My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
29. Gak Usah Masak


__ADS_3

Pembelajaran pertama selesai. Suara dari spiker menggema diseluruh sekolah. panggilan itu ditujukan pada sekumpulan orang yang akan memerankan tokoh untuk film yang akan dilombakan. Film yang bertema perubahan itu kini akan dilakukan latihan.


Zea, Icha, Keyla dan Alvin ijin kepada guru yang mengajar.


"Oyy Ze tunggu!" panggil Niko sang ketua kelas mengejar.


"Loh Nik!! lo kok ikut juga?" tanya Zea.


"Iya Ze, semua ketua kelas diijinin buat berpartisipasi dalam kegiatan ini." Zea mengangguk, Alvin menatap tidak suka kearah Niko dan beralih ke Zea menggandeng tangan gadis itu.


"Lo bawa apaann Ze?" tanya Niko menatap bekal yang dibawa Zea.


"oh ini?! ini bekal." jawab Zea.


"Lo belum sarapan emang?" tanyanya lagi. Zea menggeleng.


"Belum."


"ehm asik ngobrol terus." tegur Alvin matanya menajam memperingati pria itu. Zea terkekeh lucu lantaran melihat sikap cemburu dari pacarnya itu.


"tau lo Ze, asik banget ngobrolnya. Kita kayak gak dianggap, iya gak key?" Icha bertanya pada Keyla.


"Iya tau lo Ze, terus itu ngapain kalian gandengan terus kayak orang mau nyebrang aja pakek gandeng segala." balas Keyla menelisik kearah genggam tangan kedua orang itu.


Zea tersipu malu berusaha melepaskan tautan tangannya pada Alvin, namun nihil. Alvin makin mengeratkan genggaman tangannya. Zea melirik kearah Alvin mengkode pria itu untuk melepaskan genggaman tangannya. Hal yang dia dapatkan adalah wajah masa bodoh Alvin yang terus berjalan dengan genggaman tangannya menatap kedepan.


Zea menghela nafas dan membiarkan Alvin menggenggam tangannya, bahkan kini kedua sahabatnya sudah tak peduli lagi. Mereka sampai ditempat berkumpul, Mereka memasuki ruangan yang sangat luas itu. Diruangan itu sudah tertata meja dan kursi yang membentuk lingkaran.


Zea menatap keseliling, Rupanya sudah banyak orang yang berkumpul disana.


Vara melirik sinis kearah Zea dikarenakan gadis itu terpilih menjadi pemeran utama.


"Semua ada disini! mari duduk. Bagi panitia yang gak kebagian tempat duduk bisa ambil bangku dibelakang sana." Tunjuk pak burhan ke tumpukan bangku.


Zea meletakan bekal makanan yang dia bawa dimeja pojok yang kosong. Lalu Zea duduk disamping Alvin di sebelah kirinya ada Icha dan Keyla.


"Perkenalkan ini alumni sekolah kita namanya Vannesa panggil aja kak nesa. Dia disini juga sebagai pembimbing untuk kemajuan syuting film kita nanti." Jelas pak Burhan memperkenalkan.


Vannesa menyapa mereka dan mereka menyapa balik Vannesa dengan ramah. Alvin nampak tak peduli dengan wanita itu, karna perempuan yang bisa membuatnya peduli hanya Mommynya dan gadis disampingnya itu.


Pembaca naskah berjalan dengan lancar da sesekali mereka beradu akting. Zea yang awalnya canggung karena menjadi pemeran utama kini mulai terbiasa karena Alvin yang nampak biasa saja dan menghayati peran yang dia dapat. Namun sesekali pria itu nampak sebal ketika Zea harus beradu akting dengan pria lain, misalnya Rey.


Kegiatan mereka membuat tak sadar bahwa kini telah memakan waktu hampir 3 jam. Karena lelah dan banyak yang memperotes ingin istirahat sejenak, mereka diijinkan untuk kekantin. Apalagi Zea yang tadi pagi belim sarapan karena sibuk menyiapkan bekal.


