
Perjalanan yang cukup jauh dan sangat melelahkan. Pakde Tejo menghentikan mobil baknya di sebuah gubuk ditengah tengah perjalanan.
"Kita istirahat dulu ya Zea!" ujar Pakde Tejo.
"Iya pakde" jawabku.
Kami masuk kedalam disambut dengan wanita tua yang sedang mengaduk minuman. Sudah ada beberapa orang didalamnya juga nampak sedang beristirahat.
"Mbok kopinya satu, Zea mau apa?" tanya pakde Tejo.
"Zea teh hangat aja pakde" jawabku.
"Sama Teh hangatnya satu ya mbok" tambah pakde Tejo.
Ku genggam erat jaket ditubuhku karena udara disini sangat dingin. Sudah semalam kami berkendara dan hari sudah mulai pagi.
Ku melihat sekitar orang orang nampak menyeruput kopi hitam mereka dan diantara sedang makan gorengan yang tersedia.
Pakde Tejo mengambil gorengan pisang yang ada di nampan.
"Ambil aja kalau mau Zea! Pagi pagi gini enaknya yang anget anget" ujar pakde Tejo.
"Iya Pakde" balasku.
Ku ulurkan tangan mengambil pisang goreng dinampan.
"Silahkan minumannya" ujar mbok pemilik gubuk membawakan minuman kami.
"Terimakasih" ujarku sambil menerima gelas dari mbok.
Ku minum teh hangat itu dan merasakan sensasi hangat dibadanku.
"Em Zea! Pakde mau ngasih tau! Tempat kamu tinggal nanti mungkin saja suasananya juga bakal seperti ini! Tempatnya lebih sederhana dari tempat kamu tinggal di kota! Apakah tak masalah?" tanya Pakde Tejo menanyakan keputusan ku.
Aku menggulas senyum, "Nggak masalah pakde! Zea cepat beradaptasi kok" jawabku tidak pilih-pilih karena tujuanku pergi adalah untuk menghindar.
"Bagus deh kalau begitu! Nanti pakde kenalin sama anak pakde. Dia juga seumur kamu. Kalian bisa ngobrol ngobrol berdua" ujar Pakde Tejo.
"Iya pakde" balasku sebagai kesopanan.
Kami istirahat sekitar 30 menit dan kembali ke mobil bak pakde Tejo untuk melanjutkan perjalanan.
Aku tak tahu berapa lama kami telah berkendara mengingat kami sudah pergi dari kemarin malam.
"Berapa lama lagi kita sampainya pakde?" tanyaku memastikan.
"Kenapa? Capek? Kalau begitu tidur aja neng. Ini masih tiga jam an lagi. Masih jauh!" jawab pakde Tejo.
Lama sekali perjalanan kami. Tapi itu bagus karena semakin jauh aku pergi semakin jauh juga aku dari Alvin dan itu hal yang baik.
"Em kalau begitu Zea tidur ya pakde" pesanku.
Sedari semalam aku memang tidak tidur. Aku menemani Pakde Tejo sambil berbincang bincang tentang tempat yang kami tuju.
"Iya neng silahkan! Nanti kalau sampai pakde bangunin" ujar pakde Tejo.
Aku mengulas senyum, menyandarkan kepalaku di kaca, lalu memeluk tas yang mama bawakan sebagai guling. Ku pejamkan mataku kemudian terlelap dalam tidur.
Hingga sinar matahari mengenai wajahku. Aku mengerjap mata menyesuaikan mataku yang berkabut.
Kulihat sekitar nampak seperti wilayah pedesaan terpencil yang tak terlalu ramai seperti di kota.
__ADS_1
"Udah sampai paman?" tanyaku.
"Eh udah bangun! Bentar lagi sampai" jawab paman Tejo.
Kuusap mataku menggunakan telapak tangan, kemudian kubungkam bibirku yang menguap.
Segar sekali disini walaupun agak sedikit panas.
Paman Tejo mengendarai mobil baknya ke wilayah kampung dengan sawah sawah yang membentang di sekitar.
Hingga Pakde Tejo berhenti di sebuah rumah yang nampak sederhana. Pakde Tejo mengklakson mobil baknya.
Tin tin
Kemudian seorang wanita muncul dari dalam rumah.
"Ayo turun Zea" ajak pakde Tejo.
Aku mengikuti pakde Tejo keluar dari mobil bak.
"Bapak udah sampe!" seru wanita itu menyambut kedatangan pakde Tejo.
Wanita itu melihat kearah ku, "Ini pasti Zea" ujarnya.
Aku mengangguk sambil mengulas senyum lalu menyalimi wanita itu.
"Zea ini istri pakde! Lastri namanya juga, panggil aja budhe Lastri" ujar pakde Tejo memperkenalkan.
"Pagi budhe Lastri" sapaku.
Budhe Lastri tersenyum ramah, "Pagi!" jawabnya.
Aku menggangguk mengikuti langkah Pakde Tejo dan budhe Lastri masuk kedalam rumah. Kulihat betapa sederhananya rumah mereka, berbeda dengan rumahku yang ada di kota. Tapi satu hal yang pasti, rumah ini juga terlihat nyaman ditinggali.
