My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
86. Menginap


__ADS_3

"Zea pulang" ujar Zea saat masuk kedalam rumah.


"Non udah pulang!" sapa mbok Jum menyambut Zea.


"Mama mana mbok?" tanya Zea tak melihat keberadaan mamanya.


"Ada dikamar non!" jawabnya.


"Ze! Udah pulang" sambut mama Tia baru saja datang.


"Nah itu Mama non!" tunjuk Mbok Jum.


Zea tersenyum dan menyalimi mama Tia.


"Mana Alvin kok gak mampir?" tanya Mama Tia celingukan mencari keberadaan calon menantunya itu. Mbok Jum pergi meninggalkan keduanya.


"Alvin tadi ada urusan ma! Makanya gak bisa mampir" dusta Zea.


"Oh gitu! Yaudah mau bagaimana lagi. Kamu naik keatas ganti baju sana, terus istirahat. Pasti capek!" titah Mama Tia.


"Iya ma" jawab Zea berjalan.


"Oh ya ma! Icha sama Keyla nanti mau nginep disini!" Zea menghentikan langkahnya dianak tangga.


"Oke! Tapi ingat, jangan bergadang besok kalian sekolah" pesan Mama Tia.


"Iya ma! Zea ke kamar dulu" Zea kembali melangkahkan kakinya menuju kamar.


Zea memasuki kamar. Ia meletakan tasnya di atas meja belajar. Kemudian Zea masuk kedalam kamar mandi. Berhubungan hari sudah sore, Zea mengguyur tubuhnya yang terasa lengket. Membersihkan debu dan bau bau tak sedap ditubuhnya. Walaupun ia tak yakin bahwa ia akan mengeluarkan bau tak sedap. Buktinya saja Alvin yang selalu ingin lekat dengannya di segala kondisi.


Zea keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melekat ditubuhnya. Sedangkan kedua tangannya sibuk menggosok gosok rambutnya yang basah dengan handuk.


Zea berjalan kearah meja riasnya mengambil hairdryer di dalam laci, Ia memilih cara instan karena dengan handuk saja akan membuat rambutnya lama untuk kerin. Setelah mengeringkan rambutnya, Zea berjalan kearah lemari guna memakai pakaian.


Zea meletakan handuknya kembali kedalam kamar mandi. Ia mengoleskan bedak agar lebih segar, setelah itu ia turun kebawah lebih tepatnya kedapur. Ia melihat Mbok Jum disana yang sedang memotong motong sayuran.


"Masak apa mbok?" tanya Zea memperhatikan sambil berlalu mendekat kearah kulkas.


"Masak sayur sop neng" jawabnya.


Begitulah mbok Jum. Terkadang memanggil non kadang neng.


"Mau makan neng?" tawar mbok Jum.


"Nggak mbok, nanti aja sekalian makan malam!" jawab Zea. Mengambil sepotong cake yang ada didalam kulkas.


"Oke neng!" balasnya.


"Zea balik ke kamar dulu ya mbok!" pamit Zea.


"Iya neng, silahkan!"


Zea kembali ke kamarnya dengan sepotong kue ditangannya. Ia menikmati sepotong kue tersebut sambil menikmati langit yang kian berubah.


"Icha sama Keyla datang jam berapa ya?" gumam Zea berseru.


Ia kembali merenung, " Kok kayak ada yang kelupaan, tapi apa ya?" pikir Zea mencoba mengingat-ingat.


Brumm brumm


Suara motor yang ia kenal memasuki rumahnya. Ia sangat hafal bahwa itu adalah motor bang Arka. Namun Zea memilih mengabaikan abangnya itu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian pintu kamar Zea dibuka.


"Ze!" panggil Bang Arka.


Zea menoleh, "Iya Bang" sahut Zea.


Arka mendekat kearahnya yang sedang menikmati pemandangan sore berganti malam.


"Jadi Abang temenin beli handphone baru gak?" tanya Bang Arka membuat Zea tersadar.


"Astaga!" Zea melompat keget dari duduknya, berlari menuju tasnya.


"Gue lupa ngehubungi Alvin!" Zea mencari cari handphone pemberian Alvin didalam tasnya. Ia menghidupkan layar handphone dan mencari daftar kontak.


"Loh udah beli?" tanya Bang Arka heran.


"Iya Bang! Dari Alvin" jawab Zea kikuk.


"Oh yaudah! Nanti Abang hubungi Alvin buat transfer uangnya ke dia" ujar Arka. Ia merasa tak sepantasnya Alvin memberikan Zea barang barang mewah walau pria itu adalah pacar Zea, dan disini lain Arka yang tau tabiat Zea yang enggan jika menerima barang mewah dari orang lain.


Zea tersenyum, "Makasih Bang" Arka mengangguk.


"Iya, Abang balik ke kamar dulu" ujar Arka keluar dari kamar Zea.


Zea mengalihkan kembali pandangannya pada layar handphone mendial nomor Alvin. Namun nomor itu tidak bisa dihubungi membuat dahi Zea mengernyit. Beberapa kali mencoba dan tidak terhubung. Zea akhirnya mengirim pesan. Zea sedikit tertegun saat melihat nama kontak Alvin yang sudah ada di handphonenya itu.


Alvin ♡♡


Alvin, ini Zea


Maaf, aku baru ngehubungi sekarang. Tadi aku mandi dulu lalu turun kedapur dan makan cake. Aku baru inget waktu bang Arka masuk kamar.


Maaf Al 🥺


Zea menunggu hingga beberapa menit berlalu dan Zea tak lagi menghiraukan handphonenya melihat tayangan televisi yang menampilkan kartun lucu disore hari.


"Zea!"


"Zea!"


