
Cinta? Itu baru pertama kali dirasakan oleh Alvin. Zea yang menyapanya untuk pertama kali, membuat rasa penasaran terpampang nyata dilubuk hatinya. Kedekatannya bersama gadis itu membuat jantungnya berdetak, tanpa sadar rasa itu berubah menjadi cinta.
Hingga saat dirinya mendapat kesempatan untuk menyatakan rasa pada gadis itu, membuatnya terbang ke langit ketujuh saat perasaannya diterima. Rasa bahagia itu tercetak jelas di hati Alvin. Hingga suatu ketika Alvin dibuat seakan hancur berantakan saat gadis itu mengobrak abrik hatinya.
Zea yang mengubah dirinya menjadi pribadi yang lembut dan ingin terlihat menjadi pria baik didepan wanita itu kian sirna saat kalimat putus terucap dari mulut Zea.
Sampai suatu ketika hati yang menggelap itu dibuat bersinar kembali karena Zea mengetahui identitasnya yang sebenarnya. Saat itu juga rasa bahagia itu muncul kembali karena dirinya tak perlu hidup dalam ke pura puraan lagi.
Dengan tekat yang meluap, Alvin ingin memiliki Zea hanya untuk dirinya sendiri. Alvin ingin Zea selalu dalam genggamannya, ingin Zea selalu dalam pengawasannya dan ingin Zea hanya memandangnya saja. Maka dari itu Alvin mengurung Zea dengan harapan ia bisa mengontrol gadis itu agar terus memikirkan dirinya saja.
Lalu apakah selesai hanya dengan mengurung Zea saja? Tentu tidak. Alvin harus membuat rencana agar dirinya dipandang dengan baik. Lagi pula ide untuk mengurung Zea tak datang dalam sehari saja. Pria itu telah merencanakan dengan matang hingga kesempatan itu datang dengan sendirinya. Bisa dibilang itu keberuntungannya.
Seperti saat ini tak hanya dengan Zea saja. Alvin juga harus berurusan dengan keluarga gadis itu.
Sore mulai berganti dengan malam, Alvin tiba di rumah Zea. Wajah pria itu babak belur tak beraturan. Tubuhnya penuh dengan memar. Ia dengan langkah tertatih memasuki rumah itu.
"Astaga Alvin, kenapa bisa begini?" pekik Mama Tia melihat kondisi Alvin.
"Maaf Om, Tan, Bang. Saya gagal dapat informasi tentang Zea!" ucap Alvin wajah pria itu nampak kecewa dan kacau.
"Yaampun sini duduk dulu. Abang bantuin Alvin!" Bang Arka memapah Alvin mambantu pria itu duduk di sofa.
Mama Tia pergi dari ruangan keluarga itu mengambil kotak obat untuk Alvin.
"Bagaimana kamu bisa babak belum begini?" tanya Papa Hendra melihat keadaan Alvin.
Mama Tia kembali dengan kotak obat, ingin mengobati luka pria itu, namun ditolak secara halus olehnya tanpa mengeluarkan kata.
"Saya coba cari info tentang Zea dari geng geng sekitar om. Dan mereka yang bikin saya seperti ini. Maaf Om, ini salah saya!" ungkap Alvin penuh penyesalan.
"Kamu tak perlu menyalahkan diri Al, ini salah kami!" ucap Papa Hendra.
"Nggak om ini salah saya. Kalau saya gak bertengkar sama Zea, ini semua gak bakal terjadi" ucap Alvin membantah kalau ini bukan salahnya.
Salah satu alis bang Arka menukik, matanya memincing. "Lo bertengkar sama Zea?" tanya Bang Arka curiga.
Alvin menundukan kepalanya, "Iya bang, Gu..Gue nyembunyiin identitas asli gue dari Zea" ucap Alvin terbata bata.
__ADS_1
"Maksud lo?"
"Zea ngira gue orang miskin bang! Tapi sebenarnya gue orang kaya. Zea tau dan marah sama gue! Sorry bang sorry, gue gak maksud ngerahasiain ini. Gue–" ucap Alvin tak kuasa melanjutkan ucapannya. Papa Hendra, Bang Arka, dan Mama Tia yang mendengar itu hanya terdiam kaku.
"Maaf! Kalau aja gue gak marahan sama Zea. Zea bakal minta bantuan gue dan semua ini gak bakal terjadi!" ujar Alvin meneteskan Air matanya. Pria itu menangis membuat Mama Tia ikut terisak mendengarnya.
Mama Tia mendekati Alvin menggenggam tangan pria itu.
"Ini bukan salah kamu nak Alvin, ini salah Tante. Kalau aja tante gak ngijinin Zea, Zea pasti masih disini" ucap Mama Tia tak kuasa menahan tangis.