"Yuk Al!"


"Alvin doang yang diajak Ze?"


"Hehehe kalian juga kok, yuk! gue ada bikin bekal. Lo harus coba masakan gue."


"What?" pekik Keyla dan Icha kaget.

__ADS_1


"Lo Zea yang gue kenal kan?" tanya Keyla tak percaya.


Lantas Icha memegang dahi Zea, Zea menepis,. "Apaan sih lo Cha!" seru Zea.


"Gak panas!! Lo baik baik aja Ze?" tanya Icha menelisik.


"Dia beneran Zea yang kita kenal gak sih Cha?" tanya Keyla heran.


"Gue juga gak tau Key, Kayaknya sih Iya. Tapi gue ragu." jawab Icha.


Zea mendengus sebal kepada sahabatnya dan menarik Alvin menuju kantin. Keyla dan Icha menatap kepergian Zea sontak membelak, Bisa hilang jatah bekal mereka pada Zea kalok gini caranya.


Mereka pergi menuju kantin dengan beberapa mata yang mengamati keempat orang yang baru saja keluar itu. Termasuk anggota geng Aodra itu. Mereka juga mengikuti langkah sang bos dari arah belakang.


Keempat orang itu duduk disebuah meja kosong yang ada disana. Para kumpulan anggota inti geng Aodra itu mendekat meminta bergabung.


"Hey hey, baby Ze bawa apa nih! kita join ya." Ucap Julian langsung duduk didekat mereka tanpa mendapat persetujuan. meja yang mereka tempati kini meja yang panjang sehingga masih banyak ruang tersisa.


Icha mendengus sebal ketika Satya duduk didepannya, "Ngapain lo duduk sini, sana lo jauh jauh dari gue." usir Icha mendorong tubuh Satya agar pria itu menjauh darinya.


Satya menghalau, kesal rasanya jika terus diperlakukan Seperti ini, "Lo apa apaan sih Cha, selalu aja sewot kalok deket gue." Satya berbicara sedikit membentak.


"Makanya Lo jauh jauh dari gue." sentak Icha tak mau kalah.


"Berisik." suara Alvin diikuti tatapan tajam membuat Satya diam.


Satya kemudian pindah kesebelah Julian yang duduk disamping Julian. Sedangkan Geo dan Kenan mengikuti.


"Udah kalian jangan ribut Mulu, pesen minum dulu gih." lerai Zea.


Pesanan sudah tercatat dan Zea mulai membuka tas bekalnya. Zea memberikan bekal yang dia bawa kepada kedua sahabatnya disambut senyum ceria oleh mereka. Kemudian dia memberikan bekal khusus yang didekor pada Alvin. Alvin menerima itu kemudian pandangan Alvin tak sengaja menangkap kearah jari tangan Zea.


Alvin meletakan bekalnya begitu saja dan beralih melihat jari tangan Zea yang terbalut plaster luka.


"Ini kenapa?" tanya Alvin memincing mulai tak ramah. Zea meloloskan tangannya dari Alvin.


"Eh gak apa kok Al, cuma kegores pisau waktu masak tadi pagi." jawab Zea menyembunyikan jari tangannya.


"Kamu luka gara gara masak bekal?" tanya Alvin kini raut mukanya benar benar tak bersahabat.


"Iya." jawab Zea menengguk ludah melihat wajah Alvin yang tak seperti biasanya.


"lain kali gak usah buat kayak gini lagi. Gak usah nyentu bagian dapur lagi, lihat gara gara berkutat sama dapur kamu jadi kegores dan luka kek gini." ucap Alvin tegas.


Keempat pria itu hampir dibuat emosi lantaran sikap Alvin yang terkesan berlebihan. Hello itu hanya luka kecil, hanya kegores pisau biasa. Gak sampai berdarah darah seperti kecelakaan. Apa perlu bersikap berlebihan seperti itu.


Zea seakan tak memperdulikan ocehan Alvin hanya mengerucut bibir, "Lo kok malah marahin gue sih," sebal Zea membuang muka.


