My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
83. Prank?


__ADS_3

Mereka kembali ke kelas setelah menyelesaikan makannya. Setelah itu mereka melanjutkan dengan mengikuti pelajaran.


Kring


Bel pulang berbunyi. kini Zea sedang mengemasi buku bukunya dan memasukannya ke dalam tas.


"Habis ini lo mau kemana Ze?" tanya Keyla mengenakan tasnya.


"Habis ini?" Zea menatap Alvin sekilas.


"Kayaknya gue mau pulang aja deh Key!" lanjutnya.


"Ohw, kalau gitu ntar malem kita nginap dirumah lo ya?!" tutur Keyla.


"Boleh! Tapi ntar malem gue mau pergi bentar sama bang Arka"


"Mau kemana?"


"Mau beli handphone, handphone gue kan hilang!" jawab Zea.


"Oh oke, kalau gitu gue sama Icha duluan ya Ze. Kita kerumah lo ntar malam. Lo pulang sama Alvin kan?" Zea mengangguk.


"Kita duluan!"


"Bye Ze, sampai ketemu nanti malam!" ujar Icha. Keyla dan Icha melambaikan tangan pada Zea.


"Bye!" balasnya ikut melambaikan tangan.


Zea yang selesai mengemasi barangnya membawa tasnya dipunggung. Ia menatap Alvin.


"Kamu kok gak bilang aku, mau pergi nanti malam?" tanya Alvin mengintrogasi.


"Maaf, aku lupa!" jawab Zea.


"Nanti malam gak usah pergi!" Mata Zea membola melihat Alvin.


"Tapi aku butuh handphone Al!" ujar Zea berharap Alvin mengerti.


"Kita beli sekarang! Aku gak mau kamu keluar malam malam!" perintahnya.


"Tapi_"


"Nggak ada tapi tapi" ujar Alvin datar menatap tajam kearah Zea.


"Iya" balas Zea lesu.


"Ayo!" ajak Alvin menggandeng tangan Zea keparkiran.


"Zea!" panggil Rey membuat keduanya menoleh.


"Lo baik baik aja kan? Lo gak terluka kan?" ujar Rey mendekat mencoba melihat kondisi Zea. Namun Alvin menepis membatasi jarak keduanya, membuat Rey menatap Alvin kesal. Tapi Rey mencoba mengabaikan rasa kesalnya dan kembali menatap Zea khawatir.


"Em gue gak papa kok Kak!" jawab Zea ragu. Ia tak ingin membuat Alvin marah padanya.


"Ayo Ze! Kita pergi" ujar Alvin menarik Zea kemotornya.

__ADS_1


"Hey!" ujar Rey menahan tangan Zea. Alvin menatap tangan Rey yang memegang tangan Zea. Mata Alvin menggelap dan rahangnya mengeras berganti menatap wajah Rey tajam.


"Kak lepasin!" ujar Zea menyingkirkan tangan Rey namun pria itu tak mau lepas begitu saja.


"Gue khawatir sama lo Ze, kita ke cafe dulu ya! Gue mau tau keadaan lo lebih lanjut!" pinta Rey tanpa memperdulikan raut wajah Alvin yang kian mengeras.


"Lepasin tangan lo dari Zea!" tegas Alvin dengan nada dingin.


"Berisik lo, Culun! Belagu banget jadi orang!" ujar Rey tak mau kalah.


Alvin mendekat kearah Rey menyentak tangan Zea membuat pegangan Rey terlepas. Kemudian ia menyembunyikan Zea di balik punggungnya. Ia maju mendekat kearah Rey.


"Lo udah kalah dari gue! Jauhin Zea! Atau gue gak akan segan segan lagi sama lo!" ujar Alvin memperingati.


Rahang Rey ikut mengeras ia lupa bawa dirinya pernah dikalahkan oleh pria nerd didepannya ini.


"Lo pikir gue takut dan ngalah gitu aja!" teriak Rey seakan membuang rasa malunya. Ia bermuka tebal.


"Pecundang!" ujar Alvin dengan smirk dibibirnya. Rey mencengkeram kerah baju Alvin.


"Kak Rey stop!" Sentak Zea.


"Aku mau jalan sama Alvin. Lebih baik kak Rey pergi!" ujar Zea. Alvin memasang senyum meledek diwajahnya. Ia menepuk tangan Rey di bajunya, hingga cengkraman itu lepas.


"Alvin cukup! Ayo pergi Al!" ajak Zea menarik Alvin menjauh. Walau ia tahu apa yang dilakukannya ini cukup beresiko.


Alvin pergi dengan senyum kemenangan diwajahnya tapi disisi lain ia kesal karena Zea menyebut nama pria lain. Sikap posesifnya semakin meningkat hari demi hari.


