My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
107. Gue calon suami lo


__ADS_3

Icha datang dengan emosi yang menggebu. Ia sebelumnya tak ingin lagi terlibat dengan Satya. Namun saat dikelas tadi rasa penasarannya memuncak. Apalagi nama nama yang dipanggil pria itu adalah orang orang yang terkadang bermasalah dengannya. Walau ia tak mengenali mereka semua.


"Ngapain lo disini?" tanya Satya pada Icha. Pandangannya kemudian teralihkan pada Alvin yang berada disamping Zea. Tapi pria itu bersikap cuek dan hanya memusatkan matanya pada Zea.


Icha menatap Satya tajam, "Lo yang apa apaan! Ngapain lo lakuin semua ini?" tanya Icha geram.


"Gue ngelakuin ini demi lo! Gue bales apa yang mereka perbuat pada lo!" jawab Satya dengan santai tak terganggu akan wajah kusut Icha.


"Lo lakuin ini demi gue? Basi tau gak Sat!" sentak Icha mendengus kesal diselingi seringai.


"Kenapa sih lo gak menghilang aja dari hidup gue!" lanjutnya.


"Cha!" tukas Satya menatap Icha. Ia dongkol akan perkataan gadis itu.


"Gue tuh gak butuh kayak gini Sat! Seharusnya, Lo tuh Cukup menghindar dari gue, gak usah kenal gue lagi! Masalah bakalan selesai. Gak harus kayak gini. Ini namanya lo nambahin minyak kedalam kobaran api tau gak. Lo pikir lo itu siapa?!" ujar Icha geram akan tindakan yang Satya lakukan. Ia menunjuk dada Satya.


"Cha!" sentak Satya. "Bisa gak sih lo ngehargain apa yang gue lakuin sekarang. Gue lakuin ini demi lo Cha, Lo itu harusnya ngerti-in gue dan dukung apa yang gue lakuin buat lo. Bukan marah marah kayak gini!" tutur Satya seakan mengabaikan apa yang Icha katakan.


"Lo minta gue ngertiin lo, Sat. Tapi lo sama sekali gak pernah ngertiin gue. Lo bilang, lo lakuin ini demi gue? Yang ada lo bikin mereka makin benci gue tau gak? Lo bikin mereka makin bully gue. Lo bikin semuanya tambah rumit Sat!" Icha menunjuk pada kumpulan siswi yang melihat perdebatan keduanya.


"Itu yang lo khawatirin. Gue jamin mereka gak akan begitu lagi sama lo?" ujar Satya dengan mudahnya.


Icha yang mendengar itu mengepalkan tangan. Ia geram dan marah akan sikap Satya.


"Lo jamin mereka gak bisa bully gue? Emang lo pikir, lo siapa gue?!" tanya Icha dengan suara tinggi. Ia tak bisa lagi menahan emosi


"Gue calon suami lo kalau lo lupa!" ujar Satya membuat beberapa orang disana tercengang termasuk Keyla dan Zea yang tak tahu menahu soal hal ini.


"Lo dah gila kayaknya. fiks lo udah gila! sampe nganggep serius candaan kedua orang tua kita waktu kecil" tekan Icha frustasi sambil menggeleng gelengkan kepala, menatap Satya sinis.


"Gue gak gila! Gue masih waras. Dan kalau lo nggak percaya, lo coba tanya sama kedua orang tua lo! Mereka bakal jelasin!" tutur Satya.


Icha memegang kepalanya yang seakan berdenyut mendengar keterkejutan yang baru saja disampaikan pria itu.

__ADS_1


"Cha! Lo nggak apa?" tanya Zea dan Keyla dengan sigap mendampingi Icha.


Icha mengangguk, "Gue nggak apa!" balasnya.


Ia kembali melihat kearah Satya.


"Gue gak peduli sama omong kosong lo itu. Gue mau lo hentikan semua ini Sat. Gue mau lo stop. Jangan nambah masalah gue kalau lo gak bisa nyelesaiin masalah gue!" sindir Icha seakan sudah putus asa.


"Lo masih nggak percaya bahwa gue bisa nyelesaiin masalah ini? Apa lo khawatir mereka bakal ngusik lo lagi?" tukas Satya.


"Kalau lo masih takut mereka ngapa ngapain lo! Kalau gitu gue yang bakal jagain lo mulai hari ini! Kemanapun lo mau pergi, gue akan selalu dampingi lo!" Satya melanjutkan ucapannya dengan serius.


