
Alvin masih setia menunggu Zea disamping gadis itu. Menggenggam tangan Zea dengan sesekali menciuminya.
Zea dan Keyla juga ikut menunggu menaiki ranjang disamping Zea. Mereka bahkan sudah melewati pembelajaran jam pertama untuk memastikan Zea baik baik saja.
Tak lama kemudian suara ketukan pintu dari luar membuat mereka menoleh.
"Pi" ujar Satya melihat siapa yang datang.
"Mana yang sakit?" tanyanya langsung melihat kearah Satya, kemudian menoleh pada Alvin yang sedang duduk sambil memperhatikan seorang gadis yang terbaring di ranjang.
Pria itu lantas menatap kebingungan. Bukannya dia kemari untuk memeriksa Alvin? tapi kenapa pria didepannya ini seakan baik baik saja.
"Zea pi yang sakit. Bukan Alvin" jelas Satya disamping pria itu.
"Zea?" tanyanya.
"Pacar Alvin om" jawab Julian melanjutkan.
"Om! Periksa dia sekarang" perintah Alvin saat melihat pria dengan setelan dokter itu diam disana, seakan terpaku.
Papi Satya mendekat kearah Zea melakukan beberapa prosedur yang sama dengan yang dilakukan dokter uks itu.
Dokter uks yang melihat kedatangan papi Satya yang merupakan salah satu direktur rumah yang ia tahu seketika bangkit. Ia keluar dari ruangannya mendekat kearah ranjang Zea.
"Em permisi" ujar dokter uks membuat papi Satya menoleh.
"Saya tadi sudah mengeceknya dan Zea hanya kecapean juga dehidrasi saja. Makanya saya beri dia infus sebagai penanganan" jelas dokter itu memberitahu.
"Lebih baik anda periksa lagi Zea om. Saya gak percaya dokter lain dan Anda lebih baik kembali keruangan anda tadi. Saya sudah tidak butuh anda!" ketus Alvin menatap cuek pada dokter uks itu, walau ucapannya dibuat formal seakan menghormati.
"Ekhmm oke" tutur papi Satya saat merasakan betapa sengitnya ucapan Alvin pada sang dokter uks.
Mendengar juga mendapat tatapan sengit dari Alvin membuat sang dokter merasa dirinya tak di anggap lagi. Dari pada membuat suasana saat itu makin rumit apalagi dihadapan seseorang seperti papi Alvin. Ia lantas pamit kembali keruangannya dengan alasan untuk meninjau beberapa dokumen soal kesehatan di sekolah. Walau memang benar adanya kalau sang dokter memiliki tugas meninjau dokumen dokumen itu.
"Silahkan" ujar Papi Satya sambil menatap kepergian dokter itu.
Pria paruh baya itu lantas kembali berbalik memeriksa Zea dengan teliti kemudian berucap " Siapa namanya tadi! Zea ya?" tanyanya.
"Iya om, Zea" jawab Julian.
Papi Satya mengangguk, "Zea sudah tidak apa apa Alvin, seperti yang dikatakan dokter itu tadi, dia cuma kecapean dan mungkin sedikit banyak pikiran. Jadi sekarang dia hanya perlu istirahat total saja" jelasnya.
"Nanti buat obatnya biar om kirimkan saja, nanti om titipkan ke Satya" lanjutnya.
Alvin mengangguk, "Makasih om" ujarnya dan sekali lagi dirinya kembali terkesima akan ucapan terimakasih Alvin yang begitu mahal. Bahkan saat pria didepannya ini sakit pun dan dirinya sendiri yang mengobati, ucapan terima kasih pun tidak sekalipun terlontar.
__ADS_1
"Em sama sama" balas papi Satya canggung.
"Makasih om"
ujar Keyla dan Icha membuat papi Satya menoleh dan sedikit tersentak. Keduanya memang sempat tak terlihat karena tertutupi oleh tirai pembatas.
"Loh ada Nei?!" ujar papi Satya. Memang kebanyakan orang akan memanggilnya dengan nama Icha termasuk kedua orangtuanya, tapi berbeda dengan papi Satya yang merupakan orang pertama yang memanggilnya Nei, Neisha.
"Iya om" balas Icha melempar senyum.
"Manggil om lagi kan! Udah dibilang panggil papi aja biar sama kayak Satya!" tutur Papi Satya membuat Icha mengulas senyum canggung.
"Iya Pi" ujar Icha membuat Keyla berdehem.
"Ekhmm uhukk uhukk!" seru Keyla menggoda membuat Icha menyenggol perut Keyla.
"Apaan sih Cha! Orang gue batuk juga" ujar Keyla padahal bohong.
"Zea ini sahabatnya Icha Pi" ujar Satya memberitahu.
"Oh iya! Pantesan kayak kenal. Papi baru inget. Ternyata temen Nei yang suka main kerumah Nei waktu itu kan. Kalau lagi nginep, kalian bertiga selalu berisik sampai kedengaran loh sama om dari rumah" ujar Papi Satya mengulas senyum menyelidik.
