My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
142. Mendapat ijin 2


__ADS_3

"Icha mau ikut Zea pergi mendaki Bun, Pa!" jawab Icha dengan jantung dag dig dug, menjelaskan niatnya.


"Mendaki?" Papi Satya bertanya seakan tak percaya.


"Iya! Boleh ya Bun, pa!" seru Icha memohon kepada kedua orangtuanya.


"Nggak boleh! Bahaya tau nggak" larang sang bunda sontak membuat hati Icha mencelos.


"Pa?!" seru Icha kearah sang papa. siapa tau aja papanya itu mengijinkan. Karena sang papa selalu menuruti apa yang ia mau.


"Bener kata bunda, bahaya! Siapa yang jaga kamu kalau kamu ikut?!" ujar papa Icha ikut menolak. Pupus sudah harapan Icha, tapi ia tak pantang menyerah begitu saja.


"Disana ada Bang Arka, abangnya Zea yang jagain kok Pa, Bun! Boleh ya?! Icha bakal juga bakal jaga diri kok" Icha masih memaksa.


"Nggak Cha, tetep nggak! Bahaya" tutur Bunda Sitha (Mama Icha) membuat Icha merengut.


"Pi! Bantuin dong" pinta Icha menatap kearah papi Satya memelas, meminta tolong.


Papi Satya yang sudah menganggap Icha anaknya sendiri dan selalu menuruti kemauan gadis itu, sedikit tergugah.


"Bolehin aja lah! Kasihan" ujar papi Satya membuat bibir Icha sedikit terangkat.


"Bukan masalah nggak ngebolehin ikutnya Fa. Aku sih ngebolehin aja, tapi takutnya disana nggak ada yang ngawasi. Tau sendiri gimana si Icha!" tutur papa Icha membuat Icha kembali tertunduk.


"Kalau gitu suruh aja Satya ikut. Biar Satya bisa nemenin Icha" sahut Mami Satya membuat pandangan Icha sontak menoleh pada pria itu. Ia menatap tak suka.


"Kok malah bawa bawa aku sih mi?!" tutur Satya tak terima. Ia membuang muka.


"Boleh juga! Kalau Satya mau nemenin kamu papa ijinin Cha! Itu syaratnya dari papa" ujar papa Icha membuat harapan Icha seketika bangkit.


Tiba tiba pandangan tidak suka itu menjadi tatapan penuh harapan. Ia mendekat kearah Satya ingin memaksa pria itu ikut.


"Nggak! Pokoknya gue nggak mau" tolak Satya berdiri menjauh dari ruangan keluarga.


Icha mengejar.


"Satya!" panggil Icha mengikuti langkah Satya yang masuk ke dalam rumah lebih dalam.


Icha mempercepatnya langkahnya membuat ia dan Satya berdiri sejajar. Icha menggenggam lengan Satya menghentikan langkah Satya.


"Sat! Please, tolongin gue!" pinta Icha memohon.


Satya menggeleng, "Nggak! Gue nggak mau" tolak Satya.


Icha berdecak, "Ayolah Sat! Gue bakal lakuin apa aja asal lo mau nemenin gue. Lagian kalau lo ikut lumayan kan, lo nggak bakal masuk kelas dan lo, bisa ikut fun nikmati pemandangan alam buat ngilangin suntuk disana!" ujar Icha menjelaskan apa yang akan pria itu terima.


"Lagian lo disana nggak perlu jagain gue kok, gue bisa sendiri. Lo bisa ngelakuin apapun yang lo mau disana, bagus kan?" Icha membujuk Satya, menawarkan bahwa Satya bisa bersenang senang tanpa memikirkan dirinya.


Satya menatap Icha yang memelas.


"Oke, gue turuti apa mau lo!" Ujar Satya membuat kedua mata Icha melebar tak percaya. Icha mengembangkan senyum dibibirnya.


"Tapi!" Satya mengacungkan jari. "Selama disana, lo harus turuti semua ucapan gue dan nggak ngebantah sekalipun. Lo harus nurut!" tutur Satya. Ia dengan terpaksa menyutujui karena ia tahu dari sikap Icha yang pantang menyerah. Gadis itu akan terus mengintainya dan menghantuinya jika apa yang ia inginkan tidak ia kabulkan.


"Oke! Gue setuju" jawab Icha dengan semangat.


"Itu artinya lo udah deal ikut gue ya! Fiks no debat! Lo nggak boleh berubah pikiran!" lanjut Icha dengan sungguh sungguh.


"Iya! Cerewet amat lo!" tutur Satya lantas melanjutkan langkahnya masuk kedalam kamar.


"Yes" sorak Icha berseru senang.


Ia melangkahkan kakinya kembali ke ruang keluarga, menyampaikan pada kedua orangtuanya juga orang tua Satya bahwa Satya akan ikut dengannya.


"Jadi sekarang Icha boleh ikut mendaki sama Zea dan Keyla kan pa? Bun?" tanya Icha kembali memastikan.


"Iya boleh" jawab papa Icha menyetujui.


Icha tersenyum lebar dengan hati yang teramat senang.


"Makasih Bun, makasih Pa!" ujar Icha memeluk keduanya.


"Sama sama" jawab keduanya membalas pelukan Icha.


Icha melepaskan pelukannya kepada keduanya, melempar senyum lebar kepada kedua orangtuanya.


"Papi? Kamu nggak mau ngucapin makasih sama papi? Papi udah bantuin kamu lo!" ujar Alfa melihat kearah Icha yang sedang berbahagia.


