My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
197. Kesepakatan


__ADS_3

Author POV


Zea sudah berpisah dengan Alvin untuk sementara.


Alvin didalam mobil bersama Joe sedang diam tak bicara sejak tadi.


"Tuan! Sikap nona tadi sudah keterlaluan. Terlihat jelas kalau dia sedang menghindari anda" tutur Joe merasa geram akan ulah Zea tadi.


"Gue tau! Gue bisa lihat" ujar Alvin.


Ia bersidekap menyandarkan diri di jok mobil.


"Apa anda akan membiarkannya seperti itu tuan? Apa anda tak langsung saja membawanya pergi!" ujar Joe merasa aneh dengan sikap Alvin saat ini.


Saat tiba disini dan menemukan Zea, Joe sudah menyiapkan segalanya termasuk jika ia ingin membawa Zea kembali dengan cara penculikan. Semua sudah siap dan anak buahnya juga sudah standby sedari tadi di mall, hanya menunggu perintah Alvin. Namun Alvin bahkan tak berkata apa-apa sedari tadi. Bahkan membiarkan gadis itu pergi.


"Tidak perlu! Dia sudah membuat kesepakatan denganku Joe! Dan itu berhasil membuat ku tertarik" ujar Alvin memberitahu Joe.


Joe terheran, kesepakatan seperti apa yang Zea tawarkan hingga Alvin tak jadi menangkap gadis itu.


Alvin tersenyum sinis melihat kearah luar kaca mobil membayangkan sikap Zea saat mereka bertemu tadi.


...****************...


Zea sedang dalam perjalanan pulang kerumah. Didalam mobil tak ada yang bertanya sama sekali karena mereka ragu. Hingga salah satu diantara teman Zea buka mulut karena sangat penasaran.


"Ra! Tanya boleh?" tanya Febi mendekat kearah Zea yang menyetir di depan.


Zea menoleh melihat siapa itu, "Boleh! Tanya aja" jawab Zea.


"Em maaf nih Ra! Aku masih ragu. Itu tadi beneran pacarmu Ra?" tanyanya sangat penasaran.


Zea mencerna pertanyaan yang dilontarkan Febi, "Sepertinya begitu" jawab Zea dengan ragu.


"Kok gitu?" Dea menyahut akan jawaban Zea yang tak pasti.


"Em gini dulu emang sempet pacaran! Tapi sering benget berantem dan terakhir kali kami berantem hebat. Aku sendiri juga bingung! Walaupun kelihatannya situasi diantara kami sudah kayak orang putus tapi kenyataannya gak ada akhir bagi kami. Gitulah kira kira!" jawab Zea menjelaskan. Tapi seketika Zea tersadar, kenapa ia harus menjelaskan hal ini pada mereka. Apa ia sudah merasa akrab dengan mereka hingga harus memberitahukan hal ini.


"Ohh..." mereka ber-oh ria mendengar penjelasan Zea.


"Oh ya Ra! Tadi dilihat lihat, pacar kamu itu orang kaya ya? Gampang banget ngasih ini itu. Bahkan sampek dibeliin handphone segala. Mahal kan itu" ujar Maya menatap handphone baru Zea yang terletak di tengah tengah dashboard mobil.


Zea tak bisa menjawab untuk hal yang satu ini.


"Enak banget punya pacar kaya! Aku jadi pengen!" ujar Maya menyahut.


"Yeiyy.. Dasar!" Febi, Dea, dan Ayu dengan serentak menoyor Maya, gemas akan pemikiran gadis itu.


"Ra, aku juga penasaran. Kamu bilang cowok itu pacarmu kan? Terus cowok serem yang satunya itu siapa? Kok aneh banget! Pakek panggil panggil tuan segala" tanya Dito di sebelah Zea ikut penasaran. Dito sedari tadi di mall diam hampir tak bersuara karena secara sadar ia merasakan aura permusuhan dari kedua pria kenalanan Zea itu.

__ADS_1


"Oh ya bener juga! Cerita dong Ra! Aku jadi kepo" ujar Dea dan yang lain dibelakang ikut heboh.


Zea berpikir sejenak, rasanya sekarang tidak enak jika membicarakan kehidupan pribadi pada orang lain. Tapi tatapan mereka seakan mengacam dirinya untuk bercerita.


"Joe itu asistennya Alvin. Bisa di bilang semacam teman dekat yang merangkap jadi bawahan! Gitu!" ujar Zea menjawab mereka dengan singkat. Zea tak ingin memberitahu lebih dalam.


"Ohh kayak di drama drama gitu ya!! Widih keren dong!" puji Febi dan Maya.


'Keren apanya lihat aja betapa kakunya mereka' batin Zea menanggapi pujian Maya dan Febi dalam hati.


"Em btw! Soal kejadian hari ini kalian jangan bilang siapa siapa ya. Apalagi orang tuaku! Takut mereka khawatir kalau ada teman lamaku jauh jauh nyariin aku" pinta Zea pada mereka selagi menyetir.


"Oh oke! Kami gak akan bilang! Kamu tenang aja. Ya kan?" Ayu menanggapi kekhawatiran Zea.


"Iya Ra! Gak usah khawatir. Kami tutup mulut" lanjut Dea.


Hupp, Maya dan Febi mengunci mulut mereka rapat. Memastikan pada Zea bahwa mereka tak akan bicara.


Zea yang melihat itu dari spion tengah merasa lega walau ia harus sedikit memperhatikan.


Zea kemudian kembali fokus mengendarai mobil mengantar mereka pulang.


