My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
151. Perawatan


__ADS_3

Setelah melewati hari yang sulit. Vini kecil mulai membuka matanya secara perlahan lahan. Yang pertama kali Ia dapat rasakan ialah dimana sekujur tubuhnya yang terada sakit, nyeri, dan kepalanya pusing, serta matanya yang berkunang kunang.


"Ukhh mommy, Daddy!" rintih Vini meracau.


Dengan keadaannya sekarang yang terbaring lemah. Ia tiba tiba mengingat kedua orangtuanya bahkan kini sangat merindukan keduanya.


Vini merintih menggerang sakit, bahkan di kedua pelupuk matanya mulai mengalir air mata. Vini menatap ke sekitar. Bukan ruangan kumuh dan kotor seperti penjara tepat ia berbaring sekarang. Lebih tepatnya ia mendapati kamar yang terang, bersih seperti kamar tamu sederhana di mansionnya.


'Apakah aku telah kembali ke mansion?' batin Vini berpikir sambil melihat keadaan sekitar. Tapi setelah ia pikir pikir kembali, ini bukanlah kamarnya. Apakah ia masih belum kembali? Kemudian ingatan Vini teralihkan..


"Joe!" panggil Vini saat mengingat bagaimana temannya itu juga ikut terluka karena dirinya.


Tapi mau dilihat bagaimanapun tidak ada sahutan suara Joe, bahkan seorangpun tidak terlihat di sekeliling kamar tempatnya berbaring.


"Ukhh hiks mommy!" rintih Vini terisak akan rasa sakit yang kini ia rasakan saat mencoba bangkit.


Vini gagal untuk duduk dan berakhir kembali berbaring dengan rasa nyeri teramat ditubuhnya.


Vini memalingkan wajahnya kesamping, menyembunyikan tangisnya agar tak ketahuan. Sebagai keturunan Immanuel, Vini mempunyai prinsip untuk tidak menunjukkan bahwa ia adalah orang yang lemah.


"Hiks hiks mommy, Daddy!" perih Vini terisak selama beberapa saat.


Cklekk..


Pintu kamar tiba tiba terbuka dan dengan segera Vini mengusap air matanya dengan bahunya sambil menahan nyeri.


Vini mengatupkan bibirnya rapat agar dirinya tak terisak.


"Kau sudah bangun!" ujar sang dokter mendekat kearah Vini sambil mengecek infus di tangan Vini.


Vini tak sadar akan kondisinya sekarang dan hanya berpikir untuk menahan rasa sakit yang ia terima.


"Sebaiknya kau kembali tidur! Tubuhmu pasti masih sakit kan? Akan ku beri kau pereda nyeri agar rasanya lebih baik" tutur sang dokter mulai mengotak atik infus yang menyambung ke tangan Vini.


"Dimana Joe?" tanya Vini tak menghiraukan ucapan sang dokter.


Dokter terdiam sejenak mendengar pertanyaan Vini sebelum melanjutkan kembali tugasnya.


"Ah! Joe ya? Dia ada diruangan lain. Aku sudah mengobatinya, kau tidak usah khawatir dan fokus saja pada pengobatan mu" tutur sang dokter canggung namun masih memberikan senyumannya pada Vini.


Vini yang masih menguatkan diri mengangguk. Jika ia saja di beri ruangan yang baik setelah terluka seperti ini, pasti Joe juga bernasib sama. Pikiran polos Vini berpositif thinking.


"Aku sudah memasukan obat ke infusmu! Sebentar lagi kau pasti mengantuk, maka dari itu. Tidurlah dan jangan banyak pikiran! Istirahat dengan baik, agar kau bisa sembuh dan kembali ke keluargamu! Setelah ini aku akan pergi agar kau bisa beristirahat dengan tenang!" tutur sang dokter menasehati sambil membereskan barang barangnya kembali.

__ADS_1


Vini mengangguk singkat.


"Terimakasih" gumam Vini hampir tak terdengar.


Sang dokter mengangguk lalu keluar meninggalkan Vini yang kini memejamkan mata untuk kembali beristirahat.


...****************...


Dokter itu keluar dari kamar Vini sambil membawa kotak obat ditangannya. Ia berhenti sejenak menatap kearah dua penjaga yang di tempatkan di depan pintu kamar Vini.


"Gimana keadaannya?" tanya Freddy dengan luka lebam di wajahnya.


Freddy adalah nama penjaga tak berperasaan yang membuat Vini dan Joe dalam keadaan terbaring lemah di ranjang kini.


"Dia baik baik saja! Hanya perlu pemulihan satu sampai dua bulan untuk sembuh total" jawab sang dokter tak memberitahu bahwa Vini sudah sadar.


"Baguslah!" jawab penjaga itu.


"Oh ya! Kalian berdua jangan ada yang masuk kedalam tanpa seijinku! Karena dia harus istirahat total dalam keadaan tenang! Jika ada apa apa panggil aja aku, Kalian mengerti kan?" ujar sang dokter pada keduanya. Sekaligus menatap Freddy tajam sebagai tanda peringatan.


