My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
72. Awal rencana


__ADS_3

Dirumah Zea..


Semua orang yang berada disana bermuka lesu. Terutama Papa Henda dan Mama Tia, wajah mereka nampak guratan guratan keletihan, kesedian, dan tekanan. Begitu pula dengan Arka selaku kakak Zea yang terduduk disofa sambil memijat kepala.


Kedua sahabat Zea yaitu Icha dan Keyla juga nampak begitu letih. Segala upaya mereka kerahkan untuk mencari keberadaan Zea namun semua nampak terputus ditengah jalan.


Beberapa kali mereka mendapatkan informasi mengenai keberadaan Zion selaku tersangka penculikan Zea, namun ketika ditelusuri lebih jauh, pria itu tiba tiba seakan menghilang begitu saja.


"Gimana bang? Masih belum ada kabar?" tanya Keyla pada Arka.


"Belum" jawabnya. Bang Arka nampak tak ingin banyak bicara karena otak pria itu sudah mulai lelah memikirkan dimana keberadaan adiknya.


"Alvin kemana kok gak kelihatan?" tanya Icha mencari keberadaan pria yang menjadi pacar sahabatnya itu.


"Dia sakit" jawab Bang Arka. Kedua orang tua Zea lantas melihat kearah Bang Arka.


"Apa sakit parah?" tanya Mama Tia khawatir.


"Dia bilang cuma demam karena kecapean aja ma!" jawab Arka.


"Kasihan dia, Mama jadi gak enak! Gara gara Mama semua ini terjadi!" ujar Mama Tia masih terus merasa bersalah.


"Ma! Kan udah papa bilang jangan nyalahin diri sendiri!" Tegus Papa Hendra.


"Maaf pa! Mama benar benar merasa bersalah, Mama_" ucap Mama Tia terjeda karena ia tak lagi sanggup menahan tangis.


Keyla dan Icha menatap mama Tia yang juga duduk di sofa sendu. Mereka menghampiri Mama Tia, menggenggam tangan Mama Tia.


"Tante jangan terlalu menyalah diri begini! Zea pasti juga merasa bersalah kalau lihat Tante begini!" ujar Keyla.


"Bener Tan. Kita semua disini, gak akan nyerah sampe Zea ketemu!" ucap Icha.


Mama Tia menatap kedua sahabat putrinya iba. sahabat baik putri kesayangannya ini bahkan rela tak sekolah walau sudah dipaksa, untuk tetap mencari keberadaan Zea. Dengan menyebar sebaran dan pamflet dijalanan sekitar.


"Maafin Mama cuma bisa buat kalian khawatir kayak gini!" ucap Mama Tia sendu.


"Ma udah ya?! Jangan salahin diri Mama gini! Lebih baik kita berdoa agar keberadaan Zea cepat ditemukan!" ucap Papa Hendra mengusap bahu Mama Tia. Mama Tia mengangguk seraya mengusap air matanya. Keyla dan Icha ikut menenangkan Mama Tia.


"Pa, bisa bicara sebentar!" ucap Bang Arka. Papa Hendra menatap Arka lalu mengangguk.


"Keyla, Icha, tolong jagain Mama sebentar ya!" pinta Papa Hendra.

__ADS_1


"Siap Om!" ujar keduanya.


Bang Arka dan Papa Hendra berjalan kearah belakang ketempat yang sepi agar pembicaraan mereka tak terdengar oleh siapapun.


"Kenapa bang?" tanya Papa Hendra menghentikan langkahnya.


"Kayaknya kita sudah salah tebak pa!" ujar Bang Arka.


"Sepertinya memang tidak ada sangkut pautnya dengan Alvin Bang. Papa jadi merasa bersalah sudah curiga dengan pria itu!" ungkap Papa Hendra.


Kedua pria berbeda generasi itu saling bersitatap. Menghilangnya anak juga adik perempuan yang mereka cintai dan sayangi membuat keduanya mencurigai siapapun. Pembicaraan antara Bang Arka dan Alvin diteras waktu itu memang membuat bang Arka menghilangkan sebagian rasa curigainya Alvin.


Tapi tak selesai begitu saja. Papa Hendra yang kelihatannya sangat tenang diluar juga ikut mencurigai pria itu. Namun setelah diteliti yang mereka dapat adalah ketulusan Alvin guna mencari keberadaan Zea.


Mereka melihat rasa cinta Alvin yang begitu mendalam saat mencari keberadaan Zea. Informasi yang mereka dapat mengenai Alvin juga menunjukan bahwa pria itu begitu khawatir dengan kondisi Zea. Seakan wanita yang ia sayangi benar benar telah menghilang.


"Apa kita akan menghentikan rasa curiga pada Alvin pa?" tanya Bang Arka.


"Ya, hentikan. Papa jadi tak enak membuat Alvin terus mencari tanpa henti selama berhari-hari hingga ia sakit!"


