
Alvin yang ingin mengejar Zea dibuat terhenti akan getaran disakunya. Panggilan telpon atas nama Geo membuat Alvin mengangkatnya.
"Ada apa?" tanyanya to the point.
"....."
"Oke gue kesana sekarang!" ucap Alvin.
Alvin menoleh melihat kedepan. Zea sudah tidak berada disana. Alvin menghela nafas, meninggalkan taman yang kini mulai meneteskan air hujan. Ia melajukan motor bututnya kerumah Zea. Karena dapat dipastikan bahwa gadisnya itu akan pulang kerumah. Alvin melihat Zea yang sudah akan masuk kedalam rumah, karena memang jarak taman dan rumah Zea cukup dekat.
Karena dia melihat gadisnya itu sudah sampai dirumah dengan selamat. Ia meninggalkan kediaman Zea dengan seragam yang basah. Alvin bukannya tak ingin menahan Zea, tapi kini dia harus kembali ke basecamp karena basecampnya sedang dilanda situasi yang sedikit mendesak. Lagi pula Zea tak akan dapat pergi kemana pun, gadis itu akan tetap menjadi miliknya.
oke skip..
Alvin sampai dibasecamp, rambutnya basah, Kaca matanya juga sudah berembun, Alvin melepaskan kaca matanya membuka dua kancing atas seragamnya yang juga ikut basah, lalu menyibak rambutnya keatas. Penampilan Alvin saat ini dimata para gadis sangat menggoda.
Dengan mata tajam dan menunjuk dominasi Alvin masuk kedalam basecamp Aodra. Kalau kalian bilang Alvin terlalu tenang saat Zea memutuskan hubungan mereka, maka kalian salah tebak. Dibalik wajah Alvin yang tenang dan stay cool terdapat perasaan mencuat yang sangat dalam. Dia marah, gelisah, dan rasanya ingin menghancurkan segala hal. Namun ia berusaha menahan emosinya agar tak lepas kendali.
"Ada apa lagi ini!" bentak Alvin melihat kearah kumpulan orang yang berkumpul disana.
Mereka menoleh kearah Alvin.
"Hai King! Long time no see!" sapa orang dengan perawakan tubuh yang tinggi besar sepantaran dengan Alvin. Pria itu mendekat kearah Alvin, merentangkan tangan ingin memeluk Alvin.
Alvin yang didekati hanya menatap datar dan melewati orang itu begitu saja menuju kursi khususnya yang bisa diartikan sebagai singgah sananya. Pria tersebut seketika mematung.
Para anggota geng Aodra yang melihat Alvin duduk ditempat itu hanya menelan ludah, ini kali kedua Alvin duduk dikursi itu dalam jangka waktu pendek.
Wajah Alvin tenang berusaha menyembunyikan kemarahan yang seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Para anggota geng Aodra yang berada disana langsung menundukan kepala tak ada yang berani melihat, bahkan Geo, Kenan, Julian, dan Satya langsung memalingkan wajah.
Para anak buah atau anggota geng orang yang menyapa Alvin dibuat heran akan sikap anggota geng Alvin. Suasananya menjadi hening dan sepi. Bahkan kuburan saja masih ada suara maupun itu suara jangkrik atau suara lain. Kini benar-benar sepi, tak ada yang berbicara.
"Hei hei! Ini kok pada diam. Gue kesini cuma ingin menyapa sebelum acara tahunan besok!" ucap orang itu memecah keheningan. Tapi tak ada yang berani bersuara maupun menjawab ucapan orang itu.
"Kayaknya mereka bisu deh bos!" ejek salah satu anak buah pria itu, semua anak buah pria itu tertawa. Anggota geng Aodra yang mendengar mereka mengejek geram namun mereka tak bisa melakukan apa apa dan hanya bisa diam, menahan kekesalan masing masing.
__ADS_1
"Berisik!" sentak Alvin membuat keadaan diam seketika.
"Marko! Lebih baik lo bawa geng lo pergi dari sini, gue sedang dalam mood yang buruk. Jangan sampai lo bikin gue ngelanggar aturan acara tahunan dengan habisin lo dan anggota geng lo" titah Alvin bersuara. Pria itu adalah Marko salah satu pemimpin geng seperti Alvin, walau gengnya tidak sebesar Alvin.
Marko ingin menjawab perkataan Alvin tapi disela olehnya "Lo harus tahu dimana lo sekarang!" ujar Alvin masih dengan muka datar, namun matanya menatap tajam kearah pria itu.
Kedua tangan Marko menggenggam erat, rahangnya mengeras, dirinya tak terima Alvin memberinya penghinaan padanya. Padahal niatnya kemarkas Aodra adalah ingin menghina Alvin. Kini malah berbalik kearahnya.
Tak ingin semakin kehilangan muka dan tak ingin didiskualifikasi dari acara tahunan kali ini karena memulai perkelahian dengan geng lain sebelum acara, akhirnya Marko menyuruh anak buahnya meninggalkan markas geng Aodra. Menyisakan Alvin, Geo, Satya, Kenan, Julian dan beberapa anggota yang lain.
"Kembali tingkatkan kualitas kalian, gue gak mau ada kesalahan sedikitpun!" ujar Alvin dingin beranjak dari tempatnya. Alvin meninggalkan mereka, membuat mereka bernafas lega.
Alvin berjalan menuju ruangan pojok yang menjadi saksi dimana dirinya dan Zea berciuman. Dirinya menutup pintu menatap kearah penjuru ruangan.