Tapi Icha hanya bisa tertawa, "Gue gak butuh itu semua Sat. Gue cuma mau lo ngejauh dari gue! Hanya itu, gue gak minta muluk muluk" ujar Icha mendesah frustasi.


"Gue gak bisa lakuin hal itu. Gue akan tetap pada rencana awal. Gue akan kawal lo kemanapun lo mau pergi mulai sekarang!" ujar Satya


"Serah lo Sat! Serah! Gue muak sama lo!" Icha meninggalkan mereka begitu saja sambil mengangkat tangan.


Mereka melihat kepergian Icha yang berjalan cepat. Keyla mendekat kearah Satya.


"Sikap lo saat ini hanya mikirin diri lo sendiri. Lo ingin lepas dari rasa bersalah tanpa lo tau dan mikirin gimana perasaan Icha selama ini. Lo egois tau gak! Lebih baik lo pikirin kembali baik baik tentang masalah ini!" ujar Zea berpendapat menyusul kedua sahabatnya.


Para pria itu hanya bisa menatap kepergian ketiga gadis itu. Alvin masih tetap disana membiarkan ketiga gadis itu saling menghibur. Ia memberi mereka waktu untuk mereka berbincang.


Ia kemudian melirik kearah Satya yang masih menatap jauh kepergian ketiganya.


"Apa cara gue salah?" tanyanya pada para teman prianya itu.


"Bukannya salah, tapi lo bertindak tanpa persetujuan dia dan disana letak kesalahan lo berada!" Alvin menasehati berlalu meninggalkan Satya yang frustasi. Ia pergi menyusul Zea walau nantinya ia akan memberikan sedikit waktu untuk gadis itu menghibur sang Sahabat, tapi ia tak mau menjauh dari gadis itu barang sejenak.


Jam sekolah telah berlalu. Para murid berbondong bondong untuk keluar dari dari kelas. Begitupula dengan Zea, Keyla, dan Icha yang sudah sampai diparkiran.


"Cha!" panggil Satya mencekal tangan Icha.

__ADS_1


"Lo ikut gue! Masalah kita belum selesai!" lanjutnya berbicara.


"Apa lagi sih Sat? Semua udah selesai! cukup lo jauhin gue dan semuanya bakal beres" ungkap Icha.


"Nggak! Gue gak mau nyelesaiin dengan cara itu! Sekarang lo ikut gue, kita selesaiin berdua" Satya menarik tangan Icha.


Keyla yang ingin maju ditahan oleh Zea. Ia menggeleng. Ia merasa bahwa keduanya memang harus bicara berdua dari hati ke hati tanpa ada yang mengganggu. Sebagai gantinya ia mengirim pesan pada Icha jika ada apa apa, Icha harus menghubungi nomornya dan ia akan datang menjemput.


Satya menarik Icha kearah motornya. Icha yang semula berontak harus ikut naik ke motor Satya dengan terpaksa. Ia menaiki motor tinggi Satya itu. Ia menjaga jarak, enggan memeluk maupun berpegangan pada Satya.


"Jalan!" ketus Icha sudah diatas motor


"Pegangan, ntar lo jatuh!" ujar Satya memperingatkan.


Icha memegang helaian seragam Satya.


"Udah! Buruan!" ujar gadis itu


Satya menghela nafas sejenak menyalakan mesin motornya. Ia menggas motornya membuat Icha terpanjat memegang pinggang Satya.


Batin Icha bergemuruh, apakah Satya sengaja melakukan hal itu? Tapi itu hanya ia tanyakan dalam hati tidak ia ungkapkan.


Ia menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. Motor Satya terus melaju, tak tahu Satya akan membawanya kemana.


Motor Satya terus melaju bahkan sudah beberapa menit berlalu dan pria itu tak kunjung berhenti. Motor Satya memasuki kesebuah lahan perdesaan. Walaupun otak Icha gampang lupaan, tapi untuk tempat yang satu ini Icha tak mungkin lupa.


Satya membawanya ke tempat dimana mereka sering menghabiskan waktu dulu. Tentunya bersama kedua orang tua mereka sedari kecil.


Motor Satya berhenti di sebuah lahan kosong dimana disana terdapat meja dan bangku kayu juga ayunan untuk berdua. Satya mengajaknya duduk dikursi bangku kayu untuk berdua. Sambil melihat hamparan tumbuhan hijau didepannya itu.


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak


Happy Reading ♡♡


__ADS_2