My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
109. Jahil


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang spesial karena apa? Seluruh murid di Immanuel school dibebas dari pelajaran yang memusingkan kepala. Congrats!! Yeiyy!!


Para murid berbondong bondong keluar dari kelas. Mereka semua kini dikumpulkan di aula untuk edukasi dan mendengarkannya ucapan penghibur serta nasehat yang diberikan.


Menit demi menit berlalu. Karena pembawaan yang santai dari pembawa acara membuat suasana menjadi meriah.


Edukasi yang diberikan berkutat tentang remaja. Tentu saja ada banyak yang bisa mereka petik di situasi sekarang ini.


Zea, Alvin, Keyla, dan Icha duduk di satu deretan yang sama. Mereka ikut tertawa saat pembawa acara melontarkan candaan, kecuali Alvin yang masih dalam wajah datarnya.


"Oke guys! Kayaknya kita dari tadi kebanyakan omong, sampai kering tenggorokan gue" ungkap sang pembawa acara.


"Iyaps bener banget! Gue juga haus nih! Laper pula! Kalian semua laper gak guys?!" tanya teman pendukung sang pembawa acara.


"Laper!" jawab mereka semua berbarengan.


"Karena sudah pada laper dam sebelum kita lanjut ke acara utamanya. Kalian dipersilahkan istirahat sejenak jajan dikantin. Habisin jajanan dikantin kita yang super endul!" (enak)


"Eits tunggu dulu! Buru buru banget! Gue cuma mau nyampain nih! Kalau dari kalian kalian semua nih ya! Semisal ada yang baik hati, bolehlah kita berdua sebagai pembawa acara ditraktir. Ya nggak?" pembawa acara itu mengerlingkan mata.


"Wuuuuu!" sorakan dari siswa siswa terdengar riuh.


"Ogah!" sentak beberapa murid.


"Yaelah pelit banget kalian! Udah Sono, bisa beli sendiri gue" ujar pria itu disambut tawa.


"Cuma 15 menit, ya guys! Setelah itu balik lagi"


"Iya" jawab mereka berbarengan.


"Kalau gitu sebagai MC ikut pamit dulu ya guys. Bye bye!" Para murid mulai berhamburan keluar aula.


Zea, Keyla, Icha, dan Alvin yang sedari tadi mendengar ocehan pembawa acara akhirnya juga ikut bangkit. Mereka pergi dari aula menuju ke kantin. Saat mereka sampai dikantin. Hal yang pertama kali mereka lihat adalah kantin yang ramai, berbeda dari hari biasanya. Karena kini kedai penjaga kantin nyaris tenggelam di serbu anak anak manusia itu.


Saat melihat betapa ramainya kantin. Keempatnya mengernyitkan dahi menimang nimang, apakah mereka akan ikut tenggelam bersama anak anak manusia itu.


"Nggak usah deh! Rame gitu! Kita ambil Snack yang tadi kita beli aja yuk!" ujar Zea. Ke dua sahabatnya mengangguk dan akhirnya mereka mengurungkan niat untuk membeli. Jadilah mereka kembali ke kelas karena sebelumnya mereka sempat membeli Snack di minimarket saat menuju ke sekolah.


Mereka sempat diberitahu bahwa akan ada edukasi dan nobar kemarin malam.


Akhirnya mereka kembali kedalam aula setelah mengambil aneka Snack didalam kelas.


"Sumpah tuh kantin gila banget. Sampe nggak kelihatan loh yang dagang!" keluh Icha berdecak sambil membuka bungkus keripik kentang ditangannya.


"Parah emang!" sahut Keyla ikut berdecak.


"Iya! Padahal gue pengen beli bakso tapi ngeliat kayak gitu. Ter-urung sudah niat gue" tutur Icha.


"Sama. Gue juga tadinya pengen beli jus" ujar Zea secara spontan.


"Jus apa?" tanya Alvin disamping Zea.


