My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
201. Menemani


__ADS_3

Zea dibawa masuk kedalam rumah oleh Mama Tia dan Budhe Lastri.


Semuanya berkumpul di ruang tamu sambil menatap gadis yang hanya bisa diam saat keluarganya dan keluarga Pakde Tejo menatap kearahnya dengan cermat.


"Zea, Kamu nggak papa kan nak?" tanya Papa Hendra memandang Zea dengan cemas.


Zea mengangguk, "Zea gak papa, Pa! Cuma capek aja!" jawab Zea.


Hendra menatap kearah putrinya itu lekat, "Zea, Papa mau tanya! Pria tadi itu apa benar nolongin kamu? Dia tak ada niat khusus dekati kamu kan?! " ujar Papa Hendra sedikit parno dan ingin memastikan kejadian buruk tidak menimpa putrinya lagi.


Zea membeku, lidah Zea keluh tak tahu harus menjawab apa.


"Haduh, Pak Hen! Gak baik curigaan gitu. Lagian masak nuduh yang nggak nggak. Terus lihat itu leher Zea, sampai merah merah begitu. Pasti karena lama nunggu sampai digigit nyamuk! Lagian toh masnya tadi niatnya baik mau nganterin. Jadi nggak usah berpikiran buruk pak Hen. Pokoknya Zea selamat sampai rumah gitu! Iya kan nduk?" ujar Pakde Tejo membuat Zea membeku.


Apa yang dikatakan Pakde Tejo tak sepenuhnya ia paham. Leher merah merah? Zea tak paham maksud dari perkataan itu. Namun kini ia hanya menjawab perkataan pakde Tejo dengan kata, "Iya" menyetujui pria itu.


"Udah Pa! Zea pasti juga masih kaget. Biarin Zea istirahat ya? Zea Mama anter ke kamar ya?!" ujar Mama Tia ikut menengahi.


Zea mengangguk, menyetujui mama Tia. Kemudian Mama Tia mengajaknya bangkit menuju kearah kamarnya.


Clekk..


Mama Tia membuka pintu kamar Zea.


"Zea bisa sendiri Ma! Mama balik depan saja. Zea baik baik saja kok!" ujar Zea menahan tangan Mama Tia yang menggenggam hendel pintu.


Zea tersenyum kearah wanita itu, mengisyaratkan bahwa ia baik dan ia ingin sendiri di kamar. Mama Tia paham dengan perasaan putrinya itu.


"Yaudah! Kalau ada apa apa panggil mama ya?" ujar Mama Tia kemudian mengusap rambut Zea.


"Iya Ma! Makasih!" jawab Zea kemudian masuk kedalam kamar.


"Malam ma!" ujar Zea lagi.


"Malam!" jawab Mama Tia. Kemudian Zea menutup pintu kamar dan bersandar di pintu kamar dengan menarik nafas panjang.


Ia merasa lega bahwa masalah ini berhenti sampai disini.


Kemudian Zea melirik kearah meja riasnya dengan terburu buru. Ia mandongak melihat lehernya dari balik cermin.


Seketika ia membelak kaget akan lehernya yang benar benar merah, berbecak.


"Alvin!!" geram Zea kesal lantaran kini Alvin mulai berani melakukan hal hal seperti ini padanya.


Zea menggepal tangan erat, kemudian mengambil jubah mandinya yang tergantung dilemari.


Ia harus membersihkan bekas bekas cabul dari pria itu.


Skipp..


Setelah selesai mandi, Zea kembali ke kamar. Ia melihat kearah tasnya yang bergetar.


Zea membuka isi tasnya melihat satu nama yang membuat ia kesal sedari tadi.


Zea menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya. Mau bagaimanpun ia tak bisa marah dengan Alvin.


"Halo!" sapa Zea menjawab panggilan.

__ADS_1


"Kenapa lama sekali? Habis dari mana?" tanyanya langsung seperti orang yang sedang mengintrogasi.


