My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
185. menyusul ke ladang


__ADS_3

Zea Pov


Aku kembali ke kelas dan duduk ditempat semula dengan Dea yang sudah berada disana.


"Dari mana aja Ra? Kok lama banget" tanya Dea padaku.


"Nggak dari mana mana kok! Cuma jalan jalan sebentar" ujarku menanggapi.


Aku diam menuatkan tangan fokus kedepan menunggu guru masuk.


Tak lama guru tiba dan ku keluarkan buku dari dalam tas. Ku ikuti pembelajaran disini dengan seksama dan sedikit mengabaikan beberapa pertanyaan yang di lontarkan Dea, Febi, dan Maya tentang diriku.


Mereka bertanya, "Bagaimana kehidupanku dikota? Kenapa kamu pindah? Apa kamu punya teman keren dikota dan bisa kamu kenalin kita sama teman temanmu yang ada di kota, dan lain sebagainya" begitulah kira kira pertanyaan yang mereka lontarkan hingga aku kesusahan menjawab dan memilih mengabaikan mereka.


Biarlah aku terkesan cuek. Itu lebih baik dari pada mereka membuatku berbicara dan berakhir dengan aku yang menjadi terlalu dekat dengan mereka.


Kringg


Bel sudah berbunyi dan semua mulai mengemasi barang-barang mereka. Termasuk ayu.


"Permisi aku duluan ya!" ujarku berpamitan pada ketiganya. Aku tak ingin berlama lama disini.


Ku tundukan kepala seperti malu dan segera aku pergi meninggalkan kelas.


Ku langkahkan kakiku tak lagi menoleh. Aku berjalan keluar dari pintu gerbang.


"Zea" panggil seseorang dari belakang.


Aku berhenti dan menoleh.


Ayu mendekat kearah ku, "Buru buru banget sih! Ayo pulang bareng" ujarnya padaku. Aku mengangguk dan mengiyakan.


Kami berjalan bersama ditemani terik matahari yang masih bersinar terang.


Tak ada percakapan diantara kami hingga aku lebih dulu memulainya.


"Yu! Kamu tadi bicara apa dengan Dea kok nunjuk aku?" tanyaku mengingat kejadian di sekolah tadi penasaran.


Ayu menoleh, "Nggak bicara apa apa kok! Cuma tanya kamu murid baru, kok nggak pernah lihat? gitu!" ujar Ayu membuatku ber-oh ria.


Aku mengeratkan tas ranselku kemudian melihat depan, suasana desa yang panas namun juga sejuk akan hebusan angin disaat yang bersamaan.


Hingga sampailah kami di rumah Pakde Tejo.


Cklekk


Ayu membuka pintu rumah.


"Pak Buk! Ayu sama Zea pulang" ujar Ayu memanggil dari luar.


Kami masuk kedalam rumah yang terlihat sepi.


"Pakde sama Budhe kemana Yu?" tanyaku pada Ayu.


"Mungkin ke ladang Ze! Yuk ke kamar, ganti baju" ajak Ayu padaku.


Aku mengikutinya masuk ke kamar Ayu. Ayu sangat ramah padaku, bahkan gadis itu mengijinkan ku untuk menganggap kamarnya seperti kamarku sendiri. Walau begitu aku masih segan pada Ayu.

__ADS_1


Ayu menyalakan lampu kamar dan menyalakan kipas angin. Tak ada AC dikamar Ayu, mengingat udara disini sangat dingin jika menjelang malam.


Ku buka isi koperku yang didalamnya terdapat pakaian pakaian ku yang sudah terkemas dengan rapi.


"Aku ke kamar mandi ya Yu!" ujarku pada Ayu.


Rasanya malu jika ingin melepaskan baju di kamar. Makanya aku pamit ke kamar mandi sekalian karena aku ingin membersihkan diri.


Ayu tak menjawab dan akupun tak juga memedulikan. Aku keluar kamar Ayu dan berjalan menuju kamar mandi yang berada di belakang rumah. Tak seperti rumahku yang memiliki kamar mandi di beberapa kamar. Kamar mandi di rumah ayu hanya 1 dan itulah yang membuat ku harus bangun lebih pagi karena bergantian.


Setelah dari kamar mandi aku kembali ke kamar Ayu.


Ku rebahkan diriku dikasur Ayu sambil menatap dinding atap kamar Ayu.


Tak ada yang bisa kulakukan sekarang. Handphone pun aku sudah tak punya karena sudah ku buang.


Aku bangkit duduk melihat Ayu yang sedang asik main handphone.


"Yu! Ladang pakde budhe dimana? Jauh gak? Anterin aku kesana dong! aku gabut nih" ujarku pada Ayu.


Ayu menoleh, "Ngapain Ze? Ladang panas loh! kamu mau kesana?" tanya Ayu heran.


"Iya! Kalau kamu nggak mau nganterin, kasih peta deh biar aku jalan sendiri kesana" ujarku pada Ayu dengan yakin.


