My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
21. Kacau


__ADS_3

Disisi lain..


Zea yang berada dalam satu ruangan dengan Alvin menatap pria itu lekat. pikirannya kacau, dirinya hanya ingin makan dengan tenang. tapi tidak disangka akan seribet ini. Zea juga tak bisa menyalahkan Alvin sepenuhnya atas kejadian ini


Zea mengatur nafasnya yang ngos-ngosan karena mengikuti langkah lebar milik Alvin saat menariknya menuju sebuah ruangan yang tak dia ketahui.


"hah..hah... Al, Lo mau ngapain bawa gue kesini?" tanya Zea.


"Ze, trust me!" pinta Alvin menggenggam kedua tangan Zea menatap lekat bola mata indah milih Zea.


Pikiran Alvin juga sama sama kacau, dia takut Zea akan meninggalkannya yang membuat masalah.


Dia takut Zea adalah gadis yang akan meninggalkannya dikala dia susah seperti ini.


"Gue percaya Lo, tapi kita gak bisa lepas dari tanggung jawab gitu aja Al" kata Zea menasehati.


Alvin mendengar kata Zea tersenyum lebar, dirinya emang tidak salah pilih.


"Percaya sama gue, gue bakal beresin masalah ini. Lo tunggu disini!" pinta Alvin hendak keluar ruangan itu, tapi Zea tak membiarkannya.


"Gue ikut, gue juga ikut terlibat dalam masalah ini"


Alvin menggenggam tangan Zea yang menahannya, "Hey tenang aja, ikut gue!" ajak Alvin mengarahkan kesebuah sofa dan mendudukkan Zea disana.


"Lo tunggu disini, gue bakal pastiin masalah ini selesai" tegas Alvin tak bisa dibantah.


Alvin meninggalkan Zea sendirian. Sekarang waktunya dia menunjukan siapa dirinya yang sebenarnya.


Jglekk..


Pintu terbuka membuat semua orang yang ada disana menoleh kepadanya.


Dirinya menunduk, berusaha mengatur nafas agar emosinya tak membara dan membuatnya kehilangan kendali menghabisi orang orang yang ada didepannya itu. mengingat kembali apa yang dikatakan para wanita itu membuatnya emosi.


"Hey cowok aneh, mau kabur kemana lagi kamu. mana kekasih murahananmu itu" hina wanita tadi.


"Mungkin kekasihnya kabur meninggalkannya sendirian hahahaha" Ucap teman wanita yang lainnya mendapat gelak tawa dari orang orang yang mengikuti Alvin untuk menyaksikan kehebohan.


"Nyonya sebaiknya anda hentikan ucapan anda. Tuan, saya ada beberapa pertanyaan, kenapa Anda bisa memasuki ruangan itu? karena yang saya tau ruangan itu khusus untuk keluarga Immanuel sang pemilik restoran" ucap pria


"Panggil tuan Arashi kemari!" perintahnya masih menundukan kepala.


"Ayah saya sudah dalam perjalanan kemari tuan" jawab Marko.


"Beritahu tuan Arashi untuk segera menghadapku secepatnya, sebenarnyaApa yang dia lakukan sampai membiarkan orang-orang rendahan ini masuk ke wilayah ku" Alvin mendongak matanya dari balik kaca mata bulat itu menatap tajam kearah orang orang itu.


"Ha? Apa kamu amnesia, berani beraninya bilang wilayah keluarga Immanuel ini wilayahmu, Dasar tak tau malu" hina wanita wanita sosialita itu.


"Sepertinya anda harus tahu posisi anda tuan, berani sekali memerintah tuan Arashi"


Alvin tak memperdulikan kata kata yang dikeluarkan orang orang itu.


"Siapkan sebuah ruangan, kita bakal bicara disana sambil menunggu Arashi datang" perintah Alvin.


"Baik tuan, kami memiliki ruangan yang selalu siap. Mari saya antar" ucap Marko.


"Tuan Marko, Lalu kami bagaimana? Dia mengganggu makan kami" sentak wanita menor itu tak terima.


"Biarkan mereka ikut dan gue peringatkan pada kalian yang tak mempunyai masalah denganku. Sebaiknya kalian pergi sebelum terkena imbas. Gue sedang berbaik hati melepaskan kalian" Ucap Alvin membuat beberapa orang pergi tapi masih ada yang bertahan karena hasutan para wanita sosialita yang ingin mempermalukan dirinya.