...****************...


Zea tiba dirumah setelah mengantar pulang teman temannya.


Ia masuk ke kamar dengan kantong belanjaan ditangannya.


Ia ingat semua hal yang ia bicarakan dengan Alvin saat berdua di mall tadi.


Flashback


Zea dan Alvin duduk saling berhadapan. Pria itu menatapnya dengan tajam.


"Bicara!" ujar Alvin memulai percakapan lebih dulu. Ia masih memberi kesempatan untuk Zea membela diri. Baik sekali bukan??


Zea menghembuskan nafas panjang, mau dipikirkan bagaimanapun. Ia memang tak bisa lepas dari Alvin.


"Ayo buat kesepakatan!" ujar Zea akhirnya berbicara.


"Oh!" Alvin mengerut. Bersidekap dimeja melihat Zea dari dekat.


"Katakan" ujar Alvin menantang.


Zea ikut bersidekap melihat kearah Alvin dengan jelas.


"Ayo mulai dari awal!" ujar Zea dengan yakin, karena ia tak lagi memiliki jalan untuk mundur.


Alvin sedikit tersentak dengan yang Zea katakan.

__ADS_1


Alvin tersenyum smirk, "Mulai dari awal!" gumam Alvin menyukai kata kata itu tapi di benaknya kata kata itu benar benar tak realistis untuk diwujudkan.


"Dari awal ya? Kenapa kamu tidak sedari awal mengatakan hal ini? Kenapa baru sekarang, setelah kamu kabur!" ujar Alvin menyindir Zea.


"Itu itu, karena kamu tak memberiku pilihan! Kamu yang memaksaku tinggal dan kamu tak mau melepaskan. Maka dari itu aku menyerah setelah menyadarinya. Jadi ayo mulai dari awal. Aku tak bisa jadi gadis penurut tapi aku bisa jadi gadis yang baik. Akan ku buat hubungan kita seperti hubungan biasa. Akan ku yakinkan kembali orang tuaku untuk menerimamu kembali. Kita anggap kejadian kejadian sebelumnya seperti tak pernah terjadi! Ayo lakukan itu!!" ujar Zea meyakinkan Alvin.


"Cih! Apa kata katamu itu bisa dipercaya?!" tanya Alvin dengan curiga. Ia sudah muak karena rasa cintanya dan belas kasihnya pada Zea yang selalu membuat Zea lepas darinya.


Zea terdiam ditempat. ia berfikir, 'Apa yang bisa ia berikan pada Alvin untuk membuktikan bahwa ia serius kali ini?'


"Aku akan percaya asal kamu memberikan dirimu sebagai jaminan!" ujar Alvin tiba tiba membuat tubuh Zea menegang.


"Maksud kamu?" tanya Zea menatap Alvin tak mengerti. Zea menatap Alvin seksama, berharap yang ia pikirkan sekarang berbeda dengan yang Alvin maksud.


"Dirimu! Semuanya! Berikan sebagai jaminan. Apa kamu berani!" tantang Alvin menguji Zea.


Zea terdiam, ia berpikir keras dalam batinnya apakah ia harus menyetujui permintaan Alvin. Tapi jaminan yang diinginkan Alvin rasanya mustahil untuk ia berikan.


"Kenapa diam? Tak sanggup?" tanya Alvin kembali menantang.


Zea menghirup nafas berat.


"Apa tak ada cara lain selain itu?" tanya Zea mengalah. Zea menemui jalan buntu, bagaimana ia berpikir. Ia tak bisa menemukan cara yang sepadan dengan yang Alvin mau.


"Lihat? Sekarang aja kamu mundur! Lagian apa kamu memiliki hak untuk tawar menawar dalam kondisi sekarang?" tekan Alvin pada Zea.


Zea terkesima akan nada yang Alvin buat seakan pria itu serius ingin segalanya darinya.


Zea menunduk, tangannya yang semula diatas meja turun ke pangkuannya. Zea mengepalkan tangannya erat. Batinnya menolak dengan keras untuk menyetujui kemauan Alvin.


"Bagaimana?" desak Alvin.


"Aku.. Aku" Zea dengan gagap ingin menjawab Alvin.


"Sudahlah!! Aku juga tak ingin menambah kesan buruk dimatamu. Sudah cukup kamu menghilang selama ini. Begini saja! Cukup seminggu sekali, temui aku di mall ini. Aku akan berkunjung setiap Minggu dan kamu harus datang apapun yang terjadi. Sekali kamu tidak datang, ku bawa kamu pergi dari sini!" ujar Alvin serius.


'Seminggu sekali!' batin Zea mencerna setiap kalimat yang Alvin lontarkan.


"Terus jangan lupa sampai kita lulus, kamu harus berhasil membujuk orang tuamu untuk kembali menerimaku. Aku mau kamu disisiku untuk saat itu dan seterusnya. Tak ada keluhan dan bantahan. Itu batasanku" ujar Alvin dengan wajah yang teramat datar, menjabarkan semua yang harus Zea perhatikan dan lakukan.


"Oke! Aku setuju. Akan ku lakukan seperti kemauanmu!" ujar Zea mengakhiri permasalahan.


Setelah itu ia dan Alvin berbincang bincang tentang hal remeh. Seperti kabar Zea, apa yang Zea lakukan dan dengan siapa saja Zea berinteraksi selama ini.


Hingga mereka menyudahi karena Zea tau teman temannya itu menunggu dan yang menanti adalah kejutan dimana Joe bersikap kasar pada Ayu.


Flashback off


TBC

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2