
Zea mengerjapkan mata, bibirnya merenguh akan pusing yang menerpanya. Matanya sedikit demi sedikit terbuka. Sosok yang pertama kali ia lihat adalah Alvin.
Adegan adegan sebelum dirinya pingsan berkelebat jelas dari ingatannya. Zea telonjak kaget saat kini dirinya berada dalam rengkuhan Alvin. Ia mendorong dada Alvin untuk menjauh. Tapi keinginannya untuk menjauh hanya angan angan semata karena kedua tangan Alvin yang mendekapnya tak membiarkan hal itu terjadi.
"Kamu sudah bangun?!" tanya Alvin padanya.
Tangan Alvin kembali terulur membelai wajah Zea, menyibak untaian rambut Zea yang jatuh menutup wajahnya.
Zea tak memperdulikan Alvin mulai melihat keadaan sekitar. Kini dirinya berada didalam mobil dan pemandangan diluar nampak pepohonan yang menjulang tinggi. Melihat itu semua membuat Zea meradang.
"Lo mau bawa gue kemana?" tanya Zea menatap kedua mata Alvin dengan berani. Namun jauh dilubuk hati Zea gadis itu takut setengah mati.
"Ke tempat dimana kamu bisa nenangin diri" jawab Alvin dengan menampilkan senyuman di wajah tampannya itu.
"Gue gak mau. Bawa gue pulang!" Bentak ketus Zea. Gadis itu mulai meronta, memukul mukul dada Alvin, mencoba melepaskan diri dari Alvin.
"Ze! Stop" ujar Alvin menahan tangan Zea yang mulai memberontak.
"Ze!" ujar Alvin kembali memberi peringatan.
"Zea!" bentak Alvin membuat Zea tersentak kaget dan memberhentikan aksinya.
tes tes
Buliran buliran air mata itu jatuh dari kedua matanya.
"Hiks hiks" suara Isak tangis Zea terdengar lirih ditelinganya.
Alvin membawa tubuh Zea kerengkuhannya, menenggelamkan kepala gadis itu ke kedadanya, mengelusnya mencoba menenangkan.
Melihat air mata Zea yang jatuh dan terisak seperti ini membuat jantung Alvin teriris, nafasnya terasa tercekat. Namun salahkan keegoisannya kini yang ingin memiliki Zea untuk dirinya sendiri. Sikap keras kepalanya yang tak ingin melepaskan Zea lebih dominan dari apapun.
Zea terus menerus terisak didekapan Alvin sampai suara isakan itu tak terdengar dan beralih menjadi dengkuran halus Zea.
Pelukan nyaman sesaat Alvin membuat Zea yang kelelahan, tertidur di dekapan pria itu.
"You're mine Ze! Forever!" lirih Alvin ditelinga Zea mendaratkan bibirnya dipuncak kepala gadis itu dibarengi dengan belaian kepala yang semakin menambah kehangatan tidur Zea.
...****************...
Udara dingin yang menembus kulitnya, membuat Zea terpaksa membuka mata. Dibarengi dengan rasa nyeri diperutnya yang baru terasa. Dirinya dibuat tersadar akan tempat yang jauh berbeda dengan kamarnya.
Ini dimana? Berapa lama dirinya tertidur? Dan kenapa dia disini. Pertanyaan pertanyaan itu terus berbondong bondong masuk kedalam otaknya. Sampai akhirnya dia teringat akan seseorang 'Alvin' laki laki itu yang membawanya kesini.
Zea menoleh mencari keberadaan pria itu disekitar ruangan itu, namun nihil. Kemudian Zea mencoba bangun dan melihat ada bercak darah merah dikasurnya.
'Jangan jangan??' pekik Zea dalam batin.
Rasa nyeri diperutnya membuat ia tersadar,"Ah gue lupa, gue lagi kedatangan tamu!" gumam Zea saat ingatannya kembali muncul.
Krekk..
__ADS_1
Suara pintu terbuka mengalihkan pandangan Zea. Kedua matanya menangkap Alvin memasuki ruangan itu. Kedua mata mereka bertemu, saling bersitatap.
Zea menjadi waspada ketika Alvin mendekat kearahnya, membuat ia memundurkan langkah sampai terduduk diranjang.
Kedua mata Alvin memincing ketika melihat bercak darah dikasur gadis itu. Seketika itu Alvin langsung panik dan mencekal tangan Zea.
"Kamu terluka?" tanya Alvin dengan wajah panik mengecek kondisi Zea.
"Joe sialan, akan kuhabisi dia" makian Alvin terdengar telinganya membuat tubuh Zea bergetar. Dirinya mengingat kembali keberuntalan Alvin dimalam itu yang membuat dirinya terjebak dalam kondisi saat ini.
Merasakan tubuh Zea bergetar membuat Alvin semakin panik, "Kenapa? Ada yang sakit? Bagian mana yang sakit? Coba aku lihat?!" seru Alvin.
"Hiks hiks" Isak tangis Zea kembali terdengar.
"Jangan bikin aku panik dong Ze, tunggu sebentar ya, aku panggil dokter!" Alvin mendudukan Zea diranjang ingin meninggalkan Zea.
"Gue mau pulang!" ujar Zea menahan kepergian Alvin.
Alvin menoleh kembali pada gadis itu. Alvin menghela nafas berat, menghampiri gadis itu.
"Tunggu disini ya? Aku akan panggil dokter" Alvin menangkup kedua pipi Zea memberikan semua rasa cinta kepada gadis itu.
