
Zea yang terseret kedalam mobil Zion bingung mau dibawa kemana.
"Lo mau bawa gue kemana?" tanya Zea menoleh kearah samping.
"Ketempat yang hanya ada kita berdua sayang!" ujar Zion. Pria itu masih saja tergila gila dengan Zea.
Zea diam menatap sinis kearah pria itu.
"Kenapa lo bisa ada di sini?" tanya Zea.
"Bukannya harusnya aku yang tanya, Kenapa kamu bisa ada disini?" Zea mengeryit heran akan keanehan yang terjadi.
Keduanya sama sama bingung dengan apa yang terjadi. Zion kemudian mengingat ingat kembali apa yang ia alami hingga bisa sejauh ini.
Ia kemudian tersadar kembali dari lamunannya. Pandangan mata Zion kembali fokus kedepan, ia mengernyit ketika mobilnya dihadang oleh sebuah motor dan didekat motor itu juga berdiri seorang pria.
Sama halnya dengan Zea. Mata mereka menajam melihat orang didepan mereka. Sontak Zion menghentikan laju mobil yang ia kendarai.
Zea yang terkulai lemas memandangi, mengernyit, dan menajamkan mata, mencoba menerka siapa orang didepannya itu.
Deg deg
Jantung Zea seakan berhenti berdetak disaat ia mengenali orang yang berada didepannya. Wajahnya memucat dan kian nafasnya menjadi berat.
"Sialan! Siapa sih tu orang?!" kesal Zion melepaskan seatbelt dibadannya. Zion kesal setengah mati karena perjalanannya digannggu. Ia keluar dari mobil dan berhadapan dengan laki laki itu. Saat semakin mendekat dahi Zion mengernyit seolah tidak asing dengan pria didepannya.
"Lo?!" ujar Zion terjeda sambil mengingat ingat.
"Ah gue baru ingat, Lo cowok cupu yang waktu itu sama Zea kan?" lanjutnya.
Tapi pria itu nampak tak menanggapi Zion. Malahan justru ia mengabaikannya dan berganti menatap Zea yang masih berada dimobil dengan sorot mata tajam.
Deg deg
Jantung Zea seakan ingin berhenti berdetak. Tangannya meremas ujung bajunya hinggapnya kusut. Dan Zea tak bisa mengalihkan kedua matanya karena terlalu terlena akan tatapan Alvin yang begitu tajam.
"Oyy culun! Apa yang lo lihat?!" tutur Zion menyentak bahu Alvin. Tapi pria itu tak bergeming sedikitpun. Hanya menatap sekilas kearah Zion.
Melihat sikap Alvin saat ini mengingatkan ia akan sosok King Aodra yang sama sama melihatnya dengan tatapan remeh. Wajah Zion memerah, emosinya pun juga ikut memuncak.
Bughh
Sebuah pukulan mendarat di wajah Alvin membuat Zea yang berada didalam mobil semakin membelak dan gelisah.
'Lo cari mati Zion!' batin Zea khawatir dengan perilaku Zion yang terlampau berani.
__ADS_1
Alvin yang mendapat pukulan dari pria itu diam saja tak bergeming sedikitpun. Ia melihat Zion dengan wajah datar lalu ia membesitkan smirk dibibirnya meledek pria itu.
Zion semakin memanas dan kedua tangannya smengepalkan tangannya. Ia layangkan kepalan tangannya kearah Alvin dengan sekuat tenaga.
Bughh
"Dasar nerd! Beraninya lo remehin gue!" ujar Zion mengungkapkan rasa kesalnya. Tapi lawan yang ia pukul masih menampilkan senyum dibibirnya.
Alvin yang sempat mundur satu langkah dan memalingkan wajahnya akibat pukulan Zion berbalik melihat pria itu. Ia mengusap sudut bibirnya yang dirasa sobek dengan ibu jari. Ia melihat ada sedikit darah disana.
"Rupanya kenyamanan yang lo dapat beberapa hari lalu, cukup memberimu tenaga!"
"Maksud lo?" Alvin menampilkan senyum sinis kepada pria itu.
"Akhhhh..!" Zion berteriak merintih kesakitan karena Alvin menendang dirinya dengan sangat keras. Tak hanya itu saja Alvin mulai menyerang pria itu membalas lebih dari apa yang pria itu lakukan padanya. Tanpa Zion bisa membalas lagi.
Zea yang melihat itu menjadi meradang. Ia merasa ia tak bisa diam begitu saja melihat Alvin menghajar Zion dengan membabi buta.
Zea membuka pintu mobil menghapiri kedua pria yang terlibat perkelahian itu. Walaupun itu tidak bisa dikatakan perkelahian karena Alvin yang terus mendominasi menjadikan perkelahian itu berat sebelah.
