
Seorang wanita masuk kedalam kamar yang Zea tempati. "Permisi nona! Saya pelayan disini yang ditugaskan menggantikan tuan Joe untuk sementara waktu selama beliau pergi!" ucapnya.
"Emang Joe kemana? Berapa lama?" tanya Zea seakan dia memang tidak tahu Joe pergi.
"Tuan Joe ijin pergi karena ada urusan mendadak selama 2 hari kedepan" dan soal kepergian tuan Joe, saya tidak tahu menahu tentang itu nona!" jawab wanita itu. Zea mengangguk tidak ingin tahu lebih lanjut.
"Ohw" hanya itu saja responnya mengenai Joe.
"Maaf nona, Untuk sarapan pagi kali ini. Apa yang ingin anda makan? Maaf saya masih belum cekatan seperti tuan Joe!" Wajah wanita itu menegang, takut ia salah bicara dan dianggap tidak becus.
"Terserah, Saya omnivora kok jadi bisa makan apa aja, asal jangan di kasih kayu sama batu!" ujar Zea dengan candaannya.
Wanita itu menampilkan senyum menanggapi candaan Zea.
"Akan segera saya siapkan!" Wanita itu berlalu pergi meninggalkan Zea.
Hati Zea saat ini sedang berbunga bunga. Ia tak sabar menunggu waktu itu tiba. Waktu dimana kebebasannya kembali.
selama berjam berjam sambil menunggu hari kian menggelap. Zea melakukan aktivitas didalam kamarnya tanpa menimbulkan kecurigaan apapun. Dan pada malam harinya setelah makan malam, Zea meminta wanita yang menggantikan Joe itu untuk tidak mengganggunya, apalagi masuk kedalam kamarnya. Karena Zea beralasan, dirinya ingin tidur lebih cepat. Wanita itu mengangguk' sebagai balasan. Menurut perintah Zea.
Setelah memastikan bahwa semuanya aman terkendali. Zea telah bersiap dengan pakaian serba hitam ditubuhnya. Ia melakukan itu agar dirinya dapat membaur dengan gelapnya malam.
Untuk yang terakhir kalinya Zea mengendap endap keluar dari kamar. Ia mengawasi, menengok ke kanan dan ke kiri guna memastikan apakah ada yang lewat.
"Aman!" serunya tak mendapati siapapun didalam vila. Zea masuk ke dalam ruangan melarikan dirinya.
Ia kembali masuk lebih dalam keruangan itu, kearah kamar mandi yang merupakan kunci utama dimana dirinya bisa kabur. Ia menunggu beberapa saat sembari berdoa agar semua penjaga di sekitar tempat itu pergi.
Zea memejamkan matanya, menangkup kedua tangannya didada dengan hati yang cemas dan berharap.
'Hus hus! Pergi dong please!' batin Zea memohon.
"Oyy! Kita disuruh ngumpul nih, ada masalah sama markas!" Zea sontak membuka matanya lebar dan membesitkan senyuman diwajahnya.
'Akhirnya!' batin Zea berseru.
Derapan kaki beberapa laki laki kian menjauh. Zea membuka sedikit jendela itu, ia mengintip kearah luar jendela, memastikan bahwa sekarang sudah aman. Dan ya! Disana sepi tidak ada penjaga sama sekali.
Zea membuka lebar pintu jendela. Ia mengeluarkan tubuhnya melewati jendela itu dengan susah payah. Untung tubuhnya muat untuk keluar dari sana.
Brak
"Aww!"
__ADS_1
Zea terjatuh dari sana. Membuat Zea reflekk membekap mulutnya karena bibirnya tanpa sengaja bersuara. Ia segera bangkit dari sana dan menutup jendela dengan rapat.
"Hey bro lo denger gak ada suara kayak jatuh!" Zea sontak menoleh kesumber suara. Suara langkah kaki itu datang.
Zea yang panik, lari dan bersembunyi di balik pohon besar yang ada disana, ia duduk berjongkok menyamarkan dirinya.
