My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
42. Karena Lumpur


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Disebuah kebun yang membentangkan tumbuhan tumbuhan yang bergerak seiring arahnya angin membuat Zea gadis yang mencoba mencari ketenangan bertemu dengan Alvin disebuah rumah pohon.


Zea yang baru datang ketempat itu menatap pria didepannya dari bawah ke atas mencoba menelisik dan menilai penampilan Alvin yang dibilang kampungan. Alvin seorang pemuda sederhana bertemu dengan Zea, seorang gadis kota yang datang kesana untuk merasakan sensasi baru.


Awalnya Zea menatap tak suka akan penampilan Alvin yang bisa dibilang kumuh. Tapi saat dia mengenal Alvin lebih jauh, berbeda dengan penampilannya yang serba kekurangan. Dari Alvin Zea belajar banyak hal mengenai kehidupan. Zea yang seorang gadis dari kota dengan kehidupan serba ada, melihat suasana berbeda disekitarnya. Orang orang dengan tampilan sederhana, juga kehidupan sederhana namun damai. Berbeda dengan tempatnya dulu, yang memandang berdasarkan kasta.


Tak hanya itu Zea juga belajar saat ia bertemu dengan teman teman Alvin yang lain dengan penampilan yang dibuat buat seperti gaya anak kota. Tapi penampilan keren mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Alvin. Saat itu dirinya juga belajar bahwa penampilan yang bagus tak menjamin kualitas dari orang tersebut.


Lama kelamaan Zea semakin tercekat dengan sikap rendah hati, gigih, berani, dan tak pantang menyerah Alvin yang hidup dilingkungan yang dibilang serba kekurangan, bahkan rumah Alvin saja hanya beratapkan genteng. Tapi tak bisa dipungkiri rumah Alvin sangat nyaman. Dibandingkan Zea yang tinggal divila orang tuanya dengan kondisi mewah namun sepi.


Bahkan saat dikotapun ia juga merasa sepi, sampai suatu ketika sang ayah yang tak tahan dengan gaya hidup Zea yang kacau, menyuruh Zea tinggal di vila mereka yang dekat dengan pedesaan. Mungkin itu keputusan terbaik sang ayah, sejauh ini.


Matahari sudah mulai turun. Nampak rona rona senja datang. Zea duduk dibawah pohon rindang, menunggu kedatangan Alvin yang jam segini masih sibuk dengan pekerjaan walaupun pria itu masih bersekolah.


Tak lama kemudian Alvin datang dengan senyuman kearah Zea. Zea antusias dengan pria yang bisa dibilang serba kekurangan namun memiliki kelebihan tersendiri. Juga pria yang memberikan rasa nyaman dan aman.


Keduanya saling bercanda tawa sampai tak terasa waktu sudah lama berlalu hingga senja matahari menghilang. Membuat Alvin dan Zea harus berpisah.


Zea yang sudah kembali ke vila merasa heran karena ada deru mobil dari luar. Zea mengintip dari balik jendela dan melihat siapa yang datang. Zea menuruni tangga dengan cepat, membukakan pintu.


Jglekk


"Zea!" pekik mereka berhambur memeluk Zea.


And, "Cut!"


"Kerja bagus semuanya!"


"Untuk hari ini cukup sampai disini, kita makan malam dulu" ucap Pak Burhan. Membuat semuanya bersorak.


Zea yang merasa lelah duduk disofa. Pak Burhan memberikan nasi kotak juga botol mineral kepada mereka masing masing.


Sofa sedikit bergoyang karena Alvin duduk disamping Zea. Ia membenarkan anak rambut Zea yang menutupi wajahnya, menyelipkan ketelinga.


Zea tersenyum kearah Alvin. Pertengkaran singkat keduanya tadi dianggap seakan tak pernah terjadi, karena Alvin sudah tak membahasnya lagi.


"Makan di balkon atas yuk!" ajak Alvin. Zea pergi dengan Alvin menuju balkon dengan nasi kotak dan air mineral ditangan masing masing.


Dibalkon Zea dan Alvin duduk dikursi panjang yang terbuat dari kayu, menghadap langsung ke depan hamparan tumbuhan yang tersorot cahaya bulan.


Zea membuka nasi kotak. Mengeluarkan sendok dari dalam plastik. Zea dan Alvin melahap makanan masing masing. Tak ada percakapan antar keduanya, mereka sibuk dengan makanan masing masing. Aktivitas keduanya sedari tadi membuat keduanya sama-sama kelelahan.


Zea menyuapkan sesendok demi sesendok kedalam mulutnya, kemudian meletakan sendoknya karena tenggorokannya terasa kering. Ia mengambil botol mineral mencoba membuka botol mineral yang masih tersegel. Alvin yang merasa Zea kekusahan tentu tak membiarkan begitu saja. Dia mengambil botol mineral itu dan membukanya untuk Zea.


"Makasih" ujar Zea, kemudian meminum air pemberian Alvin. Setelah itu keduanya kembali melanjutkan makan, setelah selesai mereka membuang nasi kotak ketempat sampah yang tersedia dibalkon.

__ADS_1


Suasana yang damai membuat Zea menyandarkan kepalanya didada Alvin. Alvin tak diam saja, ia merengkuh pinggang Zea. Posisi mereka terlihat seperti Alvin memeluk Zea dari belakang dengan satu tangan.


Keduanya menikmati pemandangan bulan didepan mereka. Bulan yang bersinar terang, berbeda dengan suasana ditempat mereka berada.


"Alvin" panggil Zea lirih.


"Ya!" jawabnya singkat.


Zea ingin bicara namun ragu, "ehm soal gaya bicara! gue- ah! aku, bakal coba merubah gaya bicaraku denganmu" ungkap Zea.


