My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
71. Permintaan Zea


__ADS_3

Sudah hari ke 5 Zea terjebak di tempat yang mengurungnya kini.


Beberapa kali Alvin datang mengunjunginya. Ntah itu pada pagi hari, siang hari, sore, bahkan pada malam hari ketika ia tertidur. Pria itu datang dengan sesuka hati.


Selama dirinya terkurung disana. Zea menahan apa yang ia rasakan. Zea menjadi gadis yang penurut dan tak banyak berulah. Kini bahkan dia sudah bisa tersenyum kembali ke arah Alvin.


Zea memoles pelembab di wajah dan bibirnya. Semua kebutuhannya tersedia di dalam kamar. Ia melihat pantulan dirinya dan Alvin dibalik cermin.


"Al!" panggil Zea dalam pelukan Alvin.


"Kenapa?" tanya Alvin terus memperhatikan wajah Zea. Kedua tangan Alvin memeluk Zea dari belakang, melepaskan rindu pada Zea.


Zea menggenggam tangan Alvin yang memeluknya.


"Boleh aku minta sesuatu?!" pinta Zea. Ia mendongak menatap Alvin dengan binaran di kedua matanya berharap Alvin akan menuruti kemauannya.


"Kamu mau apa?" tanya Alvin. "Jika kamu meminta sesuatu yang berhubungan dengan kebebasan, kamu sudah tau jawabanku" ucapnya menegaskan.


"Aku tau! Aku menginginkan hal lain" ucap Zea pada Alvin.


"Katakan dulu apa yang kamu inginkan? Nanti akan kupertimbangkan!" ucap Alvin.


Zea mengulum bibirnya. Zea ragu Alvin akan menerima permintaannya. Alvin masih menunggu apa yang akan Zea minta padanya. Dengan tekat yang tersimpan akhirnya Zea mengatakannya.


"Bisakah aku minta agar pagar di jendela dilepaskan Al?" pinta Zea memejamkan mata tak ingin melihat respon Alvin yang membuat ia kecewa.


"Kenapa kamu meminta itu?" tanya Alvin balik, ia memandang gadis yang ada dipelukannya ini curiga.


"I, itu karena aku bosan dan pusing jika terus berada di kamar! Kamar ini terasa pengap bagiku! Jika boleh, aku ingin duduk di dekat jendela sambil menghirup udara malam Al. Bisakah kamu mengabulkannya?" mohon Zea menoleh kesamping.


Matanya bertemu dengan mata Alvin yang menatap Zea curiga bahwa gadis itu merencanakan sesuatu.


"Boleh ya Al? Aku hanya ingin menikmati udara malam dan tak akan berbuat yang aneh aneh. Please!" pinta Zea sekali lagi.


"Akan aku pikirkan lagi" ujar Alvin. Zea menundukan kepala, menunjukan bahwa ia kecewa Alvin menolak keinginannya.


Alvin menatap Zea yang murung. Ia menghembuskan nafas, ia tak sanggup menolak jika Zea seperti itu. Tapi untuk melepaskan pagar di jendela terdapat resiko yang besar disana. Bisa aja Zea terlalu frustasi dan membuat gadis itu melakukan apa saja untuk bisa keluar dari sini.


Contohnya melompat dari jendela, kemungkinan itu bisa saja terjadi. Dan Alvin tak ingin itu bisa terjadi. Tapi jika ia melihat wajah Zea yang murung seperti itu membuat hati Alvin mencelos sedikit terbujuk. Mungkin saja ia terlalu menekan Zea dan apa yang di katakan Zea benar.


Juga mungkin saja saat ini Zea memang benar benar sudah berubah menjadi gadis penurut seperti yang ia inginkan.


"Kamu ingin aku melepaskan pagar jendela karena ingin menghirup udara malam kan?" tanya Alvin membuat Zea mengangguk.


"Iya" jawab Zea.


Zea diam masih memandang Alvin dari pantulan cermin. Ia pikir Alvin akan berubah pikiran dan menuruti kemauannya.

__ADS_1


"Oke aku akan menuruti kemauan mu itu" ucap Alvin membuat senyum Zea mereka.


"Beneran?" tanya Zea memastikan. Zea nampak gembira bahwa Alvin mengiyakan permintaannya.


"Dengarkan dulu, aku memang mengatakan akan menuruti kemauan mu karena kamu tak lagi berbuat masalah, tapi bukan berarti aku menurutimu untuk melepaskan pagar di jendela kamarmu" Senyum Zea yang tadinya mereka seakan hilang. Kini perasaannya terganti menjadi kesal.


Zea merasa bahwa Alvin sedang mengerjainya kini. Alvin membuatnya melambung tinggi namun tiba tiba menghempaskannya begitu saja ke tanah.


"Apa kau mempermainkan ku?" tanya Zea melepaskan pelukan Alvin, membalikan badan menatap wajah Alvin langsung.


Zea melihat wajah Alvin yang juga menatapnya dibalik kacamata bulat pria itu. Zea menghembuskan nafas mencoba merendam emosi.


"Maaf sepertinya aku yang terlalu berharap kamu akan mengabulkan permintaanku" ungkap Zea berlalu pergi meninggalkan Alvin.


Tapi sebelum Zea semakin menjauh Alvin menahan tangannya.


"Mau kemana?" tanya Alvin.


"Aku mau tidur, aku ngantuk!" jawab Zea. Zea melepaskan tangan Alvin yang berada di lengannya kemudian berjalan ke kasur.


