya, bisa saja ia salah dengar.


"Perasaan tadi sepi deh" gumam Zea.


Tapi suara yang entah apa itu kembali terdengar. Zea mendekat kearah toilet pria. Hanya di depannya saja, karena Zea tak berani sembarang masuk.


"Akghh lepasin gue! Gue mohon" ujar seorang pria dari dalam toilet merintih kesakitan.


Seketika dahi Zea mengernyit, ia merasa kenal dengan suara itu.


"Akghh gue mohon gue mohon, gue salah. Gue gak akan deketin Zea lagi" ujar pria itu dari dalam.


Zea seketika membelak saat namanya dipanggil. Ia tau suara siapa itu? Itu adalah suara Rey, sang ketua osis. Zea seketika penasaran apa yang terjadi dengan Rey dan kenapa dirinya disangkut pautkan.


Ia bergerak mendekat sedikit agar suara Rey dan beberapa pria yang ada di dalam sana terdengar jelas.


"Rey Rey, apes banget sih lo! Bisa bisanya lo buat king marah" ujar seorang pria tanpa memperdulikan Rey yang terkapar disana.


Pria itu terus menekan tubuh Rey dengan kakinya. Menginjak Rey yang merintih dilantai. Zea seketika membelak saat ia sedikit mengintip apa yang terjadi didalam. Zea membekap mulutnya agar tak bersuara.


"Rasakan ini! Makanya jangan sok jadi orang"


Bugh Bughh Bughh.


ujar pria lain mulai kembali melanjutkan penyiksaaannya.


"Mentang mentang lo udah dipilih sama geng Aodra buat jadi ketua osis, lo bisa seenaknya di sekolah ini!"


"Lo itu cuma kacung, sadar diri dong!" ketusnya.


"Berani beraninya ingin rebutan cewek sama king! Lo itu nggak pantes" ujar satu pria lagi mengangkat tubuh Rey.


Plakk bughh


Wajah Rey ditampar dan kembali di jatuhkan kebawah dengan kasar.


Zea yang ada di balik tembok seketika terpaku mendengar itu semua. Zea semakin menahan suaranya untuk tidak berteriak. tubuhnya gemetaran. Ia kembali ingat betapa mengerikannya sosok Alvin.


Zea terus terpaku oleh suara nyaring didalam sana.


Rey? Sang ketua osis yang dari dulu mengejarnya kini mendapatkan masalah karena dirinya. Dan semua itu atas perintah Alvin. Pikiran Zea seketika kosong, saat mengetahui nasib Rey sekarang yang nampak menyedihkan karena dirinya.


TBC

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2