Pendekar Macan Putih

Pendekar Macan Putih
Akhir Dari Dendam


__ADS_3

Terlihat sesepuh Qiuhan belum menunjukkan keseriusannya saat bertarung melawan iblis api.


"Apakah hanya segini kemampuan iblis." Ucap, Sesepuh Qiuhan yang terlihat belum menikmati pertarungan.


"Aku akui kau memang lawan yang cukup kuat, namun akan aku tunjukkan kekuatanku yang sebenarnya." Ucap, iblis api yang terlihat semakin marah.


Tiba-tiba iblis api berubah menjadi lebih besar dan api yang menyelimutinya lebih panas, terlihat dua buah tanduk berwarna merah muncul dikepala iblis api, dua sayap dari punggungnya, serta ekor dari pantatnya.


Sesepuh Qiuhan hanya sedikit terkejut saat melihat perubahan iblis api, namun akhirnya sedikit tertawa mengejek.


"Haha.. Sepertinya permainan akan semakin seru." Ucap sesepuh Qiuhan.


Iblis api yang sudah membara seluruh tubuhnya langsung terbang tinggi keatas, saat mencapai ketinggian kurang lebih 1000 meter barulah ia meluncur kebawah dengan sangat cepatnya.


Hingga terlihat seperti burung api yang sedang menukik untuk menerkam mangsanya, sangat cepat sekali dengan kobaran api yang menyala-nyala disetiap tubuhnya.


Sesepuh Qiuhan sedikit melebarkan matanya dengan memandang tinggi keatas, menantikan serangan iblis api tersebut. Sebuah jurus ternyata telah sesepuh Qiuhan siapkan untuk menghadapi iblis api tersebut.


Namun saat iblis api sudah terlihat jelas berkisaran ketinggian 500 meter, ternyata sebuah tombak mata tiga telah disiapkannya dan diarahkan kearah sesepuh Qiuhan.


"Hemm.. Ternyata dia hendak menggunakan senjata." Gumam Sesepuh Qiuhan.


Lalu tiba-tiba sebuah senjata telah berada di tangan sesepuh Qiuhan, yang berbentuk pedang panjang.


Senjata tersebut adalah pusaka yang di dapatkannya melalui perebutan berbagai pendekar-pendekar hebat, senjata tersebut diketahui mampu membunuh sepuluh orang hanya dengan sekali tebasan.


Oleh sebab itu senjata tersebut sangat banyak menarik perhatian baik itu dari kalangan pendekar jahat ataupun pendekar baik, bisa disebut juga aliran putih dan aliran hitam.


Senjata itu lebih terkenal dengan sebutan Pedang Pencabut Nyawa, konon dahulu pemilik senjata tersebut mampu menjadi pendekar tak tertandingi didunia persilatan.


Tak ada yang mampu mengalahkan pendekar dengan pedang tersebut.


Sebab pedang pencabut nyawa itu memiliki kesadarannya sendiri, oleh sebab itu mengapa sesepuh Qiuhan tidak mau menggunakan pedang tersebut. Karena saat pedang tersebut sudah dicabut dari sarungnya.


Maka roh pedang yang berada didalamnya akan langsung masuk menguasai jiwa pemiliknya, dan akan selalu dipergunakan untuk membunuh namun karena kekuatan sesepuh Qiuhan yang terbilang tinggi.


Jadi roh pedang tersebut mampu ditaklukkannya, akan tetapi imbalan dari menggunakan pedang tersebut adalah terkurasnya tenaga dalam sang pemakai.


Oleh sebab itu sesepuh Qiuhan tidak menggunakannya lebih dari sepuluhenit.


Sebenarnya yang membuat sesepuh Qiuhan ditakuti bukanlah dari pedang harimau perak, melainkan pedang pencabut nyawa ini lah yang mampu menewaskan banyak orang hanya dengan beberapa kali tebasan.


Namun karena warna da bentuknya hampir mirip dengan pedang harimau perak, maka banyak yang mengira bahwa pedang pencabut nyawa adalah pedang harimau perak yang sekarang digunakan oleh Yinfeng.

__ADS_1


Jika dibandingkan dengan pedang pencabut nyawa, pedang harimau perak belum ada apa-apanya. Karena pedang harimau perak hanya memiliki bayangan harimau saja tidak seperti pedang pencabut nyawa yang memiliki kesadaran serta kecerdasannya sendiri.


Oleh sebab itu sampai saat ini belum ada yang mengetahui akan pedang legendaris itu, karena saat ini sesepuh Qiuhan sudah mulai serius bermainnya maka dia tidak mau menyia-nyiakan waktunya.


Dengan mengeluarkan pedang pencabut nyawa dirinya ingin cepat mengakhiri iblis api, ternyata Yinfeng yang sudah berhasil membinasakan iblis kegelapan sedang memperhatikan sesepuh Qiuhan dengan sangat seksama.


Dirinya sangat terkejut saat sesepuh Qiuhan mengeluarkan pedang pusaka yang sangat mirip dengan pedang harimau perak, hanya saja tidak ada ukiran kepala harimau dibadan pedang pencabut nyawa.


"Pedang itu.. Mirip sekali dengan pedang harimau perak, hanya saja pedang milik sesepuh Qiuhan lebih kuat aura membunuhnya." Batin Yinfeng.


Saat tombak iblis api hendak mendekati sesepuh Qiuhan, dengan cepat sesepuh Qiuhan mengibaskan pedang pencabut nyawa miliknya.


Saaaaatttt....