Mata Ayu memincing kearaku, "Em Yaudah deh ayo aku anterin" ujar Ayu dengan baik hati.


Aku tersenyum dengan senang bangkit. ku raih jaketku yang tergantung di pintu kamar Ayu dan ku pakai kebadanku.


"Kamu yakin? Hati hati item loh nanti! Kalau aku sih gak masalah soalnya kulitku udah coklat, kamu putih gini gak takut kulitnya jadi kayak aku" ujar Ayu mengoceh namun tangannya bergerak mengambilkan sunblock dan menyerahkan padaku.


"Hehehe Makasih" ujarku tertawa senang menerima sunblock dari Ayu.


Kami keluar dari rumah.


"Ini nggak dikunci Yu?" tanyaku saat melihat ayu hanya menutup pintu rumah saja.


"Ndak! Aman kok disini. Lagian siapa juga yang mau ngambil barang di rumah ini" jelas Ayu masih membuatku was was.


"Ayo" tutur Ayu melambaikan tangan padaku.


Aku mengangguk dan mengikuti langkah Ayu.


Matahari yang sedang terik seperti membakar kulitku. Berada di tengah tengah ladang membuat ku teramat panas. Berbeda dengan ayu yang nampa biasa saja.


Ku ikuti sebagaimana Ayu melangkah. Hingga sampailah kami disebuah ladang yang lumayan luas. Dari kejauhan nampak lah Pakde Tejo dan Budhe Lastri sedang bercocok tanam bersama dua orang lanjut usia yang tak ku kenal.


"Bapak Ibuk!" panggil Ayu pada keduanya dari Jauh.


Pakde Tejo dan Budhe Lastri berhenti lalu menatap kami.


"Pakde Budhe" sapaku kepada keduanya saat kami mendekat.


"Loh udah pulang! Kok kesini? Disini panas loh!" ujar Budhe Lastri menyambut kami. Aku dan Ayu menyalimi keduanya.


"Ini Buk! Zea minta dianterin kesini" ujar Ayu menuding ku.


Aku hanya tersenyum gigi mendengarnya, "Zea bosan budhe di rumah! Makanya minta Ayu anter kesini. Siapa tau Zea bisa bantu" ujarku menjelaskan.

__ADS_1


"Oalah nduk! Ndak usah. Orang cantik gini kok mau main panas panasan. Yuk ke gubuk aja, budhe temenin! Ayo Yu!" ujar Budhe Lastri pada kami.


"Tuh! Ayo!" tuding Ayu padaku.


"Eh!" aku tersentak saat Ayu membawaku ke gubuk dekat ladang.


Aku jadi tak enak hati karena sepertinya kedatanganku kesini malah mengganggu mereka.


"Budhe kalau Zea ganggu, Zea pulang aja deh" tuturku segan.


Budhe dan Ayu membawaku duduk di depan gubuk yang memiliki bangku terbuat dari bambu.


"Apa ini kamu Zea! Mana ada ganggu ganggu! Kamu udah tenang aja! Lagian Pakde sama Budhe cuma bantuin Mbok sama Aki biar mereka nggak kecapean, gitu!" seru Budhe Lastri padaku.


"Ah gitu!" respon ku.


Aku manggut-manggut mengerti.


Ku lihat sekeliling ladang dan mendapi pasangan wanita dan pria tua itu sedang menatap ku.


Ku tampilkan senyum menyapa mereka.


"Oii Lastri! Sapa itu?" tanya wanita lanjut usia itu pada Budhe.


"Ohw ini keponakan ku mbok dari kota" jawab Budhe Lastri dengan suara kelas.


"Ohw Pantes Ayu tenan!" ujarnya dengan suara khas.


Aku tersenyum malu mendengarnya.


"Si mbok Iki bisa aja!" sahut Pakde Tejo datang mendekat.


"Ni!" panggil Pria lanjut usia ikut mendekat.


"Ki, Lihat ini Ki! Cantik ponakane Lastri Iki" ujar Wanita itu masih memujiku.


Aku menoleh ke arah pria lanjut usia itu dan menunduk kepala singkat dengan sopan sebagai salam.


"Emang cantik! Umur berapa ini Las?" tanya Aki itu pada Budhe.


"Seumur Ki sama Ayu, Kenapa?" Budhe balik tanya.


"Wah bagus itu! nduk tak jadiin cucu mantu Aki sama Nini mau ya?" tawar keduanya padaku.


Aku tak bisa berkata kata.


"Ah!" gumam ku tak menjawab.


"Aki ih! Malu tuh keponakanku" tegur Pakde Tejo pada keduanya.


Aku hanya bisa meringis saat mereka dengan asik menggodaku.


Ku toleh wajahku melihat kearah Budhe dan Ayu. Aku menaikkan alis bingung ketika aku melihat ekspresi wajah Ayu yang seketika menjadi muram.


'Ada apa dengan Ayu?' batinku.


TBC

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2