"Jus stroberi" jawabnya tanpa berkedip. Ia menjawab tanpa sadar. Ia mengira Keyla yang bertanya karena ia terfokus membuka snack ditangannya.


Alvin Mengeluarkan handphone dari saku mengetik sesuatu disana.

__ADS_1


Mereka saling berbincang bincang. Khususnya Zea, Keyla, dan Icha. Dan sesekali Zea membalas ucapan Alvin karena Alvin lebih banyak diam. Pria itu sibuk memandanginya, membenarkan untaian rambutnya yang jatuh.


"Heloo everybody, Abang Julian datang!" ujar Julian muncul dihadapan Zea dan kawan kawan.


"Ngapain, lo kesini?!" tanya Icha ketus. Ia menatap sinis Satya yang berada dikumpulan pria itu.


"Jutek banget lo! Nih gue mau ngasih ini! Mau nggak lo!" ujar Julian menyodorkan kantong plastik pada ketiganya.


Keyla menerima apa yang Julian berikan. Kemudian membuka isi didalamnya. Matanya berbinar-binar saat menemukan jus dan makanan dari kantin.


"Makasih" ujar ketiganya. Keyla mengeluarkan isi didalamnya.


"Dalam rangka apa lo ngasih yang beginian?" tanya Icha curiga. Menerima segelas jus yang diberikan Keyla padanya.


"Nggak ada! Alvin nitip itu ke kita" jelasnya.


"Ohw" Icha menyeruput minumannya. Zea sontak menoleh kearah Alvin dan mendapat senyum tipis dibibir Alvin.


Julian, Satya, Geo, dan Kenan masih berdiam diri ditempat itu.


"Ngapain lo pada? Kok gak pergi?" tanya Icha mendongak melihat para pria yang masih berdiri itu.


"Lah loh! Lo kok jadi duduk disini?!" tukas Icha saat Satya duduk disebelahnya.


"Berisik lo! Udah diem aja disitu. Tenang! Makan tuh yang ada!" tutur Satya mendengus tanpa memperdulikan ocehan Icha.


"Udah Cha! Biarin aja. Itung itung baik hati karena mereka udah bawain kita ini. Nggak perlu lah kita ngantri ngantri desak desakan" lerai Keyla. Icha hanya bisa cemberut membenarkan. Ia mengalihkan pandangannya pada layar lebar didepannya yang masih belum menyala.


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya murid murid yang semula keluar kembali ke dalam Aula. Suara bising mulai terdengar dari berbagai arah.


"Enak?" tanya Alvin dan hanya dibalas anggukan cepat oleh Zea.


Alvin yang terus memperhatikan Zea terfokus pada sudut bibir Zea yang terdapat saus menempel disana.


"Mau!" ujar Alvin. Zea menoleh memberikan miliknya pada Alvin. Karena anggota Aodra hanya memberikan mereka 3 bungkus dimsum. Dan pada masing masing bungkus hanya ada 3 biji. Satu untuknya, satu untuk Keyla, dan satu untuk Icha. Dan Zea kini sudah masuk kedalam suapan kedua.


Alvin mengulas senyum dibibirnya. Zea mengambil satu dimsum yang tersisa dengan tusuk.


"Aku nggak mau yang itu!" ujar Alvin.


"Terus?!"


"Aku mau yang ini" Alvin mengusap bibir Zea dengan jempolnya lalu menghisap jempolnya menikmati sisa saus dibibir Zea.


Nafas Zea terasa tercekat. Ia masih saja tidak tahan dengan segala hal yang Alvin lakukan.


Zea bernafas panjang. ia merasa akan kehabisan oksigen akan ulah Alvin. Atau bisa saja ia kesusahan bernafas karena memang seluruh ruangan itu telah dipenuhi karbondioksida yang dihasilkan dari murid dan guru yang ada di dalam Aula. Tapi ia yakin ini ulah Alvin. Buktinya yang lain baik baik saja. Hanya Zea yang merasa sesak karena terpaku akan tindakan Alvin.