"Ngaco lo bro! Orang gak ada apa apa juga. Udah yok pergi, jangan sampe kita kena bogeman gara gara telat!" Teman disebelahnya menggaruk kepalanya.
"Kayaknya bener, gue salah dengar!" ujar pria itu. Setelah itu langkah kaki keduanya kian menjauh membuat Zea bernafas panjang.
"Huuuhhh!"
Zea mencoba menetralisir ketegangan di dirinya. Ia menatap kearah depan, sebuah wilayah yang ditumbuhi pohon pohon besar dan tinggi.
Tubuhnya bergidik ngeri membayangkan dirinya menerobos area itu. Tapi matanya menyala menghilangkan rasa takut untuk maju kedepan. Kaki Zea melangkah kedepan masuk kedalam.
"Oke! Gue bisa!"
Zea terus melangkah lebih dalam. Ia menatap ke sekeliling mencoba mencari apakah ada petunjuk untuknya bisa keluar dari sana. Semacam tanda begitu.
"Ini kearah mana ya?" bingung Zea mengusap kedua bahunya. Udara dingin malam terasa menembus kulitnya. Dan kini dirinya terjebak diantara pohon pohon tinggi.
"Gue lupa bawa jaket lagi, gak mungkin kan gue balik" Zea menoleh kebelakang. Dan..
Jantung Zea seakan meledak Saat Zea kembali memandang ketempat semula. Mata Zea membelak fokus ke satu arah. Ia menemukan apa yang ia butuhkan.
"Ketemu!!" ujar Zea girang tertahan. Ia membekap mulutnya untuk tak berteriak.
Ia berjalan mendekat ke salah satu pohon yang tadi ia tatap dengan langkah cepat, setengah berlari. Tangannya bergerak memegang tanda panah yang menunjukan dua arah.
Kedua matanya berkaca kaca hingga buliran bening itu keluar dari sudut matanya.
"Hiks hiks..." Zea terisak beberapa saat sebelum ia menghapus air matanya itu. Ia mengepalkan tangan menatap tajam kearah tanda didepannya.
Ia menoleh kearah dimana tanda itu berada.
"Jika gue kesana, gue yakin itu menuju kearah penjara itu. Tapi sebaliknya.." Zea menoleh kearah berlawanan. "Jika gue kesana, gue bisa keluar dari sini!" ucap Zea penuh tekat.
"Semangat!"
Zea memulai langkahnya. Ia tidak berlari, ia juga tidak juga berjalan seperti biasa. Ia berjalan cepat menemukan tanda demi tanda yang berada di pohon.
Zea yakin dirinya berada di jalan yang benar.
__ADS_1
"hosh hosh hosh!" deru nafas Zea ngos-ngosan. Padalah dia sudah mengatur agar dirinya tak sampai habis tenaga. Tapi tenaga masih saja terkuras. Apa mungkin ini efek dari terkurung selama seminggu tanpa ia bisa berolahraga sedikitpun? mungkin saja begitu. Dan untung saja hari merahnya sudah berakhir, hingga ia tak perlu lagi merasa risih karena perjalanan yang ia lalui kini.
Zea terus berjalan hingga ia kelelahan. Ia menahan tubuhnya dengan meletakan telapak tangannya di pohon. Ia masih mengatur nafasnya. Paru paru dan jantungnya terasa sesak. Sudah berapa lama ia berjalan. Namun masih belum menemukan ujungnya.
Zea berhenti di sebuah pohon. Ia membalik badannya, menyandarkan dirinya dipohon. Ia kembali memejamkan mata sejenak, hingga dirasa nafasnya sudah tak lagi ngos ngosan. Ia membuka mata melangkah kakinya kembali. Perjuangannya masih belum selesai. Ia harus melanjutkan apa yang ia lakukan, tak ada jalan untuknya kembali.
