My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
191. Bazar mini


__ADS_3

Hari ini adalah hari bazar mini dimulai. Zea ikut berbena membantu kawan kawannya menyiapkan stan di sela kesibukannya untuk tampil di panggung sederhana yang ada di lapangan.


Setelah diskusi panjang lebar dirumahnya, akhirnya mereka menjual makanan simple yang diusul oleh Zea, yakni Cookies.


Zea yang mendapat resep dari chef terpercaya yaitu mommy Alvin, menjadikan itu sebagai ide bisnis di stan kelasnya.


Sebenarnya bazar kali ini bersifat bebas dengan tujuan menyajikan kesenangan untuk para murid selepas ujian.


Tak hanya cookies saja yang mereka buat. Di kelas mereka dibagi menjadi 3 kelompok dan masing masing kelompok harus memiliki ide masing masing. Maka itu, stan di samping Zea menyajikan makanan ala Japanese food yaitu takoyaki dan di samping satunya lagi menyajikan makanan Indonesia yang terdiri dari buah buahan, yakni Rujak.


Zea sama sekali tak paham akan konsep kelasnya yang sangat aneh ini. Yah tapi itu tak penting. Yang paling penting saat ini adalah makanan mereka terjual dan modal mereka kembali, karena untuk menyiapkan semua ini harus menggunakan uang kas yang cukup banyak.


"Ayo guys dibeli dibeli!" ujar Agung mempromosikan dagangan.


Zea berdiri dibelakang melihat bagaimana kegiatan jual beli berlangsung. Di sekitar lapangan nampak ramai dan berdesak desakan.


"Berapa nih?" tanya seorang gadis mengambil cookies yang ada di meja.


"5 ribu 1" jawab Agung sebagai penjaga stan cookiesnya.


"Mahal banget 2 ribulah" ujar gadis itu menawar.


"Eh mulut enak aja, dikata ini toko sembako bisa tawar menawar. Lihat nih bahannya pre, pre, pre apa?" tanya Agung lupa.


"Premium" jawab Zea sembari menyengir, menggeleng kepala akan gaya sok pria itu.


"Nah premium!! Ayo!! Mau beli, gak Sono!!" tutur Agung dengan lidahnya yang lemas.


"Dih gitu banget! Yaudah nih satu" ujar gadis itu menyerahkan uang ke agung.


"Asekk!! Penglarisan, perawan yang beli" ujar Agung udah seperti pedagang dipasar, mengibaskan uang yang diterimanya kebarang dagangan


"Zeara!" panggil Dito membuat Zea menoleh.


"Ya?" ujar Zea membalas.


"Udah waktunya! Kita dipanggil Bu Fatimah" ujarnya menyampaikan.


"Oh oke" Zea mengangguk dan mengikuti Dito tanpa banyak bicara kebelakang panggung.


"Bu Fatimah!" sapa Dito memanggil wanita yang merupakan Wali kelasnya itu.


Zea dan Dito menyalimi.


"Sudah siap?" tanya Bu Fatimah.


"Sudah Bu!" jawab keduanya.


Zea dan Dito menaiki panggung dan mulai mengambil gitar yang ada di sana. Zea dan Dito menyetel gitar memastikan bahwa gitar mereka aman.


Setelah itu keduanya duduk di kursi dengan mikrofon di depan bibir mereka.


"Tes tes!! Selamat pagi semua!!" sapa Zea dengan suara merdu menyapa penonton yang berada disana.


Namun sapaan itu tak bisa membuat semua orang menoleh pada mereka.


Zea menoleh kearah Dito dan mengangguk.

__ADS_1


Jrengg jrengg jrengg.....


Dito memainkan gitar bass-nya membuat mereka kini memandang kearah keduanya.


Penampilan Zea kini sepenuhnya berbeda dari ia sebelumnya. Ia menggunakan makeup yang sedikit tebal untuk menutupi kecantikannya. Zea tau mungkin saja ia akan dividio dan di posting ke sosial media. Maka itu ia berjaga jaga.


"Ekhmm Kembali lagi. Selama pagi semua!!" sapa Zea.


"Pagi!" jawab mereka.


"Perkenalkan namaku Zeara dan yang ada sampingku ini Dito. Kami berasal dari kelas 11 IPA 1. Berikan tepuk tangannya dulu dong!!" tutur Zea memeriahkan.


"Wuuu!!!"


prok prok prokk.....


Tepuk tangan meriah dan sorakan berkumandang di sepanjang lapangan.


Zea tersenyum melihat kemeriahannya, "Sebelumnya terima kasih untuk kepala sekolah serta bapak dan ibu guru telah mengadakan acara ini. Dan untuk teman teman selamat datang di bazar mini Sma xxx. Silahkan kalian bisa berkeliling dan mampir mampir ke stan stan yang ada, juga silahkan menikmati hiburan dari kami!! Terima kasih!!" seru Zea.