Alvin yang melihat Zea terpaku terus menerus menatapnya, hingga membuat Zea hampir salah tingkah. Untung saja sang pembawa acara kembali dan membuyarkan mereka.


Mereka mengalihkan pandangan pada sang pembawa acara.


"Hai guys! Gue kembali lagi bersama soib gue yang satu ini!" Keduanya melambaikan tangan.


"Udah pada siap semua kan?" tanya sang pembawa acara

__ADS_1


"Udah!" jawab mereka serempak.


"Oke, sekarang dimohon duduk dan tenang karena film akan segera dimulai!"


"Tapi sebelum filmnya dimulai. Beri tepuk tangannya untuk teman teman kita yang telah bekerja keras dalam film kali ini! Beri mereka tepuk tangan yang meriah!!" "Wuuuu!!!"


Prokk prokk prokk.... Suara riuh tepuk tangan terdengar meriah.


Hingga akhirnya suara bising dari murid murid disana kian menjadi tenang.


"Kita mulai filmnya!" ujar sang pembawa acara."


Dan layar lebar di depan mereka yang padam kian menyala menampilkan tayangan film yang telah selesai di edit.


Berbagai ekspresi dapat dilihat seiring berjalannya film. Begitu pula dengan Zea yang begitu antusias padahal ia sedang menyaksikan dirinya sendiri di layar lebar.


"Oh my god..oh my god..oh my god!" pekik Icha saat adegan film kini mulai menegang.


"Breng*sek lo Sat!" umpat Icha pada Satya dimana di adegan itu Satya sedang mengerjainya. Icha menatap Satya geram.


"Kan emang disuruh gitu Cha!" ujar Satya tak terima di kata breng*sek. Yang lain hanya bisa tersenyum melihat keduanya. Suasana diantara keduanya sudah berubah. Icha sudah agak tenang karena tak mendapat lagi pesan ancaman atau ejekan di handphonenya.


Disisi Zea dan Alvin...


Zea sedang asik menonton film didepannya. Alvin yang ada disampingnya asik sendiri memainkan rambut Zea membuatnya terganggu.


"Al!" ujar Zea pelan.


Tapi Alvin tak menggubris terus melaksanakan aksinya. Bermain di pipi Zea yang sedikit tembab.


Zea tak menegur tapi tangannya bergerak menyingkirkan tangan Alvin dipipinya. Alvin mengulas senyum manis dibibirnya.


Walau sudah di singkirkan tapi Alvin tetap saja tidak menghiraukan. Ia terus melanjutkan aksinya walau berkali kali Zea sudah coba menyingkirkan tangan Alvin.


Alvin semakin menjadi. Tangan Alvin semakin jail menjepit kedua pipi Zea dengan jarinya. Membuat bibir Zea manyun kedepan.


Zea menoleh menatap Alvin kesal. Tapi yang di tatap asik senyam senyum seperti orang gila, batin Zea.


"Alvin!" pekik Zea menurunkan tangan Alvin agar terlepas dari pipinya.


"Ha-ha-ha" Alvin tertawa senang melihat muka marah Zea.


Rasa kesal Zea yang sudah tinggi ditambah dengan tawa Alvin semakin membuat Zea memuncak. Zea mengepalkan tangannya menatap Alvin sengit. Berani sekali Zea menatapnya seperti itu.


Bukannya marah Alvin semakin gemas dan lantas membawa Zea kedepannya. Ia tau gadis itu marah dan ingin memukulnya, tapi ekspresi Zea yang menahan emosi membuat ia mengacak acak rambut Zea.


Jahil sekali pria nerd posesifnya ini.


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Maaf baru up!! Moga suka!! Jangan lupa tinggalkan jejak(≧▽≦)


Happy Reading ♡♡

__ADS_1


__ADS_2