My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
121. Sakit


__ADS_3

Mereka sampai didepan sekolah dan yang benar saja, gerbang itu sudah tertutup dengan beberapa murid yang sama telatnya dengan mereka. Zea turun dari mobil Alvin bersamaan dengan Keyla dan Icha.


Mereka berjalan kearah barisan berisi anak anak yang telat menghadap kearah pak Burhan yang kini sedang menjaga. Kebanyakan dari mereka adalah murid murid yang mengikuti acara malam itu sama sepertinya.


"Ck ck ck ck , kalian ini bisa bisanya" decak pak Burhan menggeleng gelengkan kepala.


"He-he-he, maap pak! Habis kita semua kecapean jadinya telat kayak gini deh!" gurau seorang murid merayu.


"Sudah sudah, bapak nggak mau alasan lagi. Sekarang parkirkan kendaraan kalian, habis itu ikut bapak kumpul dilapangan" perintah Pak Burhan.


"Oh ya! Jangan ada yang berani kabur" lanjutnya.


Sesuai arahan pak Burhan, mereka memarkirkan mobil ke wilayah parkir sekolah. Setelah itu mereka berkumpul dilapangan sekolah. Mereka berjajar rapi, duduk menghadap pak Burhan.


"Kira kira kita bakal diapain ya?" tanya Icha berbisik.


"Nggak tau, bersih bersih mungkin" jawab Keyla menebak nebak.


Zea yang ada di dekat mereka hanya bisa diam. Tubuhnya saat ini terasa lemas. Ingin rasanya Zea memejamkan mata saat itu juga, namun ia berusaha menahan.


"Karena bapak paham kondisi kalian. Bapak kasih keringanan buat kalian memilih hukuman kalian sendiri. Mau bersih bersih atau keliling lapangan sepuluh kali. Bapak bebaskan" ujar pak Burhan.


"Yah pak sama aja dong, sama sama beratnya" protes seorang siswi.


"Bapak tidak menerima protes! Bagi yang mau bersih bersih silahkan ikut bapak sekarang, yang lari juga silahkan dimulai" tutur Pak Burhan mengawasi.


"Mending lari aja deh, biar cepet selesai" usul Keyla melihat keduanya.


"Boleh tuh gue setuju" balas Icha.


Keyla dan Icha menoleh ke arah Zea saat gadis itu diam saja.


"Gue juga" sahut Zea. Mereka saling melempar senyum bangkit dari duduknya.


"Kamu yakin?" tanya Alvin disamping gadis itu .


Zea menoleh lantas mengangguk, "Yakin" jawab Zea.


"Jangan dipaksakan jika tidak kuat" ujar Alvin.


Zea kembali mengangguk dan menjawab singkat, "Iya" dengan suara rendah. Alvin hanya bisa menatap Zea khawatir, tangan Alvin terulur mengusap rambut Zea. Seraya mengecek suhu dahi Zea yang hangat.


Zea menggenggam tangan Alvin didahinya, "Sudah yuk" ajak Zea pada pria itu. Alvin menggangguk.

__ADS_1


Akhirnya mereka mulai menjalankan hukuman. Hanya memutari lapangan 10 kali bukanlah hal berat karena mereka sudah terbiasa saat olahraga pemanasan. Tapi bagi Zea itu hal yang berat.


Zea terus lari mengikuti Keyla dan Icha didepannya dengan nafas yang tak beraturan. Ingin Zea menyerah tapi ia tetep memaksa. Sedangkan Alvin setia disamping Zea mengawasi gadis itu.


"Jangan dipaksain udah ayo berhenti" tutur Alvin menasehati.


Zea menggeleng, "Tinggal empat putaran lagi, aku bisa kok" kekeh Zea masih melanjutkan langkahnya.


Zea mengabaikan tubuhnya yang kian memanas. Tubuhnya terus ia paksa bekerja hingga saat sudah mencapai akhir Zea jatuh terduduk dengan nafas yang terengah-engah.


"Waa capek" seru Icha yang berada di sebelah Zea.


Alvin menoleh ke sekitar melihat kearah teman temannya yang sama telatnya dengan mereka bahkan jauh lebih telat, berjalan santai melewati mereka.


Alvin mengeluarkan handphonenya yang ia letakan didalam tas. Mengirim pesan pada Geo untuk membelikan minum dari kantin.


Geo disana yang mendengar ponselnya berbunyi lantas mengambilnya dan membacanya. Ia menoleh kearah sekitar, melihat Alvin berada disana. Dengan sigap Geo langsung menuju ke kantin untuk membeli botol minuman.


Alvin duduk disamping Zea yang masih lelah. Ia menunggu gadis itu untuk mengatur nafasnya.


