
Pak Burhan mengumpulkan orang orang yang tersisa menjadi satu, menyuruh mereka mendekat pada pria itu. Merekapun bergerak, menghampiri guru sekaligus pembimbing mereka itu, berdiri sejajar sambil memperhatikannya yang kini juga sedang menatap kearah mereka.
"Maaf bapak ambil waktunya sebentar." ujar pak Burhan.
"Sebagai bentuk apresiasi atas keberlangsungan lomba film kali ini. Pak kepala sekolah ngasih kalian hadiah makan makan di sebuah restoran." Beberapa murid berseru senang. "Dan karena bapak baru dikasih taunya tadi dan ini mendadak, pak kepala sekolah ngasih kalian pilihan! Mau selepas ini, nanti malam, atau besok. Bapak minta kalian vote!"
"Emang mau makan malam dimana pak?" celetuk salah satu murid menyahut.
"Di Immanuel resto" jawab pak Burhan.
"Lah restoran tanmi uyy!" seru Julian.
"Wih keren lah pak! Ayo pak ayo" ujar salah satu diantara mereka bersemangat.
"Norak lo!" tutur teman disampingnya padahal ia juga tak kalah bersemangat.
"Kok lo nggak bilang Al, ada acara ginian?" tanya Satya mendekat kearah Alvin agar suaranya tak terdengar oleh yang lain.
"Gue gak tau" jawaban Alvin.
"Pantes" Satya mengangguk angguk sambil menjauhkan badannya ketempat semula.
"Yah jangan sekarang dong! Masa ke sana pakek seragam gini! Gak banget lah!" ujar Vara.
"Iya! Muka gue udah kusam gini! Kan gak asik ke restoran mewah gak dandan!" tutur Nia, teman Vara.
"Maka dari itu bapak kasih kalian pilihan. Mau kapan? Silahkan di vote, kita pilih suara terbanyak" ujar pak Burhan menyela.
"Lo pilih yang mana Ze?" tanya Keyla disamping Zea.
"Pilih ntar malem aja Ze, gue mau pilih itu" tutur Icha.
"Yaudah gue ngikut" balas Zea.
"Oke sip lah!" Icha mengacungkan jempol sambil mengumbar senyum.
"Sekarang kita vote ya anak anak. Yang ingin sekarang silahkan angkat tangan" titah pak Burhan. Namun hanya ada satu dua orang saja yang mengangkat tangan.
"Terus yang ingin nanti malam" Kebanyakan murid mengangkat tangan bahkan hampir seluruhnya.
"Kalau besok?!" ujar pak Burhan namun tak ada yang mengangkat tangan.
"Baik! Karena suara terbanyak nanti malam, kalian tentukan mau jam berapa?" tanya Pak Burhan.
"Jam tujuh pak! Jam tujuh" jawab mereka serempak.
"Oke jam tujuh! Akan bapak infokan kepada kepala sekolah. Sekarang kalian boleh pulang dan bersiap siap. Nanti malam bapak tunggu ditempat tujuan"
"Yeiyy!" seruan bahagia mereka.
"Makasih pak!"
"Makasih!"
"Kami pamit dulu pak"
"Yuk yuk! Gue mau pilih pilih baju sekalian make up. Siapa tau ketemu anak pemilik resto disana!"
__ADS_1
Mereka saling berhamburan. Zea mendekat kearah pak Burhan menyalimi pria itu.
"Zea pulang ya pak!" ujar Zea sambil tersenyum
"Hati hati" ujar Pak Burhan membalas senyuman Zea.
Lalu di belakang Zea, Keyla, Icha, dan lainnya mengikuti menyalimi pak Burhan.
Setelah itu mereka ikut berhambur keluar aula menuju kelas dimana tas mereka berada. Alvin menggenggam tangan Zea di sepanjang lorong menuju kelas.
Sesampainya disana mereka mengambil tas masing masing. Alvin yang ingin membawakan tas Zea ditolak secara halus oleh gadis itu.
"Aku bisa kok Al! Nggak berat!" jawab Zea.
"Ze nanti berangkat bareng ya! Gue mau pulang dulu ambil baju soalnya" ujar Icha
"Gue juga!" sahut Keyla.
"Gue nanti bareng Satya aja, lo bisa anter Keyla!" ujar Icha.
"Ah gak usah, gue pesen ojek online aja!" tolak Keyla.
Zea menatap Alvin karena Alvin yang memiliki kendaraan. Tapi Alvin hanya diam saja tak berbicara.
"Lo gak papa Key pesen ojek? Apa lo pakek baju gue aja? Baju gue juga ada kok yang belum ke pakek sama sekali, masih bagus juga!" tawar Zea.
"Gak usah, lo tenang aja! Gue lagi pengen pakek dress gue yang baru. Cocok buat acara gini! Lo pulang aja sama Alvin. Habis ambil ntar gue langsung balik ke rumah lo!" ujar Keyla.
"Beneran nih nggak apa?" tanya Zea.
"Iya gak apa" jawab Keyla.
Zea mengangguk dan ikut berjalan keluar kelas dengan masih diapit Alvin.