"Eh Iya! Makasih Pi!" ujar Icha memeluk papi Satya.


"Sama sama" jawab papi Satya mengelus rambut Icha.


"Kalau mami?" Mami Satya juga tak ingin kalah.


Icha memeluk mami Satya, "Makasih mi!" ujar Icha.


"Sama sama" jawab mami Satya.


Icha melepaskan pelukannya pada papi dan mami Satya. Ia kembali menatap kearah kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Oh ya Bun, Bang Arka ngasih syarat. Kalau papa bunda ngijinin Icha ikut, kalian harus bilang ke bang Arka langsung kalau ngijinin" ujar Icha memberitahukan syarat dari Arka.


"Iya, nanti bunda telpon mama Zea buat bilang kalau kamu boleh ikut" balas sang bunda.


"Yeiyy!! Sekali lagi makasih Pa! Bun!" Icha tersenyum sumringah kembali memeluk keduanya. Dibalas dengan usapan di kepala.


"Kalau gitu Icha balik ke kamar dulu ya, Icha udah ngantuk" lanjut Icha berpamitan seraya mengusap kedua matanya yang sudah lelah.


"Yaudah sana balik, istirahat" balas sang papa.


Icha mengangguk singkat, "Icha pamit pulang Pi, Mi" Icha menyalimi keduanya.


"Iya! Langsung istirahat ya, jangan tidur malam malam" ujar mami Satya, diangguki Icha.


"Selamat malam Pa, Bun, Pi, Mi!" ujar Icha berbalik.


"Selamat malam" jawab mereka.


Icha keluar dari rumah Satya, berjalan kearah rumah nya yang berdekatan. Ia masuk kedalam rumah, menuju kamarnya.


Hal pertama yang ia lakukan saat masuk kedalam kamar adalah pergi ke kamar mandi guna mencuci muka dan gigi. Icha melakukan dengan tergesa gesa setelah itu berbaring di ranjangnya, mengambil handphonenya di nakas.


~Group~


*Zea/ Keyla*


Gimana cha?


Udah dapet ijin belum?


*Keyla*


Lah! Kemana nih anak? Kok malah ilang


*Zea*


orang tua lo nggak ngijinin Cha?


Icha melihat pesan yang keduanya kirimkan sebelumnya. Chat yang ia abaikan sedari ia miliki niat untuk meminta ijin pada sang bunda.


*Icha*


Sorry girls gue lama


Gue seneng banget


Akhirnya bunda sama papa ngijinin gue ikut


*Keyla*


Wah!! Congrats Cha, akhirnya kita bisa treveling bareng


Keyla membalas dengan cepat.


*Icha*


Hehehehe 😆😆


*Zea*


Jangan lupa untuk bilang ke Abang gue ya Cha


*Icha*


Siap! Udah gue bilangin ke bunda sama papa gue kok, buat nyampein ke bang Arka lewat mama lo


Icha membalas.


*Zea*


Good👍


*Keyla*


Sip👍


Akhirnya kita bisa mendaki bareng


*Icha*


Hooh gue seneng banget


Icha membalas dengan senang hati, lantas tiba tiba ia mengingat Satya.


*Icha*


Oh ya! Ada yang mau gue kasih tau nih


Ada alasan kenapa nyokap bokap gue ngijinin gue ikut

__ADS_1


*Zea*


Apaan?


Lo nggak aneh aneh kan Cha? Demi bisa ikut muncak


*Icha*


Ya enggak lah!


Mana mungkin gue aneh aneh


*Zea*


Kan bisa jadi Cha


*Keyla*


Betul tuh


*Icha*


Ish, kalian ini! Bukan gitu


Nyokap bokap gue ngijinin, tapi sebagai gantinya, Satya juga harus ikut nemenin gue ikut muncak


Nggak papa kan?


*Zea*


Oh syukur deh kalau gitu, kalau itu mah jelas nggak papa Cha!


Malah bagus lo ada yang selalu ngawasi dan nemenin


Balas Zea..


*Keyla*


Nggak papa kok Cha! Tenang aja, Yang penting kita fun and happy happy disana


Keyla ikut membalas


*Icha*


thanks girls ❤️❤️


Kalian yang terbaik ꒰⑅ᵕ༚ᵕ꒱˖♡


*Zea/Keyla*


urwell Cha


*Zea*


Bagus deh kalau kalian sudah dapat ijin. Gue jadi tenang!


Oh ya! Jangan lupa girls yang penting saat disana nanti kita happy dan ingat selalu jaga tata krama. Inget girls, sopan! Okey?!


*Icha/Keyla*


Siap Ze! Laksanakan


Ketiganya dari kamar masing masing berseru senang lantaran mendapatkan ijin dari orang tua mereka untuk bisa pergi merasakan bagaimana menjelajah alam.


*Zea*


oh ya btw! Besok bang Arka mau ngajakin gue ke mall buat cari barang barang camping sama mendaki. Kalian mau ikut nggak?


*Icha*


Boleh boleh! Gue juga mau ikut


*Keyla*


Gue juga


*Zea*


Siap! Besok setelah pulang sekolah ya. Kalian langsung cus kerumah gue buat ke mall


*Keyla/Icha*


Siap Ze👍


Jawab keduanya. Ijin sudah ketiganya dapat, kini mereka hanya perlu menyiapkan barang barang untuk keperluan mendaki. Mencari kebutuhan yang akan mereka bawa lusa.


Mereka mulai tak sabaran untuk pergi mendaki lusa depan.


TBC

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2