My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
12. Weekend Day


__ADS_3

Jalan berdua dengan Alvin. Hari ini adalah waktunya aku dan Alvin pergi jalan. Seperti yang disepakati. Aku yang biasanya bangun telat saat weekend kini menjadi bangun lebih pagi dari biasanya. Semua ini karena ulah Alvin yang pagi pagi datang ke rumahku untuk mengajak olahraga bersama. Padahal waktu janji kencan kami itu siang hari, Ah apakah jalan bersama itu bisa disebut kencan? anggap saja begitu. Tapi yang pasti pagi ini, Alvin benar benar mengganggu tidur nyenyakku. Walau aku tak memungkiri bahwa aku suka dengan kedatangan. Good bye week sleep ku yang nyenyak.


Aku kini sudah bersiap dengan pakaianku yaitu dengan setelah kaos dan training olahraga. aku menuruni tangga nampak Abang dan Alvin bersama mama papaku yang sedang berbincang bincang disana. Aku tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Aku berjalan mendekat kearah mereka sambil pura pura cemberut karena tidurku tadi terganggu.


"Pagi" sapaku pada semuanya.


"Pagi" jawab mereka serempak.


"Ini anak papa kok cemberut aja pagi pagi" ujar Papa saat aku duduk disamping Alvin di sofa panjang.


"Tau tuh pagi pagi, bibir lo udah monyong aja. kek mulut bebek. Wekk wekk" Ejek Abang Arka kepadaku, sebenernya aku pengen ketawa mendengar gurauan nya. namun karna aku yang diejek mana mungkin aku ketawa. Bisa bisa dikata orang gila.


"Ma Pa Abang tuh pagi pagi udah godain Zea" Manjaku memelas mencari pertolongan. Keduanya hanya tertawa saja. Bukannya dibantuin malah diketawain.


Aku manatap kearah Alvin, pria itu sama sama menggunakan setelah olahraga yaitu berupa training hitam dan Hoodie hitam. Ah sepertinya hoodienya itu digunakan untuk menutupi pakaian dibaliknya.


"Udah yuk Al, berangkat" ucapku kesal.


"Kami pamit ya Om, Tan, bang" pamit Alvin.


"Semuanya, Zea pergi dulu. Bye bye" ucapku sambil melambaikan tangan mengikuti Alvin yang berjalan duluan keluar rumah.


Aku menaiki motor Alvin, motor yang Alvin gunakan ini bukanlah motor motor mewah seperti anak anak yang ada di sekolahku pada umumnya. Tapi motor Alvin ini membuatku nyaman.


"Kenapa cemberut dari tadi? Gak senang aku datang?" tanya Alvin menatapku dari balik spion. Aku sekarang sedang berboncengan dengan Alvin.


"Bukan gitu!!! Kamu pagi pagi ganggu waktu tidur nyenyak ku. Padahal aku lagi enak enak tidur sambil mimpiin song kang, eh malah dibangunin" dengusku dari balik helm. Alvin hanya terkekeh membuatku memukul punggungnya itu.


"Nyebelin" ucapku mengeratkan pelukanku kepadanya dan menempelkan kepalaku kepunggunya. Aku baru sadar kalok punggung Alvin itu lebar dan Alvin itu juga tinggi. Padahal aku juga tidak pendek pendek amat, menurutku tinggiku itu normal untuk para gadis.


...****************...


Kami sampai di sebuah taman dengan jalanan disekitarnya terdapat banyak pedagang makanan yang menjajakan jualannya. Tempat ini memang tepat untuk dipakai olahraga. Apa lagi hari weekend seperti ini makin ramai orang yang datang kemari.


Alvin memakirkan motornya di tempat parkir yang emang disediakan di tempat itu. Yaitu di sebuah lahan kosong yang dijaga oleh beberapa juru parkir. Emang sedikit bahaya jika diparkiran ditempat parkir tanpa keamanan ketat seperti ini. Namun, karna banyak orang ingin menikmati waktu luang mereka disini. Jadi mengabaikan dan mempercayakan kepada juru parkir atas motor mereka, kemudian Alvin menggandeng tanganku. Jantungku berdebar.

__ADS_1


Aku berjalan beriringan dengan Alvin menatap kanan kiri kearah pedagang yang berjualan disana. Terkadang ada beberapa orang yang menatap kami sambil berbisik, mungkin aneh bagi mereka. Aku sempat mendengar sekilas apa yang mereka bicarakan. Mereka berbicara tentang diriku yang cantik, jalan beriringan dengan cowok culun seperti Alvin sambil bergandengan tangan. Tapi kami tak memperdulikannya. Kami terus berjalan sampai pandanganku tertuju kearah pedagang Gulali kapas karakter. Atau nama kerennya itu catton candy.


"Alvin Al, itu tuh!!!" ucapku menempuk bahu Alvin sambil menunjuk kearah pedagang gulali kapas.


"Mau?"


"Iya, Ayo Al!!" ajakku menarik tangan Alvin yang menggenggam tanganku kearah pedagang gulali kapas.


"Wah gue pilih yang mana nih ya??" tanyaku bingung, habis gulali kapas karakternya lucu lucu banget. Ada yang bentuk bebek, ada yang beruang, ada juga bentuk bunga, dan banyak lainnya. Sampai aku memutuskan pilihanku ke karakter bentuk bebek.


"Duduk disana yuk Ze." ajak Alvin kearah taman, kebetulan disana ada beberapa bangku kosong yang ditujukan kepada para pengunjung. Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya.


Kami duduk disana, aku membuka gulali kapas karakterku yang dibungkus plastik. Aku bener bener gak tega memakannya, bener bener lucu. Aku mencium bibir bebek gula kapas itu sangking gemasnya. lantas aku menoleh kearah Alvin yang menatapku sedari tadi.