"Gue gak butuh dokter, gue mau pulang!" teriak Zea menepis tangan Alvin.
Alvin memejamkan mata mencoba meredam emosi, "Cukup Ze! Jangan buat aku marah okay?" tekan Alvin menggenggam kedua tangan Zea.
"Bodo amat! Gue mau pulang!" teriakan Zea semakin menjadi jadi. Gadis itu memalingkan wajahnya agar tak melihat ekspresi marah Alvin yang menyeramkan dimatanya.
"Lihat aku" pinta Alvin namun tak ditanggapi oleh Zea.
"Selama kamu masih memberontak seperti ini, kamu gak akan pernah bisa keluar dari sini. Never!" tekan Alvin. Saat Zea ingin membuka mulut, Alvin menyerang bibir merah Zea.
Ia ******* bibir yang menjadi candunya itu. Alvin semakin memperdalam ciumannya, mengabaikan Zea yang meronta ronta. Ia menyelusuri setiap sudut bibir dan mulut Zea. Mengabsen deretan gigi putih Zea, mengobrak abrik mulut Zea memastikan bahwa bagian itu hanya boleh terjamah olehnya.
"Hah hah!" suara helaan nafas keduanya setelah ciuman panjang itu terlepas.
"Jadilah gadis penurut!" pinta Alvin mengecup kening Zea, gadis itu memejamkan mata masih mengatur nafasnya yang habis akan ulah Alvin.
"Ukhh!" ringis Zea saat dirasakan perutnya kembali nyeri.
"Bagian mana yang sakit?" tanya Alvin melembut, memegang tangan Zea yang menekan perutnya.
"Apa perut kamu sakit?" tanya Alvin memastikan.
"Ehm, nyeri haid" ujar Zea mulai bisa diajak berbincang. Bibir Alvin terkatup mendengar hal itu.
"Jadi itu darah haid? Kamu bocor?" tanya Alvin ingin mendapatkan jawaban lebih jelas.
Isak tangisnya seketika hilang detik itu juga. Wajah Zea seketika memerah, ia malu. Gadis mana yang gak malu saat ketahuan bocor.
"Hahaha jadi kamu bocor nih? Nyeri hari pertama?!" goda Alvin mencolek hidung Zea.
__ADS_1
"Ish gara gara kamu nih!" ketus Zea mencebik.
"Kok gara gara aku?" tanya Alvin heran mengulum senyum.
"Yaiya gara gara lo. Gara gara lo gue harus kejebak sama situasi sekarang ini dan berakibat bocor kayak gini!" kesal Zea mencebik.
"Bukan salah aku dong by, kan kamu sendiri yang keluar malam dan ketahuan sama aku. Salah kamu sendiri, ngapain keluar malam malam" Alvin membela diri.
"Ya kan gue keluar malam gara gara kehabisan pembalut, mana pembalut tinggal satu. Jatuh pula. Ketemu kamu pula! Ngeselin!" curhat Zea semakin jengkel ketika diingat ingat kembali kejadian beberapa jam yang lalu.
Alvin yang mendengar kekesalan Zea hanya bisa tertawa lirih. Dimatanya Zea begitu menggemaskan.
"Itu namanya takdir by!" ujar Alvin masih menggoda Zea.
"Ish ngeselin tau gak. Lagian ngapain sih ba by ba by, Lo kira gue babi. Aduh duh perut gue!" rintih Zea saat rasa nyeri menjadi semakin kuat karena dirinya yang emosi.
"Sakit banget ya?" tanya Alvin khawatir.
"Udah tau nanya!" ketus Zea.
"Aku panggilin dokter ya?"
"Gak perlu, ntar juga ilang sendiri. Bawain gue pembalut, risih gue!" pinta Zea tak ingin lagi berdebat dengan Alvin.
"Disini gak ada pembalut Ze, dari sini ke kota jauh. Biar aku suruh anak buahku pergi beli sebentar ya?!"
"Ngapain lo suruh anak buah lo? Ya lo sendirilah yang beli. Kan lo yang bawa gue kesini" ujar Zea masih tak bersahabat.
"Oke biar aku yang beli. Kamu tunggu sini jangan kemana mana. Gak ada tempat buat kamu bisa kabur dari sini! Dan kamu juga gak bisa kabur dari sini!" ucap Alvin memberi peringatan.
"Iya iya bawel, buru!" usir Zea.
"Kamu ada butuh yang lain lagi?" tanya Alvin mulai berdiri.
"Camilan, jangan lupa!" ujar Zea membuat Alvin terkekeh geli.
"Aku pergi" pamit Alvin mengecup puncak kepala Zea, kemudian pergi meninggalkan kamar itu.
Jglekk..
Pintu kamar tertutup hanya menyisakan dirinya sendiri. Suasana kamar yang hening membuat Zea merenung dan tanpa sadar dirinya melamun tentang apa yang akan terjadi dengan dirinya nanti. Dan bagaimana nasibnya, juga mengenai kedua orangtuanya yang akan khawatir kemana dirinya pergi.
Membayangkan kedua orangtuanya juga abangnya yang kembali khawatir tentang kehilangannya, membuat air mata Zea menetes kembali. Keberanian sesaat pada Alvin tadi tak membuat dirinya kuat. Nyatanya dirinya itu gadis yang rapuh dan penuh dengan kesedihan.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Alvin lo kok gitu sih?
Alvin said, "Kenapa? masalah buat lo?"
__ADS_1
akunya kicep😶😂
Happy Reading ♡♡