My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
139. Merayu


__ADS_3

"Mau ikut!" ujar Zea langsung menghampiri kearah Arka.


Hap


"Abang mau ikut!" ujar Zea lagi mendaratkan tubuhnya di atas punggung Arka, memeluk Arka erat erat dari belakang. Seperti cicak yang menempel di dinding.


"Aduh Ze, berat!" Keluh Arka.


"Ze! Kamu ini bukan anak kecil lagi, bisa encok Abang kalau kamu nemplok kayak gini" lanjut Arka tapi tak menolak bahkan tak melepaskan pelukan Zea yang hinggap di belakang tubuhnya.


"Zea ikut boleh ya Bang? Zea bosen, pengen berpetualang!" tanya Zea sembari berujar menatap kearah Arka.


"Abang berangkat lusa sama temen temen abang, Ze! Kalau emang mau ikut, coba bilang dulu ke Mama papa. Boleh atau nggak?!" tutur Arka.


"Kalau dibolehin, Zea boleh ikut kan?" tanya Zea.


"Iya" jawab Arka.


"Oke Zea bilang, tapi Abang bantuin ya?!" pinta Zea.


"Hmm"


Dalam hati Zea, ia bersorak senang. Kemudian ia ingat akan kedua sahabatnya.


"Oh ya Bang! Icha sama Keyla juga boleh ikut kan bang?" tanya Zea lagi sembari berharap.


Arka menoleh kearah Zea, "Nyusahin gak dua curut itu? Kalau nyusahin Abang nggak mau. Nggak ada yang jaga!" Arka balik bertanya.


"Ish Abang! Mulai kan! Kalau ngomong asal ceplos aja. Susah lo, mama papanya buat. Lagian mereka nggak bakal nyusahin kok. Boleh ya?" tanya Zea lagi berharap.


Arka diam sembari menimang nimang sejenak. Kemudian Arka mengangguk.


"Iya boleh! Asal ada ijin dari orang tuanya dan orang tua mereka ngomong ke abang kalau ngebolehin. Baru Abang ijinin!" jawab Arka.


"Yes!" Zea bersorak riang, bangkit dari tubuh Arka.


Brmm brmm


Sebuah mobil terdengar dari luar halaman Zea, membuat gerakan riang penuh semangat Zea terhenti.


"Itu pasti mama papa" ujar Zea langsung beranjak dari kamar Arka.


Arka yang melihat itu hanya geleng geleng kepala, ikut bangkit mengikuti Zea. Melihat bagaimana perjuangan Zea membujuk kedua orangtuanya agar bisa ikut dengannya.


"Mama, Papa" ujar Zea menghampiri keduanya. Merangkul lengan keduanya membawanya masuk kedalam.


"Putri papa udah pulang sekolah rupanya. Kok masih pakek seragam?" tanya Papa Hendra mengikuti langkah Zea yang membawa ketiganya ke ruang santai keluarga.


Zea mendudukan keduanya di sofa, sedangkan ia berdiri menghadap keduanya.


"He-he-he, mama papa pasti capek. Zea buatin minum ya? Mau minum apa Ma, Pa?! Teh ada, kopi ada, jus jeruk aja, jus stroberi ada, jus jambu, susu ada, air lemon pun juga ada. Tinggal pilih mau yang tingkat suhunya bagaimana? Rendah, sedang, atau tinggi" ujar Zea mulai berlagak seperti uncel pemilik kedai di kartun duo twins berkepala botak. Eits, yang satu tumbuh rambut sih, walau cuma sehelai.


Zea dengan senyuman manisnya menjulurkan tangan menanti nanti apa yang mau diminum oleh kedua orang tuanya.


"Air putih aja" jawab Mama Tia.

__ADS_1


"Siap, papa?" Zea memberi hormat, kemudian bertanya Zea menoleh kepada Hendra.


"Samain kayak mama aja" jawab Papa Hendra.


"Okey, siap! Segera akan Zea antar. Zea permisi!" Zea segera berjalan cepat menuju kearah dapur mengambil pesanan kedua orangtuanya.


Sedangkan Arka yang melihat dari balik tembok hanya bisa tertawa cekikikan. Ia berjalan menghampiri kedua orangtuanya, menyalimi keduanya.


"Adik kamu kenapa lagi Bang?" tanya Mama Tia.


"Biasa Ma! Ngerayu dia, agar bisa diijinin ikut Abang ke puncak. Mungkin lagi suntuk dianya, makanya mau ikut Abang refreshing" jawab Arka menjelaskan.


"Pantes" Mama Tia hanya bisa tertawa kecil mendengar hal itu.


"Pesanan sudah siap" ujar Zea datang, membawa dua gelas air putih di kedua tangannya. Menghampiri keduanya.


"Ini buat Mama" Zea memberikan gelas kanan pada sang mama.


"Terima kasih" Mama Tia menerimanya. Zea memegang satu gelas tersisa dengan kedua tangannya.


"Ini buat Papa!" ujar Zea.


"Terima kasih" Papa Hendra menerima gelas berisi air pemberian Zea.