__ADS_1


Alvin tak memperdulikan mereka lagi mengikuti langkah Marko ke ruangan yang ditunjuk. Gaya Alvin yang tenang membuat Marko dan beberapa orang menatapnya heran. Maka dari itu sedari tadi Marko bersikap sopan kepada Alvin walaupun sudah memecahkan vas senilai ratusan juta bahkan bisa saja lebih dari itu.


Alvin duduk di sofa ruangan itu sembari menunggu Tuan Arashi datang.


"Tuan Marko!" panggil Alvin.


"Ada apa tuan?" tanya Marko.


"Perintahkan koki untuk menyiapkan makanan untuk gadisku dan antarkan makanan itu kesana. Bawa ini!" ucap Alvin menyerahkan kartu akses berwarna hitam.


Marko yang merupakan manajer disana langsung menurut. Dirinya tak bisa membantah siapapun yang membawa card hitam itu maupun identitasnya tidak diketahui. Berbeda saat Alvin menyerahkan card gold kepadanya.


Kartu emas adalah pertanda tamu VIP khusus keluarga Immanuel. Sedangkan Kartu hitam dengan taburan berlian adalah kartu khusus keluarga Immanuel itu sendiri.


"Hey tuan Marko! kenapa anda menuruti perintah bocah itu?" tanya Wanita menor yang tak dia ketahui siapa namanya.


"Maaf nyonya Stein, dia memiliki kartu hitam. Saya tak berani membantah" jawab manajer marko.


##


Tak lama berselang Tuan Arashi selaku manajer lama restoran datang kedalam ruangan itu.


Semua orang berdiri dan menunduk kearahnya kecuali Alvin yang masih santai duduk di sofa tempatnya duduk.


"Dasar bocah kampung, berani sekali dia tak hormat kepada tuan Arashi" gumam pelan nyonya stein.


Semua orang duduk kembali setelah mendapat isyarat dari kecuali Marko dan beberapa pelayan yang setia mendampingi. Tuan Arashi sebenarnya ingin berdiri saja, namun punggungnya tak dapat melakukan itu dalam jangka waktu lama. Apa lagi dirinya tadi habis dikejar maraton setelah mendengar orang dengan black card.


"Bolehkan saya tau siapa anda tuan dan kenapa anda bisa membawa black card keluarga Immanuel. Sejujurnya saya tak dapat mengenali anda" Ucap tuan Arashi menatap Alvin.


"HAHAHAHA, Sepertinya penampilanku benar benar tak bisa membuat orang mengenaliku tuan Arashi. Bahkan dirimu sekali pun!!" Seru Alvin kemudian melepas kaca matanya dan menyibak rambutnya yang menutupi auranya sedari tadi.


Arashi dan Marko yang mulai dapat mengenali Alvin kemudian memberi hormat.


"Apa anda bilang tuan Arashi? dia tuan muda Immanuel? gak mungkin" ucap Nyonya Stein tak percaya. Mampuslah dia jika sudah membuat masalah dengan marga Immanuel.


"Dia memang tuan muda keluarga Immanuel nyonya Stein" jelas tuan Arashi.


Mendengar hal itu sontak membuat semua orang yang berada disana berlutut dibawah kaki Alvin yang kini sedang duduk sembari menatap mereka tajam.


"Tuan muda maaf saya sangat bodoh"


"Tuan muda Immanuel, maaf saya. Saya tak akan melakukan hal itu lagi. saya dihasut olehnya"


"benar tuan muda, mohon ampuni saya. Saya tak ada hubungannya dengan ini"


"Tuan muda_."


"Tuan muda_"


Banyak ocehan ocehan itu membuat Alvin pening. Dia beranjak dari sofa. Menatap kearah orang orang yang bersimpuh dibawahnya.


"Tuan Arashi, bilang kepada sekertaris daddy untuk menghancurkan mereka semua. Berikan juga hukuman untuk manajer marko karena tidak tanggap dalam masalah ini_" Perintah Alvin.


"Baik tuan" Jawab Tuan Arashi menunduk hormat, tak ada yang bisa dilakukan.


"Dan untuk kalian yang menghina wanitaku, tunggu saja hari dimana kalian menderita" ucap Alvin menatap tajam kearah beberapa wanita itu.


"TUAN IMMANUEL, MOHON AMPUNI SAYA" teriakan itu menggema disusul membuat Alvin tak tahan untuk pergi dari ruangan itu. Melangkah kakinya kearah pintu.

