
"Maaf tuan, saya tak ada pilihan!" ucap Joe memberikan Zea pada Alvin. Alvin mengambil Zea dari Joe, Dirinya diam tak bergeming. Tangannya terulur membelai wajah Zea yang kini sedang tak sadarkan diri.
"Siapkan mobil!" perintah Alvin pada Joe.
"Sedang dalam perjalanan tuan" jawabnya.
Tak berapa lama mobil yang dipinta Alvin datang. Alvin mengangkat tubuh Zea, membawanya masuk kedalam mobil.
Sebelum mereka meninggal lokasi itu. Joe memerintahkan anak buah terpercayanya untuk mengurus kekacauan yang Alvin buat. Ia juga memerintahkan untuk menghapuskan jejak Zea. Membuat gadis itu seakan menghilang untuk beberapa saat sembari menunggu perintah Alvin selanjutnya.
"Jelaskan!" ujar Alvin pada Joe saat mereka sudah dimobil. Pandangan matanya masih tak dapat teralihkan dari Zea yang kini ada di pangkuannya.
"Salah satu anak buah saya mendengar rencana para ketua geng lain mengenai penyergapan anda tuan, maka dari itu saya segera menyusul untuk membantu anda. " Dan pasal gadis anda, saya tidak tahu kenapa bisa berada disana. Ini kelalaian saya tidak menempatkan anak buah saya disisinya tuan. Anda bisa menghukum saya" jelas Joe menjawab Alvin, sesekali melirik dari kaca spion tengah memastikan perubahan wajah tuannya itu agar ia tak salah bicara.
Alvin diam tak membalas Joe lebih lanjut karena situasi dimana Zea memergokinya ini sangat tak terduga. Gadis itu penuh dengan kejutan.
Tangan Alvin bergerak membelai wajah Zea. Alvin berfikir 'Kapan Zea tahu mengenai identitasnya?' karena pekikan Zea terdengar jelas ditelinganya. Gadis itu memanggilnya dengan nama.
Alvin memejamkan mata, menelisik kedalam memorinya. "Mungkin saat itu" gumam Alvin mengulas kembali adegan setelah selesai syuting dan ia berkumpul bersama para temannya itu. Dirinya merasa ada seseorang dibalik pintu yang memperhatikannya. Namun saat ia cek tidak ada.
Bahkan jika ia bertemu Zea di luar sekolah. Kemungkinannya sangat kecil untuk Zea tahu identitasnya, karena Alvin selalu menempatkan orang disisi Zea, melaporkan setiap apa yang gadis itu lakukan saat tak bersamanya. Kecuali pada malam hari.
Dan jika Zea bertemu dengannya dimalam hari, itu lebih sulit dipercaya. Dari pada Alvin, banyak orang yang akan lebih menyebut dirinya sebagai King.
Alvin menyatukan semua kemungkinan yang ada. ia menilisik lebih jauh. Dan instingnya mengatakan hanya saat itulah Zea tahu identitasnya. Karena setelah hari itu, Zea mulai menunjukan perubahan perubahan kecil padanya. Alvin yakin itu.
Alvin menghela nafas berat. Ia mendongak melihat atap mobil. Kemudian pandangannya kembali pada Zea. Alvin mendekap Zea kepelukannya lebih erat.
"Mulai saat ini semua akan berubah. Kamu gak akan bisa lepas dariku Ze!" tekan Alvin tajam mengecup puncak kepala Zea yang berada dipelekukannya.
Pandangan Alvin menajam menatap kearah depan menelisik apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
"Dimana bajingan yang dikirim Geo padamu?" tanya Alvin pada Joe yang menyetir.
"Saya tempatkan dipenjara bawah tanah tuan!" jawab Joe dengan pandangan fokus kedepan menyetir mobilnya ke markas Alegiance berada.
"Lepaskan dia" ucap Alvin membuat Joe tersentak. Menoleh kearah Alvin.
