
Jantung Zea berdebar kencang pernyataan spontan keduanya.
Keheningan sesaat terjadi diantara mereka.
"Dorr! Hayo lagi pada ngapain!" ujar Julian dan Satya menganggeti keempat orang itu.
"Anjirr! Satya!" bentak Icha kaget akan kelakuan pria itu yang menepuk bahunya dari arah belakang.
Satya cekikikan melihat wajah merah padam Icha.
"Kalian ini ngaggetin aja!" balas Zea mengalihkan pembicaraan tadi.
"Tauk nih! Ngapain kalian disini?" ketus Keyla menatap tajam kumpulan pria itu.
"Iya! Ngapain kalian disini! Bikin rusuh aja" sahut Icha.
Geo dan Kenan yang ada disana mengangguk kepala pada Alvin, menyapa pria itu.
"Galak banget sih kalian. Siapa coba yang mau sama kalian ntar. Iya nggak Sat?" tanya Julian sambil merangkul bahu Satya.
"Yoii" balasnya.
"Yang penting bukan sama kalian!" ketus Icha.
"Yeiyy, kalau jodoh sama kita gimana?"
Mereka mengambil tempat duduk. Satya duduk di depan Icha, mengerlingkan mata menggoda gadis itu.
"Ogah! Bahkan jika di dunia ini cuma ada gue sama lo. Gue gak bakal mau, titik." tekan Icha
"Bisa bisa, jadi perawan tua dong lo nantinya!" canda Satya dengan random membayangkan Icha tanpa belaian saat dunia ini hanya ada ia dan Icha.
Julian dan Satya sontak tertawa keras. Begitu pula dengan Keyla dan Zea yang hampir menyemburkan tawa jika keduanya tidak menahannya.
"Satya!" Pekik Icha bangkit dari duduknya menyerbu kearah pria itu.
"Dasar lo ya! Bisa gak sih sehari aja gak gangguin gue!" marah Icha memukul mukul Satya dengan keras.
"Ampun Cha, ampun! Jangan kdrt dong Cha!" seru Satya masih dengan tawa.
"Semuanya gara gara lo! Gara gara lo!" pekik Icha mencengkeram rambut Satya dengan erat.
"Aduh Cha Cha! Rontok rambut gue nanti. Kasihan anak anak kita kalau bapaknya gak punya rambut!" gurau Satya merintih.
Mereka yang menonton aksi keduanya hanya bisa cekikikan melihat keduanya yang seperti kucing dan tikus itu.
"Lo tau gak sih! Gara gara lo, hidup gue gak tenang!" ujar Icha meluapkan amarah. Namun Satya yang sedang diserang Icha masih sibuk menggoda gadis itu.
"Yaudah sini Cha, gue tenangin. Gue peluk, biar lo tenang. Aaakk! CHA, CHA, SAKIT!!" teriak Satya saat Icha menggigit lengannya.
"Udah Cha udah! Kayak tikus tau gak sih lo. Main gigit gigit aja!" tukas Satya mengusap lengannya yang sudah terlepas dari gigitan Icha.
Icha menundukkan kepala membuat Satya yang menatap kearah Icha bingung.
"Cha!" panggil Satya menyentuh bahu Icha.
"Lo gak kesurupan kan Cha!" ujar Satya kembali.
"Cha!" Julian memegang Icha kembali.
"Hiks hiks hiks" Isak tangis keluar dari bibir Icha.
"Hey Cha!" panggil Satya kembali menggoncang tubuh Icha membuat Icha mendongak kearah Satya dengan air mata yang sudah berlinang di mata gadis itu.
"HUAAAA Bunda, Hiks hiks!" tangis Icha semakin menjadi membuat semua orang panik termasuk Zea dan Keyla.
__ADS_1
Tubuh Icha jatuh kebawah dengan derai air mata. Satya panik bukan main merengkuh Icha. Begitu juga Zea dan Icha, serta Julian yang mendekat kearah Icha.
"Cha Cha, sorry sorry!" ujar Satya dengan panik.
"Ha-Ha, Gara gara lo tuh Sat" ujar Julian menyalahkan.
Satya yang terlampau panik akan tangisan Icha tak mengindahkan seruan Julian. Ia balik menenangkan Icha.
"Cha! Jangan nangis dong! Iya gue salah!" ucap Satya memelas.
Tapi Icha yang seakan tak peduli masih terus menangis.
"HUAA BUNDA! Satya nakal hiks hiks!" tangis Icha menderu.
"Cha!" seru Zea dan Keyla pelan mencoba menangkan Icha.
"Lo bujuk dia Sat! Minta maaf!" titah Keyla memelototi Satya.
Satya tak memperdulikan Keyla karena ia juga terlampau panik melihat Icha menangis. Ia mencoba menggenggam tangan Icha namun gadis itu menampik.
"Gak usah pegang pegang gue Hiks hiks! Kenapa sih lo itu selalu ganggu gue!" sentak Icha tiba tiba membuat Satya terlonjak kaget.
"Maaf Cha maaf!" pinta Satya memelas.
"Lo itu cuma minta maaf doang, tanpa lo tau apa kesalahan lo!" seru Icha hampir berteriak pada Satya.
"Cha! Sorry okay. Gue tadi itu cuma bercanda doang Cha!" ujar Satya frustasi akan kemarahan dan tangisan Icha yang tak wajar.
Icha kemudian bangkit dan menatap menyala pada Satya.
"Lo pikir gue marah cuma gara gara itu doang!" sentak Icha membuat Satya menelan ludah. Satya ikut bangkit.
"Maaf Cha, gue salah, gak seharusnya gue ngatain lo!" pinta Satya lagi mencoba meraih tangan Icha, tapi lagi lagi Icha menepias
"Cuman itu?! hiks" tekan Icha sesunggukan masih ada sisa air mata di sudut matanya.