Zea memutar mata, masih kesal dengan pria itu. "Ah aku tadi habis mandi! Makanya gak jawab telpon" jawab Zea bersidekap sambil melihat dirinya di cermin dimana ia masih menggunakan jubah mandi.


Zea berkaca diri, melihat kearah lehernya sambil mengira-ngira apa besok bekas dilehernya bisa kembali atau tidak. Karena besok ia sekolah dan lucu jika ada yang melihat lehernya seperti bekas kissmark.


Zea yang terus melihat dirinya di cermin tanpa sadar melamun.


"Ze! Zea! Zeara! Kamu masih disitu? Kenapa tidak jawab?!" ujar Alvin kencang dari balik telpon membuat Zea tersasar.


"Ah iya apa Al? Maaf tadi aku ngelamun" ujar Zea meminta Alvin mengulangi kembali perkataannya.


"Hah! Malam ini aku balik, sekarang kamu temani aku sampai pesawat aku datang, karena besok aku nggak bisa hubungi kamu seharian karena banyak kerjaan. Bisa?" ujarnya kembali mengulang.


"Ah!" Zea berseru sembali berfikir melihat kearah jam.


"Emang jam berapa pesawat kamu datang?" Zea tak menjawab namun balik bertanya.


"Mungkin sekitar jam 10 malam. Temani saja aku sampai jam segitu! Jangan matikan panggilannya, nanti biar aku aja yang matikan" ujar Alvin dari balik telpon berharap Zea menyetujui.


Zea melihat kearah jam yang sudah menunjukkan pukul 8 malam. Hanya 2 jam, ia hanya perlu mengobrol dengan Alvin selama 2 jam.


"Oke! Aku temani!" jawab Zea menyetujui.


Alvin tak membalas apa apa, namun dari balik telpon Zea dapat mendengar suara Alvin yang terlihat senang.


"Kalau gitu! Aku ganti ke mode Vidio call! Aku ingin melihat wajah mu juga walau hanya sebentar" ujar Alvin membuat Zea membelak. Pria itu seperti tidak sabaran langsung mengganti mode ke video call.


"Ah tunggu sebentar!" ujar Zea berseru.


Zea panik karena ia yang hanya berbalut jubah mandi. Dengan segera Zea meletakan handphonenya dan membuka lemari memilih pakaian dengan acak lalu mengenakannya.


Zea merapikan rambutnya kemudian menerima panggilan video call dari Alvin sembari tersenyum kearah pria itu.


Bibir Alvin tersungging melihat betapa berantakannya gadis itu, namun itu menjadi pesona tersendiri dimata Alvin.


Sedangkan Zea, ia lihat pria itu sedang berada didalam mobil dan dapat Zea tebak. Alvin kini sedang perjalanan menuju bandara.


"Hai!!" ujar Zea menyapa lebih dulu dalam keadaan canggung.


Zea duduk di meja belajarnya kemudian menyandarkan handphonenya di tumpukan buku.


Gadis itu diam sambil menunggu Alvin memulai obrolan.


"Sudah makan?" tanya Alvin memulai percakapan.


Zea menggeleng sebegai jawaban.


"Oh! Maaf seharusnya aku tadi mengajakmu makan sebelum pulang!" ujar Alvin tanpa Zea sangka.


Zea tersenyum kearah Alvin menggeleng, "Nggak papa! Lagian aku juga buru buru tadi, kepikiran mama sama papa khawatir!" ujar Zea mengungkapkan pikiran.


Namun yang ia dapat adalah Alvin yang diam tak membalas perkataan Zea ini dan membuat Zea bingung lantaran raut wajah pria itu seperti tak biasa.


"Ada apa?" Zea bertanya tanya.


Seketika Alvin merubah raut wajahnya menjadi senyum tipis menatap Zea.