Teriak dua perempuan dari luar. Zea beranjak dari kasur menuju kearah bawah. Kedua temannya itu telah masuk ke dalam rumah, dibukakan pintu oleh mbok Jum.


"Kalian itu kebiasaan, main teriak teriak aja! Dikira rumah gue hutan apa?!" dumel Zea menghampiri keduanya.


Keyla dan Icha hanya cekikikan mendengar dumelan Zea.


"Ayo masuk!" ajak Zea.


"Makasih mbok" ucap keduanya sopan pada mbok Jum.


"Sama sama neng" balasnya.


Zea, Keyla, dan Icha naik kelantai atas. Kedua gadis itu melempar tas besar yang mereka bawa di kasur. Zea sudah tak heran dengan tas besar yang mereka bawa. Karena setiap keduanya menginap, barang bawaannya seperti memindahkan seisi rumah mereka.


Keyla dan Icha merebahkan diri dikasur. Zea hanya geleng geleng melihatnya.


"Aduh" pekik Icha merasa mengganjal dipunggungnya. Icha bangkit dan melihat handphone yang terletak disana. Ia mengambil handphone itu.


"Wih gila! Handphone baru nih?" seru Icha berdecak kagum. Keyla ikut bangkit melihat handphone Zea. Zea hanya bisa tersenyum tipis.


"Iya" ucapnya.

__ADS_1


Zea mendekat kearah keduanya ikut berbaring diranjang. Bisa dikata Zea sedang rebahan.


Sedangkan Icha asik bermain di handphone baru Zea melihat lihat isi didalamnya yang sudah terisi beberapa aplikasi. Kemudian gadis itu membuka kamera yang terlihat cernih itu. Icha menjepret dirinya dengan berbagai pose. Mulai dari manyun, tersenyum, menjulur lidah, berwajah kocak, hingga menjepret dirinya dengan menunjukan jari peace nya. Keyla pun tak ikut ketinggalan berfoto ria dengan Icha.


Setelah dirasa cukup, Icha membuka hasil fotonya bersama Keyla.


"Sumpah! Gue cakep gila!" puji Icha.


"Hooh bening gue" sahut Keyla.


"Ayo Ze! Ikut foto, diem aja perasaan dari tadi" ujar Icha menarik tangan Zea agar gadis itu bangkit dan mendekat.


Zea bangkit dalam posisi duduk.


Ckrekk ckrekk


Bunyi kamera ditekan, walau suara itu hanya halusinasi semata. Zea, Icha, dan Keyla mengambil beberapa foto dengan raut wajah yang berbeda beda.


"Udah! Kalian lanjut sendiri aja. Capek gue!" ucap Zea kembali berbaring di kasur.


"Gak asik lo mah!" cibir Icha menatap Zea.


"Gue juga! Lo sendiri aja Cha" ujar Keyla.


Icha cemberut, " Ish yaudah. Karena gue baik hati dan tidak sombong. Akan gue bakal bantuin lo Ze untuk menuhin memori handphone lo" ujar Icha membuat Zea dan Keyla terkesipa. Dimana akhlak sahabatnya itu? Keduanya hanya bisa menggeleng geleng kepala akan tingkah Icha yang agak agak.


"Sereh" balas Zea.


Icha kemudian asik berfoto ria dengan hp Zea. Ia dak Keyla hanya menyaksikan tingkah gadis itu.


"Ze! Nobar drakor kuy!" ajak Keyla mulai bosan melihat Icha.


"Boleh! Laptopnya ada dilaci ambil aja" ujar Zea.


"Oke" Keyla bangkit dan menuju laci dimana Zea menyimpan laptopnya.


"Gue kebawah dulu ambil cemilan!" ujar Zea.


"Sip!"


"Yang banyak Ze!" teriak Icha menyahut.


Zea turun kebawah mengambil beberapa snack yang memang biasa distok dirumahnya. Tak lupa ia juga mengambil botol minuman untuk kedua sahabatnya itu. Lalu kembali nak ke lantai dua.


Duk duk duk


Zea mengetok pintu menggunakan kakinya dikarenakan kedua tangannya telah penuh.


"Cha, Key! Bukain" panggil Zea dari luar kamar.


Cklekk


Pintu kamar dibuka oleh Keyla. Zea masuk kedalam kamar disambut oleh Icha yang kegirangan melihat camilan yang Zea bawa.


Keyla sudah menatap laptopnya dikasur dengan sedemikan rupa untuk mereka nikmati.


Icha yang melihat Zea hanya menyisakan sedikit jarak dengannya, langsung mengambil camilan ditangan Zea tanpa basa basi. Membuka bungkus camilan itu dan ikut duduk diranjang untuk nobar bersamanya dan Keyla. Rupanya Icha sudah puas memenuhi memori hp Zea.


Ketiga gadis itu kemudian duduk rapi dikasur, menyandarkan punggungnya dan kedua mata mereka asik menikmati drama asal negeri ginseng itu. Zea yang sudah nyaman dengan kedua sahabatnya itu tak lagi memperdulikan maupun mengingat apakah Alvin sudah membalas chatnya atau belum. Nyatanya menonton bersama kedua sahabatnya lebih menarik dari pada saat bersama Alvin tadi yang membuat Zea tak bisa bebas berekspresi. Sesekali pikirannya kacau akan bagaimana ia bersikap dengan Alvin. Walau memang tadi ia bisa kesal dan malu malu. Namun hatinya tetap saja risau saat bersama pria itu apalagi ada keberadaan para teman Alvin yang membuat suasana hatinya makin ekstrim walau ia tak menunjukkan rasa takutnya pada mereka. Zea memilih memendam semuanya. All.


TBC

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2