__ADS_1


"tuan muda Immanuel, saya bersumpah anda akan menyesal. Semua keangkuhan anda ini akan membuat wanita didekat anda itu menderita termasuk anda sendiri. Anda bahkan sampai menyembunyikan identitas anda kepada gadis itu kan, anda pasti takut dengan musuh musuh anda yang akan mengincar gadis itu kan hahaha." sumpah serapah dan gelak tawa keluar dari mulut wanita itu menghentikan langkah Alvin.


"Padahal aku masih baik hanya akan menghancurkan dirimu, tapi sepertinya kau mengatakan apa yang tidak harus kau katakan."


"Kau dengar ini baik baik, aku adalah tuan muda Immanuel yang berkuasa. ALVIN EXELINO IMMANUEL. Bahkan daddy ku pun tak akan bisa menghentikan tindakan yang ku perbuat, Daddyku tak bisa menghancurkan ku, lalu siapa yang bisa membuatku menderita? Tak ada, no one" lanjut Alvin keluar dari ruangan itu.


##


Alvin masuk kedalam ruangan tempat Zea berada, sebelum masuk dia membenarkan penampilannya kembali. Seorang pelayan yang menunggu didepan pintu menyerahkan black card kepada Alvin membuat Alvin segera menemui gadis yang selalu membuat pikirannya kacau itu.


"Hai Ze, maaf lama. Kok belum dimakan?" tanya Alvin melihat hidangan yang ada didepan Zea belum tersentuh sama sekali.


"Gimana gue bisa makan, gue khawatir sama Lo. Lo gak apa kan Al? Lalu bagaimana dengan ganti rugi soal vasnya? Gue punya tabungan_"


"Hey Ze, tenang okey. Tenang!"


"Gimana gue bisa tenang Alvin." Ucap Zea memelas.


"Semua baik baik saja, kartu voucher gratis yang gue kasih ke mereka membuat kita tak perlu membayarnya. Karna semua itu mereka yang memulai, jadi mereka yang membayar ganti ruginya." Alvin berusaha menjelaskan membuat Zea tak sepenuhnya percaya.


"Beneran? Lo gak bohong kan? Lo gak berusaha menyelesaikan semua ini sendiri kan?" tanya Zea memastikan.


"Kalok gak percaya tanya aja ke manajernya." ucap Alvin meyakinkan.


"Okey gue percaya sama Lo." ungkap Zea membuat Alvin senang.


"Yuk makan!" ajak Alvin.


Keduanya melahap makanan disana dengan senang. Rasa makanan yang nikmat membuat mereka lupa akan masalah tadi.


"Wah enak banget, coba aja Caca sama Keyla bisa ngerasain" puji Zea seketika.


Restoran yang mereka kunjungi ini memiliki peraturan bahwa mereka tidak menyediakan jasa membawa pulang makanan.


"Seneng kalok Lo suka." ucap Alvin mengusap Surai hitam kesukaannya itu.


Mereka menyudahi acara makan lezat itu dan bersiap untuk pulang.


"Tuan nona tunggu sebentar" ucap pria yang merupakan Marko menghentikan langkah mereka.


"Ada apa tuan?" tanya Zea gelisah takut jika terjadi masalah kembali.


"Kami mau memberikan ini sebagai ganti permintaan maaf kami, mohon diterima dan semoga anda suka" ucap Marko menyuruh pelayan yang membawa bingkisan yang didalamnya adalah makanan khas restoran kepada Zea.


Apakah dirinya seberuntung itu? Zea berpikir, kebetulan seperti ini biasanya sulit jika terjadi. Tak hanya bebas dari masalah mengenai membuat keributan di restoran berkelas itu, namun juga mendapat hadiah tambahan yang termasuk melanggar aturan restoran itu sendiri.


Zea menoleh kearah Alvin dengan curiga. Namun Alvin tak melihat rasa curiga yang Zea miliki itu lantaran senang karena Zea puas dengan makanan sederhana yang dia berikan. Alvin menggangguk menyuruh Zea untuk menerima bingkisan itu.


"Terima kasih banyak manajer Marko" ucap Zea mengembangkan senyum tulusnya.


"Sama sama nona" balas manajer marko.


"Ayo Ze!" ajak Alvin ingin segera pergi dari sana. Dirinya tak terima bila Zea memberikan senyum manis itu kepada orang lain.


"Kalau begitu kami permisi" Pamit Zea mengikuti Alvin yang menggandeng tangannya.


...----------------...


TBC

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Happy reading 。◕‿◕。♡


__ADS_2