"Alvin stop!" bentak Zea dengan bibir bergetar. Bohong jika ia tidak takut dengan pria didepannya itu.
Alvin yang mendengar bentakan Zea menghentikan aksinya menoleh kearah gadis itu. Tangan Alvin yang mencengkram baju Zion, ia lepas. Zion pun jatuh tergeletak dibawah.
Hingga tubuh Zea bertabrakan dengan pohon dibelakangnya. Zea seketika sadar bahwa dirinya masih belum keluar dari daerah penyekapan Alvin.
Ia bergerak risau. Ia ingin segera kabur tapi dirasa itu tidak mungkin. Tubuhnya seketika membeku hingga Alvin berada didepannya hanya menyisakan jarak sejengkal.
"A. A" Zea mendadak bisu. Ia bahkan tak bisa menyebut nama pria itu.
"Sttt!" Alvin menyatukan jari telunjuknya dengan bibir Zea.
"Apa kamu sudah puas bersenang senangnya?" tanya Alvin.
"Kamu pikir aku gak tau kalau kamu kabur dari sana?" lanjutnya.
"Kamu pikir, karena aku meletakan semua penjaga diluar. kamu bisa sesuka hati bergerak keluar kamar seperti yang kamu mau?"
"Alvin aku bisa jelasin!" ujar Zea.
"Diam dulu! Aku belum selesai" ketus Alvin. Zea terpukau dengan nada dingin yang keluar dari bibir pria itu.
"Zeara Mauria Mahendra. Kamu pikir kamu bisa bebas dari aku?"
"Apakah kamu masih belum tau jelas siapa aku?"
__ADS_1
"Maaf" ujar Zea berandai dengan kata itu Alvin bisa memaafkannya.
Alvin berwajah datar, "Kamu ingin aku memaafkanmu?" tanya Alvin. Zea mengangguk.
"Tak semudah itu!" lanjutnya.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Zea.
Alvin mendekap Zea kedalam pelukannya.
"Aku ku maafkan kamu jika setelah ini kamu lakukan segala hal yang aku katakan. Jangan bertindak gegabah, jika kau tak ingin membuatku semakin marah!" tekan Alvin ditelinga Zea. Tubuh Zea seketika semakin bergedik ngeri.
Mata Alvin memincing melihat Zion yang hendak bangkit. Alvin memutar tubuh Zea, seakan ia sedang melindungi gadis itu.
Zea tertegun beberapa saat dalam posisi itu.
"Zea!!" suara beberapa orang bersautan dari kejauhan. Suara disertai deruan mobil dan motor itu kian mendekat.
Zea yang ingin menoleh terhenti karena Alvin tak mengijinkannya bergerak.
"Apa kamu tidak penasaran? Kenapa kamu bisa lolos begitu saja padahal aku sudah memberitahumu bahwa aku tau semua pergerakanmu!" ujar Alvin ditelinga Zea.
"Aku yang merencanakan itu semua!" Alvin tersenyum sinis, "Dan apa kamu lihat pria bodoh yang terpaku itu!" tunjuk Alvin memperlihatkan Zion pada Zea.
"Aku yang membawanya kesini!" Zea membelak menatap pria didepannya itu.
"Kamu?!" ujar Zea tercekat.
"Jangan coba coba memberitahukan semua orang tentangku yang membawamu, karena jika kau melakukan itu aku tak akan segan segan mengurung mu lagi dengan jangka waktu lama."
"Kamu tahu siapa aku kan? Bajingan itu tidak ada apa apanya dibandingkan denganku!" ungkap Alvin menyombongkan diri.
"ingat Ini adalah batas toleransi terakhir ku padamu yang telah bermain main denganku"
Tubuh Zea membeku. Ia sangat tidak menyangka akan semua hal yang terjadi. Ia kemudian bertanya tanya. Apa gunanya dia berjalan sejauh itu melewati tanda demi tanda berharap tanda itu dapat membawanya keluar. Namun tanda itu merupakan rencana yang disiapka pria itu.
Zea yang tak siap dengan kejutan itu seketika tumbang. Tubuhnya yang sudah lemas kini sudah tak dapat lagi menahannya. Alvin menahan tubuh Zea yang runtuh. Ia mendekap tubuh itu semakin erat.
"You are mine Ze. Only mine!" bisik Alvin ditelinga Zea.
"Hiks hiks hiks!" Zea terisak detik itu juga. Ia gagal. Semua kacau. Seberapa keras ia berusaha ia tak akan bisa lepas dari pria itu. Semuanya berantakan. Ia menyerah.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1