
Alvin menghentikan mobilnya di depan kedai gelato.
"Mau mampir?!" tanya Alvin pada ketiganya.
"Boleh!" jawab Zea. Mereka mengangguk.
Alvin membelokkan mobilnya memasukkan ke halaman kedai guna memarkirkan mobilnya.
Mereka turun saat mobil Alvin berhenti. Saat masuk kedalam mereka disambut oleh pelayan disana.
"Mau pesen apa?" tanya Alvin.
"Lo mau apa Cha?" Zea berbalik bertanya pada Icha yang sedang dalam suasana hati yang buruk.
"Terserah!" jawabnya dengan wajah yang masih merenung.
"Terserah kamu aja deh Al!" ujar Zea menyerahkan pada Alvin. Melihat Icha yang seperti itu membuat suasana hati Zea dan Keyla juga ikut turun.
"Oke, kalian tunggu aja disana" tunjuk Alvin ke arah meja yang jauh dari pengunjung lain.
Mereka mengangguk dan segera membawa Icha kesana untuk mendengarkan keluh kesah gadis itu. Sedangkan Alvin berlalu pergi ke kasir guna memesankan untuk ketiga gadis itu.
Ditempat ketiga gadis itu duduk.
Keyla dan Zea menatap kearah Icha. Gadis yang biasanya ceria itu kini diam saja. Dimobil tadi juga, Icha tak mengatakan sepatah katapun. Ia dan Keyla juga tak langsung bertanya agar Icha lebih tenang dahulu.
"Cha! Lo kenapa? Ada masalah? kok tiba tiba lo bisa nangis gitu?" tanya Keyla kearah Icha.
"Iya Cha! Lo kalau ada apa apa cerita ke kita! Jangan lo pendem sendiri!" ungkap Zea.
Keduanya menatap Icha dengan sendu.
"Sorry, gue sempat terbawa emosi aja tadi!" ujar Icha.
Icha sendiri bingung bagaimana harus memulainya. Ia hanya bisa mengucapkan maaf pada keduanya.
Saat Satya menggodanya tadi Icha awalnya hanya marah seperti biasanya. Tapi saat Satya bercanda dibalik amarahnya dengan melontarkan kata kata yang membuat ia muak hingga emosinya memuncak. Akhirnya Icha tak bisa lagi menahan amarahnya yang meluap tinggi dan bergantilah amarah itu dengan tangisan karena tak tahu harus marah bagaimana lagi.
Tahukan pria itu bahwa ia menderita dibalik candaan atau godaan yang terus saja pria itu berikan padanya. Icha sudah sangat lelah menahan kesabarannya yang terus ia bendung untuk Satya.
"Apa fans fans Satya masih gangguin lo Cha?!" tanya Zea menelisik kearah Icha.
__ADS_1
Icha menatap Zea dalam kemudian mengangguk.
"Kenapa lo gak bilang sih Cha!" ungkap marah Zea frustasi karena Icha terus memendam hal ini.
"Cha! Lo anggep kita sahabat apa bukan sih?!" tanya Keyla sama frustasinya dengan Zea.
"Bukan gitu! Gue udah berusaha untuk menjauh dari Satya. Dengan begitu akan membuat fans fans Satya berhenti gangguan gue lagi. Tapi ia terus mendekat kearah gue. Gue pikir semuanya baik baik saja, karena mereka udah gak nyerang gue secara fisik lagi.."
"Mereka emang udah gak nyerang lo secara fisik Cha, tapi mental lo yang diserang. Sampai lo down nangis kayak tadi karena lo terlalu menahan diri!" Bantah Zea.
"Ini udah gak bisa dibiarin. Lo harus bilang ini sama Satya Cha" tutur Keyla membalas.
Icha menggeleng, "Nggak! Jangan! Gue gak mau Satya nganggep gue lemah atau manja. Gue gak mau dia mandang gue rendah"
"Cha!" pekik Zea tertahan karena Icha masih saja tak mau memberitahukan hal ini pada orang yang bersangkutan, sama seperti dulu.
"Gue gak mau!" tekan Icha.
Zea dan Keyla menghela nafas panjang karena Icha masih saja menutup diri.
"Permisi!" ujar wanita menghampiri meja ketiganya.
Zea, Keyla, dan Icha menoleh kearah wanita itu.
"Makasih!" ketiganya tersenyum ramah.
"Oh ya! Pacar saya mana ya?" tanya Zea spontan kearah pelayan itu.
"Iya! Alvin kemana, kok gak kesini?"
"Saya lihat sepertinya tadi sedang pergi ke toilet kak" jawab pelayan itu.
"Ohw gitu, makasih mbak!" balas Zea.
"Sama sama! Silahkan menikmati" Pelayan itu pergi meninggalkan mereka.
Mereka kemudian saling bersitatap.
"Gue gak papa! Beneran! Lagian mereka yang dulu bully gue udah beda sekolah. Gue gak bakal ketemu lagi sama mereka! Gue ada kalian. Terus kalau tentang ejekan di sosial media sama chat masuk dihandphone gue kan itu udah bisa. Beneran gue gak papa! Orang cuma hinaan semata doang kok. Gue aja yang tadinya terlalu baper, sampe marah dan nangis kayak tadi! " Icha membuka suara menampilkan senyum palsu.
