
Zea mengikuti langkah Alvin tanpa banyak bertanya lagi. Ntah kemana pria itu membawa Zea menurut saja, hingga Alvin membawanya kebalik bebatuan.
Zea masuk seperti melewati lorong. Hingga ia melihat apa yang disiapkan oleh Alvin. Ia terpanah melihat pemandangan didepannya.
Bahkan bibirnya terus berdecak kagum.
"Kamu yang menyiapkannya?" tanya Zea tak percaya. Ia sampai ingin berteriak karena terlalu bagusnya.
"Ayo!!" ajak Alvin menuntun Zea duduk.
Alvin menarik bangku, membiarkan Zea duduk sambil menikmati pemandangan pantai dengan lilin lilin kecil disekitarnya. Melihat bagaimana malam yang bercahaya dan hanya ada mereka berdua.
"Terimakasih" ujar Zea menatap pria itu dengan tulus.
Alvin sampai tercengang dibuatnya. Pria itu mengulas senyum manis seperti saat pertama mereka dulu bersenang senang.
"Oh ya, kapan kamu menyiapkan semua ini? Padahal baru tadi sore kamu datang?" ujar Zea bertanya karena penasaran.
"Oh, ternyata kamu tahu aku datang? Kupikir kamu lupa karena langsung menutup pintu saat aku datang" ujar Alvin bergurau tapi menjadi sindiran untuk Zea.
"Maaf! Aku tidak sengaja" ujar Zea merasa bersalah.
Alvin mengulurkan tangan, mendekat kewajah Zea.
ctakk
Jari Alvin menyentil dahi Zea membuat Zea membelak.
"Hukuman" ujar Alvin tersenyum smirk kearah Zea.
Zea yang melihat bagaimana senyum Alvin tak berani berkomentar, ia mengusap dahinya akibat sentilan Alvin. Sentilan Alvin tidak keras namun masih berasa di jidad Zea.
Zea hanya bisa mendengus melihat bagaimana Alvin mengerjainya.
Kemudian setelah beberapa saat Zea menoleh memandang ke samping, kearah pantai yang terlihat setengah jalan menuju hari yang gelap.
Angin berhembus kencang, membuat rambut Zea yang terurai panjang berterbangan.
Zea melirik kepada Alvin yang menatapnya.
"Kenapa?" tanya Zea merasa heran.
"Aku terpesona" jawab Alvin dengan jujur.
"Oh!!" Zea tersentak dan berseru dengan jawaban tak terduga dari Alvin. Seketika wajah Zea memerah.
"Fck*" batin Alvin tak tahan melihat Zea memerah karena dirinya.
Zea kembali melirik pada pria itu dan pandangan mereka bertemu.
Wajah cantik dan rupawan Zea menjadi perhatian Alvin sedari tadi.
Deg
"I am sorry!!" ujar Alvin.
Jantung Alvin berdebar dengan kencang. Lirikan mata Zea menembus jantungnya dengan cepat. Selalu saja seperti ini, tatapan Zea selalu membuatnya berdebar.
__ADS_1
"Aku sudah tidak tahan lagi!" ujar Alvin kemudian bangkit.
Kursi yang Alvin duduk jatuh. Alvin menghampiri Zea, membuat Zea terpanah.
"Oh!!" Zea memundurkan sedikit badannya ketika Alvin mendekat namun Alvin yang terhipnotis dengan cepat menubrukkan bibirnya dengan bibir Zea.
Tangan Alvin membelai kepala Zea agar gadis itu mendongak menatap dirinya.
Cup
Sentuhan lembut dari bibir Alvin membuat Zea terbuai akan suasana juga kehangatan dari lilin lilin yang menyala. Dengan sadar, Zea mentautkan tangan ke leher Alvin membuat Alvin semakin senang karena Zea memberikan respon.
Alvin dapat merasakan saat ini bahwa hati Zea sedang membalasnya. Membuat Alvin semakin bersemangat dengan kemungkinan yang ada.
Keduanya saling berciuman, hingga Zea menepuk nepuk dada Alvin karena ia sudah kehabisan nafas.
Alvin melepaskan serangannya pada Zea. Ia melihat bagaimana Zea yang menghirup nafas dalam akibat ulahnya.
Setelah Zea mengatur nafasnya kembali gadis itu melirik kearah Alvin.
"Lagi?!" seru Alvin menggoda.
Tangan Alvin masih berada diwajahnya. Dengan lembut pria itu membelai wajahnya.
Alvin mendekat dengan pelan, hingga handphone Zea bergetar. Pas sekali waktunya.
Zea sedikit mendorong Alvin memperlihatkan handphonenya pada pria itu.
Nama Mama Tia tertara dilayar handphone. Zea melirik kearah Alvin.
"Boleh aku angkat sebentar?!" tanya Zea meminta ijin.
"Hallo ma!!" seru Zea melambaikan tangan saat menerima Vidio call.
"Hallo Zea!!" seru Mama Tia balik menyapa.
Mama Tia seperti memandangi Zea dengan seksama.
"Icha, Keyla, sama Ayu mana Zea? Kok kamu sendiri?" ujar Mama Tia bertanya.