Zea terus seperti itu. Saat ia lelah ia akan berhenti sebentar, kemudian kembali melangkah lagi. Dirinya tak lagi memperdulikan sekelilingnya yang terlihat seram, juga hawa dingin yang terasa dikulitnya. Hawa dingin itu sudah tak ada lagi, kini ia berkeringat akan rasa letih ditubuhnya yang kian memanas.
Kaki Zea yang terus berjalan, serasa ingin patah karena terus ia paksa. Rasa pegal, capek, letih, penat, dan keluh kesah yang ia rasakan kini Zea pending terlebih dahulu. Mata Zea hanya fokus kearah tujuan ia berada, walaupun matanya terkadang buram tertutup oleh keringat dan rambutnya yang berantakan.
Tak lama kemudian, Ia menemukan tanda panah lagi. Tapi ada yang berbeda dari tanda itu karena hanya menunjukkan satu arah saja. Pengelihatan Zea kian memudar karena matanya yang berembun. Zea mengusap matanya dan seketika matanya membola saat ia tersadar bahwa tanda itu seperti terputus begitu saja.
Tubuh Zea limbung kebawah. Ia terduduk di dekat pohon itu mengadah keatas.
"Uhhkk!" Dirinya ingin mengeluh karena petunjuk jalannya sudah hilang. Dan hanya menyisakan arah kembali ke penjaranya itu.
Rasa ngilu di kedua kaki yang ia abaikan kini mulai terasa. Badannya juga mulai merasakan rasa capek itu. Bahkan kini kepalanya juga ikut pusing. Untuk berbicara saja Zea tak bisa, tenaganya habis terkuras.
Zea menggigit bibirnya menyalurkan rasa lelah yang ia rasakan. Kedua mata Zea terpejam. Tangannya mengepal. Zea merasa mengantuk saat itu juga.
"I'm tired!" (Aku lelah) gumam Zea. Sampai pendengarannya menangkap sebuah suara membuat mata Zea terbuka dan membelak.
"Zea!" panggil orang itu seakan juga tersentak kaget.
Zea menoleh kearah pria itu sama kagetnya, bahkan ia tidak menyangka dia ada disini. Zea sontak bangkit tak memperdulikan rasa lelahnya. Ia mengambil langkah mundur, menjaga jarak dari pria itu. Zea menjadikan tangannya sendiri sebagi tameng.
"Zi, Zion!" panggil Zea menyebut nama orang itu. Otak Zea berfikir kenapa Zion ada disini? Tapi akibat rasa lelahnya itu, ia tak juga dapat jawaban.
"Ha-ha-ha, Kenapa kamu ada disini?" tanya Zion dengan smirk diwajahnya. Zea menggelengkan kepala, seakan tak percaya pria yang ia hindari dimasa lalu ada didepannya.
Mulut Zea bungkam tak menjawab pertanyaan Zion, Zea memilih menjaga jarak dari pria itu.
"Aku gak tau kenapa kamu ada disini? Tapi it's okay kalau kamu gak mau ngomong sekarang, toh juga nanti kamu akan bicara." Sekarang kamu Ikut aku_" Zion menangkap tangan Zea, menarik tangan Zea paksa.
"Lepasin gue, lepas!" pinta Zea berteriak mencoba meronta. Tenaganya masih kalah jauh dengan pria itu, apalagi kondisinya yang kehabisan tenaga seperti ini.
Zion menarik Zea kesebuah mobil yang tak jauh dari sana. Zea baru sadar bahwa jaraknya dengan pria itu cukup dekat. Saat Zea sampai tadi. Ia tak mendengar suara mobil yang lewat atau berderu, itu artinya Zion sampai lebih dulu.
Zea yang tak memiliki tenaga dengan terpaksa ia harus masuk kedalam mobil pria itu
'Apa yang sebenarnya terjadi?' tanya Zea dalam batin tak mengerti akan keadaan sekarang. Dadanya sekarang terasa amat sangat sesak dan kepalanya pusing tak bisa ia gunakan untuk berfikir kemungkinan yang ia hadapi sekarang.
TBC
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