"Duduk Zea" ujar pakde Tejo mempersilahkan.
Aku duduk di sofa sederhana milik mereka, sambil kepandangi sekeliling rumah.
"Ayu mana buk?" tanya pakde Tejo pada sang istri.
"Ayu ya sudah berangkat sekolah pak, pagi pagi gini" jawab budhe Lastri dengan sedikit logat khas.
Satu hal yang ku yakini bahwa anak pakde Tejo dan budhe Lastri ini perempuan dan namanya Ayu.
"Oalah yawes! Tadi mau langsung tak kenalin sama Zea" balas pakde Tejo.
Aku diam saja mendengar percakapan keduanya.
"Oh ya! Neng Zea pasti laper kan? Mau makan dulu neng? Kebetulan budhe masak semur ayam" tawar budhe Lastri mengalihkah perhatian padaku.
Kebetulan aku lapar tapi aku agak canggung untuk mengiyakan.
"Budhe bawakan kesini ya! Biar kamu makan sama pakde" ujar budhe Lastri pengertian.
"Ah!" aku tak bisa berkata apa-apa melihat budhe Lastri yang sudah pergi ke belakang.
Setelah beberapa saat budhe Lastri kembali dengan membawa Bakul nasi yang terbuat dari bambu, kemudian semangkok semur ayam, piring dan sendok. Aku melihatnya sedikit tercengang. Bagaimana bisa budhe membawa semua itu.
Aku bangkit menghampiri budhe Lastri, "Sini budhe biar Zea bantuin!" ujarku meringankan beban budhe Lastri.
Budhe Lastri menerima bantuan ku membuatku mengambil alih bakul nasi yang budhe bawa. Dengan hati hati kuletakan di meja kayu di depan sofa.
__ADS_1
Budhe Lastri menatakan piring di depanku. Mengambilkan nasi.
"Segini cukup?" tanya budhe Lastri padaku.
Aku melongo, "Ah, Biar Zea sendiri aja budhe" ujarku tersentak dengan segan dan rasa tak enak hati.
Kuambil piring ditangan budhe Lastri kemudian berganti mengambil lauk secukupnya. Budhe Lastri nampak membiarkan aku dan mulai mengambil makan untuk sang suami.
Selepas makan budhe Lastri dan pakde Tejo menyuruhku untuk istirahat di kamar ayu. Aku mengiyakan karena keduanya memaksa dan akupun juga masih ngantuk. Jadi tak bisa kutolak.
Ku rebahkan diriku di kamar ayu. Kamar kas wanita yang nampak bersih dan tertata.
Ku pejamkan mataku, kembali beristirahat.
Zea Pov off
...****************...
Kembali ke masa mommy Mira dan Alvin berbincang.
"Keesokan harinya mommy kembali mengunjungi Zea" ujar mommy Mira.
"Tapi Zea sudah tidak ada dirumah! Dia sudah pergi" lanjut mommy Mira membuat dada Alvin terasa ngilu.
"Terus!" ujar Alvin.
"Kata kedua orangtuanya Zea sudah berangkat kesana" ujar mommy Mira.
"Kemana?" tanya Alvin berharap.
Mommy Mira tersenyum kearah Alvin, "Tentu saja ketempat ia sembunyi" jawab mommy Mira. Alvin sedikit kesal dengan jawaban mommy Mira.
"Intinya sekarang Zea baik baik saja disana. Kamu tak perlu khawatir " lanjut Mommy.
.
Mommy Mira tersenyum mengacak-acak rambut Alvin yang terlihat kesal
"Mom" ujar Alvin menghentikan tangan Miranda.
Miranda menggenggam tangan Alvin erat dan menatap putranya itu berharap, "Alvin! Bisakah kamu memberi Zea waktu?" ujar Miranda dengan tulus.
"Waktu? Lagi?" ujar Alvin berat. Ia sudah pernah melakukannya dan apa hasilnya.
"Dari cerita mommy kamu pasti sudah mengerti! Zea sudah paham posisinya. Ia tau tak akan bisa lepas dari kamu, tapi dia masih memilih pergi. Karena apa?" Mommy Mira menangkup wajah Alvin.
"Karena Zea tak ingin bersamaku" jawab Alvin tak terima.
Mommy Mira menggeleng, "Bukan Alvin! Zea hanya lelah. Coba kamu ingat ingat! Padahal masalah diantara kalian hanya sepele. Tapi terkadang bukankah kamu yang terlalu membesar-besarkan masalah dengan kecemburuan mu itu!" ujar mommy Mira paham betul dengan sang putra.
"Aku tidak," ujar Alvin membantah tapi seketika ia sadar.
"Bisakah?" tanya mommy Mira lagi.
Alvin diam, 'Bisakah?' tanya Alvin pada dirinya sendiri. Ia seakan termakan rayuan sang mommy yang tak bisa ia tolak.
"Oke! Terakhir" jawab Alvin setuju. Mommy Mira tersenyum mendengarnya.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1