Nafasnya memberat, emosinya yang sedari tadi ditahan menumpuk. Tangannya menggepal erat, matanya menajam, dirinya mengingat alasan Zea putus dengannya. Apakah Alvin percaya dengan alasan Zea? jawabannya tidak. Karena yang dia lihat, Zea bahagia saat bersamanya, namun Alvin mulai ragu bahwa Zea bahagia dengannya.
Dirinya terus memikirkan alasan lain kenapa Zea tiba tiba seperti ini, namun bukan kebenaran yang ia dapat, Alvin malah memikirkan dugaan dugaan lain dan emosi Alvin pecah detik itu juga.
Prank Prank~
"Argh sialan, dari mana letak kesalahannya!" umpat Alvin terus mencari kenapa dia dan Zea bisa dalam keadaan seperti ini disusul dengan kehancuran barang barang yang ada di dalam ruangan.
Geo, Kenan, Satya dan Julian yang menyusul Alvin dibuat terpaku didepan pintu saat mendengar suara barang pecah dari dalam ruangan. Mereka menatap satu sama lain, mengurungkan niat untuk masuk kedalam dan pergi dari sana membiarkan Alvin melampiaskan emosinya.
...****************...
Keesokan harinya Zea masih banyak diam tak seceria biasanya. Bahkan saat bang Arka menjahilinya gadis itu hanya bermuka masam tak melawan maupun membalas ejekan Bang Arka.
Untung saja hari ini sekolah libur membuat Zea dapat merenungkan dirinya dengan baik. Demi meningkatkan suasana hatinya kembali Zea membuat dirinya sibuk dengan menonton drakor ditemani cemilan yang ia bawa dari dapur. Berharap bahwa oppa oppa tampan di drama dapat mengembalikan suasana hatinya kembali.
Dan kini terbukti Zea fokus melihat film dari laptopnya walau terkadang sesekali dia mengingat kehadiran Alvin saat melihat kedua pemeran didrama menunjukan adegan yang membuatnya mengingat kebersamaan mereka.
Walau begitu, dengan segera Zea menepis pikirannya tentang Alvin. Membuat ia fokus kembali akan film yang ia lihat.
Karena keasikan dengan drama yang ia lihat membuat Zea hanya keluar kamar saat waktunya makan. Dan beranjak dari kasur saat ia ingin kekamar mandi.
__ADS_1
Saat ditengah asik melihat film, Zea merasa di bawahnya sedikit lengket, lembab dan tidak nyaman.
"Ah masak sih si merah datang tiba tiba gini?" gumam Zea bertanya-tanya.
Dengan buru buru Zea beranjak dari ranjang menuju lemari melihat stok roti bantal dilemarinya. Dan dia menemukan satu roti bantal yang terselip disana.
Kemudian Zea dengan sedikit tergesa-gesa menuju kamar mandi. Zea yang ingin membersihkan diri, dibuat kesal karena roti bantal yang sudah ia buka terjatuh dilantai yang basah. Membuat roti bantal itu tak lagi dapat melekat rapat.
"Ish tinggal satu, jatuh lagi!" desis Zea sebal.
Dengan terpaksa Zea mengenakannya, untung saja yang jatuh bagian bawah tepat di perekatnya. Zea kemudian turun kebawah mencari keberadaan mbok Jum juga mama Tia, saat Zea menemukan keduanya, Zea bertanya, Apakah memiliki persediaan roti bantal?
Dengan perasaan kecewa Zea kembali ke kamar karena ternyata tidak ada persediaan. Zea melihat jam dikamarnya yang menunjukkan pukul 10 malam, sudah terlalu malam untuk dirinya pergi ke mini market.
Namun karena Zea merasa risih dan tidak tahan akhirnya Zea memutuskan untuk pergi ke minimarket terdekat. Zea mengambil jaketnya karena udara malam yang dingin.
Zea keluar kamar, menemukan keberadaan mama Tia yang sedang berada di ruang keluarga.
"Mau kemana Ze?" tanya Mama Tia melihat kearah Zea.
"Zea mau ke minimarket sebentar ma" jawab Zea.
"Mau beli apa? ajak Abang sana!" seru mama Tia.
"Gak perlu ma, Abang pasti udah tidur. Zea bisa sendiri kok! Cuma mau beli roti bantal di minimarket" jawab Zea. Mama Tia masih ragu dan Zea dapat melihat itu.
"Udah Mama tenang aja, Zea bisa jaga diri. Orang cuma sebentar kok. Kalau gitu Zea pergi ya ma!" pamit Zea sambil menyalimi tangan mama Tia. Mama Tia pasrah membiarkan anaknya itu pergi.
"Hati hati ya Ze! Langsung pulang loh kalau udah" pesan Mama Tia.
"Iya ma! Dadah mama ku yang cantik" Zea mencium pipi sang mama, kemudian berjalan kearah pintu, sebelum ia benar benar keluar gadis itu berbalik. "Mama buruan balik kamar sana, nanti papa marah lo yang ngelonin nggak ada!" ujar Zea kearah Mama Tia dengan tawa. Mama Tia menoleh dan melotot kearah Zea. Gadis itu buru buru keluar rumah masih dengan tawanya.
Kumudian Zea sampai digarasi, membuka pintu garasi, ia masuk kedalam mobil, mengeluarkan mobilnya dari garasi dan melajukan mobilnya itu ketempat dimana ia mendapat sesuatu yang ia butuhkan.
TBC
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