
Zea Pov
Aku tersenyum senang akan kehadiran keduanya. Tiba tiba aku mengernyit dan melihat kebelakang.
Mataku menajam, "Em Pa, Ma! Abang mana?" tanyaku tak melihat kehadiran pria itu.
Papa dan Mama seperti membeku, "Abang sudah pergi keluar negeri Zea!" ujar Mama sambil membelai rambut ku.
Aku membelak lantaran kaget. Kenapa hal ini bisa terjadi tiba tiba, batinku.
"Kok bisa Ma?" tanyaku.
"Panjang ceritanya, nanti mama cerita!" ujar Mama membuatku masih tak habis pikir.
"Oke" balasku mengalah.
Mama tersenyum kearahku, "Oh ya! Gimana Zea rasanya tinggal disini? kamu baik kan? Betah kan?" tanya Mama padaku.
"Zea baik Ma! Betah kok! Pakde Tejo sama Budhe Lastri baik sama Zea. Mama papa tenang aja" ujar ku menjelaskan betapa baiknya aku tinggal disini.
"Ah baguslah kalau begitu" balas Mama seperti merasa lega.
"Ekhmm... Daripada bicara di depan pintu begini, lebih baik mari masuk. Kita duduk duduk disana" ajak Budhe Lastri.
"Ah iya juga! Makasih Las! Maaf merepotkan" tutur Mama segan.
"Walah Ndak, kayak sama sapa aja! Ayo!" ujar Budhe Lastri menuntun kami untuk berkumpul diruang tamu.
Kami duduk dengan aku yang berada di samping mama.
"Permisi" sapa Ayu datang.
Kami menoleh padanya, "Wah siapa ini cantiknya!" puji Mama membuat Ayu tersenyum.
"Kenalin Ti! Ini putriku, Ayu! Ayu ini mama papa Zea! Kamu salim dulu nak" ujar Budhe Lastri.
Ayu mendekat menyalimi kedua orang tuaku.
"Halo Paman Bibi!" sapa Ayu.
"Aduh cantiknya" puji Mama lagi.
Ayu tersenyum manis duduk disampingku. Mata Ayu tak berhenti berbinar mendengar pujian dari Mama.
"Loh Pak Hendra, Bu Tia. Kapan sampainya?" ujar Pakde Tejo ikut datang.
"Barusan Jo" jawab papaku.
Mereka asik berbincang bincang dengan aku dan Ayu sebagai pendengar.
Hingga waktu berlalu...
"Pak Hendra, Tia! Ayo makan dulu sama sama. Aku tadi baru aja masak loh! Nih anak anak juga udah laper kayaknya. Ayo!" ajak Budhe Lastri pada kedua orang tuaku.
"Waduh ngerepotin nih jadinya aku Las" tutur Mama dengan gurauan.
Sebelumnya aku mau menjelaskan bahwa Budhe Lastri dan mama itu adalah teman ketika Mama muda dulu. Sedangkan Pakde Tejo adalah salah satu orang papa. Aku tak tahu bagaimana hubungan dekat mereka. Tapi melihat Papa dan Mama mempercayakan ku untuk tinggal disini, itu artinya hubungan mereka sangat dekat.
skipp
Kami berpindah ke meja makan sederhana yang satu ruangan dengan dapur. Pakde Tejo menyiapkan kursi tambahan yang terbuat dari plastik.
Suasana dimeja makan sangat ramai. Pakde Tejo, Budhe Lastri, dan kedua orang tua ku masih saja bercengkrama seperti tak ada habisnya.
Akhirnya aku dan Ayu kembali ke kamar. Aku biarkan para orang tua yang sedang berkumpul di depan teras itu untuk menikmati pertemuan mereka.
Lebih baik aku beristirahat karena sudah malam, apalagi besok aku harus bersekolah.
__ADS_1
...****************...
Author POV
Orang tua Zea dan Ayu berkumpul di depan teras dengan hidangan hangat beserta seteko kopi yang Lastri buat.
"Jadi Pak Hendra! Apa rencana anda selanjutnya?" tanya Pakde Tejo berubah menjadi formal.
Kedua orang tua Zea nampak membeku, mereka juga masih bingung bagaimana langkah selanjutnya dan bagaimana mereka akan menjelaskan pada Zea.
"Untuk sementara biarkan saja seperti ini. Aku dan Tia akan tinggal di desa ini selama mungkin untuk menjaga Zea. Tapi jika kurasa sudah aman, aku minta kalian jaga putriku untuk saat itu" ujar Hendra.
"Walau bagaimanapun kami tak bisa meninggalkan pekerjaan kami seperti ini. Zea dan Arka masih butuh biaya untuk masa depan mereka kedepannya" lanjut Hendra.
Tejo dan Lastri saling bersipandang.
"Kami mengerti! Tinggallah baik baik di desa ini. Jika kalian pergi nanti, kami akan menjaga putri kalian dengan baik" balas Tejo meyakinkan keduanya bahwa mereka akan memperlakukan Zea seperti putri mereka sendiri.
"Makasih" ujar kedua orang tua Zea tenang.
...****************...
Pagi ini Zea bangun lebih awal. Ia merenggangkan tubuh melihat Ayu yang masih terlelap disampingnya.
Tak ingin mengganggu Ayu yang masih tertidur nyenyak. Zea bangkit lebih dulu.
Zea berjalan kearah belakang rumah guna mencuci muka dan menggosok gigi.
"Sekalian mandi aja deh!" gumam Zea berseru.
Zea membersihkan dirinya dengan badan yang menggigil karena dinginnya air yang ia siram ke badannya.
Setelah selesai Zea keluar dengan handuk basah di kepalanya dan pakaian yang ia kenakan kemarin malam.
