
Menyelusuri lorong yang sepi membuatnya menjadi creepy alias ngeri. Zea dengan berjalan cepat menuju arah belakang taman. Dia menghampiri tempat dimana dia duduk tadi dan 'ada' ponselnya berhasil ditemukan.
Dengan senang, Zea ingin kembali ketempat bang Arka yang sedang menunggunya diluar. Sampai pandanganya tertuju kearah pria yang ia kenal, yaitu kearah Alvin, sang kekasih. Karena jarak yang sedikit jauh, Zea menggosok gosok matanya dengan punggung tangan memastikan ia tidak salah lihat.
"Alvin? Kok dia dandan lagi?" gumam Zea heran karena Alvin yang ia lihat adalah Alvin dengan penampilan saat lamaran. Namun bedanya pria itu tak menggenakan jas melainkan seragam sekolah.
Karena rasa penasaran yang mencuat Zea mencoba menghampiri pria itu. Tapi saat pria itu berhenti Zea malah sembunyi.
'Kenapa gue malah sembunyi sih dodol!" gerutu Zea dengan dirinya sendiri.
Zea kembali mencari keberadaan pria itu, namun ia tak menemukannya. Berjalan lurus menelusuri lorong lorong yang sepi sampailah dia dikawasan markas Geng Aodra yang berada disekolah. Dirinya juga bingung kenapa bisa sampai menuju kemari padahal niatnya cuma mengikuti Alvin.
Pandangan Zea tertuju kepintu yang sedikit terbuka. Suara tawa khas laki laki keluar dari ruangan itu. Dirinya mencoba mengintip.
Deg
Dirinya menemukan Alvin bersama dengan keempat pria yang merupakan penguasa sekolah itu. Dirinya tak ingin berpikir terlalu jauh.
'Apakah Alvin dibully sama mereka?' batin Zea bertanya-tanya.
Tapi detik itu juga pemikirannya itu tersangkal karena matanya melihat dengan jelas Alvin menendang Julian hingga tersungkur, tapi para anggota geng Aodra itu tidak marah malah tertawa karena melihat wajah kesal Julian.
"Sialan lo King selalu bully gue!" gerutu Julian.
Detik itu juga jantung Zea seakan berhenti berdetak. Matanya membelak, wajah Zea menjadi pucat pasih tak dapat menahan keterkejutan yang baru saja ia dapat. Seakan waktu berhenti begitu saja.
'Alvin? King? Haha ini bercanda kan?!' gumamnya dalam hati.
"Gue bilangin Zea nih, lo bully gue!" ancam Julian.
"Coba saja" jawabnya terkekeh akan ancaman Julian.
"Cih mentang mentang lo bos, bikin gue takut gitu sama lo?" tantang Julian memasukan kedua tangannya kesaku samping celana.
"Emang lo berani?!" tanya Satya memastikan.
__ADS_1
"Ya jelas kagak lah, bego banget lo. Pakek diperjelas pula!" jawab Julian cepat mengarahkan tinju tertahan kearah Satya. Satya menepisis. Merekapun tertawa kecuali Julian sang bahan tawaan.
Zea sedari tadi diam tak bersuara mendengarkan pembicaraan mereka.
"Kalok sampe Zea tau identitas lo, terus dia ngejauh dari lo. Lo apain Al? Lo sekap?" canda Julian dengan tawa.
"Tentu!" Mereka kembali tertawa melihat kebucinan Alvin.
Deg
Zea kembali terpaku oleh ucapan Alvin. Dirinya sudah tak sanggup lagi.
Alvin menoleh kearah pintu merasakan ada yang menatapnya. Dia menajamkan mata, berjalan kearah pintu. Keempat pemuda itu menatap kearah Alvin heran.
Brakk
Pintu dibuka Alvin dengan kasar. Alvin melihat kanan kiri tak ada satupun.
'Apakah perasaan gue salah?" tanya Alvin dalam batinnya.
Zea sudah meninggal tempat itu dengan hati gelisah. Dia terkejut bahkan sangat amat.
Untuk kedua kalinya dia salah memilih pria. Dan pria yang menjadi kekasihnya kini bahkan lebih buruk dari yang pertama. Apakah dirinya harus merasakan rasa terkurung untuk kedua kalinya?? Tidak, Itu tak boleh terjadi.
Zea membuka pintu mobil dengan kasar, duduk disamping bang Arka dengan nafas ngos-ngosan. Bang Arka mengernyit menatap heran adiknya itu.
"Kenapa kamu dek? Kayak dikejar setan aja!"
"Emang dikejar setan hehehe" canda Zea pada bang Arka, tak ingin bang Arka khawatir.
