
Selepas sekolah Zea berencana langsung mendatangi rumah Alvin. Namun sebelum dia kesana Zea mampir ke sebuah supermarket. Gak etis rasanya jika menjenguk tidak membawa apa apa.
Zea yang sudah selesai dengan barang belanjaannya dikejutkan dengan suara teriakan.
"Tolong tolong copet" Teriakan wanita itu membuat Zea menoleh.
Copet itu berlari mendekat kearah Zea. Mungkin copet itu berpikir Zea hanyalah gadis SMA biasa yang bukan apa apa. sayang seribu sayang, nasib copet itu sepertinya sedang tidak bagus hari ini karena bertemu dengan Zea.
Zea yang melihat copet itu berlari kearahnya meletakan barang bawaannya begitu saja.
"Minggir" bentak sang copet menghalau Zea.
Bukannya minggir namun Zea mencegat copet itu. Terjadi perkelahian antara keduanya. Namun Zea yang memiliki dasar beladiri dengan gampang menghadapi copet itu.
Zea memukul copet itu membuatnya mengaduh. Tak sampai disitu Copet tadi berusaha membalasnya, dengan sigap Zea menghalau dan menangkap tangan itu lalu memelintirnya kebelakang. Zea menendang kakinya membuat copet itu berlutut dengan satu kaki.
Zea menahan punggung copet itu dengan tumpuan kakinya sedangkan satu tangan Zea yang masih menganggur Zea gunakan untuk mencekik leher sang copet membuatnya mendongak dan kesulitan bernafas hingga lemas.
Tak lama kemudian wanita yang berteriak tadi datang dengan petugas keamanan yang berlari menghampirinya. Zea membiarkan copet itu ditangani oleh petugas keamanan.
Wanita tadi berhenti dengan nafas tersengal segal. Zea memperhatikan wanita itu, cantik! itu yang Zea pikiran.
Zea mengambil tas yang sempat jatuh akibat perkelahiannya dengan copet itu. Zea juga mengambil barangnya yang ia letaknya tak jauh dari tempatnya berkelahi.
Zea menghampiri Wanita yang berkucur keringat itu. Dirinya mengambil sebuah botol minuman dari barang belanjaannya yang tadi sempat dia beli. Zea membuka tutup botol itu dan memberikannya kepada wanita tadi.
Wanita cantik tadi menerimanya dan meminumnya supaya lepas dari dahaganya sehabis berlari. Zea memapah wanita itu kepinggiran, mendudukan wanita yang raut wajahnya tadi terlihat gusar lekas kecopetan.
"Tante gak apa?" tanya Zea sedikit ragu memanggil wanita itu Tante terlepas dari wajah cantik yang terlihat awet muda wanita itu.
"Tante gak apa terima kasih" ujar wanita itu tersenyum kearah Zea. Zea mengangguk.
"Ini Tante tasnya, Tante cek dulu siapa tau ada yang ilang" Ucap Zea menyerah tas itu kepada sang pemilik.
Wanita itu mengambil tas pemberian Zea dan membuka memastikan barang barangnya aman. Dengan nafas lega wanita itu hembuskan lantaran semua barang barangnya aman didalam tas.
"Nyonya, anda tidak apa? Maaf kan saya, saya terlambat datang" ucap pria itu meminta maaf.
"Gak apa pak. Saya baik baik aja kok, salah saya juga yang nyuruh Pak Faiz untuk masukin barang belanjaannya duluan" jawabnya.
Wanita itu kemudian dibantu berdiri menoleh kepada Zea. Wanita itu membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa uang dari dompetnya.
"Ini buat kamu, makasih udah nolongin saya" ucap wanita itu memberikan beberapa lembar uang kepada Zea.
"Eh, gak usah tan. Saya bantuin ikhlas kok" Zea kaget dan menolak uang yang diberikan.