"Gue udah susah buatin bekal buat lo, Lo nya malah marah marah gini." lanjut Zea.


"Ze, lihat aku." Alvin menghadapkan bahu Zea padanya dan memegang pipi Zea supaya menghadap dirinya.

__ADS_1


Mereka sekarang hanya menatap kedua pasang kekasih yang mereka tidak tau sudah jadian itu seperti layaknya nonton drama live tentang perdebatan pasang kekasih. Hal itu termasuk sahabat Zea yang meresa aneh saat Alvin memakai Aku–kamu pada Zea.


"Makasih atas bekalnya, tapi jangan buat kayak gini lagi. Kalok kamu laper dan gak ada makanan dirumah, telpon aku. Nanti bakal aku antar kerumahmu,"


"Mulai sekarang gak ada kegiatan masak lagi, paham?!" tegas Alvin.


Zea diam tak menjawab, mendengus sebal kearah Alvin. Siapa dia ngatur ngatur kayak gini? oh ya dia lupa, pria didepannya ini sekarang adalah pacarnya.


Begini amat rasanya pacaran!! pakek diatur atur. Sebel! apa semua cowok gini ya?? pikir Zea dalam batin


Keyla yang merasa keadaan mulai tak benar, mencoba membuyarkan mereka.


"Hey udah ah, gini aja kok pakek diributin. Yuk makan, keburu disuruh balik lagi ntar."


"Tau nih, prihal makanan aja ribut. Terus bagian gue mana Ze?" tanya Julian.


"Ngapain Lo minta bagian juga nyet!"


"Ya siapa tau Zea terpikat oleh penampilan gue dan bawain bekal juga buat gue." Ucap Julian ngaco mendapat gaplokan kepala dari para soibnya itu.


"nih buat lo Jul." Zea memberikan bekal yang didalamnya berisi makanan gagalnya.


Julian membuka kotak bekal yang diberikan Zea dengan antusias. Raut wajah yang awalnya tersenyum kini menjadi murung.


"Baby Ze, kok ancur gini?"


"Iya, itu makanan gagal gue. Sengaja gue bawa, rasanya sama aja kok. Maybe he-he-he." ucap Zea disambut gelak tawa semua orang.


Mereka mulai makan kembali setelah pesanan Aodra sampai. Sembari menghabiskan makanannya mereka melontarkan canda tawa yang kadang membuat ngakak dan sebal akan tingkah Julian yang kini berperan sebagai penghibur mereka.


Alvin mulai membuka bekal makanan yang diberikan oleh Zea, Dirinya tersenyum sekaligus tersentuh melihat bekalnya yang dihias sedemikian rupa.


"Wih niat banget Lo hiasnya Ze," seru Icha melihat bekal milik Alvin. Zea hanya tersenyum.


"Ayo makan." ajak Alvin sambil menyuapi Zea.


Mereka yang melihat itu berdehem karena sikap manis yang ditunjukkan oleh Alvin.


"Lain kali gak usah masak lagi," ucap Alvin menyuapi Zea lagi, namun tak ditolak oleh Zea.


"Gak usah siapin bekal kayak gini lagi."


Zea mencibir mengikuti ucapan Alvin namun tak bersuara. Mereka yang melihat sikap Zea hanya menahan tawa.


Alvin gemas dengan gadis itu mencubit hidung Zea. "Aww Sakit Al." pekik Zea memukul Alvin membalas perbuatan pria itu.


"Dibilangin malah ngejek." Zea mendengus membuang muka sambil melipat kedua tangannya.


Alvin menggeleng geleng kepala melihat sikap gadis itu. Namun tidak dia indahkan dan sibuk memakan bekal Zea sembari menyupi gadis itu.


Masakan Zea emang tak seperti hotel bintang lima yang biasa dia makan. Namun rasanya tidak buruk untuk seseorang yang tidak bisa memasak. Walau harus ada campur tangan dari sang mama yang berkontribusi besar dalam masakannya.

__ADS_1


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2