My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
104. Membuat onar


__ADS_3

Satya melajukan kendaraannya tanpa arah.


"Mau kemana Sat?" tanya Julian di belakangnya.


"Cari tuh cewek" jawabnya


"Ha? Lo mau cari cewek yang bully Icha. Mau cari kemana? Gila lo" ujar Julian berseru.


"Ya gue cari kemana aja! Sekolahnya mungkin" balas Satya


"Gila! Jam segini mah sekolah udah sepi! Aneh aneh aja lo! Balik ke basecamp aja. Buruan!" ujar Julian menepuk-nepuk bahu.


"Gak gue mau cari tuh cewek! Lo turun aja, naik angkutan umum, balik ke basecamp sendiri! Lagian lo ngerecokin gue mulu dari tadi" keluh Satya mendengus.


"Dih! Geo suruh gue ikutin lo!"


"Mau aja lo disuruh suruh!" balas Satya mengejek.


"Dasar, teman biadab! Nggak ngehargain gue banget sih lu!" Julian menonyor kepala Satya yang terlindung helm.


"Justru gue ngehargain lo makanya lo gue suruh lo balik!" bela Satya.


"Serah dah! Udah ayo balik aja ke basecamp! Besok deh gue bantuin lo selesaiin masalah ini. Lagian lo kan nungguin informasi detailnya, siapa aja yang terlibat! Mereka juga gak bisa kabur kan dari jangkauan lo!" tegur Julian.


Satya terdiam akan ucapan Julian. Ia membenarkan apa yang Julian katakan, tapi hatinya masih gelisah. Ia kembali mempertimbangkan apakah ia harus mencari sekarang atau menundanya.


"Njirr, kebanyakan mikir! Buruan balik ke basecamp. Gue mau tidur, capek gue!" tutur Julian setengah berteriak.


"Cih, Oke!" Satya akhirnya mengalah dan menuruti kemauan pria dibelakangnya itu.


Motor mereka akhirnya kembali kearah basecamp Aodra berada. Satya hanya bisa termenung disepanjang jalan yang ia lewati.


Mereka sampai di basecamp Aodra. Setelah sampai disana mereka berjalan kearah ruangan yang sebelumnya mereka gunakan. Saat mereka sampai, Julian langsung merebahkan dirinya di sofa diikuti Satya.


"Gimana?" tanya Geo yang masih berada disana bersama Kenan.


Satya yang ditanya, diam tak membalas. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa memegang kepalanya yang kini berdenyut. Ia pusing akan semua hal yang terjadi. Tubuhnya pun juga sudah lelah akibat aktivitas yang ia jalani sedari pagi hingga kini.


"Gue gak tau harus gimana!" tutur Satya dan yang lain mendengarkan.


"Gue gak tau harus gimana ngehadapin Icha nanti! Gue pusing!" ujar Satya mengeluarkan keluh kesahnya.


Mereka menatap Satya dalam.


"Lebih baik lo selesaiin masalah pembullyan ini dulu. Setelah itu baru lo ngomong berdua dengan Icha!" saran Geo.


"Ya! Gue akan coba menghindar dari dia sampai masalah ini selesai" Satya menghela nafas berat.


"Stay strong dude!" ujar mereka menyemangati.


"Yang semangat dong Sat. Loyo banget sih lu! Laki kok loyo gitu, kek eneng eneng biduan!" canda Julian membuat mereka terkekeh.

__ADS_1


"Cih rese lo!" balas Satya menimpuk Julian dengan bantal sofa.


...****************...


Keesokan harinya Satya berangkat kesekolah. Saat ia berpapasan dengan Icha. Mereka tak saling bertegur sapa dan menghindar dari pandangan masing masing.


"Jul!" panggil Satya.


"Kenapa?" tanyanya.


"Ikut gue selesaiin nih masalah, gue akan cari perhitungan sama orang orang itu!" Satya menggertak gigi dengan geram.


"Ha? Sekarang?" tanyanya.


"Tau depan!" jawabnya.


"Ohw oke!" balas Julian masih diam.


"Njirr, iya sekarang buruan! Rese banget sih lo" Julian tertawa dan segera bangkit.


"Mau kemana?" tanya Kenan bersama Geo yang baru saja datang selepas dari kantin.


"Cabut!" jawab Satya.


Geo dan Kenan kemudian saling bersitatap.


"Kita ikut!" ujar Geo.


Mereka kemudian pergi ketempat parkir mengambil motor masing masing. Motor Satya melaju dengan cepat diikuti yang lainnya.


Ia pergi kesalah satu sekolah yang tak jauh dari Immanuel high school berada. Ia akan membuat onar disana.


Kemarin, terpaut satu jam selepas ia dan Julian mendatangi Bastian. Informasi detailnya yang Satya inginkan sudah di kirimkan mengingat ketua dari Bastian itu sedang dalam kondisi bersenang senang. Saat itu juga Satya ingin mendatangi tempat para pembully itu berada namun dicegah oleh ketiganya mengingat Satya yang terlampau emosi setelah mendapat detail pembullyan nya bahkan hingga vidionya. Membuat Satya merah padam.