Bang Arka mengendikan bahunya tak ikut campur akan apa yang terjadi dengan Zea, karena ia berpikir Zea hanya ketakutan biasa karena sekolahnya sepi menjadikan hawa horornya terasa.
Kemudian Arka menjalankan mobilnya meninggalkan Immanuel School kembali kerumah.
Mereka sudah sampai dirumah. Zea keluar begitu saja dari mobil membuat bang Arka keheranan akan sikap Zea.
__ADS_1
"Zea, udah pulang?" tanya Mama Tia melihat kedatangannya.
"Iya Ma, Zea kekamar dulu ya, Zea capek!" ucap Zea sambil tersenyum, lalu pergi melewati Mama Tia begitu saja.
Zea manaiki tangga kearah kamarnya. Ia membuka pintu kamarnya dan menutupnya tak lupa ia kunci rapat rapat agar tak ada yang bisa masuk.
Zea naik keatas ranjang mengambil salah satu bonekanya yang tertata diranjang memeluknya erat dengan kedua kakinya tertekuk. Dirinya takut, gelisah, tak tahu harus bagaimana? Apa yang harus ia lakukan? Dan Bisakah dia melakukannya. Semua itu terlintas dipikirannya begitu saja.
Satu hal lagi yang terlontar dibenaknya saat ia datang kekediaman Immanuel, kenapa dia bisa begitu saja percaya akan apa yang pria itu katakan. Bahkan dengan kebohongan kebohongan yang dikatakan Alvin, kenapa dia percaya begitu saja. Dirinya sangat bodoh karena terbuai akan perasaannya pada pria itu.
Semua hal ini sangat memusingkan. Nafasnya menderu berat, dadanya seakan sesak. Zea memukul mukul dadanya menghilangkan rasa sesak yang menerpa. Otaknya kian memanas.
Membuatnya tak tahan dan berlari kearah kamar mandi, menyalakan shower untuk membasahi tubuhnya. Zea tak peduli bahwa seragamnya akan ikut basah, kini yang ada dipikirannya adalah mendinginkan otaknya yang kian memanas akan apa yang harus ia lakukan.
Dengan berpegang pada tembok dibawah pancuran air ia berpikir. Perkataan Alvin terbesit dipikirannya.
Alvin akan menyekapnya jika ia tahu identitas Alvin sebenarnya. Maka dari itu kini Zea memutuskan bahwa Alvin tak boleh tahu bahwa dirinya tahu yang sebenarnya. Dirinya akan bersikap seperti biasa dan melakukan hal hal yang sekiranya dapat membuat pria itu menjauh dengan sendirinya. Setelah pria itu menjauh, maka dirinya akan bebas. Sesimpel itu, namun sulit untuk dilakukan.
Zea tersenyum akan rencana yang terlintas dipikirannya. Dia mengepalkan tangan dan memantapkan hati, bahwa semua akan baik baik saja. Dirinya akan terbebas dari pria itu. Pria yang merupakan bos dari Geng Aodra sekaligus pewaris tunggal seluruh kekayaan keluarga Immanuel.
Zea tak ingin terlibat dengan pria yang pastinya memiliki sangat banyak musuh itu. Dia harus bebas. Itu harus. Karena jika tidak, seluruh keluarganya, yaitu mama, papa, dan abangnya akan terkena imbas akan kesalahan yang ia perbuat kini.
Ya! Ini adalah kesalahannya. Kesalahan bodoh terbesar seorang Zeara Mauria Mahendra. Perkataan Icha dan Keyla terlintas dibenaknya, mereka benar bahwa sifatnya ini dapat menjadi bumerang untuknya dan kini bumerang itu datang menghampirinya.
Zea harus melakukan suatu untuk mencegah bumerang itu melukainya antara ia menghindar atau menangkap. Dia harus memperhatikan baik baik, sanggupkah dia menangkapnya dan sanggupkah dia lari dari kejaran bumerang yang amat tajam itu. Itu yang harus ia pikirkan matang-matang.
Zea sudah menyelesaikan ritual mandinya keluar dengan handuk melekat di tubuhnya. Ia berganti pakaian santai dan berbaring diranjang. Untuk menghadapi Alvin dirinya tidak boleh lelah apalagi jatuh sakit. Dirinya harus dalam kondisi fit dan pikiran jernih untuk menghadapi pria itu.
Semua ini untuk kebahagiaannya juga keluarganya.
"Aku harus bebas" gumam Zea sebelum pergi kealam tidur.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1
Finally Zea tau!! Gimana? Kurang puas? eits eits ini baru awalnya jadi jangan bosan bosan dukung cerita ini hehe 😊😊