"Ah hehehe, maaf om, pi" seru Keyla dan Icha tersenyum malu malu. Menggusap tenguk sembari menunduk.
"Emang segitu kedengarannya ya pi?" tanya Satya penasaran.
"Nggak kok papi bercanda. Serius amat!"
"Ah!" mereka semua mendesah kecuali Alvin, akan gurauan receh dari papi Satya, begitu pula Keyla dan Icha yang tadinya merasa bersalah. Karena saat ketiganya menginap dirumah Icha, mereka memang berisik dan bisa saja suara mereka membuat keributan yang menggangu tetangganya itu.
Karena terkadang mereka manahan diri untuk tidak bicara terlalu keras dimalam hari sehingga mengganggu tidur nyenyak orang lain. Karena ke-tiganya sendirinya tak suka jika tidur mereka diganggu.
"Yaudah kalau gitu papi tinggal balik dulu ya! Nanti kalian anterin Zea pulang kerumah kalau sudah bangun aja. Hati hati kalau bawa mobilnya, jangan kenceng kenceng. Takut Zea semakin pusing" ujar Papi Satya menasehati. Mereka lantas menggangguk serentak.
"Iya om" jawab mereka.
Papi Satya pergi meninggalkan uks. Kemudian Alvin menunggu Zea yang entah kapan akan sadar. Icha dan Keyla yang berada disamping ranjang Zea, pergi ranjang lain guna ikut mengistirahatkan tubuh mereka juga.
Sedangkan Satya dan Julian yang berada disana juga ikut duduk disalah satu bangku yang disediakan bersama dua orang petugas lainnya yang sedari tadi diam tidak ikut dalam pembicaraan mereka karena takut.
"Ukhh emm" rintih Zea membuka mata merasakan kepalanya berdenyut. Zea memegangi kepalanya yang terasa berat. Zea menopang tubuhnya dengan satu tangan hendak bangkit.
Alvin yang berada disamping Zea menahan tubuh Zea agar tak bangkit. Sedangkan Icha dan Keyla ikut bangkit melihat kondisi Zea.
"Kamu tidur aja! Jangan banyak bergerak" seru Alvin kembali meletakan kepala Zea untuk tidur.
__ADS_1
"Ze, Lo nggak papa kan Ze?!" tanya Keyla khawatir.
"Mana yang sakit Ze?!" tanya Icha.
Zea yang masih lemas masih tak sanggup menjawab pertanyaan keduanya.
"Panggilkan dokter" titah Alvin entah kepada siapa.
Satya yang masih berada disana lantas berdiri memanggilnya dokter yang berada di ruangannya. Dokter itu datang lantas memeriksa kondisi Zea.
"Saya akan bawa dia pulang" ujar Alvin memberitahukan pada dokter setelah pemeriksaan.
"Silahkan, tapi hati hati" ujar sang dokter.
Alvin mengangguk. Ia menunggu dimana sang dokter mulai mencabut jarum infus di tangan Zea yang cairan didalamnya telah kosong, membuat gadis itu kembali meringis.
"Ukh" Alvin kembali menenangkan Zea dengan mengusap rambut Zea.
"Sat! Pergi kerumah sakit, ambil obat untuk Zea" perintah Alvin tanpa menatap Satya.
Satya lantas mengangguk.
"Jul, stir mobil gue" perintah Alvin melempar kunci mobil dari sakunya untung refleks Julian bagus hingga bisa menangkap kunci yang Alvin lemparkan.
Kemudian Alvin beralih kearah Zea menyanggah kepala Zea dengan lengannya. Mengangkat tubuh Zea dengan amat mudah.
"Al!"panggil Zea dalam gendongan Alvin.
"Stt kamu tidur ya! Kita pulang"
cup
Alvin memberikan kecupan singkat di kening Zea yang masih terasa panas namun tak sepanas diawal.
Zea lantas kembali memejamkan mata tertidur dalam pelukan Alvin. Alvin menggendong Zea menuju dimana Julian membawa mobil Alvin, mengeluarkan dari parkiran.
Keyla, Satya, dan Icha membantu membawakan barang Zea dan Alvin. Memasukannya kedalam mobil Alvin.
"Cha! Lo ikut gue ambil obat Zea. Mobil Alvin nggak cukup kalau lo ikut" ujar Satya. Icha merenung kemudian menerima dengan sangat terpaksa, Icha ikut Satya. Ia menaiki motor Satya berada dalam boncengan pria itu.
Sedangkan Keyla ikut kedalam mobil Alvin duduk di sebelah Julian yang mengemudi. Sedangkan dibelakang Alvin sibuk memberikan Zea kehangatan. Memberikan Zea kenyamanan agar gadis itu tertidur nyenyak.
Alvin mengenakan selimut dari uks untuk menyelimuti Zea didalam mobil. Memastikan Zea tak lagi kedinginan.
Kemudian mobil Alvin yang dikemudikan Julian melaju dengan kecepatan sedang menuju dimana rumah Zea berada. Mengantarkan Zea pulang kerumah untuk di rawat dirumah.
__ADS_1
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