"Makan, makan ah! Ayo nih gelato enak banget masak mau kalian anggurin!" Icha menyendok gelato itu dan menyuapkan kemulutnya.
__ADS_1
Zea dan Keyla saling bersitatap memandang gadis itu.
"Cha!" panggil Zea membuat alis Icha terangkat menatap kearah Zea dengan sendok yang masih ada dimulutnya.
"Lo kena bully chat dari anak anak di sekolah?!" tebak Zea menatap sendu kearah Icha.
tak
Sendok yang Icha pegang jatuh kebawah membuat Icha kelabakan. Dengan terburu buru Icha mengambil sendok itu dan meletakannya kembali dimeja.
Icha diam tak bersuara seakan berada diruang interogasi. Tangan Icha bergetar hingga gadis itu menautkan kedua telapak tangannya, menekannya untuk tak lagi bergetar.
"Tebakan gue bener kan Cha?!" Zea kembali bersuara.
"Kenapa lo gak ngomong sama kita sih Cha?!" Keyla ikut bertanya. Walau ia dan Icha baru kenal saat mereka memasuki bangku SMA, namun Keyla menganggap Icha sahabat baiknya sama seperti Zea. Ia juga menyayangi gadis itu.
"Gu, gue gak mau nyusahin!" jawab Icha terbata bata.
"Gue tanya sama lo Cha! Lo masih nganggep kita sahabat gak sih?!" geram Keyla dengan emosi tertahan.
"Key!" tegur Zea, menggelengkan kepala agar Keyla tidak berbicara seperti itu.
Walau ketiganya kerap mendapat cemohan dan perlakuan tidak baik karena anggota geng Aodra itu. Ketiganya bisa melewati itu karena mereka yang sudah memberi jarak dengan anggota geng Aodra itu.
Tapi berbeda dengan Icha yang sudah dikenal sebagai teman masa kecil Satya membuat beberapa orang tak terima hal itu. Membuat bullyan lebih condong dan keras kearah Icha, karena mereka merasa Icha itu berbuat curang pada mereka karena lebih dahulu mengenal Satya.
Perasaan Zea kini sama halnya seperti Keyla, namun ia berusaha menahannya demi memahami kenapa Icha tak menceritakan hal ini pada mereka.
"Gue, gue gak bisa cerita! Gue gak mau ngerepotin kalian. Terutama Lo Ze. Waktu itu lo masih dalam kondisi shock karena Zion. Gue gak mau membebani kalian. Saat kita masih smp dan gue juga kena bully waktu itu, gue makasih banget sama lo Ze. Karena lo udah mau jadi temen gue, lo udah bela gue, bahkan lo udah nemenin gue saat gue dalam kondisi terpuruk. Te, terus, gue juga gak bisa bilang hal ini ke lo Key. Gue juga gak mau membebani lo! Apalagi saat itu lo juga ada problem sama kedua orang tua lo. Lo bermasalah sama kedua orang tua lo yang suka pergi keluar kota dan ninggalin lo sendiri. Bahkan lo sama orang tua lo waktu itu juga sempat bertengkar, karena mereka mau lo tinggal di rumah nenek lo, agar lo gak sendirian disini. Walau akhirnya lo menolak dan tetep kekeh tinggal disini sama kita"
"Kalian berdua sedang dalam masalah. Gimana, gimana gue bisa bilang ke kalian dalam kondisi itu. Gue gak mau egois, karena hanya mementingkan diri gue sendiri padahal kalian juga sama menderitanya waktu itu hiks hiks!!" Icha kembali menangis.
Zea dan Keyla juga ikut menitihkan mata. Jika sudah begini mereka tak bisa menyalahkan Icha. Tapi mereka tetap saja kecewa! Bukan pada Icha, tapi pada diri mereka masing masing.
Kenapa mereka harus mengalami kejadian yang amat berat seperti itu? Zea kembali menyesal telah dekat dengan Zion dan tidak memperdulikan Icha. Begitu juga dengan Keyla, karena terlalu sibuk dengan masalahnya masing-masing. Hingga jadi tak peka akan kondisi sahabatnya itu.
Tak hanya keduanya saja yang kecewa. Icha juga begitu, saat keduanya sedang dalam kondisi menderita dan terkena masalah. Icha kecewa pada dirinya yang tak dapat berbuat banyak untuk keduanya. Apalagi sampai ia kelepasan membiarkan Zea dekat dengan Zion karena ia yang sering mengajak kedua sahabatnya itu keluar malam untuk menikmati suasana keseruan dimalam hari. Dan hal itu membuat Zea dan Zion dekat dan saling bertemu. Sama halnya dengan Keyla, ia hanya bisa menjadi pendengar tanpa bisa memberikan solusi.
Kekecewaan yang ketiganya rasakan membuat mereka saling mendekat dan saling memeluk dan menguatkan satu sama lain. Untung saja tempat mereka jauh dari pengunjung lain, tidak sampai menimbulkan perhatian pada mereka yang kini saling terisak satu sama lain.
TBC
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