
"Kenapa Aku harus terpana." Kata Yinfeng.
Seketika sosok misterius itu mulai menampakkan wujud sesungguhnya, terilatlah sesosok Roh Jiwa manusia berjenggot panjang berbaju hitam membawa sebuah tongkat ditangannya.
"Hahaha.. Inilah wujud asliku Bocah, namun Aku masih berbentuk Roh Jiwa, tanpa tubuh nyata Aku tidak akan terlihat oleh siapapun kecuali Kau."
"Tapi mengapa Kau tinggal di Kitab ini." Tanya, Yinfeng sambil mengangkat sebuah Kitab.
"Karena sesungguhnya Akulah sang pemilik dari Kitab ditanganmu itu."
"Pantas saja Kau tau persis apa yang ada didalamnya, ternyata Kau pemiliknya."
"Lalu siapakah nama Sesepuh." Kata, Yinfeng mulai menghormati sesosok yang lebih tua
"Namaku adalah Qiu-Han sedangkan Aku sudah berumur ratusan tahun."
"Hemm... Mengapa nama belakngnya sama dengan Kakek Sepuh." Gumam Yinfeng.
"Apa yang kau fikirkan Bocah ?" Tanya Sesepuh Qiuhan.
"Kenapa nama belakang Sesepuh sama dengan Ketua Perguruan Wunghan." Kata Yinfeng.
"Hehehe.. Asal Kau tau saja Bocah, Akulah sebenarnya yang mendirikan Perguruan Macan Putih itu." Jawab Sesepuh Qiuhan.
"Apaaa.??.Anda adalah sang pendiri Perguruan."
Sontak Yinfeng terkejut ketika mendengar Qiuhan adalah pendiri dari Perguruan Macan Putih.
"Iya Bocah.. Dan Kitab ditanganmu itu adalah Kitab yang Ku tulis pertama saat didalam Perguruan."
"Namun Aku tidak menyangka, yang ternyata dapat membuka Kitab ini adalah seorang bocah berumur 10 tahun." Kata, Qiuhan sambil menggelengkan kepala karena takjub.
__ADS_1
"Sekarang coba Kau tatap mataku Bocah."
"Mengapa Aku harus menatap matamu sesepuh." Kata Yinfeng.
"Kau ini selalu saja bertanya setiap apa yang Aku perintahkan." Kata Sesepuh Qiuhan.
"Hehehe.. Baiklah."
Yinfeng kemudian menatap mata Sesepuh Qiuhan dengan dekat, namun seketika Yinfeng merasakan dirinya seperti telah masuk kedalam mata Sesepuh.
Hingga tiba-tiba Jiwa Yinfeng terbawa disebuah tempat yang semua terlihat putih seperti awan, sampai dirinya terkejut tatkala melihat kakinya berdiri diatas awan.
"Dimana ini ? Mengapa Aku bisa berada disini ?" Gumam Yinfeng.
"Hahahaha.. Kau sedang memasuki Jiwaku Bocah." Kata, Sesepuh Qiuhan yang muncul dari bawah awan.
"Apa ?? Jiwa Sesepuh !! Bukannya Sesepuh adalah Roh Jiwa, mengapa masih memiliki Alam Jiwa." Kata, Yinfeng yang bingung.
"Jiwa Suci ?? Namun bukannya tingkat kekuatan hanya sampai tingkat Langit."
"Memang tingkat kekuatan hanya sampai tingkat Langit, namun jika Kau dapat menerobos pada tingkat Hidup dan Mati maka Kau dapat mendapatkan Jiwa Suci itu."
"Menerobos Hidup dan Mati ??" Yinfeng yang semakin bingung sambil garuk-garuk kepala.
"Hahaha.. Kau akan mengetahuinya nanti bocah, jika Kau dapat menembus tingkat kekuatan Langit tahap Akhir maka akan Aku ajarkan Kau di tingkat Hidup dan Mati."
"Lantas mengapa Aku sekarang dapat di Alam Jiwamu Sesepuh ?" Tanya Yinfeng.
"Itu karena Kau sudah dapat memahami 100 Halaman dari Kitab Teratai Api, dan Kau telah mendapatkan Inti Api dengan Nama lain Ilmu Penghakiman."
"Ilmu Penghakiman?"
__ADS_1
"Iya Kau dapat Menghakimi pada Jiwa seseorang yang berdosa, jika dia tidak mau menerima Pencerahan Hati."
"Jadi Kau telah terpilih sebagai penerusku, untuk menyebarkan keadilan dan menyelamatkan para Jiwa-jiwa pendosa dari kesesatan." Kata, Sesepuh Qiuhan yang menerangkan.
Yinfeng yang sudah mendapatkan Pencerahan Hati, berguna sekali saat nanti dirinya mulai menghakimi para jiwa-jiwa pendosa.
Agar jiwanya tidak terhasut dan hatinya dapat kuat menghadapi kegelapan dari para jiwa-jiwa pendosa.
Yinfeng yang masih tidak percaya akan apa yang terjadi padanya, hingga kemudian didalam Jiwanya bersinar terang laksana cahaya putih yang menyilaukan.
"Hemmm.. Akhirnya Jiwa Bocah ini telah dimurnikan, dan dia dapat melaksanakan tugas berat ini dengan jiwa yang besar." Gumam Sesepuh Qiuhan.
Akhirnya Yinfeng tersadar dan Jiwanya kembali ketubuh semula.
"Apa yang terjadi, mengapa sepertinya Aku telah masuk ke dalam Ruang Jiwa sesepuh Qiuhan." Gumam, Yinfeng bingung.
"Sekarang Kau telah siap nak mengemban tugas yang besar, yang dahulu Aku belum sepenuhnya bisa melaksanakannya, kini akan Kau lanjutkan." Ucap Sesepuh Qiuhan.
"Dan setelah ini Kau pelajarilah Ilmu Pengobatan yang tertera dalam Kitab itu."
"Semoga kelak Kau dapat menjadi Kunci Perdamaian."
Setelah berkata demikian Sesepuh Qiuhan kemudian menghilang, kembali bersemayam di dalam Kitab Teratai Api.
.........
Ternyata Mencari Inspirasi itu tidak mudah, harus melalui memet dulu. Hehehe
Jadi untuk para Reader hargailah perjuangan Aouthor bisa dengan Like,Komen syukur-syukur dapat Vote seikhlasnya.
Terimakasih sudah mau membaca novel ini.
__ADS_1