"Ah Ayu, Keyla, sama Icha ada Ma. Tapi gak tau kemana. Mereka tadi lari lari kesana, sekarang gak tau kemana, Zea capek jadi duduk disini. Oh ya ma, lihat Ma! Cantik kan?" ujar Zea mengalihkan perhatian dengan menunjukkan lilin lilin yang menyinari disekitarnya.
Zea mengarahkan kamera agar Mama Tia melihat, namun mata Zea mencuri pandang kearah Alvin yang memperhatikannya.
"Wah cantik banget!" seru Mama Tia merespon.
"Oh ya ma! Mama kenapa nelpon?" tanya Zea menanyakan tujuan Mama Tia karena sebelumnya Mama Tia bilang untuk ia bersenang senang, tapi malam ini mama Tia tiba tiba saja menghubungi.
Mama Tia sedikit terdiam, lalu tak lama kemudian wanita itu membuka suara.
"Nggak ada! Mama hanya khawatir saja. Perasaan mama gak enak. Oh ya Zea, jika nanti terjadi sesuatu kamu jangan lupa hubungi mama ya! Ingat, langsung hubungi mama. Terus kamu juga harus selalu hati hati, oke?" ujar Mama Tia mempertegas.
Zea terpaku lalu mengiyakan, "Iya ma! Mama tenang aja. Zea selalu jaga diri kok" balas Zea.
"Yaudah mama tenang kalau gitu" balas Mama Tia.
"Em Mama ada yang mau disampaikan lagi? kalau gak, Zea mau cari Keyla sama yang lain dulu. Zea udah terlalu lama ke pisah sama mereka" pamit Zea.
__ADS_1
"Oh yaudah kalau gitu, kamu cari mereka. Kalau gitu mama akhiri panggilannya ya?!" ujar Mama Tia.
"Iya Ma, Bye ma, i love you!" seru Zea berpamitan.
"Iya! Love You too sayang, have fun!!" ujar Mama Tia membalas. Lalu Zea menunggu beberapa saat hingga Mama Tia mengakhiri panggilan.
Setelah panggilan ditutup, Zea melirik kearah Alvin yang melihatnya dengan seksama.
"Kenapa?" tanya Zea kembali merasa aneh.
"Tak apa!!" jawab Alvin menggeleng.
Lalu Alvin duduk kembali ke tempat semula. Mereka berdua saling bersitatap dalam diam.
"Hampir lupa! Kenapa tak bilang padaku bahwa kamu liburan disini?" tanya Alvin membuka suara.
"Oh! Itu..." Zea berpikir untuk memberi jawaban.
"Sebenarnya tak ada alasan untuk menyembunyikan hanya saja, aku hanya ingin liburan saja bersama Keyla, Icha, dan Ayu. Aku takut kamu menyusul, makanya untuk jaga jaga aku tak bilang. Maaf!" jawab Zea dengan jujur menjawab Alvin. Alvin seketika menjadi diam.
"Tapi!! Aku Sebelumnya juga aku sudah berencana untuk menghabiskan waktu liburan sama kamu. Serius!! Hanya saja kamu datang kesini.." ujar Zea bersuara pelan diakhir.
Alvin dapat mendengar dengan jelas apa yang Zea katakan.
"Oh begitu! Ya sudahlah!! Aku anggap semua sudah selesai. Em kamu pasti lapar kan?! Ayo aku bawa kamu ke teman teman mu. Kita bisa dinner bareng mereka" ujar Alvin kemudian bangkit. Ia mengulurkan tangan pada Zea dan disambut oleh gadis itu.
Kemudian mereka pergi dari tempat itu. Alvin membawa Zea ketempat teman teman Zea berada.
Mereka berkumpul direstoran terdekat kemudian bersama sama menikmati dinner malam dengan tenang dan damai.
skipp...
Setelah selesai makan Zea menikmati udara malam di kolam renang hotel. Kakinya berada di air menikmati dinginnya air kolam dimalam hari.
"Kenapa sendiri disini?" tanya Alvin datang menghampiri.
Zea menoleh lalu membiarkan Alvin duduk disebelahnya.
Gadis itu tak menjawab, Zea bersenandung sambil bermain gemericik air dengan tangannya.
"Tak ada, aku hanya suka dengan suasana tenang seperti ini, kalau kamu?" Zea bertanya pada Alvin.
Tapi Alvin tak menjawab. Suasana tenang, damai, dengan perpaduan cahaya bulan seperti ini terkadang mengingat Alvin dengan kenangan buruknya.
"Em Al! Aku mau jalan jalan diluar! Apa kamu mau ikut?" tanya Zea melirik pada Alvin.
"Ha? Bukannya kamu tadi sudah berjalan diluar. Apakah belum cukup?!" tanya Alvin merasa bahwa hari ini Zea terlalu energik.
Zea menggeleng kemudian tersenyum dengan lembut.
"Belum! Ayo temani aku pergi!" ujar Zea kemudian bangkit.
Gadis itu mengulurkan tangan pada Alvin. Alvin melihat gadis itu, kemudian dengan senang hati menerima uluran tangan Zea.
Zea sangat senang, kali ini dia yang menarik Alvin pergi bersamanya.
TBC
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