"Iya dokter" jawab keduanya.


"Kalau gitu aku permisi dulu, kalian jaga dia baik baik" ujar sang dokter. Di tanggapi datar oleh keduanya.


Sang dokter membuka pintu, menuju ke arah bocah laki laki yang kini juga sedang terluka dan meringis kesakitan. Bocah malang yang dijadikan sebagai kambing hitam atas apa yang menimpa Vini. Padahal dia juga korban.


Joe, bocah itu merintih kesakitan karena apa yang ia terima kini terbaring terbalik dengan apa yang Vini dapat. Ruangan yang gelap dan kasur yang keras, bahkan bisa di bilang tempat yang tak cocok untuk beristirahat. Serta perawatan yang seadanya karena larangan dari sang bos.


Bahkan luka luka yang sebelumnya ia dapat karena sang penjaga kini bertambah karena ia juga terkena amukan sang bos yang menganggap bahwa ia yang membuat kondisi Vini menjadi seperti itu atas laporan dari Freddy, sang penjaga yang adalah dalangnya.


"Bagaimana keadaanmu? Aku akan mengecek luka lukamu dulu!" ujar sang dokter mulai menangani bocah laki laki yang terbujur lemah itu.


Dokter itu membuka selimut tipis yang menutupi tubuh Joe yang bertelanjang dada. Karena Joe akan merintih kesakitan jika lukanya bergesek dengan pakaian kasar yang ia terima.


"****! Dasar orang orang gila! Bisa bisanya bos melakukan hal keji seperti ini pada anak kecil malang sepertinya" tutur sang dokter mulai melakukan pekerjaan, mendisinfektan luka luka Joe yang sudah ia jahit sebelumnya dan mengantikan perban di tubuh Joe dengan yang baru.


Joe tak banyak bicara. Ia hanya bisa mengigit bibirnya, menahan rasa sakit yang ia terima.


Selang berapa lama tangan cekatan dokter bergerak di luka lukanya. Akhirnya dokter itu selesai membuat Joe bernafas lega.


"Kau tunggu di sini! Aku akan segera kembali" tutur sang dokter.


Joe diam menurut di ruangan gelap itu menatap peralatan sang dokter yang belum di rapikan, hingga dokter itu kembali dengan semangkok bubur dan sebotol air mineral ditangannya.

__ADS_1


"Duduklah! Biar aku siapi kau" tutur sang dokter mulai menyuapi Joe dengan bubur yang ia bawa.


Joe hanya bisa menurut menerima bubur hambar yang dokter bawakan. Tapi Joe merasa senang lantaran ia kembali bisa merasakan makanan layak walau tubuhnya harus terluka dulu untuk mendapatkannya.


"Nih minum! Sekalian minum obatmu!" tutur sang dokter memberikan obat dan air mineral pada Joe.


Tanpa banyak bicara Joe menurut.


"Vini?" tanya Joe dengan suara lemah.


"Dia baik baik saja" jawab sang dokter membuat Joe lega.


Semuanya selesai dan sang dokter mulai mengemasi barang-barangnya kembali dengan dahi mengernyit.


Dokter itu menoleh kearah Joe namun yang ia lihat adalah wajah Joe yang pucat tak bertenaga. Ia menutup tas peralatan ke dokterannya dan membereskan bekas makan Joe.


"Istirahatlah! Semoga kau cepat membaik" tutur sang dokter diangguki oleh Joe.


Joe kembali terbaring sembari merintih. Ia melihat atap yang nampak usang dan kotor.


"Ma! Apa suatu hari nanti aku bisa memandang langit biru dan melihat negeri diatas awan?!" gumam Joe sembari mengingat kembali ingatannya dengan sang ibu.


Joe memejamkan mata akan rasa kantuk yang menyerang. Ia mulai bermimpi kembali, ingatannya dengan sang mama.


"Ma! Bagaimana dunia luar?" tanya Joe kecil duduk dipangkuan sang ibu.


"Dunia luar itu sangat indah Joe! Langitnya biru dengan banyak awan putih selembut salju di sekelilingnya" jawab sang mama dengan rambut hitam panjang yang menguntai hampir menutupi wajahnya.


"Awan putih? Bukannya mama bilang kalau di balik awan itu ada negeri yang indah ya ma? Kalau Joe naik keatas! Apa Joe bisa lihat negeri diatas awan seperti yang mama ceritakan?" tutur Joe dengan antusias.


"Tentu! Mama yakin suatu hari nanti Joe akan bisa melihatnya!" Wanita itu tersenyum lembut kearah Joe kecil yang nampak bersemangat menantikan suatu hari nanti ia bisa melihat langit dan negeri diatas awan seperti yang wanita lembut itu katakan.


"Langit biru dan negeri di atas awan! Joe akan melihatnya!" tutur Joe semangat.


Bocah kecil itu mulai menguap dan mulai memejamkan mata.


Joe memeluk tubuh sang mama merasakan kehangatan tubuh dan usapan tangan lembut wanita itu dengan mata terpejam.


"Tidurlah Joe!" tutur wanita itu.


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


__ADS_2