"Hah! Tuh kan, lo aja gak tau kesalahan lo apa!" ujar Icha dengan smirk di wajahnya.
"Kalau gitu lo ngomong dong Cha! Kesalahan gue apa? Kalau lo gak ngomong mana gue tau apa kesalahan gue" ujar Satya dengan perasaan kacau.
"Lo mau tau kesalahan lo? Kesalahan lo itu karena lo terus muncul di hadapan gue. Bisa gak sih lo menjauh dari hidup gue!" jelas Icha dengan suara lantang.
"Udah beberapa kali gue bilang untuk menjauh dari hidup gue! Tapi masih aja lo terus mendekat hiks hiks hiks" Gadis itu mulai kembali menangis.
"Hiks hiks hiks, HUAAAA!!" tangis Icha kembali pecah. Zea dan Keyla mendekat kearah Icha, sontak Icha menghambur kepelukan keduanya.
Satya masih terpaku setelah mendengar apa yang Icha katakan. Sudah sering sekali memang Icha menyuruhnya untuk menjauhinya tapi ia selalu menganggapnya hanya sekedar candaan semata. Dan kini ia melihat Icha dengan tangis yang sekeras itu, entah kenapa dadanya sakit.
Perasaan yang awalnya bercanda kini menjadi mencekat. Pandangan para pria itu masih tertuju pada para gadis itu. Julian menepuk bahu Satya untuk menyadarkan pria itu.
Satya menoleh pada Julian dan kembali menatap Icha.
Ia menghela nafas, " Lo aneh tau gak Cha!" ujarnya sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
Satya tak tau kenapa Icha terus terusan menyuruhnya menjauh. Dan Ichapun tak pernah mau bilang alasannya.
Julian lantas mengikuti kepergian Satya. Sedangkan kedua pria yang hanya berdiam diri sedari tadi memberikan isyarat pada Alvin bahwa ia dan Kenan akan menyusul Satya dan Julian. Alvin mengangguk.
Ia menatap kearah Zea yang kini memeluk Icha sambil menenangkan gadis itu dengan Keyla yang juga ikut membantu. Alvin sendiri diam hanya sebagai pengamat semata.
"Udah ya Cha! Jangan nangis" ujar Zea sambil menepuk-nepuk punggung Icha.
"Lo mau apa sekarang! Biar gue beliin, gue traktir lo hari ini. Asal lo happy lagi!" bujuk Zea.
Mendengar itu membuat Icha mendongak. Tangis Icha kini sudah tak keras tadi bahkan sudah mereda.
__ADS_1
"Apapun?!" tanya Icha menatap kearah mata Zea.
Zea beralih menatap Keyla. Keyla mengangguk.
"Apapun!" jawab keduanya.
Icha nampak berpikir sejenak.
"Gue mau bolos sekolah hari ini!" pinta Icha.
Mata Zea mengerjap dengan permintaan Icha beralih menatap Alvin.
"Oke!" jawab Alvin membuat Zea kembali menatap Icha.
"Oke tuh!" balas Zea. Mata Icha berkaca kaca nampak antusias mendengarkan.
"Udah Cha! Lo jangan nangis lagi ya!" ujar Keyla merapikan anak rambut Icha.
"Mau pergi sekarang?!" tanya Alvin pada ketiganya. Mereka mengangguk.
"Ambil tas dulu" tutur Alvin.
Tanpa banyak berucap mereka kembali ke kelas. Beberapa mata teman sekelas Zea menatap mereka bingung. Apa lagi melihat wajah Icha yang sembam.
"Mau kemana?" tanya Niko saat mereka hendak keluar kelas dengan tas yang mereka bawa.
"Cabut!" jawab Keyla.
"Oh!" seru Niko, karena sudah bisa melihat ketiganya membolos sekolah
Alvin, Zea, Keyla dan Icha lantas meninggalkan kelas menuju tempat parkir mengikuti langkah Alvin yang sudah berjalan didepan.
"Aku duduk bareng mereka ya Al!" pinta Zea berharap.
"Oke, Hanya untuk kali ini saja!" jawab Alvin.
Mata Zea berbinar, "Makasih" ucapnya hendak masuk dengan Keyla dan Icha yang sudah ada didalam mobil.
"Eits, berikan hadiah yang kamu janjikan dilapangan tadi dulu. Baru kamu boleh duduk bareng mereka!" lugas Alvin.
'Kirain sudah selesai!' seru batin Zea.
'Huft Demi Icha!'
Cup
Zea mendaratkan ciuman singkat di pipi Alvin. Walau menurut Alvin tak terlalu terasa namun masih bisa membuat Alvin mengembangkan senyum.
Mereka kemudian masuk kedalam mobil. Alvin menyalakan mesin mobil kemudian pandangannya menoleh kesamping. Lantas Alvin membuka kaca mobil sebelum melajukan kendaraannya keluar sekolah dengan mudahnya seperti sebelumnya.
Anggota Aodra melihat kepergian Alvin. Terutama Satya yang kini perasaannya sedang kacau. Mereka menepuk bahu Satya menguatkan pria itu.
"Sabar Sat!"
"Mau kita ikutin?"
Satya menggeleng dengan perasaan campur aduk.
"Ke apartemen Alvin aja gimana? Kebetulan perusahaan game Alvin nyiptain hero baru. Kalian mau coba?" tanya Geo mencairkan suasana yang ikut luruh karena kegalauan Satya.
"Boleh tuh, kayaknya seru. Ayo Sat, dari pada lo galau gini" tukas Julian.
"Oke" balas Satya.
Keempat pemuda itu akhirnya juga ikut meninggalkan sekolah.
__ADS_1
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