
Mari memulai hari dengan kegiatan yang berbeda. Selepas mendengar nasehat dari papa, Zea lebih memantapkan diri untuk lepas dari Alvin. Kali ini dia tak akan terburu buru. Karena sekarang dia menyadari kesalahannya bahwa apa yang ia lakukan untuk membuat Alvin muak dengannya seperti mengerjainya waktu itu bukan pilihan yang tepat.
Dia akan melakukan misi melepaskan diri dari Alvin dengan langkah yang bertahap dimulai dari merubah kebiasaan dari yang terkecil. Seperti sekarang ini, Zea mulai membiasakan diri untuk berangkat sendiri tanpa Alvin.
Jelas saja pada awalnya Alvin sempat bingung dan kerap menolak bahkan sampai berdebat karena keinginan Zea untuk berangkat sendiri. Bahkan ada masanya Alvin merasa Zea tak lagi menyukai ia menjemput gadis itu dengan motor bututnya, bahkan Alvin pernah menawarkan Zea ia jemput dengan mobil yang mana milik keluarga Immanuel namun Zea tetap menolak karena itu bukanlah alasannya.
Zea hanya ingin berangkat menggunakan mobilnya sendiri karena setelah sekian lama ia tak mengendarai kendaraan sendiri.
Kemudian beberapa hari berlalu. Perubahan pada Zea pun terjadi sedikit demi sedikit, bahkan sampai tak terasa bahwa Zea menjauhi Alvin secara tidak langsung.
Zea secara bertahap membatasi acara berduaan dengan Alvin. Bahkan kini hampir seminggu keduanya tak lagi berkencan atau bermesraan berdua karena Zea yang selalu bersama dengan kedua sahabatnya.
Zea dengan senyum mengembang karena dirasa misinya menjauhi Alvin hampir berhasil, berjalan kearah parkiran.
Zea menghampiri mobilnya yang sudah lama tak ia pakai. Dimana Kedua sahabatnya Zea? sahabatnya itu sudah pulang duluan karena dirinya dan Alvin tadi sempat dipanggil oleh pak Burhan untuk urusan film.
"Alvin aku pulang dulu ya?" pamit Zea melambaikan tangan pada Alvin yang berada disampingnya dengan motor maticnya.
"Hati hati!" ujarnya.
Mobil Zea keluar dari sekolah tujuannya kali ini bukan untuk pulang ke rumah. Zea ingin berjalan jalan sejenak guna merilekskan pikirannya dan berpikir bagaimana cara meminta putus dengan Alvin.
Disepanjang jalan Zea terlihat damai menikmati jalanan tanpa ia sadari beberapa mata yang selalu mengawasinya dari jauh.
Setelah ia lelah menelusuri jalanan Zea pulang kerumah. Sudah ada keluarganya yang sedang berkumpul disana. Zea menyapa mereka dengan senyuman.
...****************...
Alvin sampai ke basecamp Aodra setelah tadi sempat berpisah dengan Zea yang mengendarai mobil miliknya. Dan kini pertanyaannya, Apakah Alvin sadar dengan segala perubahan Zea kali ini? jawabnya adalah dia sangat sadar.
Tapi dia tak berbuat apa apa. Dia diam dan terus mengawasi segala perubahan yang terjadi pada Zea. Tak ada yang harus dia tindak melihat perilaku Zea yang kian berubah. Karena yang Alvin selalu yakini adalah Zea itu miliknya, mau seberapa jauh Zea lari darinya, gadis itu tak akan bisa lepas begitu saja darinya.
Dan apakah kalian penasaran kenapa selama ini Alvin hanya diam saja tidak melakukan sesuatu pada Zea. Jawabannya dia sibuk dan karena tidak ada yang dia rasa mendesak maka dia menghadapi dengan santai
Alvin masuk keruangan yang biasanya dia gunakan untuk berkumpul dengan para teman sekaligus anak buah se-gengnya itu.
"Gimana?" tanya Alvin mulai berbicara.
