
Author Pov
Sudah berhari-hari bahkan hampir empat bulan lebih Alvin tak berjumpa dengan Zea. Dunianya terasa sangat berbeda.
Alvin seakan tak bernyawa melewati hari harinya dengan datar bahkan kini pria itu memasuki fase yang membuat ia tak lagi terlalu merespon sekitarnya.
Alvin merasa hari harinya terus berulang. Ia tak lagi terfokus pada gengnya itu. Bahkan ketika Joe dan Geo melapor, ia tak lagi peduli.
Ia merasa cukup sudah untuk bermain main mengenai geng. Ia tak lagi berada di pihak Geo maupun Joe. Tentu saja hal itu membuat pertentangan diantara Joe dan Geo. Joe merasa bahwa hal ini terjadi karena Geo.
••
Hidup Alvin yang tak lagi berwarna membuatnya bosan. Apa yang Alvin lakukan adalah saat ia bangun ia bergegas kesekolah, saat ia senggang disekolah Alvin menggunakan waktunya untuk mengelola bisnisnya. Termasuk bagaimana ia juga belajar mengelola perusahaan keluarganya.
Seperti tak memiliki waktu untuk bermain yang ada dipikiran Alvin sekarang adalah belajar dan bekerja. Tak ada yang lain karena hanya dua hal itu yang mengalihkan perhatiannya.
Pernah sesekali Alvin merasa frustasi dan kembali mencari Zea. Ia sangat ingin bertemu dengan gadis itu, tapi setiap apa yang ia lakukan selalu gagal.
Kini Alvin keluar dari dalam kelas. Ini adalah hari ujian kenaikan kelasnya berakhir dan hanya perlu menunggu hasil saja dan ia akan naik di kelas 3. Rasanya Alvin ingin cepat lulus dan bebas dari semua ini.
Alvin masuk kedalam ruangan yang menjadi markasnya di sekolah. Ia duduk di sofa sambil menghela nafas.
Saat ini para anak buahnya itu tak lagi mengikutinya mengingat sikap Alvin yang sering berubah-ubah.
Alvin menyandarkan kepalanya di senderan sofa. Rasanya kepalanya tak berhenti berdenyut karena ia terlalu memikirkan banyak hal
Alvin memejamkan mata untuk beberapa menit namun bayangan Zea melintasi dibenaknya.
Alvin kembali membuka mata. Ia menatap ipadnya yang ada di meja. Tangan Alvin bergerak mengambil benda itu dan mulai menghidupkannya.
Alvin memeriksa email email yang masuk disana. Namun hanya satu email yang selalu menjadi perhatiannya dan selalu ia tunggu
"Hah!" Alvin kembali menghela nafas sambil menyentuh layar ipadnya.
Ia memandangi gambar dimana Zea sedang menyapu halaman.
Tringg
Handphone disaku Alvin berbunyi. Alvin mengalihkan pandangannya untuk mengangkat panggilan.
"Gimana? Masih belum ada kabar?" tanyanya.
"Maaf tuan!!" ujar seorang dibalik telpon sudah tidak bisa berkata lagi.
Hanya satu hal yang membuat Alvin menerima panggilan Joe kembali. Karena kembali tak ada hasil.
Alvin mematikan panggilan karena merasa semua itu sia sia. Dari gambar gambar yang dikirimkan Daddynya setiap waktu, Alvin berharap ia mendapatkan petunjuk disana. Namun gambar itu terlalu bersih untuk ia bisa selidiki.
Tok tok tok
Pintu ruangan itu diketuk.
"Masuk!" ujar Alvin.
Pintu terbuka dan Geo masuk kedalam.
__ADS_1
"Em lo mau pergi kekantor lagi Al hari ini?" tanya Geo pada Alvin.
Alvin tak menjawab itu berarti Alvin mengiyakan pertanyaan Geo.
"Apa gue perlu ikut?" tanya Geo ragu bahwa Alvin akan mengijinkannya.
Setelah Alvin tau bahwa Geo ikut campur tentang masalahnya dan Zea. Alvin langsung membuat jarak dengan Geo.
Alvin memblokir semua aktivitas Geo, membuat Geo yang selalu menemani Alvin kini menjadi tak ada kerjaan.
"Gak perlu! Lo urus aja geng. Lainnya gue bisa sendiri" ujar Alvin datar dan menekan. Ia bahkan tidak menoleh sedikitpun pada Geo.
Geo hanya bisa menerima. Inilah resiko dari keputusan yang ia buat.
"Oke! Kalau gitu gue pergi dulu! Permisi!" ujar Geo meninggalkan Alvin sendirian diruangan itu.
Alvin masih saja sibuk dengan ipadnya membalas pesan demi pesan yang masuk disana.
Hingga satu email masuk mengalihkan semua perhatian Alvin.
Alvin membuka isi didalamnya. Tak ada foto seperti sebelumnya disana, hanya ada sebuah file tentang suara beserta tulisan 'Gift (hadiah)' yang membuat Alvin penasaran.