Alvin memakai helm pada Zea, kemudian mengenakan helmnya sendiri. Menaiki motor sportnya bersama gadis itu dan pergi keluar sekolah. Mengabaikan Rey yang masih menatapnya begitulah saja.


Zea melihat wajah Alvin yang datar dari balik spion.


"Hm" gumamnya acuh.


"Maaf!" ujar Zea.


"Kamu tau, dia yang mendekati dulu" lanjutnya.


"Kalau kamu gak pernah dekat sama dia, dia gak akan pernah nyapa kamu!" ujarnya sebal. Ntah dimana logika pria itu.


"Aku kenal dia sebelum aku kenal kamu Al" jelas Zea.


Brumm


Motor Alvin terus melaju dengan kecepatan diatas rata rata bahkan semakin kencang, membuat Zea yang berada dibelakangnya bergidik ngeri. Ia memeluk Alvin dengan erat. Jika ia kebut kebutan sendiri tak masalah baginya, namun kini ia dibonceng oleh pria yang sedang emosi. Jelas ia akan merasa takut.


"Al, pelan pelan!" pinta Zea masih memeluk Alvin erat. Ia tak ingin sampai kehilangan nyawa.


Tapi pria itu seakan tuli terus melajukan motornya hingga kini mereka berhenti di basemant sebuah gedung. Zea bernafas lega. Untung ia selamat.


"Turun" ujar Alvin dengan nada datar.


Zea menurut dan turun dan motor. Ia melepaskan helmnya dan Alvin memarkir motornya.


Zea memberikan helmnya pada Alvin dan Alvin meletakannya diatas motor. Pria itu diam tak bersuara dan itu membuatnya semakin gelisah.

__ADS_1


Alvin yang diam ketika marah sangat menakutkan baginya.


"Ayo!" ajak Alvin menggandeng Zea masuk kedalam.


Zea tak tahu dimana dirinya sekarang karena laju motor Alvin yang kencang membuatnya menutup mata sampai Alvin memberhentikan motornya.


"Ini dimana Al?" tanya Zea dengan hati mencuat. Ia takut Alvin akan kembali mengurungnya.


Zea terus berjalan mengikuti langkah Alvin hingga ia tiba di dalam lift yang mengarahkan mereka ke lantai atas. lift itu terus bergerak naik seiring dengan detak jantung Zea.


"Ayo!" ajak Alvin lagi saat pintu lift terbuka.


Zea hanya bisa menurut mengikuti langkah Alvin dengan terus menatap pria itu. Hingga kini ia berhadapan dengan sebuah pintu membuat ia menoleh.


Alvin menekan tombol dan memegang hendle membuat pintu itu terbuka. Mewah, itulah yang pertama Zea lihat, saat isi didalam pintu tersebut terpampang dimatanya.


'Apa ini apartemen?' tanya Zea membatin. Alvin membawa ia ke apartemennya.


"Kamu mau apa Al?" tanya Zea memastikan.


"Hamilin kamu!" jawab Alvin membuat Zea membelak kemudian ia meronta.


"Aku gak mau, aku gak mau. Lepas!"


Alvin tanpa basa basi menggendong Zea mengangkatnya seperti karung beras. Zea meronta ronta dalam gendongan Alvin.


"Alvin aku gak mau Al!" teriak Zea memukul mukul bahu Alvin.


Tapi terlambat pintu apartemen Alvin sudah tertutup dan terkunci. Alvin berjalan kearah sofa dan membaringkan tubuh Zea disana.


Tangan Alvin menahan tubuh Zea untuk tidak kabur. Wajah Alvin tepat didepan wajah Zea.


"Al please jangan!" pinta Zea memelas menahan tubuh Alvin untuk tidak semakin mendekat.


Alvin memasang senyum nakal diwajahnya. Zea seakan ingin menangis saat itu juga.


"Al!" rengek Zea seperti isakan saat Alvin kian mendekat dan bibir keduanya hampir menyentuh.


"You are so cute, by!" ujar Alvin.


"Hahahaha!" Alvin tawa.


Cup


Sebuah kecupan mendarat di kening Zea. Kemudian Alvin menjauhkan tubuhnya perlahan dari Zea.


Zea membeku menatap bingung kearah Alvin. Kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa Alvin tertawa? Apa ia kena prank?


"Kamu mengerjai ku?" tanya Zea menatap Alvin tak percaya.


"Ya!" jawabnya enteng.


"Jahat!" ujar Zea.


"Kamu jahat Al!" Sentak Zea memukul mukul dada Alvin. Ia terus menyerang Alvin membuat tubuhnya bertubrukan dengan dada bidang Alvin.

__ADS_1


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2