"Gak tega Al makannya." ucapku Memelas dia terkekeh mengacak acak rambutku gemas.


"Zea dimakan, ntar kalok lo diem gitu terus kempes loh." ucapnya yang sedari tadi menatapku yang sedang asik sendiri dengan gulali kapas bebekku ini. Di lantas mencomot gulali kapasku, membuat bebek ku rusak. Aku lantas menatapnya tajam.


"A_" pekikku terhenti ketika Alvin memasukan gulali kapas yang tadi dia comot kedalam mulutku. Aku lantas memakannya, manis sekali rasanya. Setelah itu dia mengusap rambutku mencoba menenangkan aku yang akan marah, dan hal itu berhasil. Amarahku mereda. Diriku bener bener sangat murahan, diperlakukan kek gini aja bisa luluh.


"Maaf, Maafin aku ya?" pintanya menggenggam salah satu tanganku membuatku tertegun, sebenernya aku gak terlalu marah padanya. Ucapan maaf Alvin membuatku merasa tak enak.


Aku menyodorkan bebek kapasku pada Alvin, "Mau Al?" tanyaku.


"Boleh?" tanyanya aku mengangguk, Dia melahap bebek kapasku. Aku tersenyum melihat itu. Aku memakannya lagi, lalu memberikannya pada Alvin. Pandanganku menatap sekitar menikmati moment bersama Alvin.


Deg deg


Jantungku berdetak cepat, tanganku gemetar membuat bebek kapasku terjatuh ke tanah. Aku menggenggam tangan Alvin erat tidak mengalihkan pandanganku dari arah yang aku tatap tadi.


"Zea lo kenapa?" tanya Alvin


"Ze, are you okay?" tangannya menepuk bahuku menyadarkanku, aku melihat kearahnya dengan raut wajah tegang. Kini keringat dingin menerpa ku. wajahku kini pucat pasih.


"Al gue mau pulang, Ayo Al!" Ucapku berdiri sembari menggenggam tangannya.

__ADS_1


Aku mengalihkan pandanganku kearah yang tadi aku tatap, kearah seorang pria yang membuatku trauma. ketika aku menatap pria itu, ternyata pria itu juga menatapku. Dari kejauhan mata kami bertemu, pria itu berjalan mendekati kami. Aku semakin cemas, semakin gelisah. Aku menarik tangan Alvin melangkah cepat dan sekali kali berlari.


Ya tuhan! semoga aku bisa meninggalkan tempat ini. Aku tak menghiraukan Alvin yang sedari tadi cemas dan bertanya kepada diriku tentang keadaanku. Tapi tiba tiba sebuah tangan menyekal pergelangan tangan ku, membuatku menghempaskan tangan itu. Alvin sepertinya juga melihat kejadian ini disebelahku.


"Zea, aku gak nyangka bisa ketemu kamu disini" ucap pria itu membuatku menggenggam erat tangan Alvin. Aku takut.


"Ngapain lo disini, Zion?!" tanyaku, Yap nama pria itu adalah Zion. Pria yang membuatku trauma.


"Tentu buat ketemu kamu babe dan siapa pria culun ini?" tanyanya menatap Alvin. Aku menyembunyikan Alvin dibelakangku. Aku tak ingin dia terkena masalah dengan Si gila Zion.


"Lo gak perlu tahu, ayo Al kita pergi." Ucapku sedari tanganku menggenggam erat tangan Alvin. Aku sebenarnya sangat takut tapi aku harus kuat demi melindungi Alvin.


"tunggu!" Zion mencekal tanganku erat. aku berusaha melepaskannya namun tidak bisa.


"Zion lepas!" bentakku. membuat kerumunan orang orang menatap kearah kami.


Alvin yang tidak terima dengan perlakuan Zion kepadaku, mencekal tangan Zion erat, "Lepas!" tegasnya. membuat Zion langsung melepaskan cekalan tangannya padaku. Aku melihat Zion menatap ke arah Alvin dengan ekspresi aneh, aku ingin melihat wajah Alvin namun Alvin menahannya dan membawaku kedalam pelukannya.


"Lo siapa ha? dasar cupu. Mau sok jadi pahlawannya Zea?" ucap Zion menyinyir Alvin. Aku mencengkram erat Hoodie yang digunakan Alvin. Alvin memelukku semakin erat, sambil berusaha menenangkan ku, jujur saja sedari tadi tubuhku gemetar. Tapi dipelukan Alvin membuatku tenang.


"Lo sebaiknya menjauh dari Zea." ucap Alvin dingin


"Ha? Banyak gaya banget lo cupu. Terus kalok gue gak mau ngejauhin Zea gimana? lo mau apa?" tantang Zeon pada Alvin.


"Al, kita pergi aja yuk. Gak usah ngurusin dia" ucapku mencoba membuat Alvin tidak berurusan dengan Zeon. Alvin mengusap rambutku lalu melepaskan pelukannya menggenggam tanganku. Dirinya mendekati Zeon membisikan sesuatu kepada Zeon yang membuat wajah Zeon berubah.


"Lo harus jaga sikap lo." Ancam Alvin kepada Zeon lalu menarikku pergi meninggalkan Zeon yang ada disana. Aku menoleh kearah Zion yang menatap kearah kami tajam.


"ZEA GUE GAK AKAN PERNAH NGELEPASIN LO, LO MILIK GUE." teriak Zion yang dapat didengar semua orang yang sedari tadi menyaksikan kami. Hal itu membuat Alvin memeluk bahuku erat dan kami pergi meninggalkan tempat itu.


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Hai semua selamat hari raya idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin 😊🙏

__ADS_1


Happy reading 。◕‿◕。 ♡♡


__ADS_2