"Udah aku bilang jangan dipaksain, ckk" decak Alvin melihat wajah Zea yang kian memucat.


"Aku nggak papa kok cuma lelah doang" bantah Zea meyakinkan Alvin.


"Bro!" ujar Geo melempar dua botol minuman pada Alvin dan Alvin menangkap botol minuman yang telah Geo bawakan.


Ia membuka segel minuman itu untuk ia berikan pada Zea dan yang satunya lagi ia membukakan segel lalu menutupnya kembali menyerahkan pada Keyla dan Icha.


"Makasih" ucap mereka.


Zea menegak air didalamnya hingga tersisa setengah. Setelah berlarian, tenggorokannya terasa kering dan ia amat haus.


Zea duduk terdiam sambil termenung.


"Udah?" tanya Alvin menyibak rambut Zea yang menutupi wajah gadis itu.


Zea menggangguk lantas memberikan botol minuman itu pada Alvin karena Alvin lah yang membawa penutup botolnya.


Alvin menerima dan meminum sedikit air didalamnya kemudian menutupnya.


"Bawa kuncir rambut?" tanya Alvin. Zea menunjuk pergelangan tangannya, mengambil kuncir yang ia jadikan sebagai gelang. Alvin menerimanya lalu duduk membelakangi Zea.


Tangan Alvin bergerak menyatukan rambut rambut Zea yang jatuh lalu mengikatnya menjadi satu. Zea kembali terkesima dengan perlakuan yang ia terima dari Alvin.

__ADS_1


Walau kunciran Alvin tak serapi yang biasa Zea kuncirkan, tapi tidak buruk untuk seorang pria yang tak pernah menguncir rambut.


"Ze! Udah disuruh kembali ke kelas tuh sama Pak Burhan" ujar Keyla memberitahu.


"Yaudah yuk balik" ujar Zea lantas bangkit bersamaan dengan Alvin yang takut Zea limbung.


Mereka berjalan menelusuri lorong menuju kelas mereka berada. Sesampainya dikelas mereka mengetuk pintu dan guru didalamnya langsung menyuruh masuk.


Mereka mengucapkan terimakasih lantas duduk di bangku masing-masing. Sampai dibangku Zea langsung menenggelamkan wajahnya dimeja memejamkan mata.


Alvin yang melihat Zea tertidur, mengambilkan jaketnya yang ia bawa didalam tas. Menyampirkannya ditubuh Zea. Memastikan bahwa tubuh Zea terjaga.


Zea tenggelam dalam tidur saat pelajaran, namun dahinya mengernyit namun masih memejamkan mata. Ia terganggu oleh hawa dingin di kelas dari pendingin ruangan yang terus masuk kedalam tubuhnya, walau sudah ditutupi dengan jaket yang Alvin sematkan, udara itu masih saja terus masuk ke tubuhnya.


Zea seketika menggigil dibangkunya. Alvin yang semula melihat kedepan untuk menghalangi Zea yang tertidur agar tidak ketahuan menoleh kearah Zea.


Dahi Alvin sama mengernyit saat melihat wajah pucat Zea yang semakin terlihat dengan jelas. Tangan Alvin terulur menyentuh dahi Zea.


Seketika mata Alvin membelak merasakan suhu panas di tubuh Zea yang meninggi.


"Oh ****!"


Brakk


Kursi yang dipakai Alvin jatuh saat Alvin bangkit dengan tiba tiba membuat seluruh ruangan dan guru yang mengajar menoleh menoleh kearahnya.


"Alvin ada apa?" tanya guru itu namun tak dipedulikan oleh Alvin.


Alvin lantas menyikap jaket yang ia sematkan pada dan benar saja tubuh Zea menggigil dibangkunya.


Alvin seketika kelabakan dan panik. Ia lantas mengangkut kepala Zea untuk ia letakan di lengannya. Kemudian tangan Alvin terulur disela sela kaki Zea.


Alvin mengangkat tubuh Zea yang seakan tak bertenaga dan amat ringan. Icha dan Keyla yang ada didepannya lantas menatap apa yang Alvin lakukan dan melihat jelas wajah Zea yang memucat. Keduanya langsung ikut panik dan berdiri.


"Hey Alvin, ada apa?" tanya guru itu lagi seakan diacuhkan oleh Alvin.


Alvin yang masih terfokus pada Zea tak memperdulikan sang guru, Lantas membawa Zea keluar dari kelas tanpa permisi menuju uks.


Keyla dan Icha yang ikut panik langsung menjelaskan pada guru itu dengan kalimat singkat.


"Zea sakit, Bu!" dan keduanya berakhir mengejar Alvin yang sudah menghilang dari pandangan mereka.


TBC

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2