Para anggota geng Aodra yang sudah berkumpul disana menoleh melihat kehadiran Alvin. Alvin duduk di sofa sambil menunggu jawaban dari teman temannya itu.
Kenan memberikan sebuah undangan untuk Alvin. Alvin menerima dan menatap sekilas kearah undangan tanpa minat membukanya.
"Undangan resmi sudah disebar dan untuk acara kali ini bakal dimulai 2 hari lagi, seperti yang tertera diundang" jelas Geo pada Alvin.
__ADS_1
Acara yang dimaksud adalah mengenai acara tahunan dari setiap geng yang akan diadakan 2 hari lagi. Dan sudah jelas bahwa geng Aodra akan mengikuti acara ini.
Alvin menelisik kearah anak buahnya itu.
"Oke, persiapkan dengan baik. Gue gak mau ada sedikitpun kesalahan diacara kali ini, gue mau hasilnya perfect dan optimal!" tekan Alvin.
"Siap King" jawab mereka serempak.
"Tingkatkan lagi persiapan untuk kali ini. Gue gak mau ada satupun yang loyo dan hanya menjadi beban. Dan jika ada yang tidak siap untuk acara kali ini, kalian bisa mengundurkan diri" ucap Alvin sambil mengawasi setiap perubahan wajah di raut muka anggota gengnya.
"Tapi ingat jika kalian mengundurkan diri kali ini, tandanya kalian juga mengundurkan diri dari geng ini!" ucapan Alvin membuat mereka menegang seketika.
Terbentuknya geng Aodra memang sejatinya hanya untuk mencari jati diri dan bersenang senang semata antara Alvin dan teman temannya itu. Anggap saja untuk keren keren-an punya geng sendiri. Tapi karena ada beberapa orang yang memohon untuk bisa bergabung dengan kelompok Alvin membuat Alvin menjadikan geng mereka menjadi lebih besar.
Asal kalian tahu untuk masuk menjadi anggota Aodra sangatlah sulit karena Alvin benar benar memilih anggota dengan ketat. Selain masuknya yang sulit untuk keluar dari geng juga sulit, bahkan terkadang mengancam nyawa. Karena setiap orang yang ingin keluar dari geng harus dipastikan untuk tidak membocorkan setiap kata yang mereka dengar saat menjadi anggota geng Aodra.
Walaupun begitu dari awal terbentuknya geng sampai kini tak ada seorang pun yang keluar. Ada beberapa yang hanya mengatakan niatnya untuk keluar tapi setelah tahu resiko jika keluar dari geng membuat orang orang itu mengurungkan niatnya kembali.
Yah kembali ke laptop...
Demi menunjukkan kehebatan Aodra nanti. Alvin meminta para anggotanya untuk berlatih kembali. Walau tanpa diminta pun mereka akan berlatih. Karena dibasecamp Aodra ini seakan memiliki segalanya. Bahkan ada tempat gym, ada ruang dengan berbagi senjata untuk berlatih, ada juga ruangan menembak dibawah tanah. Tak hanya itu saja bahkan ada area tinju dan tanding dibawah tanah untuk adu duel. Sungguh tempat yang besar bukan!!
...****************...
Zea sudah bersiap dengan seragam sekolahnya. Setelah berpikir dengan seksama, akhirnya dia memutuskan bahwa hari ini adalah hari yang tepat untuk lepas dari Alvin. Dengan tekat yang kuat Zea akhirnya menjadikan hari ini sebagai hari dimana hubungan dan Alvin berakhir.
Hari ini Alvin menjemput Zea setelah gadis itu menghubungi Alvin bahwa selepas sekolah ada yang ingin dibicarakan berdua dengan pria itu adalah hal itu adalah hal yang penting.
Zea keluar rumah dan melihat Alvin yang sudah menunggunya didepan rumah. Alvin memberikan helm yang biasa Zea pakai pada gadis itu.
"Udah lama nunggu?" tanya Zea pada Alvin menerima helm yang diberikan Alvin.