"Gimana Ma, Pa?" tanya Zea melihat kedua orangtuanya sudah menghabiskan air yang ia bawakan.


"Tawar" jawab papa Hendra.


"Namanya juga air putih pa hehehe" jawab Zea masih dengan senyuman, setengah bergurau.


Mama Tia yang tahu bahwa kini Zea sedang merayu, ia ingin mengerjai gadis itu.


"Aduh, kok tiba tiba mama pengen es buah ya!" ujar Mama Tia sambil sesekali melirik Zea, melihat bagaimana ekspresi putrinya itu.


"Mama mau es buah? Oke! Biar Zea minta mbok Jum buatin" ujar Zea dengan antusias.


"Eh tunggu! Kamu aja deh yang buatin Ze, mama pengennya yang buatan kamu" ujar Mama Tia mengusili Zea.


"Mama mau Zea yang buatin?" tanya Zea diangguki mama Tia.


"Oke! Bakal Zea buatin" ujar Zea dengan sigap hendak pergi ke arah dapur.


"Zea tunggu!" langkah kaki Zea terhenti karena panggilan Arka. Zea menoleh.


"Abang juga mau satu ya Ze, tambahin toping yang banyak jangan lupa" ujar Arka menyahut.


"Papa juga deh mau satu" lanjut papa Hendra ikut meminta.


"Okey! Kalau begitu es buah tiga, pesanan dicatat. Apa ada pesanan lain?" tanya Zea berlagak seakan dirinya adalah pelayan restoran.


"Camilannya, jangan lupa!" jawab Arka pada Zea sembari tersenyum.


"Oke, siap! Mohon di tunggu pesanan anda" ujar Zea kemudian berjalan kembali menuju dapur.


Disana ia bertemu dengan mbok Jum.

__ADS_1


"Mbok! Mbok Jum!" panggil Zea.


"iya neng?!" sahut mbok Jum.


"Bantuin Zea bikin es buah sama camilan dong mbok, buat mama, papa, sama Bang Arka" pinta Zea pada mbok Jum.


"Okey non, mau camilan apa?" tanya mbok Jum.


"Apa aja deh mbok! Yang ada ada aja!" jawab Zea.


"Oh kalau begitu, kebetulan. Nih mbok lagi goreng pisang" ujar mbok Jum menunjukkan pisang goreng bikinannya.


"Mantap mbok" Zea mengacungkan jempol.


"Sekarang tinggal bikin es buahnya aja kan Neng!" ujar mbok Jum.


"Iya Mbok! Zea ambil bahan bahannya dulu ya mbok, di kulkas" tutur Zea.


"iya neng!" jawab Mbok Jum.


Kemudian Zea menuju kearah lemari es. Mengambil es batu dari dalam mengeluarkan buah buahan yang ada, tak lupa sirup, dan susu yang juga ada di dalam kulkas.


Zea meletakan bahan bahan di meja dapur, di dekat mbok Jum yang kini sudah menata mangkok gelas untuk es buah.


"Kok empat mbok?" tanya Zea heran.


"Kan kalau sama non Zea jadi empat orang. Iya kan?" mbok Jum menjelaskan.


"Oh iya, Zea juga" ujar Zea seraya tertawa kecil.


"Eh mbok Jum! Mbok Jum nggak mau juga?" tanya Zea menatap kearah mbok Jum yang kini sudah mengupas buah buahan yang sudah di letakan Zea.


"Nggak non! Gigi mbok suka ngilu kalau minum yang dingin dingin" jawab mbok Jum.


"Oh, Oke deh mbok! Terus, Ini Zea ngapain mbok?" tanya Zea pada mbok Jum yang sedang memotong motongi mangga yang sudah di cuci.


"Non Zea ambil blender aja non, buat ngehancurin es batunya" ujar mbok Jum menjawab.


"Siap mbok" ujar Zea mulai melaksanakan.


Zea ditemani mbok Jum membuat apa yang keluarganya pesan. Buah buah yang sudah dipotong, mulai Zea susun di mangkok yang sudah berisi es. Tak lupa Zea menambahkan agar agar yang pernah di buat oleh mbok Jum, yang tersimpan di dalam kulkas. Setelah itu Zea mulai menuangkan sirup dan susu. Lantas Zea menambahkan full keju diatasnya untuk Arka dan dirinya karena ia dan abangnya itu sama sama pecinta keju. Walau stroberi lebih di hati Zea. Zea menyusun sedemikian rupa, memberikan stroberi kecil diatasnya sebagai penghias.


"Taraaa, es buah ala Zea sudah jadi" Zea membawakan es buah kembali ke ruangan keluarga, meletakannya di meja. Memberikan masing masing ke Mama, Papa, serta abangnya, dan terakhir untuknya. Tak lupa pula, ia meletakan sepiring pisang goreng hangat yang dibuat oleh mbok Jum dimeja sebagai camilan.


"Makasih! Baik banget anak mama" ujar Mama Tia.


"Makasih adek abang"


"Makasih, papa coba ya!" ujar papa Hendra.


Zea mengangguk, "Sama sama" jawab Zea.


Mereka pun mulai menikmati es buah yang Zea buat.


TBC

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2