Mereka berjalan di lorong. Keyla yang ada di depan bersama Icha, memundurkan langkahnya ke sisi samping Zea, mengapit lengan Zea. Sedangkan Icha ikut mundur ke sisi Alvin. Ia melepaskan genggaman tangan Zea dan Alvin.
Alvin mengernyitkan melihatnya saat Icha yang melingkarkan lengannya di lengan Zea.
"Pinjem bentar! Mau diskusi pasal wanita" ujar Icha pada Alvin lalu membawa Zea sedikit maju kedepan bersama Icha. Meninggalkan Alvin dibelakang mereka sendirian.
Alvin hanya bisa menatap datar ketiga menghela nafas. Ia melihat ketiga gadis itu mulai membicarakan sepasal make up, kecantikan dan lain halnya yang tak ia mengerti dan peduli.
Sampailah mereka diparkiran. Disana para anggota geng Aodra itu berkumpul. Di parkiran juga terlihat beberapa orang yang masih belum pulang.
Alvin mendekat kearah para pria itu dan terlihat mengobrol sekilas dengan mereka. Lalu pria itu kembali mendekat kearah Zea.
"Key mau ditungguin nggak?" tawar Icha pada gadis itu.
"Iya gue tungguin ya?" ujar Zea
"Nggak usah! Kalian pulang aja langsung. Gue bisa sendiri, tenang!" balas Keyla.
"Jangan deh! Gue tungguin aja!" tutur Zea.
"Ze! Yuk!" ajak Alvin dari arah mobil pria itu diparkir.
"Tuh udah di panggil. Lo pulang duluan aja, gue bisa sendiri" ujar Keyla.
__ADS_1
Zea menatap kearah Alvin, tapi Alvin terlihat diam menunggunya untuk mendekat.
"Huft.. Lo beneran nggak apa kan?" tanya Zea. Icha juga ikut menatap Keyla bertanya hal yang sama.
"Iya! udah sana sana, kalian udah ditungguin tuh!" jawab Keyla mendorong tubuh Zea dan Icha.
"Kalau gitu kita duluan ya Key!" pamit Zea dan Icha.
"Iya hus hus!" usir Keyla.
Zea dan Icha mendekat kearah Alvin dan Satya yang sudah didekat kendaraan masing masing. Zea mendekat kearah Alvin dan Alvin langsung membukakan pintu mobil untuknya. Zea diam, lalu masuk kedalam mobil. Tak beda jauh dengan Satya yang langsung menyodorkan helm untuk Icha, menyuruh gadis itu untuk segera naik.
Alvin mengangguk ketika melewati para anggota geng Aodra itu. Sedangkan Satya bertos ria, berpamitan para para temannya itu.
"Gue duluan ya Key" pamit keduanya saat melewati gadis itu.
"Hati hati!" balas Keyla sambil melambaikan tangan.
Keyla menatap kepergian keduanya menghembuskan nafas. Nasib jomblo sepertinya yang tidak memiliki gebetan. Ia lantas hendak berjalan kearah gerbang. Ia akan memesan ojek online disana. Hingga sebuah motor sport mendekat disampingnya.
"Naik" ujar pria itu disampingnya.
"Gue!" Keyla membelak dan menunjukan dirinya sendiri, merasa tak percaya.
"Iya" jawab pria itu.
"Eh tapi gue gak pakek helm" ujar Keyla.
"Nanti beli dijalan" balasnya masih dengan nada cuek.
Keyla masih dengan ragu ragu menatap pria itu yang menggenakan helm full face itu. Merasa tak ada tanggapan pria itu menatap kearah Keyla. Ia menyodorkan tangannya pada Keyla karena merasa gadis itu kesusahan untuk naik.
Keyla yang disodorkan tangan tanpa ragu menerimanya lalu naik ke motor sport pria dingin bernama Kenan itu. Gadis yang ada dibelakang Kenan itu seakan terbang melayang jauh keangkasa. Senangnya bukan main.
Apalagi mencium wangi parfum yang masih melekat ditubuh pria itu. Bugh!! FLY TO HEAVEN. Berbunga bunga sekali hati Keyla.
'Aduh emak! Gue mimpi apa sih kemarin. Dapet rejeki nomplok gini!' seru Keyla dalam hati meringis. Ingin rasanya ia berguling guling jika kini ia sedang dikasur.
"Udah siap?" tanya Kenan membuat ia tersadar.
"Em" jawab Keyla seakan diam membisu.
"Pegangan!" ujar Kenan. Keyla pun memegang pinggang Kenan tapi tidak memeluknya. Maunya sih begitu tapi ia malu dan takut dianggap gatel oleh pria di depannya itu nantinya.
Jantung Keyla seakan tak berhenti berdentum berjoget-joget ria.
"Gue jalan" ujarnya lagi. Keyla mengangguk.
Motor Kenan-pun bergerak meninggalkan sekolah, melewati gerbang dengan kecepatan sedang.
Sedangkan murid murid yang masih tersisa disana, seakan tak percaya bahwa pujaan hati mereka yang terkenal dingin dan susah didekati kini menggonceng seorang cewek. Dan Keyla lah orangnya..
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Moga gak kena serangan jantung mendadak ya Key! ⊙﹏⊙
__ADS_1
Happy Reading ♡♡