Tanpa ada bayangan kilatan pedang tiba-tiba terdengar bunyi benturan yang sangat keras.


Traaaaaaaang.....


"Uhh.. Apa ini ??" Gumam iblis api.


Ternyata tebasan dari pedang pencabut nyawa langsung membuat tombak iblis api terpental, saat iblis api masih dalam keadaan kebingungan sesepuh Qiuhan sudah mengibaskan dua kali tebasan.


Membuat iblis api tak mampu melihat pergerakan serangan pedang tersebut, dan membuat kedua tangannya terpisah.


Teriakan iblis api yang merasakan sakit saat kedua tangannya terlepas dari badan.


"Kurang akar kau roh tua, senjata apa yang kau gunakan itu ?" Bentak iblis api.


"Hahaha.. Kau tidak perlu tahu, karena sebentar lagi aku akan membinasakanmu." Ucap sesepuh Qiuhan.


Karena sesepuh Qiuhan sudah merasakan tenaga dalamnya terkuras cukup banyak, akhirnya dengan cepat dua tebasan selanjutnya langsung diarahkan ke kepala iblis api tersebut.


Craaaaasssszzz...


Suara terputusnya kepala dari tubuh iblis api seketika membuat iblis api melebur menjadi sebuah api kecil.


"Hemm.. Api ini akan sangat membantu meningkatkan kekuatan bocah itu." Gumam sesepuh Qiuhan.


Dengan cepat sesepuh Qiuhan menyarungkan pedang pencabut nyawa dan menyimpannya diruang hampa miliknya.


"Semoga saja anak itu tidak terlalu memperhatikan diriku, saat aku menggunakan pedang pencabut nyawa ini." Gumam sesepuh Qiuhan.


Tapi saat sesepuh Qiuhan membalikkan badan ternyata dikejauhan Yinfeng sedari tadi sedang memperhatikannya.

__ADS_1


"Eh bocah, sejak kapan kau disitu ?" Tanya sesepuh Qiuhan.


"Sejak sesepuh mengeluarkan pedang." Ucap Yinfeng.


"Apaa ?? Jadi kau sudah memperhatikanku saat mengeluarkan pedang !" Ucapan terlejut sesepuh Qiuhan.


"Memang kenapa sesepuh ? Aku juga merasakan aura membunuh yang sangat kuat dari pedang itu." Ucap Yinfeng.


"Hiuhh.." Suara nafas sesepuh Qiuhan yang terdengar seperti pasrah. " Karena kau sudah melihatnya nanti akan aku beritahu kau tentang pedang pusaka itu."


Tiba-tiba sebuah goncangan kuat terjadi didalam jiwa Dongmen, mengetahui hal itu sesegera mungkin sesepuh Qiuhan menyuruh Yinfeng untuk mengeluarkan kitab teratai api, agar dirinya dapat bersemayam kembali.


Setelah sesepuh Qiuhan bersemayam kembali didalam kitab teratai api, tiba-tiba Yinfeng menghilang dan keluar dari dalam jiwa Dongmen, kembali kedunia asal.


Dongmen yang tersadar sangat terkejut, saat dia merasakan kekuatannya sudah menghilang, ilmu penyucian jiwa Yinfeng telah membuat Dongmen kehilangan dua sumber kekuatannya, sehingga kini Dongmen terlihat sangat lemah dan hanya menyisahkan sedikit tenaga dalam.


"Apa yang telah kau lakukan padaku anak kecil." Bentak Dongmen.


"Hari ini adalah hari terakhirmu hidup di dunia ini." Ucap Yinfeng.


"Hahaha.. Jangan sombong kau anak kecil.. Walaupun kekuatanku sudah tiada namun aku masih sanggup untuk membunuhmu." Ucapan Dongmen yang masih saja sombong walaupun ajal hendak menjemputnya.


Karena hati Dongmen telah dibutakan oleh ambisi untuk menjadi kuat, dan hatinya juga telah gelap oleh jiwa-jiwa kegelapan yang telah merasukinya.


Maka kali ini Yinfeng tidak segan-segan untuk mengakhiri ajal Dongmen, dengan dicabutnya pedang harimau perak dari sarungnya Yinfeng kemudian mengeluarkan jurus cakaran harimau.


Dengan sekali tebasan keluarlah beberapa bayangan cakar harimau yang melesat dengan kecepatan tinggi, cakar-cakar itu tak mampu di hadang Dongmen membuat tubuhnya mengalami luka cakaran yang menembus tubuhnya.


Darah menyembur keluar dengan sangat derasnya, hingga membuat tanah yang dipijak Dongmen berubah menjadi merah berbau anyir, seketika Dongmen jatuh tergelatak tak berdaya.


Sebelum akhirnya mengalami kematian dan mati ditangan anak sahabatnya yang telah dia bunuh, Yinfeng terduduk lemas tak berdaya sambil meneteskan air mata karena teringat kedua orang tuanya.


Gluduuukk... Duaaarrr....


Terdengar suara guruh yang dibarengi dengan turunnya air hujan dari langit.


"Ayah.. Ibu.. Aku sudah membalaskan kematian kalian, dengan membunuh orang yang menghilangkan nyawa kalian." Ucap, Yinfeng sambil memandang keatas menikmati deraian hujan yang jatuh membasahi tubuhnya.


END


............


Dendam Yinfeng telah terbalaskan, kini giliran perjalanan Yinfeng untuk menjadi kunci perdamaian dunia.

__ADS_1


Terimakasih kalian semua yang setia membaca novel ini..😊😊😊


__ADS_2