"Nggak! Baru aja nyampe" jawab Alvin dengan senyuman. Jika Zea tak menyadari identitas Alvin dapat dipastikan dirinya akan terbuai oleh senyuman pria nerd itu.
"Berangkat yuk! Keburu telat nanti" pinta Zea.
Alvin mengangguk dan menghembuskan nafas berat karena hubungannya dan Zea dirasa sudah berubah hanya dalam beberapa hari saja.
"Hati hati naiknya" ujar Alvin saat Zea naik dalam boncengannya.
Setelah Zea naik ke motor Alvin, ia memeluk pinggang Alvin erat berbeda dari biasanya. Anggap saja ini adalah hari terakhir dimana gadis itu dapat berboncengan dengan Alvin seperti ini.
Zea menyenderkan kepalanya dipundak gadis itu. Tak rela rasanya jika harus berpisah dengan Alvin. Andai saja pria itu benar benar Alvin pria nerdnya, mungkin keinginan untuk mengakhiri hubungan keduanya tak mungkin terjadi.
__ADS_1
Selama perjalanan tak ada percakapan antara keduanya, Alvin juga tak bersuara. Walaupun Alvin sesekali mengusap lembut tangan Zea yang memeluknya dengan satu tangan.
Bahkan saat keduanya sampai disekolah Zea diam saja, begitu pula dengan Alvin.
Pelajaran pun berlalu begitu saja. Sampai bel berbunyi dan Kini Zea kekantin dengan Kedua sahabatnya, setelah berpamitan pada Alvin.
Sampai dikantin. Kedua sahabatnya terheran akan sikap Zea, karena saat Zea diajak mengobrol dan bercanda oleh keduanya Zea hanya mengangguk, menggeleng, tersenyum dan menjawab ala kadarnya saja. Sampai sampai membuat keduanya geram.
"Lo kenapa sih Ze? lagi pms?" tanya Keyla.
"Nggak kok, lagi bm aja!" jawab Zea.
"Lo bm kenapa sih Ze? Perasaan kagak ada masalah serius akhir akhir ini. Kecuali sama Alvin lo kayaknya agak cuek gitu. Lo marahan sama dia?!" tanya Keyla masih memperhatikan Zea yang tak menjawab.
"Kagak mungkin marahan deh Key, orang tadi gue lihat mereka berangkat berdua. Fine fine aja kok!" tukas Icha menolak tuduhan Keyla pada Zea.
Zea tersenyum namun sudut bibirnya berkedut.
"Gue gak marahan kok Key. Mungkin BM gue bawaan karena mau pms makanya mood gue turun" jawab Zea menjelaskan berusaha tidak membuat sahabatnya Keyla yang terkadang peka itu khawatir.
"Bener nih?" tanya Keyla memincing mata mencoba mencari kebohongan dimata Zea. Zea mengangguk.
"Iya Key, lagi bawaan mau pms aja!" jawab Zea
"Dari tadi lo ngomong bawaan bawaan, kayak lagi hamil aja. Atau jangan jangan lo sama Alvin udah unch unch gitu Ze? Lo gak Hamidun kan?" tanya Icha mengada ada, membuat mata Zea membola. Ia tak segan segan menjitak jidat Icha membuat gadis itu mengadu.
"Aww.." pekiknya.
"Kebiasaan kalok ngomong kagak pernah disaring!" ujar Keyla.
"Tau lo, kagak mungkin gue gitu" sinis Zea.
"Ye sorry habis kan pikiran gue langsung kesana hehehe" ucap Icha dengan tawa.
Zea dan Keyla tak habis pikir dengan Icha meninggalkan gadis itu.
"Eh eh tunggu! Makanan gue belum habis ini!" pekik Icha.
"Bodo!" pekik keduanya menjawab Icha yang cemberut.
Dengan rasa tidak rela dia meninggal makanannya yang masih tersisa menyusul Zea dan Keyla.
TBC
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