
Zea, Keyla, Icha, dan Ayu melihat sekitar dengan sangat antusias. Mereka menggunakan alat alat yang ada di gym hotel dengan gembira. Walaupun mereka terkadang tidak tahu cara menggunakan hingga dibenarkan oleh penjaga gym yang ada disana. Tapi mereka lega telah berkeringat banyak.
Zea duduk dilantai sambil minum air yang ia bawa dari kamar hotelnya. Ia menyeka keringatnya dengan lengan pakaiannya sambil mengatur nafas lelah.
"Halo boleh gabung?" tutur seseorang pria mendekat pada Zea.
Zea melihat kearah pria itu dari atas kebawah. Ia tak kenal siapa pria itu, ia juga tak pernah bertemu, lalu kenapa pria ini datang padanya? Apakah pria ini penawaran obat obatan yang mencoba mendekatinya dan merayunya? Akan gawat jika Alvin tukang cemburuan itu tau, pikir Zea terbesit.
"Kalau mau duduk, duduk aja. gue sudah selesai! Permisi!" ujar Zea lalu bangkit membuat pria itu menatap Zea karena merasa diabaikan.
Zea pergi kearah teman temannya tanpa menoleh. Ia berbicara pada Keyla, Icha, dan Ayu bahwa ia kini selesai dan berniat untuk kembali ke kamar lebih dulu.
"Oke oke nanti kita nyusul Ze!" ujar Keyla mengiyakan.
Zea selesai lebih cepat pergi meninggalkan mereka untuk kembali ke kamar. Badannya penuh dengan keringat dan terasa lengket makanya ia ingin kembali terlebih dahulu. Zea berjalan disekitar lorong hotel menaiki lift menuju kamar tempat ia menginap. Zea menempelkan kartu akses hotel membuka pintu kamar.
Zea masuk kedalamnya dan bersiap untuk mandi.
Dibawa kucuran air shower Zea membersihkan tubuhnya. Ia menikmati sensi segar sehabis olahraga.
tok tok tok
Pintu kamar diketuk saat Zea memasang jubah mandi. Zea mengikat tali bathrobenya dengan kencang menunggu pintu diketuk lagi.
Zea tak tahu siapa yang datang dan merasa aneh karena malam malam begini. Ia hanya ingin mengamankan diri lantaran jika itu para sahabatnya, mereka pasti akan langsung masuk karena mereka membawa kartu akses.
"Layanan kamar!" ujar seseorang dari luar membuat Zea mengernyit karena layanan kamar apa yang datang malam malam begini.
Zea membuka pintu kamarnya sangat sedikit mengintip orang yang ada diluar.
"Maaf saya tidak memesan layanan kamar" balas Zea.
"Ah Maaf aku bercanda dengan berpura-pura menjadi layanan kamar. Begini! Sepertinya kamu menjatuhkan ini saat di gym tadi. Aku mencoba mengembalikannya, untung saja tidak salah kamar" ujarnya bergurau sambil memperlihatkan tali rambut yang memang Zea pakai untuk melakukan olahraga tadi.
Zea tak ingin banyak berbicara.
"Ah Terimakasih" ujar Zea secukupnya lalu ia mengambil kuncir rambutnya dengan bersikap waspada.
Zea melihat pria itu seperti tak ada niatan untuk pergi.
__ADS_1
"Kalau begitu saya masuk dulu, terima kasih sudah mengembalikan" ujar Zea.
"Oh oke silahkan, Kalau begitu aku juga balik dulu ya! Bye Ze" ujar pria itu berpamitan.
Tanda tanya semakin muncul dalam benak Zea. Ia sangat dibuat bingung tentang siapa pria itu.
Akhirnya karena tak kunjung menemukan jawaban Zea menutup pintu kamarnya tak ingin memikirkan. Ia segera bergegas untuk berganti pakaian.
...****************...
Pria tadi berjalan dengan gembira. Ia pikir ia berhasil menarik perhatian Zea. Ia menaiki lift melihat seorang pria lain yang ada didalamnya. Tanpa memedulikan pria itu, pria yang mendekati Zea itu masuk dan mengangkat panggilan telpon
"Gimana udah dapetin cewek inceran lo?"