"Ma udah, jangan nyalahin diri Mama sendiri. Kita tunggu kabar dari detektif suruhan papa ya!" ucap Papa Hendra menenangkan mama Tia, mengusap bahu Mama Tia. Papa Hendra mengangkat bahu Mama Tia membuatnya berdiri, lalu mendudukan wanita paruh baya itu ke sofa lain.
Bang Arka hanya menatap Alvin dengan tatapan aneh. Pria itu diam seolah mencurigai sesuatu.
Alvin melirik kearah bang Arka yang menatapnya.
"Saya gak ada maksud sedikit pun bohongin Zea soal status saya Om, Tan, Bang. Saya hanya ingin mencari seseorang yang bisa dekat dengan saya apa adanya tanpa melihat harta saya. Dan saat itu saya bertemu sama Zea. Saya tau! Seharusnya saya bilang ke Zea, tapi saya takut Zea akan pergi sari saya. Maaf Om, Tan, Bang. Semua ini salah saya" pinta Alvin masih menundukan kepalanya menjelaskan mengenai kondisi hubungan mereka pada keluarga Zea.
...****************...
Setelah sempat berbincang bincang dengan keluarga Zea cukup lama Alvin meninggalkan rumah Zea untuk kembali ke apartemennya.
Bang Arka yang pernah mengalami hal seperti ini tak mudah percaya pada siapapun termasuk Alvin. Ia mengenakan motor besarnya dan helm full face miliknya pergi ke tempat tempat untuk mengkonfirmasi kebenaran dibalik luka yang di terima Alvin.
Pria tampan yang merupakan kakak Zea itu menghentikan motornya disaat ia melihat sekumpulan anak motor dengan lambang di jaket yang mereka kenakan.
"Permisi bro. Gue mau tanya sesuatu boleh kan?" sapa Bang Arka mencoba mengakrabkan diri.
Sekumpulan pria itu menoleh melihat Bang Arka, menilai penampilan pria itu.
"Ada urusan apa?" tanya salah satu dari mereka ketus padanya.
"Euhmm kalian ada lihat cewek ini gak?!" ucap Bang Arka menunjukan foto Zea di handphonenya.
Sekumpulan pria ini bersama sama melihat foto yang disodorkan bang Arka.
"Bukannya ini cewek yang sama, yang ditanyain cowok cupu tadi siang!" seru salah satu dari mereka kepada temannya yang lain.
__ADS_1
"Iya sama! Gimana kabarnya tuh cowok?" tanya salah satu dari mereka membuat bang Arka mengernyit.
"Gue denger, nih cowok cupu nekat nanyain ke geng geng lain. Terus gue dapat kabar juga dari temen gue kalau tuh cowok kena hajar habis anak buah Marko!" lanjut pria itu.
Bang Arka terkesipa mendengarnya.
'Jadi tuh cowok beneran cari Zea!' batin Bang Arka berseru.
"Siapa sih nih cewek? Cantik!" ujar pria disampingnya. Bang Arka yang sibuk dengan pikirannya tak menjawab.
"Woy bro! Yaelah malah ngelamun!" Sentak orang disampingnya membuyarkan lamunannya.
"Ehm sorry! Kalau gitu gue cabut dulu ya. Thanks bro informasinya! Nih buat ngopi!" Bang Arka melampirkan beberapa lembar uang ke tangan orang disampingnya.
"Wihh cakep. Thanks bro!" ucap pria itu dengan senyuman.
Bang Arka kembali ke motornya, memakai helm full face miliknya.
"Lanjut gaes! Sumpah pemimpin geng Alegiance serem gile. Gue yang udah nyerah aja masih kena hajar, untung tangan gue gak ikut dipatahin!" seru mereka masih terdengar di telinga bang Arka.
"Hooh njir sama. Menurut lo kalau King di adu sama tuh pemimpin Alegiance siapa yang menang?"
"Jelas King lah! Dia kan gak pernah kalah!"
"Eits belum tentu. Bisa aja pemimpin Alegiance yang menang. Lo gak lihat sesadis apa tuh orang..."
"Bener bener" "Oh gak.." "Bisa jadi.."
Mereka terus berucap. Tanpa mendengarkan lebih jauh lagi, bang Arka meninggalkan sekumpulan orang itu. Pergi mencari informasi terkait keberadaan Zea.
Dan untuk kali ini ia meyakini bahwa Alvin benar benar mencari Zea. Walau ia masih belum percaya sepenuhnya pada pria itu.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Just informasi: Beberapa chapter mendatang mungkin lebih fokus ke Alvin dan Zea family. Jadi jangan bosen bosen untuk nunggu kelanjutan kisah ini!!
__ADS_1
Maaf kalau alurnya lambat banget..
So, Happy Reading All ♡♡