Alvin menghela nafas berat, "hah! Kamu gak perlu mikirin itu lagi. Jangan di paksa!"


"Gue akan belajar supaya terbiasa! Untuk sekarang gue bakal bicara aku-kamu kalok berdua aja. Gak papa kan?" pinta Zea dengan wajah mendongak menatap wajah Alvin yang masih dalam balutan makeup dan kacamata membuat wajahnya menjadi seperti pertama kali bertemu.


Alvin terpaku akan wajah Zea. Ia menatap Zea yang matanya yang sayu, namun terlihat indah. Memegang pipi Zea dengan fokus ke kedua bola mata Zea. Dibawah sinar bulan kedua anak manusia ini sama sama terhanyut oleh perasaan.


Bibir keduanya menyatu, tak seperti dimobil. Alvin *****@* bibir Zea dengan penuh kelembutan dan perasaan mendalam. Zea semakin terbuai tanpa sadar mengalungkan tangannya dileher Alvin.


"Zea mana sih!" gangguan kembali terjadi dan pengganggu itu adalah kedua sahabat Zea. Suara Icha terdengar dari luar membuat Zea panik.


Zea mendorong dada Alvin menjauhkan wajah mereka. Alvin hanya bisa menahan kekesalahnya. Mata Alvin melihat bibir Zea. Ia maju kearah gadis itu, mengusap saliva yang tertinggal dibibirnya. Kemudian menjauhkan dirinya dari Zea sebelum kedua sahabat Zea masuk kedalam.


"Zea! Dicariin juga, malah asik berduaan disini" keluh Icha.


"Kenapa Cha, Key??" tanya Zea sambil berdiri mendekat ke mereka.


"Buru buru banget sih Cha" serunya.


"Yaiyalah, kalok gak para nenek lampir itu keburu ngambil kamar yang bagus!"


Ketiga gadis itu asik memilih milih kamar. Sedangkan Alvin yang ditinggal begitu saja, turun kebawah ketempat para laki laki yang menyiapkan karpet untuk tidur karna kamar didalam Vila tidak cukup.


Alvin berjalan kearah bawah menatap sekitar tak mendapati teman-temannya disana. Kemudian ia kearah kamar mandi untuk mencuci mukanya.


Dirasa wajahnya sudah bersih, ia keluar dari vila setelah melihat deretan pesan dihpnya. Alvin berjalan menyisiri kebun, sambil mencari cari. Kemudian Ia melihat sebuah post ronda disana dan menghampiri.


"Woyy Al! Mana Zea?" tanya Satya.


"Divila" jawabnya cuek. Duduk bergabung dengan mereka.


Alvin memperhatikan barang ditengah tengah mereka, "dapet dari mana?" tanya Alvin menunjuk deretan alkohol dan vape aneka rasa yang terkumpul disana dengan dagunya. Tak hanya itu disana juga ada camilan sebagai pendamping.


"Dibawain anak anak!" jawab Geo. Anak anak yang dimaksud adalah anggota Aodra yang lain.


Mereka duduk melingkar, menikmati rasa Vape yang berbeda beda.

__ADS_1


"Lo ikut nge-drift Al?" tanya Kenan pada Alvin.


"Gak tau, gue ngikut Zea!" jawabnya.


"Udah jadi bucin lo, ngikutin mulu!" ejek Satya. Disambut tawa oleh yang lain.


"Ya jelas, dia kan penerus om Exel yang bucin ke tanmi"


Ia tak membalas perkataan mereka. Memilih fokus ke handphonenya melihat laporan yang terkirim ke alamat email nya.


"Perusahaan aman Ge?" tanya Alvin masih fokus ke benda kotak yang ia pegang.


"Aman!"


"Lo mau gabung nongkrong atau mau bahas kerjaan Al! Dasar bucen!" keluh Julian membuat Alvin menatap tajam pria itu.


Alvin menyimpan handphonenya, "kemari lo!" Julian merinding dan beranjak dari sana berusaha kabur. Tapi bajunya dipegang oleh Satya membuatnya tak bisa lari.


"Sat!" umpatnya.


Alvin mencengkeram leher Julian dengan lengannya membuat yang lain tertawa.


"Ampun king ampun" seru Julian. Alvin tak memperdulikan dan berjalan kearah kubangan lumpur didekat pos ronda. Mendorong Julian kesana membuat tubuh Julian penuh akan lumpur.


"Bhahahaha.." tawa mereka meledak.


"Sialan" umpat Julian.


Satya merasa tak tega, mendekat kearah Julian mencoba menolong laki laki itu. Ia menyodorkan tangannya dan diterima oleh Julian. Saat Satya ingin menarik Julian, Julian malah menarik balik Satya. Alhasil Satya juga ikut bermandikan lumpur. Kacau sudah penampilan keduanya.


"Sialan lo Jul, ditolongin malah narik gue balik" kesal Satya mencoba berdiri.


"Salah lo tadi narik gue, sekarang senasib kan kita!" ucap Julian puas.


Alvin tak merasa bersalah sedikitpun pergi meninggalkan mereka, "Mau kemana Al?" tanya Geo sedikit berteriak.


"Vila" jawabnya tanpa berbalik.


"Lo pada, mau kemana?" tanya Geo melihat Julian dan Satya ikut pergi.


"Vila lah, gak lihat kita udah kayak orang orang sawah gini!" seru Satya.


"Idih loe aja kali!" sewot Julian. Mereka berdua berjalan kearah vila dengan pakaian mereka yang sudah lusuh karena lumpur. Kenan dan Geo mengikuti dari belakang.


TBC

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2