
Pada pagi hari, Alvin yang sudah bersiap dengan pakaian olahraganya turun dari tempatnya menginap menuju ke lantai bawah. Sengaja Alvin tidak mengajak Geo karena ingin melampiaskan harinya dengan berlarian diluar hotel. Menyelurusuri wilayah sekitar.
Nafas Alvin berhembus teratur seiring dengan langkah kaki cepat namun tak berlari yang ia lakukan. Alvin ingin membuat pikirannya jernih kembali, karena setelah ia bangun tadi, ia tak kunjung mendapatkan pesan dari Zea yang menanyakan apakah ia sudah sampai atau belum? Seakan gadis itu tak peduli akan dirinya.
Sudah hampir satu jam Alvin melangkah tanpa henti, akhirnya Alvin duduk di salah satu bangku taman, bukan! Lebih tepatnya jalan yang dipenuhi oleh pohon pohon tinggi yang berjajar yang ada di kota. Dengan banyaknya orang yang juga sedang berjalan jalan sambil menikmati pemandangan sekitar. Alvin duduk di salah satu bangku disana.
Alvin yang sedang memperhatikan pemandangan sekitar. Melihat bagaimana sepasang kekasih asik bercanda tawa menikmati indahnya kota Paris.
"Andai Zea disini!" gumam Alvin berharap.
Alvin menggelengkan kepala, bangkit hendak melanjutkan perjalanan kembali menuju hotel. Alvin kembali melangkah hingga tiba tiba langkahnya berbelok ke sebuah kafe yang tak jauh dari sana.
Alvin masuk kedalam memesan segelas kopi hangat untuk pagi hari. Alvin mengeluarkan uang yang sempat ia bawa walau tak banyak, menyerahkannya pada kasir.
Kemudian Alvin menunggu beberapa saat hingga kopinya diantarakan kemejanya.
Alvin menerima sambil melihat pemandangan diluar.
"Hey! Kamu yang waktu itu kan?!" ujar seorang gadis menyapa Alvin. Alvin menoleh melihat siapa kiranya yang berbicara padanya.
Alvin menatap gadis itu sekilas lalu membuang muka. Rupanya itu adalah gadis yang sama dengan gadis yang menumpahkan kopi ke pakaiannya.
Tanpa permisi gadis itu duduk di depan Alvin.
"Namamu Alvin kan?" tanyanya. Alvin tak menjawab memilih menyeruput kopi yang ia pesan. Zea masih menatap Alvin, kemudian matanya berubah sendu.
"Anu, buat sebelumnya, aku mau minta maaf sebesar-besarnya. Aku nggak bermaksud buat bajumu kotor seperti itu. Aku tidak sengaja karena waktu itu aku tersandung. Aku sangat menyesal!" ujarnya sambil memelas.
"Aku tahu kamu perwakilan dari Immanuel group, Please jangan libatkan perusahaan karena Itu murni kesalahan ku! kalaupun kamu mau kompensasi, aku bersedia berikan kok. Sebut saja berapa nilainya. Ya? Ya?" gadis itu memohon hendak meraih tangan Alvin namun Alvin dengan sigap menjauhkan tangannya.
"Tidak perlu! Itu masalah sepele dan tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan. Lagian saya juga sudah memberitahu tuan Eric tentang masalah itu, apa anda tidak mendengar?" ujar Alvin membalas dengan formal.
__ADS_1
"Aku tidak mendengar, namun apa benarkah kamu maafin aku?" Gadis itu menatap Alvin dengan mata berbinar, membuat Alvin mengangguk singkat. "Wah! Terima kasih, terima kasih banyak tuan Alvin! Terimakasih!" ucapnya berseru dengan ekspresi girang diwajahnya.
Alvin diam tak menjawab.
"Saya sudah cukup lama keluar dan saya mau kembali, kalau begitu saya permisi" ujar Alvin bangkit hendak pergi.
"Tunggu tuan Alvin!" ujar gadis itu menghentikan Alvin yang hendak pergi dengan kembali mencekal tangan Alvin. Alvin menatap kearah tangannya yang di pegang sang gadis.
"Maaf! Saya tidak sengaja" gadis itu melepaskan pegangannya tersenyum lebar pada Alvin.
"Em anu, begini! Bagaimana kalau sebagai ucapan terimakasih saya. Saya ingin mentraktir anda untuk breakfast bersama, apa anda bersedia tuan Alvin?" tanyanya berharap.