Alvin melihat kearah Zea yang menaiki kasur dan menenggelamkan dirinya kedalam selimut. Alvin hanya bisa menggeleng melihat tingkah menggemaskan Zea dimatanya.


Ia berjalan menghampiri Zea di kasur. Alvin menyibak selimut, melihat Zea yang memejamkan mata. Ia tahu Zea tak tidur. Alvin mengusap lembut rambut Zea.


"Kamu marah?" tanya Alvin menggoda Zea. Ia menoal noel pipi Zea yang lembut itu. Tak ada balasan dari Zea.


"Kemari!" ujar Alvin meminta Zea mendekat kepelukannya dan Zea menuruti permintaan Alvin masuk kedekapan pria itu.


"Aku memang bilang kalau aku tidak akan melepaskan pagar jendela. Tapi bukan berarti aku tak menuruti permintaanmu yang menginginkan menikmati angin malam. Maka itu aku memikirkan solusi lain, Apa kamu mau dengar?" tanya Alvin. Zea mengangguk.


"Kamu ku ijinkan keluar dari kamar selama aku tidak ada!" ucap Alvin, Zea membelak tak percaya seakan dirinya memenangkan jekpot besar.


"Hanya berada dibalkon saja dan kamu harus didampingi oleh Joe. Jika Joe menyuruhmu untuk kembali ke kamar, maka itu artinya kamu harus kembali" Zea kembali kecewa.


"Jangan cemberut begitu. Aku akan lebih sering datang kesini dan kamu akan kuijinkan melihat sekeliling besok"


"Kenapa tidak sekarang saja kita berkeliling?" tanya Zea.


"Tidak, besok saja. Besok aku akan lebih senggang dan bisa menemanimu seharian. Kamu senang?" tanya Alvin. Zea terpaksa mengangguk.


"Makasih Al!" ujar Zea tersenyum memeluk Alvin. Alvin balik memeluk Zea era.


"Sama sama by" ucap Alvin mengecup pelipis Zea, melepaskan pelukan mereka.


"Oh ya Joe bilang kamu menggambar sesuatu, boleh perlihatkan padaku?!" ucap Alvin membuat Zea gugup seketika.


"Ah aku hanya asal corat coret karena bosan saja kok. Tidak ada yang spesial!" ungkap Zea.

__ADS_1


"Aku masih ingin lihat hasil corat coret mu itu. Dimana kamu meletakannya?" tanya Alvin beranjak dari kasur. Zea mau tidak mau harus menunjukan apa yang ia gambar pada Alvin.


"Aku meletakannya di sana!" tunjuk Zea kearah rak dibawah televisi. Alvin berjalan dan mengambil buku sketsa Zea yang berada disana. Kemudian kembali kearah Zea.


Alvin menaiki kasur, duduk disamping Zea, memeluk pinggang Zea dari samping. Alvin meletakan buku seketsa Zea dipahanya. Salah satu tangannya terulur membuka apa yang Zea gambarkan disana. Ia terus melihat setiap desain pakaian yang Zea buat.


"Apa ini semua kamu yang buat?" tanya Alvin. Wajah Zea seketika murung.


'Alvin pasti tak akan percaya jika itu hasil dari pemikiran ku sendiri? Ntah kenapa gue merasa kecewa, padahal hal ini sudah biasa!" batin Zea sendu.


Alvin dapat menangkap perubahan wajah Zea.


"Kenapa?" Zea menggeleng.


"Semua gambaranmu cantik dan mengesankan! Kamu pasti berusaha keras dalam keadaan sekarang untuk menggambar semua ini! Apa kamu nanti ingin menjadi desainer?" tanya Alvin membuat Zea menoleh menatap wajah Alvin.


"Apakah itu beneran bagus?" tanya Zea.


"Tentu!" jawab Alvin.


Senyum Zea mengembang mendapat pujian dari Alvin.


"Memang apanya yang bagus? Kamu pasti asal bicara aja untuk menyenangkan ku!" ujar Zea.


"Kamu berpikir begitu? Padahal aku serius mengatakannya"


"Makasih!" ucap Zea.


Malam terus berlalu. Alvin dan Zea sama sama menikmati waktu berdua. Membuka lembaran desain yang Zea buat sambil bercanda tawa.


Hoamm


Zea menguap. Sejujurnya ia amat mengantuk karena kemarin ia sempat bergadang dan tak cukup tidur karena keasikan menggambar.


"Kamu udah ngantuk?!" tanya Alvin meletakan buku sketsa Zea dinakas. Ia melihat kearah jam tangannya.


Zea mengangguk, membaringkan tubuhnya di kasur dan Alvin membantu menyelimuti gadis itu. Rasa kantuk Zea datang tanpa bisa ia tahan lagi.


"Al aku tidur dulu ya! Makan malamnya setelah aku bangun saja!" seru Zea.


"Baiklah! Kamu bisa tidur dengan tenang. Happy sweet dreams by!" ucap Alvin sambil mengusap kepala Zea.


Zea merasakan setiap kehangatan dari sentuhan Alvin dengan cepat masuk ke alam mimpi. Alvin terus menatap Zea yang sudah tidur dengan pandangan yang sulit dimengerti. Ia memastikan bahwa Zea sudah tidur.


"Aku harap sikap menurut kamu ini bukan kebohongan semata Ze. Aku sudah memastikan bahwa kamu tidak akan bisa lepas dariku apapun itu yang terjadi. Aku tidak ingin kamu menyesal nantinya karena bermain main denganku!" ucap Alvin kemudian mengecup kening Zea dalam.


TBC

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2