"Aman bro! Kayak lo nggak tau aja siapa gue! Gue pastiin cewek yang gue incer sekarang ini bakal tertarik sama gue" seru pria itu.
Laki laki lain yang ada di dalam lift bersikap acuh hingga ia mendengar suatu nama membuatnya tertarik.
"Oh ya ngomong-ngomong siapa namanya? Cantik gak?"
"Namanya? Gue gak tahu sih nama lengkapnya siapa, Tapi gue denger dari temannya tadi, dia dipanggil Ze Ze gitu! Ntah namanya siapa, tapi yang pasti orangnya cakep! Nanti bakal gue cari tahu lebih lanjut buat dapetin tuh cewek!" ujar pria itu.
"Yoii! Pastilah, nanti kalau berhasil gue traktir lo" pria itu asik dengan dunianya sendiri hingga pria disebelahnya seperti patung gantung yang tak tahu harus berbuat apa.
"Serius nih! Asek.."
Tin
Lift tiba dilantai paling bawah.
"Yaudah nih! Gue duluan" ujar pria itu.
Pria itu keluar dari lift disusul pria dibelakangnya. Pria yang menyusul itu terus mengikuti kemana pria itu pergi, hingga mereka berada di sekitar hotel yang agak sepi.
Pria yang mendekati Zea tadi berbalik.
"Siapa lo? Kenapa lo ngikutin gue?" tanya pria itu waspada.
Pria pendiam itu mengeluarkan handphone menunjukkan sebuah foto dari balik layar pada pria itu.
__ADS_1
"Apa ini wanita yang anda maksud di telpon tadi?" ujarnya sambil menunjukkan foto Zea bersama Alvin dari layar handphonenya
"Kenapa bisa? Lo siapa?" pria itu heran menatap kearah pria didepannya dengan ngeri.
"Gue bukan siapa siapa, cuma mau ngasih anda pelajaran aja atas nama tuan gue!"
bugh bugh
Pria itu menghajar pria didepannya hingga tak bisa berkutik sedikit pun. Hingga pria itu merasa puas dengan pelajaran yang telah ia berikan.
"Saya peringatkan untuk menjauh dari gadis itu jika anda ingin selamat. Tuanku bisa membuat anda menghilang jika anda masih kekeh untuk terus mendekatinya!" ujarnya memperingatkan, ntah pria yang terkapar ditanah itu mendengar atau tidak.
Pria itu berbalik pergi. Tangannya berbecak sedikit darah akibat memukul pria disana terlalu keras.
Joe yang baru saja melancarkan pukulan secara sepihak berniat kembali ke dalam hotel. Ia melihat tangannya yang tertinggal noda merah.
Ia masuk ke dalam lift berpas pasan dengan gadis desa yang menjadi teman Zea. Ia tak tahu namanya, tapi yang ia ingat gadis didepannya ini berasal dari tempat terpencil, kurang lebih sama seperti dirinya. Seseorang dari tempat terpencil.
Joe masuk kedalam dengan wajah datarnya.
"Em! Permisi, kamu temannya Zea juga kan?" tanya gadis itu mencoba berinteraksi.
Joe melirik dan berpikir dengan keras, 'Apa gadis ini tidak takut padanya setelah apa yang ia lakukan?'
Joe tak menjawab hanya mentautkan alisnya sebagai jawaban.
Tak ada lagi percakapan diantara keduanya hingga lift terbuka.
"Tunggu!" ujar gadis itu memegang lengan Joe.
"Sepertinya kamu terluka! Apa kamu butuh bantuan?" tanya Ayu melihat tangan Joe yang terdapat bercak merah.
Joe melihat gadis itu menyingkirkan pegangan tangan dibahunya, "Aku tidak terluka dan lagian ini bukan darahku" balas Joe ia berjalan pergi keluar dari lift.
Ayu melihat kepergian Joe dengan perasaan aneh, ia merasa dibanding terlihat galak dan seram, sosok Joe terlihat kasihan dimatanya.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1