"Gak apa Tante juga ikhlas, anggep aja ini sebagai kompensasi karena kamu udah bantuin saya" ucap wanita itu masih menyodorkan uang kepada Zea.
"Gak usah tan gak apa-apa, saya juga baik baik aja kok. Saya bener bener ikhlas nolongin Tante" Balas Zea dengan penolakan yang halus akan niatnya yang tidak mengharapkan imbalan.
"Yaudah Tan, pak. saya pamit dulu. Saya masih ada urusan" pamit Zea kepada keduanya.
Zea meninggalkan mereka dan menghentikan taksi untuk mengantarkan ketempat tinggal Alvin berada.
Zea sedari tadi fokus dengan hpnya tak menyadari sekitar ketika dia memasuki kawasan yang megah.
Taksi itu berhenti membuat Zea menghentikan pula aktivitasnya dan menoleh kearah jendela mobil. Zea dibuat kaget ketika mendapati rumah! ralat bukan rumah lebih seperti mansion yang megah layaknya istana.
'Beneran ini rumahnya?' batin Zea bertanya tanya.
"mbak udah sampe nih" panggil supir itu.
"Pak ini beneran alamatnya? bapak gak salah alamat kan?" tanya Zea ke supir taksi memastikan.
"Iya mbak ini beneran alamat yang mbak berikan ke saya" Ungkap supir taksi.
Zea kemudian membayar dan turun dari taksi. Dirinya menatap takjub pagar rumah didepannya yang menjulang tinggi. Zea bertanya tanya bagaimana dia masuk dan memastikan itu rumah Alvin atau bukan.
Dari arah belakang sebuah mobil datang membuat Zea menyingkir untuk tidak menghalangi jalan. pintu pagar rumah terbuka namun bukannya mobil itu masuk kedalam rumah malahan pintu mobil terbuka menampakkan seorang wanita yang Zea kenal.
"Kamu? Kenapa ada disini?" tanya Wanita itu bingung menatap kehadiran gadis yang menolongnya tadi.
__ADS_1
Zea menatap wanita itu kikuk, "Ah Tante kita ketemu lagi, Saya kesini untuk mencari Alvin. apa bener ini alamat rumahnya Alvin?" tanya Zea dengan sopan kearah wanita itu.
"Alvin?" Zea mengangguk.
"Kamu siapanya Alvin?" tanya Wanita itu.
"Saya Zea tante, saya temannya Alvin" Zea memperkenalkan diri.
"Cuma teman?" tanya wanita itu lagi seakan tak percaya, Zea mengangguk membenarkan.
"Iya Tante saya temannya Alvin, saya mau njenguk Alvin"
"Kalok gitu ayo masuk mobil Tante, kalok kamu jalan yang ada nanti kakimu pengkor" ucap Wanita itu dengan gurau tawa membuat Zea menanggapi wanita itu dengan tawa pula.
Zea memasuki mobil itu dan mobil itu membawanya masuk kedalam luasnya wilayah rumah itu. Zea dibuat takjub kembali menatap sekitar. Apakah benar Alvin tinggal disini?
"Ayo masuk Zea!" Ajak wanita itu masuk kedalam rumah.
Zea masuk kedalam rumah itu dan tak berhenti dibuat takjub dengan kemegahan seisi ruangan itu. sampai diruang tamu.
"Kamu duduk dan tunggu disini sebentar ya" Ucap Wanita itu, Zea tersenyum menanggapi dia menuruti perkataan wanita itu.
Wanita itu berlalu pergi dan membuat Zea bertanya tanya siapa Alvin yang sebenarnya?
Wanita itu menaiki lift menuju lantai atas tempat putranya itu berada. Wanita yang ditolong Zea adalah Miranda ibu dari Alvin.
Miranda mengetuk pintu anak semata wayangnya itu dan memanggil nama anaknya. Pintu kemudian terbuka membuat pria yang berada didalamnya bertanya tanya.