"Apa papa mempercayai pria itu?" tanya Bang Arka lagi.


Keduanya kembali ke ruangan tengah bersama Mama Tia, Keyla, dan Icha, untuk mencari cara lain guna menemukan keberadaan Zea


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Alvin berada dikamar yang sama dengan Zea. Seperti yang ia janjikan kemarin malam, kini ia menemani Zea seharian penuh. Keduanya nampak saling melempar senyum satu sama lain.


Senyum Zea semakin mereka ketika Alvin mengijinkannya untuk bermain ponsel ketika ia berkata, "Al, pinjem handphone dong. Aku ingin lihat orang bikin kue" ujar Zea secara spontan.


Zea merutuki alasan yang ia buat. Namun ia dibuat senang karena Alvin menyodorkan sebuah handphone kepadanya. Tapi senyum itu luntur ketika mendapati bahwa itu bukan handphonenya.


"Ini bukan punyaku!" seru Zea.


"Itu milikku! Kamu pakai aja dan akan aku awasi" ujar Alvin. Dan benar saja pria itu mengawasi setiap apa yang ia ketik dan cari di internet.


"Wow, bagus banget" decak Zea ketika melihat vidio orang membuat dan mendekor kue. Alvin menatap wajah Zea yang berdecak kagum.


"Mau bikin?" tanya Alvin.


"Emang boleh?" tanya balik Zea sedikit ragu. Lantaran ia sangat dilarang keras Alvin menelusuri tempat dimana ia disekap ini.

__ADS_1


Bahkan dirinya tak pernah menetap di ruangan lain selain kamar dan balkon. Ruang dimana ia makan hanya ia tempati diawal saja, saat bersama Alvin dan saat ia memaksa Joe hingga pria itu terkana bogeman mentah dari Alvin. Selain itu tak ada lagi. Alvin lebih suka menemaninya dikamar, pria itu terus memeluknya tanpa rasa bosan sedikitpun.


"Boleh" jawabannya.


Ijin telah didapatkan. Zea keluar dari kamar bersama Alvin. Tangan Alvin melingkar dipinggangnya selama diperjalanan. Sedangkan Zea menggunakam kesempatan kali ini untuk menyelusuri ruangan. Menandai apa saja yang terlihat olehnya.


Sampai matanya menyadari ada yang salah saat ia berjalan.


"Kemana para penjaga yang kamu tempatkan di sekeliling Al?" tanya Zea mencari tahu. Lantaran seluruh tempat dimana ia melangkah tidak ada satupun ia mendapati para penjaga itu. Berbeda saat pertama kali ia kesini.


"Aku tempatkan mereka diluar. Kenapa?" tanya Alvin curiga. Zea menggelengkan kepala.


"Tidak apa, hanya bertanya" ucap Zea. Didalam pikirannya terbesit bahwa ini adalah hal yang bagus. Bisa saja hal ini menjadi peluang baginya untuk kabur.


Keduanya sampai di dapur. Alvin mengeluarkan bahan bahan yang sekiranya dibutuhkan. Canda tawa terus tersemat diantara keduanya. Orang yang melihatnya tak akan menyangka, bahwa tawa Zea itu adalah tawa palsu.


Gadis itu terus mendekatkan diri kepada Alvin. Membuat pria itu percaya bahwa kini dirinya sudah berubah. Hingga ia terlelap dalam tidur sambil memikirkan jika suatu hari ia bebas dari Alvin.


Setelah Zea tidur lelap, Alvin keluar dari kamar. Ia berjalan kearah balkon dengan Joe yang mengikuti dari belakang.


Ia menikmati hembusan udara yang menerpa wajahnya. Matanya yang tajam menatap kearah pepohonan didepannya. Melihat Alvin seperti itu, sulit menebak apa yang Alvin pikirankan.


"Kapan anda akan memulainya tuan?" tanya Joe.


"Sebentar lagi, Dalam waktu dekat! Aku ingin lebih memastikan bahwa mereka benar benar berada dalam genggamanku" ucap Alvin membalas pertanyaan Joe.


"Lalu akan anda apakan pria itu? Apakah anda akan membunuhnya?" tanya Joe lagi.


Alvin tertawa renyah mendengar apa yang Joe tanyakan.


"Membunuhnya?" Alvin menoleh menatap kearah Joe dengan smirk diwajahnya "Aku tak sekejam itu untuk melakukannya pada orang yang berjasa bukan?!" ucapnya menampilkan senyum menawan diwajah pria itu.


Joe yang melihat Alvin tersenyum ikut tersenyum.


"Itu benar! Anda bukanlah orang yang kejam!" ujar Joe diiringi kekehan dibibirnya.


Joe merasa kasihan pada pria itu yang hanya dijadikan alat tanpa pria itu tahu, bahwa ia sedang dipermainkan oleh sang iblis.


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


__ADS_2