__ADS_1


"Nggak papa! Hanya terpikir sesuatu!" jawab Alvin sambil menyandarkan kepalanya di kaca.


"Ohww!!" seru Zea kemudian bungkam. Zea bersidekap memainkan jarinya di meja.


"Zea!" panggil Alvin membuat Zea menoleh.


"Iya?" jawab Zea.


Alvin melihat Zea dengan tatapan yang Zea tak mengerti. Dari sudut pandang Zea, Alvin terlihat memelas namun juga ada hal yang membuat Zea tak suka dengan pandangan itu. Seakan Alvin ingin memaksakan sesuatu padanya.


"Ze! Bisakah kita...." bibir Alvin terkatup, ia menjeda omongannya kemudian menatap Zea. Pria itu nampak berpikir keras.


"Bisakah kita? Apa?..." Zea mengulangi apa yang ingin Alvin katakan dengan penuh tanya.


"Nothing! lupakan saja" ujar Alvin membuat Zea penasaran.


"Oh! Oke" namun rasa penasaran itu kalah dengan rasa takut akan apa yang ingin Alvin katakan dengan nada seperti itu jadi Zea menyetujui tanpa banyak bertanya.


Alvin memandang gadis itu merenggut, "Kamu ini apa tak penasaran sama sekali?" ujarnya merasa Zea dengan mudahnya mengiyakannya.


"Penasaran? Ada sih sedikit! Tapi kayaknya bukan hal bagus. Jadi aku iyakan aja deh!" jawab Zea terus terang dan dari wajah Alvin nampak kekecewaan.


"Ckk.. Emang bukan hal bagus sih!" seru Alvin tak menyangkal.


Alvin mengalihkan obrolan. Kemudian mereka terus berbincang bincang dengan Alvin yang terus menanyakan apa saja yang akan Zea lakukan besok dan Zea menjawabnya tanpa banyak protes.


"Ngomong ngomong lehermu nampak begitu indah!! Aku menyukainya!" ujar Alvin mengubah topik pembicaraan lagi. Zea yang mendengarnya langsung menutup lehernya yang berbecak merah.


"Kamu!!" geram Zea ingin marah.


"Mesum!!" seru Zea kesal.


Alvin tertawa melihat reaksi Zea.


"Hahahaha... Tak ku sangka kamu semarah ini!" ujar Alvin sambil tersenyum smirk.


Joe yang ada di samping Alvin hanya bisa fokus mengendarai mobil menuju bandara. Hingga tak lama mereka sampai.


"Maaf tuan! Kita sudah sampai" ujar Joe di samping Alvin menyela obrolan.


Zea seketika fokus kearah jam yang menunjukkan pukul 21:35, itu tandanya ia sudah berbincang dengan Alvin kurang lebih sekitar 1 jam 35 menit.


Zea melihat kearah Alvin yang nampa melepaskan seat belt mobilnya dan turun dari mobil.


"Em Al!" panggil Zea membuat Alvin kembali fokus pada gadis itu.


"Boleh ku sudahi telponnya? Besok aku harus bangun pagi buat berangkat sekolah. Jadi sekarang aku perlu istirahat" lanjut Zea membuat Alvin terpana.


Alvin menatap lurus kearah Zea lama, "Oke! Kayaknya kamu emang butuh istirahat. Kalau gitu tidurlah! Selamat malam!!" ujar Alvin menyetujui.


Zea tersenyum kearah pria itu dengan tulus, "Selamat malam!" jawab Zea kemudian ia mematikan panggilan dan mengambil nafas panjang.


Akhirnya ia selesai juga. Zea bangkit dari kursi yang terasa panas karena lamanya ia duduk disana.


Zea berjalan kearah ranjang membaringkan tubuhnya disana. Ia merasa lelah atas sikap yang ia buat hari ini. Dimana ia terkadang terpaksa tersenyum saat ia tak ingin tersenyum.


TBC

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2