Ada apa mommy cari gue? gak tau gue lagi kesel apa gara gara diliburkan, jadinya gue gak bisa ketemu Zea kan, batin Alvin kesal
Namun hanya batin. Gak mungkin dia bicara seperti itu langsung kepada wanita yang telah melahirkan dan mengurusnya selama ini.
Alvin membuka pintu, "Ada apa mom?" tanya Alvin dengan wajah datarnya.
"Kamu dicariin tuh sama cewek" ujar mommy Mira membuat Alvin bingung.
Perempuan mana yang berani mencarinya sampai rumah, lancang sekali perempuan itu sampai berani datang kerumahnya.
Alvin menjadi emosi ketika ada perempuan yang nekat datang kerumahnya."Siapa mom?" tanya Alvin memastikan.
"Zea?" tanya Alvin memastikan.
"Iya Zea, kamu kenal?" tanya mommy Mira penasaran karena menurutnya Zea adalah gadis yang baik. Padahal Mommy Mira jarang tertarik dengan gadis lain, karena mommy Mira selalu tau mana gadis yang benar-benar baik sama yang pura pura baik.
Alvin tak menjawab pertanyaan sang ibu lantas memasuki kamar membuat Miranda menatap sang putra heran mengikuti sang putra masuk. Disana dia melihat sang putra yang menata penampilannya dan memakai kaca mata bulat yang menurut mommy Miranda, nggak banget.
"Kok kamu ngerubah penampilan gini Al, emang Zea siapa kamu?" tanya Mommy Mira masih memperhatikan putranya.
"Gadisku mom" jawab Alvin membuat mommy Mira tersenyum penuh arti.
"Ini perempuan yang mau kamu apelin waktu itu kan?" tanya Mommy Mira kembali.
"Iya mom" jawab Alvin sudah selesai dengan dandanannya mendekat kearah pintu tempat mommynya berada.
"Mom nanti aku bakal bilang, kalok aku ini anak pembantu disini" Miranda heran dengan penuturan sang putra.
"Kenapa?"
"Zea gak suka cowok sempurna kayak Alvin mom, jadi Alvin minta pengertian Mommy" Alvin menjelaskan membuat Miranda mengangguk menuruti permintaan anaknya.
"Kalok gitu mommy turun dulu kedapur" Alvin juga ikut turun namun bedanya kini dirinya menghampiri Zea yang berada diruang tamu.
"Ze" Panggil Alvin membuat gadis itu menoleh dan menatapnya aneh. Zea sedikit menjaga jarak dari Alvin membuat pria itu mengeryit heran.
"Zea" panggil Alvin lagi mendekat kearah Zea.
"Stop, lo disitu aja. Jangan dekat dekat" tahan Zea membuat Alvin menghentikan langkahnya untuk lebih mendekat setelah melihat raut wajah tak baik dari Zea.
Apa yang terjadi dengan Zea? pikir Alvin.
Selama ditinggal oleh Miranda zea merenung menebak nebak identitas Alvin, dirinya merasa jika Alvin adalah tipe cowok yang selama ini dia benci.
__ADS_1
"Lo kenapa Ze?" tanya Alvin memastikan keadaan Zea.
"Gu-e gak apa" ujar Zea mengalihkan pandangan, masih menahan rasa mual yang ingin datang.
"Ayo Ze, kita kehalaman belakang. Gak enak kalok kita duduk disini, gue bukan yang punya rumah" ajak Alvin pada Zea. kata Alvin membuat Zea yang awalnya resah menjadi sedikit membaik.
"Lo tinggal disini Al?" tanya Zea saat mereka sudah duduk dibangku menghadap taman sambil memperhatikan sekitar.
"Iya Ze, lebih tepatnya ortu gue kerja disini. Ibu gue pembantu disini" bohong Alvin keluar dari mulutnya.