Zea menoleh kearah Dito.


"One two, one two three, go!"


Jrengg,, suara gitar bas yang meriah dipetik oleh Dito.


Zea mulai menyanyikan selagu demi lagu, dengan iringan Dito disampingnya. Suara Zea yang merdu mulai menjadi pusat perhatian. Tak hanya ia yang menyanyi, Dito juga sesekali ikut bernyanyi disampingnya.


Zea juga nampak mengimbangi dengan mengajak penonton menyanyi. Parah murid nampak menikmati suara Zea yang candu.


Hingga suara gitar dan nyanyian Zea berhenti karena lagunya sudah selesai.


Zea tersenyum kearah penonton, "Terimakasih" ujar Zea dan Dito kemudian turun dari panggung.


Saat Zea turun, Ayu menyambut Zea dibawah. Karena sudah ketahuan bahwa Ayu kini sepupu Zea maka tak perlu lagi ada yang disembunyikan.


"Nih!" ujar Ayu menyerahkan minuman yang ia beli dari stan pada Zea.


"Makasih Yu!" tutur Zea menerima minuman pemberian Ayu.


Namun Ayu tak menanggapi dan menatap lurus kearah Dito.


"Buat kamu" ujar Ayu juga menyerahkan minuman itu pada Dito.


"Ah!" Dito seperti kaget tapi menerima minuman Ayu.


Zea menatap Ayu memincing.


"Makasih Yu!" ujar Dito.


"Sama sama" kemudian Dito pergi.


Zea mendekat ke Ayu dan menyenggol lengan Ayu yang tak berhenti menatap pria itu dari belakang.


"Kenapa sih Yu?" tanya Zea melirik aneh.


Ayu tersenyum kearah Zea, "Nggak papa, nggak papa" jawab Ayu.

__ADS_1


"Aneh!" ujar Zea.


Ayu menggandeng lengan Zea dengan akrab kemudian membawa Zea berkeliling disekitar bazar.


...****************...


Di tempat Alvin..


Kini pria itu sedang berada di kantor, di ruang yang sama dengan sang Daddy.


Alvin menggunakan Headset ditelinganya untuk menerima panggilan sambil mengecek dokumen dokumen di mejanya.


Kedua pria itu nampak sibuk satu sama lain dengan pekerjaan masing masing.


Hingga suara yang Alvin kenal membuat pekerjaan Alvin berhenti dan langsung menoleh ke sang Daddy.


Alvin menatap Daddynya intens, "Kirimkan!" ujar Alvin memaksa dengan tegas.


Daddy Exel nampak ingin menggoda, namun Alvin menangkap hal itu.


"Kirimkan itu atau ku kacaukan pekerjaan Daddy, agar waktu daddy dan mommy berkurang. Daddy tau kan aku ahli kalau soal mengacau" ancam Alvin sepenuh hati.


"Dasar!" tutur Exel menanggapi ancaman Alvin.


Exel dengan cepat mengirimkan apa yang anak buahnya dapat pada Alvin.


Setelah menerima kiriman sang Daddy. Alvin langsung menyingkirkan semua pekerjaannya dan membesarkan volume untuk mendengar dengan seksama suara Zea.


Hingga Alvin berhenti di satu titik. Alvin mengerut memundurkan ulang rekaman suara Zea. Ia memejamkan mata dan menajamkan pendengarannya.


Tap


Alvin menghentikan pemutaran suara di laptopnya.


'Suara pria!' batin Alvin.


Walau samar, Alvin dapat mendengar suara pria yang amat dekat dengan Zea.


Alvin langsung mengirim rekaman file itu pada Joe untuk dianalisa di perusahaan Alvin yang selama ini ia lepas.


Jika kalian lupa, Alvin memiliki perusahan game yang diurus oleh Geo dan Jovan. Namun karena sekarang Geo disisihkan, Joe yang menggantikan hal itu.


Alvin menutup laptopnya kemudian membereskan berkas berkas di mejanya dengan buru buru.


Alvin bangkit lalu menggenakan jaket yang ia sampirkan di sandaran meja. Kemudian ia buru buru pergi dari ruangan itu.


"Alvin!! Mau kemana?" tanya Exel melihat Alvin yang buru buru keluar.


Tapi Alvin tak menanggapi dan Daddy Exel hanya bisa menggeleng karena Alvin.


Ponsel daddy Exel bergetar dan panggilan dari anak buahnya terpampang dilayar.


"Maaf tuan Exel. Ada kebocoran di kiriman suara yang saya kirim," Daddy Exel langsung mematikan panggilan.


"Begitu rupanya!!" ujar Exel paham dengan sikap Alvin yang buru buru keluar.


TBC

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2