Alvin melirik kearah gadis yang menahannya kini, "Maaf saya tidak bisa, saya banyak urusan" jawab Alvin menolak ajakan gadis itu Alvin lantar pergi meninggalkan kafe. Tapi tak berhenti sampai disana sang gadis tadi menyusul.
"Bagaimana dengan makan siang atau makan malam? Saya benar benar tulus untuk meminta maaf pada anda tuan Alvin" ujarnya berdiri disampingnya sambil mengikuti langkah Alvin.
"Tuan Alvin!" panggilannya lagi.
"Diam!" bentak Alvin merasa resah akan ocehan gadis itu yang tiada henti.
Alvin menghentikan langkah kakinya menatap gadis itu tajam. Menghela nafas kasar untuk bersabar karena ini negara orang.
"Anda terlalu berisik nona! Lebih baik anda menghentikan ocehan anda itu dan berhenti mengikuti saya. Karena apa yang anda lakukan sekarang membuat saya muak! Jangan sampai karena kelakuan anda sekarang dapat mempengaruhi kerja sama bisnis perusahaan saya dan perusahaan yang mempekerjakan anda. Cukup sampai disini jangan mengikuti saya lagi, saya suda cukup bersabar" ujar Alvin langsung pergi meninggalkan gadis itu yang terdiam disana.
Gadis itu menatap Alvin yang menjauh, "Padahal gue bukan salah satu pekerja disana loh! Walau masih berhubungan sih. Sayang sekali!" ujar gadis itu kemudian berbalik pergi karena rencananya gagal.
Alvin yang kesal kembali ke hotel, menaiki lift sampai di lantai ia menginap.
"Habis dari mana Al?" tanya Geo yang berpas-pasan dengannya di depan pintu lift.
"Olahraga" jawab Alvin masih dengan rasa kesalnya berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
Geo yang merasa aneh mengikuti Alvin dari belakang dan secara tidak sadar pria itu ikut masuk ke dalam kamar Alvin.
"Kenapa lo?" tanyanya.
"Bukan apa apa" jawab Alvin mengambil botol minum yang tersedia disana.
"Jam berapa pertemuan dengan pihak sana?" tanya Alvin pada Geo setelah menyelesaikan rasa haus dahaganya.
"Nanti waktu jam makan siang! Masih sekitar 4 jam lagi" jawab Geo.
"Ohw" balas Alvin.
"Iya"
Kemudian keduanya saling diam tak berbicara.
"Ngapain lo masih disini? Lo keluar sana Ge! Gue mau mandi, ntar gue nyusul lo kebawah" tutur Alvin.
"Oh Oke! Kiraiin lo mau gue tungguin, yaudah gue tunggu dibawah kalau gitu" balas Geo keluar dari ruangan Alvin.
Alvin kemudian menujukan kamar mandi guna membersihkan diri. Karena masih ada beberapa jam lagi. Alvin menggunakan pakaian simple untuk breakfast atau makan pagi di lantai bawah. Dimana disana tersedia buffet untuk tamu hotel dengan berbagai macam hidangan yang bisa diambil sendiri sesuai kebutuhan.
Alvin menemui Geo yang sudah duduk di salah satu meja disana. Alvin yang bukan tipe pemilih makanan walau ada beberapa makanan yang memang tidak ia suka dalam batas wajar seperti sesuatu yang manis manis seperti cake dan lain sebagainya. Mengambil beberapa makanan yang ia sesuaikan dengan seleranya.
Alvin yang sudah mengambil makanannya. Menghampiri kearah Geo yang juga ikut makan. Walau ia bisa meminta diantarkan ke kamarnya namun sekali kali makan bersama seperti ini bukan masalah kan? Alvin menghabiskan makanannya, walau makanannya itu enak namun, Alvin lebih menyukai makanan yang biasa dibuatkan oleh sang mommy serta masakan yang pernah Zea buatkan untuknya. Mungkin masakan hotel Paris ini bukan seleranya atau Alvin saja yang dalam suasana hati yang kurang berkenan, hingga membuat rasa lidahnya berubah.
Tak mau terlalu memikirkan hal itu. Alvin yang sudah menyelesaikan makannya lalu kembali ke lantas atas menaiki lift bersama Geo.
Mereka kembali ke lantai atas menuju kamar Geo guna kembali membahas detai detail kecil yang nantinya bakal mereka butuhkan atau tanyakan dan sesekali mengobrol kecil seputar masalah Geng Aodra atau beberapa hal mengenai motor dan mobil yang mereka gemari.
TBC
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