Alvin mengingat bila Zea sempat mempunyai trauma yang bisa dinyatakan sudah sembuh. tapi ketika melihat Zea saat ini Alvin dapat memastikan bahwa gadisnya belum sembuh sepenuhnya.
Bagaimana bisa Zea dinyatakan sembuh bila Zea saja masih tidak bisa menerima pria dengan wajah tampan, pria yang pintar, pria yang kaya, pria yang ingin menjadikan dirinya sempurna dimata para perempuan. sampai batas tertentu.
Keduanya saling berpandangan, Alvin beralih posisi berjongkok didepan Zea dan menggenggam tangan gadis itu yang sedang mengatur nafasnya setelah lepas dari kegelisahan hati.
"Ini itu rumah keluarga Immanuel. Gue ini anak pembantu disini, maka dari itu gue bisa sekolah disana. Gue beda sama murid murid yang ada disana. Gue gak pernah cerita soal kondisi gue karena gue tau lo pasti akan merasa terganggu kalok deket sama gue" ungkap Alvin setengah benar setengah salah.
"Sekarang karena lo udah tau kondisi gue, apa lo bakal menjauhi dari gue?" tanya Alvin nanar.
"Gue gak mungkin menjauhi lo Al! Lo kira gue cewek apaan yang mandang orang lain dari statusnya saja" sanggah Zea.
"Zea tatap mata gue" pinta Alvin memegang pipinya membuat keduanya bertatapan.
"Ze gue mau jujur sama lo, Gue suka sama Lo Ze!" Alvin mengungkapkan perasaannya. Zea terdiam dengan keterkejutannya.
"Sepertinya gue cowok yang gak romantis karena nembak lo dengan cara biasa kayak gini" Alvin menyindir dirinya sendiri.
"Tapi gue gak bisa nahan perasaan gue lebih lama lagi Ze. Gue gak berharap lo nerima perasaan gue, gue tau lo pasti nolak gue. Tapi gue harap hubungan kita bisa seperti biasanya" Alvin berdiri setelah mengungkap yang dia rasa pada Zea. Zea merasa Alvin akan pergi, mencekal tangan Alvin.
"Al, Lo gak mau denger jawaban gue?" tanya Zea.
"Gue tau lo pasti nolak gue, secara penampilan gue kayak gini. lo pasti gak sudi pacaran sama cowok jelek, cupu, culun kayak gue. Apa lagi sekarang lo tau gue anak pembantu" keluh kesah Alvin.
"Siapa bilang? Gue terima lo kok" ucap Zea lantang. Alvin menatap kearah gadis itu membelak seakan tak percaya Zea menerimanya.
"Serius?" Zea mengangguk dengan senyuman.
"Dua rius malahan" Zea terkekeh. Alvin lantas memeluk Zea erat dan gadis itu balik memeluknya.
"Gue seneng banget, makasih Ze" girang Alvin dengan smirk licik diwajahnya yang tak dapat Zea lihat.
'Gue tau lo bakal terima gue, karna lo itu cuma milik gue Ze. You are mine and will never change. Gak akan gue biarkan siapapun ngerebut lo dari gue' batin Alvin didalam pelukan gadis itu.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Me: Sifat gila Alvin udah mulai keluar nih, ati ati Ze wkwkwk...
Zea: Dih malah ketawa, jangan dibuat terlalu posesif dan sadis ya Alvinnya. Gue takut sendiri jadinya..
Alvin: apa yang kamu takutin by, aku cuma mau ngajak kamu main ke duniaku aja kok.
/Muncul dari belakang dan mendekap Zea
Zea: /Tersentak kaget
Alvin lepasin!
/memberontak dari dekapan Alvin.
Alvin: Gak akan pernah Ze
/Mempertahankan rontaan dari Zea
/Alvin tersenyum dengan smirk
Me: /Diam melihat keduanya
Dunia emang terasa milik berdua ck ck ck
__ADS_1
/melipat tangan didada
/geleng geleng kepala