My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
118. Rey terkapar


__ADS_3

"Kenapa lo bawa gue kesini?" tanya Rey saat langkah Alvin berhenti di rooftop restoran.


"Gue udah peringatin lo untuk jauhin Zea kan?! tapi lo masih aja ngelanggar. Bahkan lo lupa taruhan yang lo sendiri buat" ujar Alvin membelakanginya Rey.


"Lo pikir gue peduli sama taruhan sialan itu" sinis Rey membuang muka.


Alvin membalik badannya, melepas kacamatanya kasar membuangnya kelantai. Ia menyibak rambutan memperlihatkan mata hitam tajamnya. Raut wajah Alvin yang marah membuat Rey merinding.


Alvin melangkah kearah Rey. Langkah Alvin terhenti didepan Rey.


Grep


Alvin mencengkram kerah baju Rey, membuat Rey tercekik. Tangan Rey tak tinggal diam, ia balik mencekram tangan Alvin dikerahkannya. Tapi tenaga Rey dikalahkan dengan tenaga Alvin. Nafas Rey menderu karena cengkraman Alvin.


Bugh


Tubuh Rey di hempaskan kebawah. Alvin menatap Rey yang mengatur nafas itu tajam. Kaki Alvin mendarat di dada Rey, melarang pria dibawahnya ini untuk bangkit.


"Ukh lepas" seru Rey mencoba menyingkirkan kaki Alvin didadanya.


dug


Alvin menendang tubuh Rey.


"Bangun" ujarnya dingin.


Rey bangkit sambil memegang dadanya yang nyeri karena injakan Alvin. Pria itu mengatur nafas menatap Alvin tak kalah tajam. Ia menatap Alvin dengan aura permusuhan.


"Sialan breng*sek!" ujar Rey menerjang Alvin.


Bugh


Alvin langsung mendaratkan satu pukulan di wajah Rey. Rey memegang wajahnya yang nyeri, ia tak terima dan kembali menerjang Alvin.


Bugh


Satu pukulan kembali didaratkan Alvin di wajah Rey.


"Bang*sat!" teriak Rey menggelap.


Bugh


Alvin menendang tubuh Rey membuat Rey terjengkang kebelakang.


"Ukhh" rintih Rey tubuhnya jatuh ketanah. Ia ingin bangkit tapi seluruh tubuhnya perih. Hidung dan bibir Rey mengeluarkan darah dan lebab.


Alvin yang masih dengan rasa kesalnya mendekat kearah Rey. Ia mencekram baju Rey yang melemah, membuat Rey berdiri.


"Lo main main dengan orang yang salah! Gue pastiin, Setelah ini hidup lo nggak akan tenang dimanapun!" seru Alvin menggertak. Ia marah pada pria yang telah menyentuh miliknya.


Bugh


Tubuh Rey kembali dibanting kebawah. Nafas Rey memelas, ia merintih kesakitan disekujur tubuhnya.


"Akhhhh!!!" teriak Rey saat tangannya diinjak oleh Alvin.


"Ini balasan buat lo karena lo udah berani nyentuh milik gue, breng*sek sialan!" seru Alvin mengeraskan injakannya di tangan Rey.

__ADS_1


Alvin berjongkok di dekat Rey yang tersungkur di lantai. Nafas Alvin sama menderunya karena berkabut oleh amarah. Ia menatap pria dibawahnya ia tajam.


"Ingat, Ini cuma balasan kecil buat lo, setelah ini! jangan lo berani beraninya main main sama gue, apalagi nentang gue, bahkan nyentuh milik gue. karena gue gak akan segan segan buat lo lebih menderita dari pada hal ini, coba aja! Dan Lo akan menyesal karena udah berurusan dengan gue. Alvin Exelino Immanuel!" ujar Alvin menyebut indentitas. Hal itu sontak membuat Rey membelak menatap pria didekatnya dengan shock bahkan kaget.


"Kenapa? Lo nggak nyangka kan?" Alvin menyeringai.


Puk puk


Alvin menepuk tubuh Rey.


"Selamat menikmati neraka lo selama beberapa hari kedepan, Rey!" Alvin lantas bangkit merapikan pakaiannya, meninggalkan Rey yang terpaku dilantai.


"Uhukk uhukk" Rey terbatuk-batuk dengan tubuh yang memar akan rasa sakit.


Alvin turun kebawah. Ia berjalan mencari keberadaan Zea di sekeliling tempat itu. Ditaman semula ia tak menemukannya. Alvin mengambil handphonenya disaku hendak menelpon Zea. Tapi rupanya ia sudah mendapatkan pesan dari gadis itu.


Zea ♡


Al, aku nunggu diparkiran


Dengan sigap Alvin mematikan handphonenya, menyimpannya kembali di saku. Ia pergi ke lobi depan restoran.


"Anda sudah mau pergi tuan?" tanya pria yang tak lain adalah Marko sambil menenteng sebuah Tote bag dengan nama restoran.


Alvin mengangguk.


"Kalau begitu hati hati dijalan tuan dan ini pesanan anda" ujarnya menyerahkan Tote bag ke tangan Alvin. Alvin menerimanya dan berlalu pergi meninggalkan restoran.


Ia keluar dan melihat Zea, Keyla, dan Icha sedang bersandar di mobilnya dengan canda tawa seperti tak terjadi apapun pada Zea.


"Apa tuh?" tanya Icha melihat bag yang Alvin bawa.


"Ish udah makan juga" tegur Keyla menyenggol tubuh Icha.


