
Hari kenaikan kelas tiba...
Sudah sekitar 1 tahun berlalu semenjak Zea pergi dan kini Zea sudah resmi menjadi murid kelas 3. Walaupun hari cepat berlalu, Namun mengingat Zea memiliki janji pada Alvin tentang berbicara soal hubungan mereka pada keduanya membuat Zea berpikir keras diwaktu yang mepet ini. Semakin hari berganti, waktunya juga semakin tiba.
Ia bahkan membayangkan respon keluarganya ketika ia membujuk untuk menerima Alvin kembali.
Hari ini adalah hari liburan setelah kenaikan kelas dan menjadi hari santai Zea untuk terakhir kali sebelum ia menghadapi sulitnya tes tes yang nantinya ia hadapi untuk masuk kedalam dunia perkuliahan.
Zea dan keluarganya berada dimeja makan. Hanya ada ia, mama Tia, dan papa Hendra dimeja. Abangnya sudah kembali keluar negeri untuk melanjutkan pendidikannya.
Zea mengaduk aduk makanan dipiringnya sambil memperhatikan kedua orang tuanya. Lidahnya keluh ketika ia ingin mengungkapkan keinginannya satu ini.
'Lebih baik aku menundanya, karena aku tak mungkin langsung membicarakan dua hal sekaligus' batin Zea berpikir panjang.
Zea menyantap makanan yang ada dipiringnya.
"Zea! Ada hal yang papa mama mau bicarakan" ujar Papa Hendra membuat Zea menoleh fokus.
Papa Mamanya mulai saling bersitatap seakan ada hal besar yang ingin mereka bicarakan.
"Kenapa Pa? Ma?" tanya Zea penasaran.
"Pa! Katakan" ujar Mama Tia.
"Zea! Mungkin ini terkesan mendadak tapi Papa harus membicarakan hal ini. Jadi, papa dan mama sepakat akan kembali ke kota!" ujar Papa Hendra mengungkapkan, Zea mendengar dengan sedikit keterkejutan.
"Papa dan Mama tidak bisa lagi menemani kamu tinggal disini. Kami harap kamu mengerti" lanjut Mama Tia menambahi.
"Oh!" Zea sedikit tersentak.
"Bukan Papa Mama tidak ingin selalu disini. Tapi pekerjaan bolak balik benar benar tak efisien untuk kami. Jadi, Papa dan Mama memutuskan untuk kembali" ujar Papa Hendra akhirnya mengatakan intinya dengan jelas.
Zea paham dengan apa yang Papa mamanya ini katakan.
"Zea mengerti" jawab Zea.
Papa Mamanya saling bersitatap, mereka merasa enggan meninggalkan Zea disini sendirian.
"Kamu beneran gak masalah Ze?" tanya Mama Tia.
"Iya Zea gak papa! Zea bisa tinggal disini sendiri kok, lagian masih ada **Ayu** sama Pakde Tejo. Kalau gak, kalau Papa Mama masih khawatir. Zea juga bisa ikut kalian kembali, sekarang udah gak masalah. Sekarang..." Zea mencoba mencari peluang untuk membicarakan hubungannya dengan Alvin.
"Nggak! Kamu tetap disini aja. Masih bahaya kalau kamu ikut kembali. Walaupun Papa Mama enggan meninggalkan kamu, tapi masih lebih baik dari pada melihat kamu bersama dia. Papa Mama percaya bahwa pakde Tejo dan Budhe Lastri akan menjagamu dengan baik. Kamu bisa menetap disini sampai kelulusan, setelah itu soal perkuliahan kamu bisa ikut abangmu kuliah diluar negeri. Itu yang terbaik!" ujar Papa Hendra seakan sudah merancang kehidupannya nanti dimasa mendatang membuat Zea tak bisa berkata apa-apa lagi.
Untuk orang tuanya yang sudah memikirkan kehidupannya dengan baik, Zea sebagai anak yang selalu menyebabkan masalah merasa tak enak jika kali ini ia membantah perkataan mereka demi egonya sendiri.
"Baik pa!" jawab Zea.
Zea dengan segera menyelesaikan makannya kemudian ia pamit kepada orangtuanya untuk kembali ke kamar.
Zea membuka pintu kamar dan mengambil nafas berat. Zea duduk di meja belajarnya mengambil handphone yang tercas disana membuka pesan grup yang kini terdiri dari empat orang ia, Keyla, Icha, dan Ayu sebagai tambahan.
Keyla
Gimana Ze, Yu? Udah bilang?
__ADS_1
Icha
Iya gimana Zea hasilnya? Aku udah gak sabar pengen tau
Ayu
Aku masih belum bilang Keyla Icha
Zea kata mau ia duluan yang mau bicara ke pak Hendra sama Bibi Tia sebelum aku bicara ke orang tuaku
Keyla
Yah jadi belum pasti nih?