"Biarkan semua bukti mengarah pada bajingan itu" tambah Alvin dengan seringai. Joe menenggak ludahnya. Dirinya baru menyadari bahwa Alvin tetaplah Alvin yang ia kenal. Ia sempat terpuai, akan sikap tuannya setelah beberapa saat yang lalu, sempat melunak.
"Baik tuan" jawab Joe karena keinginan pria itu adalah perintah baginya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alvin sampai dimarkas Alegiance. Berbeda dengan basecamp Aodra yang besar dan mewah bahkan jika dilihat dari depan. Markas Alegiance ini jauh berbeda dari basecampnya.
Alvin masuk lewat jalur belakang yang hanya orang orang tertentu yang boleh masuk. Sebelum masuk Alvin mengenakan topeng yang diberikan Joe. Hal ini untuk menyamarkan identitasnya sebagai pemimpin tertinggi Alegiance sekaligus tuan dari Joe.
Alvin berjalan masuk sambil menggendong Zea melewati anak buah kepercayaan Joe. Dari pada kepercayaan lebih cocok jika disebut anak buah yang dapat diandalkan karena meski mereka patuh dan menghormati Joe sebagai pemimpin Alegiance, tak dapat membuat Joe percaya seratus persen pada mereka.
__ADS_1
Anak buah Joe menunduk saat Alvin dan Joe lewat, tak ada yang berani mengangkat kepala maupun berbicara. Bahkan untuk berbisik mereka takut karena Alegiance memiliki aturan yang lebih kejam dan ketat dari geng geng lain.
Setelah menuruni tangga yang berliku Alvin sampai diruangan yang dikhususkan untuknya. Dirinya merebahkan Zea diranjang. Mengusap kepala Zea denga penuh kasih sayang dan mendaratkan sebuah kecupan singkat dibibir gadis itu.
"Perketat keamanan jangan sampai milikku lolos dari sini!" perintah Alvin tegas sembari berjalan meninggalkan ruangan.
"Baik tuan" jawabnya.
Mereka lantas menuju kesebuah lift yang berada di jalur depan. Alvin dan Joe masuk dan Joe menekan tombol. Lift itu bergerak ke bawah. Saat pintu lift terbuka menampakan sebuah lorong yang sepi dan tepat diujung lorong terdapat satu pintu berwarna merah.
Joe mengarahkan Alvin kesebuah ruangan disamping lorong. Alvin melepaskan topengnya, memberikan pada Joe.
"Silahkan anda membersihkan diri disini tuan, saya akan menyiapkan pakaian anda!" ucap Joe mengarahkan. Alvin masuk ke dalam kamar mandi, mengguyur tubuhnya mencoba mendinginkan kepalanya.
"Zea" gumamnya sambil memejamkan mata, menikmati guyuan air yang jatuh membasahi tubuhnya.
Alvin menyelesaikan ritual mandinya dengan cepat, melilitkan handuk di pinggangnya. Ia keluar dari kamar mandi dan mendapati Joe ada disana. Tanpa menghiraukan keberadaan Joe, Alvin memakai pakaian yang telah disiapkan oleh Joe.
"Apakah ada yang anda butuhkan tuan?" tanya Joe memperhatikan Alvin.
"Tidak" jawab Alvin.
Setelah Alvin menggunakan pakaian, mereka berdua keluar dari ruangan itu berjalan kearah pintu merah yang ia lihat saat lift terbuka.
"Kita pisah sampai disini" Alvin menghentikan langkah kakinya didepan pintu. "Pastikan anak buahmu melakukan tugasnya dengan benar. Jaga gadisku dengan baik, jangan ada luka sedikitpun. Jika anak buahmu melakukan kesalahan, itu akan menjadi tanggung jawabmu Joe" ucap Alvin memberikan peringatan.
Joe menundukan kepala, "Akan saya jaga permata anda dengan baik tuan!" jawabnya sopan.
Joe yang sempat melihat senyum dan tawa Alvin tertegun. Tuannya ini emang sedang dimabuk cinta.
Saat mengingat kejadian hari ini Alvin kembali menghapus senyumnya.
"Gue masuk!" ujar Alvin memasuki ruangan dengan pintu merah itu dengan wajah yang kembali datar.