Alvin membukanya dan memainkannya.
Deg
Jantung Alvin berdebar kencang.
"Suara Zea!" gumam Alvin menatap ke layar tak percaya.
Alvin memejamkan mata menikmati suara Zea yang masuk hingga ke lubuk hatinya.
Setelah nyanyian Zea selesai, satu email kembali masuk lagi.
Email: Selesaikan pekerjaan mu dan akan Daddy kirimkan lagi
Tiba tiba email itu membuat Alvin bersemangat tapi tak lama kemudian Alvin tiba tiba merasa kesal. Ia kembali dipermainkan oleh daddynya. Daddy Exel kini suka menambahi pekerjaannya dengan imbalan akan memberikan kabar terbaru mengenai apa yang Zea lakukan.
Ia bangkit dan mengambil tasnya yang sedari awal ia letakan di sofa.
Alvin keluar dari ruangan itu berjalan menuju tempat parkir.
Sesampainya ditempat parkir, Alvin melihat sekilas teman temannya sedang nongkrong diatas motor masing masing.
Alvin tak menyapa bahkan tak menoleh meski sudah dipanggil.
Ia menaiki mobilnya, menancap gas menuju kantor.
...****************...
Zea place
Di rumah baru Zea, ia berkumpul dengan teman temannya untuk mengerjakan tugas dari sekolah.
Zea yang merasa lelah duduk bergerombol dengan mereka. Sebelumnya Zea pamit sebentar untuk menyapu halamannya yang penuh dengan daun daun rontok karena hal itu tak enak dipandang.
__ADS_1
Kini Zea sudah akrab dengan teman teman sekelasnya walau Zea masih memberi sedikit jarak dengan mereka.
"Ih sekolah aneh aneh aja deh!! Masak habis ujian langsung dikasih tugas ide jualan. Mana waktunya cuma seminggu" tutur Dea mengeluh akan tugas yang mereka dapatkan.
Sekolah membuka ide bisnis baru selepas ujian. Bisa disebut sekolah mengadakan bazar mini yang harus dibikin oleh masing masing kelas. Begitulah hingga akhirnya mereka berkumpul di rumah Zea guna berdiskusi.
"Jual simple simple aja lah kayak donat gitu. Jangan yang sulit sulit!" tutur pria bernama Agung.
"Ih mana bisa simple kayak gitu! Kan disuruh bikin inovasi sendiri" tutur mawar, juga teman sekelas Zea menolak.
Zea hanya bisa diam mendengarkan para teman temannya itu saling sahut menyahut melontarkan pendapat.
"Oh ya ngomong-ngomong, ntar Ara sama Dito disuruh tampilkan di bazar?!" ujar Febi teringat.
"Iya" jawab Zea malas.
Kemampuan Zea menyanyi sudah diketahui oleh guru guru akibat Dito yang merekomendasikannya tanpa seijin Zea. Awalnya Zea kesal namun karena para guru mendukungnya untuk bernyanyi akhirnya ia menyanggupi.
"Wah keren dong! Kamu mau nyanyi lagu apa Ze?" tanya Dea terpukau.
Zea tersenyum, "Lagu biasa kok, ntar lihat aja" ujar Zea menjadi rahasia.
Tok tok tok
"Zea" panggil seseorang dari luar mengetuk pintu Zea.
Zea mengenal suara itu dan hendak membukakan pintu. Namun orang diluar keburu masuk.
"Loh rame banget!" ujar Ayu terpana melihat rumah baru Zea yang ramai.
Rumah Ayu memang tak jauh dari rumah Zea. Membuat Ayu sering main kerumahnya dan menganggap rumahnya seperti rumah sendiri.
"Loh Yu! Kok kesini? Kamu kenal sama Ara?" tanya Dea melihat Ayu.
Ayu menatap kearah Zea, bingung harus bagaimana. Akhirnya Zea mengangguk mengijinkan Ayu menyampaikan bahwa mereka saling kenal.
"Hehehe Iya. Zea ini ponakannya bapakku!" ujar Ayu canggung.
"Ohw!" mereka ber-oh ria.
"Eh tapi waktu itu aku inget banget loh kamu nanya Ara itu siapa?" ujar Dea menunjuk sambil kembali mengingat ingat pertama kalinya Zea masuk.
"ohw itu iseng aja kok De! Iseng" Ayu melirik kearah Zea agar Zea membantunya bicara.
"Ekhmm! Kamu cari apa Yu?" tanya Zea mengalihkan.
"Oh oh itu! Ibuk pinjem kecap Ze!" ujar Ayu mencari cari alasan padahal niat awal Ayu kerumah Zea adalah ia ingin main.
"Kecap, Ambil aja di dapur Yu! Tempat biasa!" ujar Zea membiarkan Ayu masuk.
"O-Oke makasih" dengan buru buru Ayu masuk kerumah Zea.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1