
1 Minggu berlalu setelah adegan penghancuran rumah. Alvin dan Joe terus menerus mencari keberadaan Zea di temani oleh Geo disamping mereka yang terus mewaspadai.
Hingga Alvin menemukan satu titik terang mengenai siapa saja yang datang ke sekolah menemui kepala sekolah selama ia berada di tempat gelap.
Mommynya, wanita itu juga menjadi kunci hilangnya Zea.
Alvin menatap tajam Geo yang kini berada di depannya.
Bughh
Satu pukulan Alvin membuat Geo terjatuh hingga berlutut di depan Alvin. Sedangkan Joe yang berada di samping Alvin tak berhenti untuk tersenyum smirk melihat kondisi Geo sekarang.
Geo memincingkan mata melihat Joe yang terus memandangnya dengan tatapan penuh kemenangan.
Geo membuang mukanya muak. Ia enggan melihat Joe.
"Sialan! Lo_" tunjuk Alvin kearah Geo.
Alvin menahan emosi. Tangan pria itu mengepal mengetahui apa yang tangan kanannya itu perbuat.
Alvin mendekat. Ia menarik kerah baju Geo kuat hingga Geo bangkit.
Keduanya saling bersitatap. Nafas Alvin berderu, ia menatap Geo murka sedangkan Geo menatap Alvin tanpa ada penyesalan sama sekali dari raut wajahnya.
"Geo lo itu tangan kanan gue! Sejauh apa lo mau ngelawan gue?" tanya Alvin menekan posisi.
"Karena gue tangan kanan lo dan karena kesempatan seperti ini tak akan datang dua kali! Jadi tentu saja gue harus berusaha keras melakukan hal yang Jauh dari apa yang lo pikirin. Kan ini juga perintah lo!" jawab Geo tanpa rasa takut.
Alvin mencengkeram kerah baju Geo semakin kuat hingga Geo kesulitan bernapas.
Ia terus menekan Geo agar pria itu sadar akan posisinya. Tapi melihat raut wajah Geo yang tak mau mengalah membuat Alvin kesal.
Brukk
Alvin melepaskan cengkeramannya membuat Geo jatuh dengan nafas tersengal segal.
Geo dengan segera meraup udara untuk ia bernafas.
"Hah... Ha!!" Geo menghembuskan nafas panjang kemudian mengeluarkannya.
Kemudian ia bangkit membenarkan kerah bajunya yang dibuat berantakan oleh Alvin.
Melihat sikap Geo yang merasa seperti tak berbuat salah Alvin mengepalkan tangan kuat.
"B@jingan kau Ge!" umpat Alvin pada pria itu.
Geo mengulas senyum tipis, "Ini pertama kalinya gue ngelawan lo langsung kan Al? Bagaimana?" tutur Geo memprovokasi Alvin.
"Sial!" umpat Alvin tanpa bisa berbuat. Jika ia ingin ia bisa saja menggunakan cara lama untuk membuat Geo buka mulut, tapi Alvin mempertimbangkan loyalitas Geo selama ini.
"Oh ya karena lo juga udah tau siapa lagi yang terlibat dalam hal ini. Sekarang lebih baik gue pergi dari pada nanti gue dibuat babak belur sama lo atau dia!" ujar Geo melanjutkan ucapannya sambil melirik kearah Joe.
Geo mengulas senyum tipis sebelum meninggalkan Alvin dan Joe.
"Gue permisi!" tutur Geo melangkah pergi dengan cepat meninggalkan keduanya.
Alvin hanya bisa mengepalkan tangan tanpa bisa berbuat apa apa melihat kepergian Geo
"Tuan!" panggil Joe disamping Alvin.
Alvin tak menjawab menatap lurus kearah Geo yang sudah menghilang.
"Apa perlu saya buat dia mengaku?" tanya Joe pada Alvin.
"Tidak perlu dan jangan coba mencari kesempatan!" jawab Alvin sekaligus memperingatkan.
"Baik Tuan!" jawab Joe.
__ADS_1
Jauh dilubuk hatinya, Alvin kesal. Ia tak bisa berbuat apa-apa pada Geo sekarang karena secara logika Alvin mengerti apa yang Geo lakukan sekarang juga atas perintahnya, dulu.
...****************...
Geo meninggalkan tempat itu. Sekarang hal yang ia pikiran adalah menjauh dari Alvin dikala pria itu sedang emosi.
Geo mengambil kunci mobil disakunya. Ia masuk kedalam mobil membawa mobil Alvin keluar dari garasi.
Saat ia sudah di luar. Geo menatap kaca tengah mobil melihat situasi. Dari jauh nampak Joe berada di belakang sana melihat kepergiannya.
"Dasar muka dua!" tutur Geo kesal sambil bergidik ngeri.
Geo melajukan mobil Alvin pergi dari markas Joe.
Di sepanjang jalan Geo termenung dan berfikir.
"Hah..!" Geo menghela nafas letih.
Ia mengambil ponsel yang ada disakunya menghubungi salah satu nomor yang ada disana. Geo menyalakan tombol speaker meletakannya di samping.
"Halo Tan!" ujar Geo saat panggilan terhubung.