Joe menghela nafas, mengendikan bahu. Ia tak ingin ambil pusing karena urusan percintaan tuannya itu, karena beban pikirannya saat ini pun sudah berat.
Setelah beberapa menit Alvin masuk, akhirnya Joe memasuki ruangan tersebut. Semoga dirinya tidak dihujat masa karena sebagai tuan rumah, ia justru terlambat.
...****************...
Alvin memasuki ruangan itu. Netranya menatap kearah seluruh ruanganya. Ruangan yang besar dan dipenuhi sorak sorakan. Siapa sangka dibalik tempat yang terlihat kecil dari luar, terdapat tempat tersembunyi seperti ini.
Alvin menaiki tangga, wajahnya datar tak ada senyum sedikitpun terbesit disana, semua orang disana seketika menyadari kedatangan orang yang dijuluki 'King' itu terdiam. Ruangan yang tadinya ramai menjadi hening seketika.
Beberapa orang dari lantai dua yang melihat kearah Alvin mengepalkan tangan dan menggertak gigi.
"Sial"
"Rencana gagal!"
__ADS_1
"B@jingan beruntung!"
Ujar mereka saat melihat Alvin bahkan tak terluka sedikitpun.
Alvin menuju keruangan yang terdapat teman temannya disana. Mereka menyambut kedatangan Alvin.
"King!" panggil mereka berbarengan. Berdiri menyambut kedatangan Alvin.
"Jangan mentang-mentang pemeran utama datangnya telat, untung belum dimulai" ujar Satya. Mereka tertawa kecuali Alvin.
Alvin hanya berekspresi datar, duduk dikursi menghadap langsung ke ruangan itu.
"Asem banget tuh muka, kenapa lo?" tanya Julian melihat raut muka Alvin yang tak bersahabat.
Alvin yang mendapat pertanyaan tak menjawab, Julian menatap temannya yang lain, memastikan apakah mereka tahu apa yang terjadi. Mereka sama sama mengendikan bahu tak tahu menahu tentang masalah yang ditimpa Alvin.
Karena melihat wajah Alvin yang terbilang amat sangat datar sedatar tembok. Mereka akhirnya ikut diam.
Mereka duduk dikursi masing masing. Alvin ditengah, Geo dikanan, Kenan dikiri, Satya disebelah Geo, dan Julian disebelah Kenan.
Satya dan Julian yang memang tak bisa diam saling bertukar kode lewat tatapan mata. Mereka tak tahan dengan kesunyian ini.
"Lo cairin suasana kek" suruh Satya tak bersuara melalui tatapan mata pada Julian dengan menggerakkan kepalanya menunjuk situasi saat ini.
"Lo aja, mana berani gue" balas julian menggelengkan kepalanya dengan mata sayu, menujuk Satya kembali.
"Dih kok malah gue, Lo aja" mata Satya mendelik, menunjuk Julian dengan dagunya.
"Gak, lo aja" balas Julian dengan mata tak terima kembali menunjuk.
"Haish Lo" desis Satya kesal memelototi Julian.
Mereka saling melempar, memelototi satu sama lain. Dan itu membuat Geo dan Kenan kesal.
Plak plak
"Aduh duh" pekik keduanya.
Tamparan Geo dan Kenan mendarat dipunggung Satya dan Julian. Melihat Julian dan Satya memekik membuat Kenan dan Geo menahan tawa.
"Parah lo Ken!" umpat Julian.
"Parah lo Ge!" umpat Satya berbarengan sambil mengusap punggungnya.
"Punggung gue rasanya kayak mau patah, sumpah!" keluh Julian merenggangkan pinggangnya.
"Alay lo" seru Kenan tanpa ekspresi, sejujurnya ia menahan tawa melihat tingkah konyol Julian dan Satya.
"Brisik" ujar Alvin datar menatap kedepan. Keempat pria itu yang mau ribut menghentikan keluhannya. Mereka kembali duduk tegap menghadap depan melihat kearah Joe yang mulai memberi sambutan.
__ADS_1
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