Kini Satya diikuti Julian, Geo, dan Kenan masuk kedalam kawasan sekolah para pembully itu. Motor mereka masuk kedalam sekolah tanpa mempedulikan satpam yang ada di depan gerbang. Satya yang sudah menahan diri sedari kemarin tidak memperdulikan para murid yang sudah berkeliaran disekitar melihat kearah mereka. Ia masuk kedalam sekolah membuat para murid disana kaget dan bingung karena adanya mereka.


"Eh eh itu bukannya geng Aodra ya?"


"Eh iya, itu Julian sama Satya kan!" ujarnya teman disebelahnya. Karena diantara mereka Satya dan Julian lah yang paling sering bersosialisasi di sosial media yang membuat mereka populer dimana mana.


"Bener itu mereka! Ngapain ya mereka disini?"


Para murid murid disana saling berbisik dan saling menyebarkan satu sama lain membuat semakin banyak orang berdatangan.


Satya terus berjalan dengan raut wajah menahan emosi. Ia masuk kedalam salah satu kelas sambil melihat sekitar yang nampak ramai, para siswa siswi yang berdatangan.


Mata Satya mengedar di seluruh kelas.


"Satya!" panggil seorang gadis yang baru saja masuk kedalam kelas setelah mengetahui kedatangan Satya dan anggota geng Aodra yang lain. Apalagi yang dimasuki adalah kelasnya itu artinya Satya datang kemari untuk mencarinya.


"Satya! Kamu kok disini? Kamu nyariin aku ya?" ujar gadis itu dengan percaya diri sambil tersenyum menunjukkan pesonanya pada Satya.

__ADS_1


Ia melihat gadis itu dengan tajam sambil menelisik. Ia juga melihat kearah teman teman gadis itu yang juga ikut terlibat. Serta dibelakang para gadis itu juga ada beberapa pria yang di informasikan selalu membantu gadis itu sedari mereka masih disekolah yang sama.


"Lo!" ujar Satya menjeda ucapannya.


"Ya kenapa?" balas gadis.


Satya mendekat kearah gadis itu hanya menyisakan sedikit jarak. Para gadis yang menonton disana seketika menjerit melihat hal itu.


"Kyaa! Beruntung banget sih dia!"


"Sumpah gue iri!"


Gadis yang sedang dibicarakan semakin melebarkan senyuman dengan hati yang berbunga bunga.


'Iri kan kalian semua, tentu aja gue gitu!' ujar gadis itu bersorak dari dalam hati. Ia masih menjaga image di hadapan Satya dan anggota geng Aodra yang lain.


"Kami cari aku? Kenapa?" tanyanya mendongak karena Satya yang lebih tinggi darinya.


Satya memegang pundak gadis itu membuat jantung gadis itu semakin berdetak cepat. Satya menatap tajam kearahnya. Tiba tiba pegangan dipundak gadis itu berubah menjadi cengkraman


"Aww Satya! Sakit!" pekik gadis itu membuat murid murid yang ada disana heran.


"Oii apa yang lo lakuin?!" sentak seorang pria dengan nada tinggi, yang terus mengekor pada gadis itu. Ia berjalan mendekat namun ditahan oleh Julian.


"Tahan, masih belum giliran lo!" ujar Julian dengan senyuman.


Beralih ke Satya. Ia memegang pundak sang gadis erat membuatnya merintih dan memegang tangan Satya hendak menyingkirkan.


"Satya lepasin! Sakit" ujarnya.


"Sakit lo bilang?" gadis itu mengangguk sebagai jawab.


Satya mencoba menahan diri karena gadis didepannya ini adalah seorang perempuan.


"Terus apa yang lo lakuin ke teman masa kecil gue itu gak bikin dia sakit, Ha?!" ujar Satya dengan nada membentak diakhir.


Gadis itu seketika membelak akan apa yang Satya ucapankan. Satya tau, batinnya bergemuruh.


"Bang*sat! Berani beraninya lo lakuin itu kedia. Sialan! *****!" bentak Satya mendorong gadis itu membuatnya jatuh.


Sontak apa yang Satya lakukan membuat semua orang tercengang dan tegang seketika.


Mereka yang awalnya berisik kini diam dan bungkam.


"Breng*sek! Berani beraninya lo dorong dia, pengecut!" sentak pria yang ditahan Julian, memberontak namun masih bisa dicegah oleh Julian.


"Lebih baik lo diam" ujar Julian pada pria itu dingin.


"Lo pikir lo akan baik baik saja setelah ini!" ujar Julian kembali menatap pria itu. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Satya yang kini sedang dilanda amarah pada gadis yang tersungkur dibawah.


TBC

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2