"Eh Mama! Budhe!" seru Zea menyapa mendapati kedua wanita itu sedang memasak di dapur.
"Sudah!" balas Zea membalas pelukan Mama Tia.
Mama Tia melepaskan pelukannya lalu mengusap rambut Zea yang masih basah.
Zea berdiri di samping mama Tia, melihat apa yang sedang mama Tia dan budhe Lastri masak untuk sarapan nanti.
"Nasi goreng ma?" tanya Zea.
"Iya" jawab Mama.
"Ohw yaudah, Zea mau ganti baju dulu ya Ma!" ujar Zea pamit kembali ke kamar.
"Nanti kalau sudah siap langsung ke dapur buat sarapan ya! Ajak Ayu juga" ujar mama Tia.
"Iya" balas Zea
"Ohw ya Zea, budhe minta tolong bangunin Ayu ya! Suruh siap siap" pesan Budhe Lastri meminta tolong.
"Iya Budhe!" jawab Zea.
Zea kembali ke kamar Ayu, membangunkan Ayu yang masih terlelap sambil memeluk guling.
"Yu! Bangun Yu!" panggil Zea sambil menggoyang dan menepuk-nepuk badan Ayu.
Ayu menggeliat hingga tak lama Ayu terbangun. Untung Ayu bukan tipe orang seperti kedua sahabatnya itu, susah jika dibangunkan. Harus memiliki tenaga ekstra.
"Emm kenapa Ze?" tanya Ayu sembari mengumpulkan kesadaran.
"Budhe nyuruh mandi tuh! Siap siap" ujar Zea menyampaikan pesan Budhe Lastri pada Ayu.
Ayu duduk sambil memfokuskan pandangannya. Sedangkan Zea yang sudah melakukan pesan dari Budhe Lastri, ia bangkit dan mengambil seragamnya yang sudah tertata di lemari Ayu.
__ADS_1
Zea menoleh kearah Ayu yang masih termenung. Ia kembali menghampiri.
"Ayo bangun!" seru Zea menarik tangan Ayu agar bangkit.
Dengan badan yang akan jatuh jika di senggol Ayu akhirnya bangkit. Zea membukakan pintu agar Ayu segera pergi ke kamar mandi.
"Sana!" usir Zea. Ayu berjalan dengan lambat namun akhirnya keluar dari kamar dan menuju kamar mandi.
Zea kemudian berganti seragam dan mulai menata dirinya. Ia memoles fondation dimukanya untuk membuat mukanya menggelap dan hal itu bertepatan dengan Ayu yang selesai mandi.
"Aneh!" seru Ayu sudah segar kembali. Ayu menatap Zea masih tak habis pikir dengan sikap Zea yang menutupi kecantikannya.
Hingga akhirnya mereka selesai bersiap siap. Zea dan Ayu menuju tempat makan yang berada di dapur untuk sarapan. Sudah ada Papa Hendra, Mama Tia, Pakde Tejo, dan Budhe Lastri disana. Zea dan Ayu ikut bergabung.
"Nih sarapannya! Kalau kurang nambah lagi ya" Ujar Mama Tia menyerah sarapan Zea dan Ayu
Menu sarapan mereka sangat sederhana. Hanya Nasi goreng dengan telur orak orik plus ayam didalamnya, juga ada setoples kerupuk yang disiapkan ditengah meja.
Zea dan Ayu segera menyantap sarapannya dengan lahap.
"Zea!" panggil Papa Hendra membuat suapan Zea terhenti dan mendongak.
"Iya pa?" Sahut Zea.
"Nanti pulang sekolah langsung ke rumah ya! Papa sama Mama bakal mindahin barang barang kamu kesana" ujar papa Hendra.
Sebelumnya Hendra memang sengaja membuat rumah sederhana di daerah ini khusus agar Zea bisa tinggal dengan baik. Tak masalah walau nantinya hanya sementara. Ia hanya mau keluarganya tinggal dengan nyaman.
"Iya Pa!" jawab Zea.
"Ayu nanti tolong anterin Zea ya!" tutur Pakde Tejo.
"Iya pak!!" jawab Ayu.
Zea dan Ayu menyelesaikan sarapan dan bergegas menuju sekolah. Rasanya perasaan Zea sedikit tak enak hari ini.
Keduanya berjalan bersama hingga mereka sampai disekolah. Zea dan Ayu segera berpisah jalan.
Zea memasuki kelas yang hanya ada 5 orang saja didalam kelas. Hari ini, dirinya dan Ayu memang berangkat lebih pagi dari pada kemarin, hingga saat ia dan Ayu keluar rumah, langit masih belum sepenuhnya terang.
"Dea kayaknya belum datang deh!" ujar Zea sambil memasuki kelas.
"Eh!" seru Zea saat melihat sebuah tas yang berada di bangkunya.
Zea menoleh kearah salah satu murid yang ada didalam kelas. Zea menghampiri seorang gadis yang tak jauh darinya.
"Permisi!" ujar Zea menyapa
Gadis itu menoleh, "Maaf, kamu tau gak itu tas siapa?" tanya Zea sambil menunjuk tas dibangkunya.
Gadis yang Zea tanyai itu mendongak melihat kearah yang Zea tuju, "Oh itu tas Dito Zea! Sebelumnya Dito emang duduk disana. Tapi kemarin Dito gak masuk, jadi Dea minta kamu duduk sama dia" jelasnya. Zea mengangguk angguk mengerti.
Zea mengulas senyum sambil melirik nama dada gadis itu.
"Makasih Ela" ujar Zea.
"Sama sama" balasnya.
Zea menengok kearah bangku sebelumnya.
"Yaudah deh! Apa boleh buat!" pasrah Zea.
Zea berjalan kearah bangku yang berada di pojok. Mungkin ini memang tempatnya, batin Zea.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1