Icha
/Sad
Gue berharap banget lo bisa main bareng
Ayu
Kalian tenang aja Keyla, Icha. Zea pasti berhasil kok, Zea bahkan sampai nyiapin presentasi buat bujuk orang tuanya.
Kalau aku mah asal Zea bisa ikut, aku pasti juga boleh ikut
Semua perkataan di grup seperti harapan atas Zea yang tak pasti.
Zeara
Gue masih belum bilang
Tadi gue mau bilang tapi suasananya tiba tiba aneh, jadi gue tunda dulu. Nanti malam gue akan coba ngobrol lagi sama orang tua gue
Zea membalas pesan yang ada digrup kemudian ia beralih ke kontak lain dengan nama Alvin disana
Alvin
Kamu udah waktunya liburan kan?
Mau kemana?
Mau dirumah aja? Gimana kalau main sama aku
Zea bingung harus membalas Alvin dengan apa. Jika ia bilang dia akan berlibur dengan Keyla dan Icha, pria itu pasti akan menyusul dan menjadikan waktunya bersama para sahabat menjadi miliknya sendiri, mengingat kepribadian Alvin.
Zeara
Aku masih belum tau, masih belum kepikiran
Begitulah Zea membalas pesan Alvin.
Zea mematikan handphonenya, menenggelamkan wajahnya dimeja sejenak. Kemudian gadis itu bangkit, mengecek laptopnya yang terdapat rencana liburannya dan sahabatnya yang sempat ia siapkan. Zea mengecek kembali ppt didalamnya agar lebih mempertegas keinginannya untuk berlibur dihadapan orang tuanya nanti. Dan ketika selesai yang Zea butuhkan adalah waktu untuk berbicara.
Skipp...
__ADS_1
Zea bersiap dengan pakaian rumahnya yang santai. Hari sudah gelap dan kini mama papanya sedang bersantai di ruang keluarga depan.
Zea membawa laptopnya, kemudian memandang kaca.
Zea melirik kearah handphone yang ada di meja. Ia mengetik kata kata di grup dengan sahabatnya.
Zeara
Aku siap untuk minta ijin! Doakan aku
Dengan cepat pesan itu dibalas
Keyla
Semoga berhasil
Icha
Semangat
Zea memantapkan diri kemudian pergi keluar kamar menuju kedua orang tuanya. Zea berjalan pelan sambil mengintip apa yang kedua orang tuanya lakukan.
Nampak keduanya sedang menonton televisi sambil mengobrol.
"Ma! Pa! Boleh minta waktunya sebentar" ujar Zea sambil menyembunyikan laptopnya dibelakang punggung.
Kedua orang tuanya menoleh dan menjawab.
"Ada apa Ze?" tanya mereka.
Zea mendekat pada keduanya lalu mengambil remote tv yang ada di meja mengecilkan volume tv sampai nol. Kemudian Zea meletakan laptopnya didepan orang tuanya.
Zea memegang remote tv sambil mengambil nafas dalam.
"Ma, Pa, tolong lihat ppt yang Zea buat!" pinta Zea kepada kedua orang tuanya.
Keduanya nampak aneh sekaligus bingung, tapi mereka mengikuti yang Zea katakan.
"Selamat malam Papaku tersayang dan Mamaku tercinta. Maaf menganggu waktunya dan bersediakah kalian mendengar persentasi dari Putri anda ini, Zeara Mauria Mahendra?!" tanya Zea memasuki perannya, kedua orangtua Zea yang melihat Zea hanya bisa mengangguk mengikuti alur yang Zea lakukan.
Zea tersenyum kedua orang tuanya menganggapi, "Begini tuan tuan. Saya memiliki sebuah projek dinamakan 'Projek liburan bersama para sahabat selama 5 hari, hal ini guna untuk memperdalam hubungan diantara kami yang sempat merenggang' Bisa tolong di next" ujar Zea sambil mengarahkan mama Tia untuk menekan tombol selanjutnya.
Mama Tia dan Papa Hendra saling bersipandang dengan keanehan putri mereka. Tapi Mama Tia tetap melanjutkan seperti arahan Zea.
"Dalam projek liburan ini terdapat 4 orang yang terlibat didalamnya. Yaitu putri anda ini, Zeara, kemudian ada Keyla, Icha, dan terakhir Ayu" ujar Zea melanjutkan.
"Apa maksudnya ini Zea?" tanya Papa Hendra tak paham menatap kearah putrinya.
Zea sangat takut akan tatapan kedua orangtuanya yang seakan mempertanyakan apa yang kini ia lakukan.
Zea memejamkan mata kemudian ia yang berdiri kini menjadi duduk di bawah sambil memperlihatkan ppt yang ia buat dan menjelaskan secara detail mengenai rencana liburannya dengan teman temannya itu.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1