"Hehehehe...Ya, siapa tau aja bonus buat gue gitu!" ujar Icha meringis menampilkan deretan giginya. Keduanya memutar bola mata jengah.


"Oii oii minggir" suara bising terdengar dari pintu masuk restoran.


"Minggir minggir" dari kejauhan suara beberapa orang mulai mendekat.


Mereka memperhatikan seseorang yang menjadi pusat perhatian. Seorang pria tak berdaya yang di sanggah oleh dua orang. Terlihat muka pria itu lebam dan kacau.


"Eh itu kak Rey bukan sih?" tanya Icha menajamkan mata. Keyla ikut menajamkan mata.


"Iya kak Rey, kok bisa kayak gitu. Kenapa ya?" tanya Keyla.


"Kak Rey berantem sama siapa sih OMG, sampe bonyok gitu ish" Icha bergidik ngeri melihat kondisi Rey sekarang.


Zea melihat ke arah Rey, kemudian pandangannya teralihkan kearah Alvin yang kini menatap kearah sekumpulan orang itu tajam, dingin, dan serasa menusuk. Zea seketika menegang.


'Apa Alvin yang ngelakuin itu?' batin Zea bertanya. Alvin tiba tiba menoleh pada Zea, lalu pria itu tersenyum.


Deg


Jantung Zea seakan berhenti berdetak. Ia baru menyadari bahwa kini Alvin tak terlihat seperti biasa. Kacamata pria itu hilang dan rambutnya walau sudah ditata sedemikian rupa tapi masih menunjukkan bahwa rambut pria itu sedikit berantakan.


"Kamu..?!" seru Zea terpotong.

__ADS_1


"Pulang yuk! Gue udah capek nih, pengen rebahan" ujar Icha membuat Zea teralihkan


"Yuk gue juga udah capek" balas Keyla.


"emm.. Pamit dulu ke pak Burhan" timpal Zea.


"Yaudah yuk" ajak Icha.


"Aku tunggu sini" ujar Alvin, diangguki Zea.


Ketiganya lantas mendekati kearah pak Burhan yang kini sedang ikut membantu menangani masalah Rey.


"Pak kami pamit pulang dulu ya" Mereka menyalimi pak Burhan.


"Oh iya hati hati" jawab pak Burhan.


Arah mata mereka teralihkan pada Rey yang merintih.


"Semoga cepat sembuh kak Rey" ujar Icha kepada Rey yang sudah berada di dalam mobil.


Zea dan Keyla hanya bisa ikut menatap pria di depannya prihatin. Rey melihat kearah Zea yang sedang menatapnya. Ingin ia berucap tapi bibirnya tak bisa bergerak. Rasa sakit di wajah dan tubuhnya kian semakin terasa seiring waktu, apalagi kondisi tangannya yang kini cukup menggenaskan.


"Semoga cepat sembuh kak" ujar Zea sembari mengangguk.


Zea kemudian berbalik bersama Icha dan Keyla kearah Alvin yang kini sedang menunggunya.


Mereka masuk kedalam mobil Alvin yang membawa mereka pergi meninggalkan tempat itu kerumah Zea.


"Ze gue nginep ya! Besok gue pulang. Lelah rasanya gue, pengen langsung rebahan" ujar Icha.


"Iya, Gue juga. Capek gue kalau harus nyetir malam malam gini" lanjut Keyla. Mobil Keyla masih berada di rumah Zea.


"Iya nginep aja. Pakek ngomong segala" balas Zea melihat kedua sahabatnya dari kaca tengah mobil. Tampak keduanya sudah mulai lelah, lemas tak berdaya.


Kedua sahabatnya kini asik memejamkan mata tertidur di bangku belakangnya.


Zea melihat kedepan sambil sesekali melirik kearah Alvin.


"Kenapa?" tanyanya. Zea menggeleng.


"Nggak papa" jawab Zea.


"Kamu penasaran soal Rey?" tebak Alvin tepat sasaran. Zea diam.


"Aku yang melakukannya" ujar Alvin membuat Zea membelak. Ia sudah menduga tapi saat ia mengetahuinya langsung dari Alvin tentu saja hal itu membuatnya terkejut.


"Kenapa?" tanya Zea menoleh kearah Alvin.


"Aku nggak suka milik aku disentuh dan breng*sek itu sudah berulang kali mengabaikannya" jelas Alvin dingin membuat Zea terpaku.


"Mulai sekarang aku nggak bakal tinggal diam sama siapa aja cowok yang berani deketin kamu. Karena itu kamupun harus tau batasan mu, jangan sampe kamu buat aku marah dan ngelakukan hal hal diluar batas. Kamu paham kan apa yang aku omongin?" tanya Alvin dengan tegas pada Zea.


"Iya" jawab Zea.


"Good girl" Alvin mengulurkam tangan usap kepala Zea. Membawa Zea kedalam pelukannya sambil kedua matanya fokus kejalan. Zea hanya bisa menerima apa yang Alvin lakukan.


Berapa saat kemudian mobil Alvin berhenti dan Zea membangunkan kedua sahabatnya yang tidur dibelakang. ketiga gadis itu turun. Dengan Keyla dan Icha yang nampak menahan kantuknya. Mereka masuk kedalam setelah berpamitan pada Alvin. Menaiki anak tangga, menuju kamar mandi untuk mencuci tangan, kaki dan muka lalu merebahkan tubuh mereka di atas kasur. Keyla dan Icha langsung tidur, tapi Zea tak bisa tidur malam itu karena merenung apa yang nantinya bakal terjadi setelah ini.

__ADS_1


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2