"Halo Geo, kenapa?" tanya wanita di balik telpon.
"Alvin udah tau kalau Tanmi terlibat! Geo mau menyampaikan saja" ujar Geo menginfokan.
Wanita di balik telpon tak menjawab.
"Halo Tan? Tanmi masih disana? " panggil Geo tak mendapati jawaban dari Tanmi.
"Ah iya Geo! Maaf tanmi termenung sejenak" jawab Tanmi.
"Tentang Alvin?" seru Geo mengembalikan topik.
"Ah itu, tentang Alvin biar tanmi yang urus. Kamu hati hati saja! Jangan sampai terluka" tutur Tanmi.
Keduanya diam.
"Em Tanmi ada yang mau disampaikan lagi?" tanya Geo pada wanita itu.
"Huftt!!" Geo mendengar suara helaan nafas dari balik telpon.
"Tan?!" seru Geo.
"Geo, Kalau misalnya masalah ini terlalu besar buat kamu ikuti lebih baik kamu menyerah saja. Tanmi gak mau kamu kenapa napa! Soal Zea biar mommy yang urus" tutur wanita itu menjawab.
"Ah!" seru Geo paham.
Geo mengulas senyum, Geo tau wanita di balik telponnya itu sedang mengkhawatirkannya.
"Geo tau Tan! Geo juga punya batasan! Tanmi tenang aja" jawab Geo.
"Tanmi bisa tenang kalau gitu!" seru wanita itu.
"Yaudah Tan! Geo lagi di jalan nih!" ujar Geo menyudahi.
"Oh oke! Kalau begitu Tanmi tutup panggilan ya. Tanmi juga takut Daddy Alvin nyariin!" ujarnya.
"Iya Tan!" jawab Geo.
"Bye Geo!" seru Tanmi.
"Bye Tan!" jawab Geo, lalu panggilan itu terputus.
Geo bermuka datar. Ia melirik kearah handphonenya yang sudah tidak terhubung dengan panggilan apapun.
Ia melihat jalanan di depannya. Tangan Geo terulur mengambil handphonenya. Ia menggenggam handphonenya dengan satu tangan lalu jarinya menekan tombol power dihandponenya.
__ADS_1
"Huft, Dengan begini! Alvin gak bakal bisa melacak gue!" tutur Geo mematikan handphonenya.
Geo menonaktifkan handphonenya dan meletakannya di dashboard mobil.
Geo melihat kedepan dan tujuannya sekarang adalah bahwa ia harus segera menjauh dari pandangan Alvin agar ia tak terkena imbas akan ke frustasian pria itu, dimasa mendatang.
...***************...
Disisi lain..
Mommy Alvin, Miranda. Wanita itu nampak resah akan apa yang terjadi selanjutnya.
Ia menggenggam erat handphonenya lalu menarik nafas dalam.
Mommy Mira keluar dari kamar berjalan menuruni tangga. Ia berjalan menuju ruang kerja sang suami.
Cklekk
Pintu ruangan besar itu terbuka. Pandangan Mira tertuju oleh Daddy Exel yang nampak sedang sibuk di mejanya.
Daddy Exel mendongak mengetahui siapa yang masuk kedalam ruangannya tanpa permisi.
Miranda mendekat ke meja sang suami disambut oleh pria dengan paras tampan, tegas, dan dewasa itu.
"Sibuk?" tanya Miranda berbasa-basi.
"Iya" jawab Exel dengan senyum tipis nan manis bercampur elegan dari pria yang sudah berumur itu.
Mommy Mira mendekat.
"Habis dari mana?" lanjut Exel bertanya.
"Kamar! Terima telpon" jawab Miranda.
"Geo yang telpon!" ujar Exel nampak mengetahui segalanya.
Mommy Mira tak menjawab. Wanita itu diam memeluk leher sang suami dari samping dengan manja.
Tanpa tinggal diam. Daddy Exel menuntun istrinya itu agar duduk di pangkuannya.
"Dad!" panggil Miranda pada sang suami.
"Tidak!" jawab Exel menggeleng pelan mencubit hidung mancung Miranda.
Miranda mengerucut bibir.
"Pelit!" seru Miranda dengan sebal.
Daddy Exel tersenyum menghadapi sikap istrinya itu.
"Aku sudah membantu mu sekali sebagai penepatan janji, jadi aku tak bisa membantumu lagi" seru Exel menjelaskan.
Mommy Mira hanya bisa bermuka muram. Ia harus bersiap mendapat kemarahan dari sang putra.
"Tapi aku bisa menahan Alvin agar tidak terlalu marah padamu!" ujar Exel melanjutkan.
Mommy Mira menatap dengan mata berbinar binar.
"Sungguh?!" seru Mommy Mira.
"Tentu" balas Exel.
Grepp
Mommy Mira memeluk Daddy Exel dengan sangat erat. Walau sebenarnya ia tak tega menjauhkan Zea dari Alvin. Tapi sebagai sesama wanita yang pernah merasakan hal yang sama dengan terpaksa Miranda melakukannya. Miranda percaya hal yang ia lakukan sekarang ini adalah demi kebaikan keduanya.
TBC
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